Seni Merajut Sejarah - Siapa yang Mengukir Jejak di Balik Jahitan Bendera Pusaka?
3 Tokoh Pengibar Bendera Merah Putih saat Proklamasi Kemerdekaan 1945
Selamat Hari Kemerdekaan yang ke-78 Indonesia! Apakah kamu pernah menjadi salah satu petugas upacara di tanggal 17 Agustus? Bagian apa? Pemimpin upacara? Atau lebih keren lagi pengibar bendera?
Wah, kalau kamu bertugas sebagai pengibar bendera atau bahasa kerennya paskibra (pasukan pengibar bendera), berarti sudah melaksanakan dengan baik peran sebagai generasi penerus pengibar bendera saat hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia.
Nah, alangkah baiknya kamu juga mengenal tokoh pengibar bendera merah putih pertama kali saat proklamasi kemerdekaan tahun 1945. Siapa saja mereka?
Anggota pengibar bendera, dulunya pas awal kemerdekaan itu hanya ada 3. Orang pertama bertugas sebagai pembawa bendera, orang kedua bertugas sebagai pengerek tali di tiang bendera, dan orang ketiga itu bertugas sebagai pembentang bendara.
Sekarang, ayo kita kenalan dengan ketiga orang tersebut yang berjasa mengibarkan bendera merah putih saat proklamasi kemerdekaan.
Merah-Putih dalam Sejarah Indonesia
Pada zaman kerajaan di Nusantara, bendera atau panji-panji kebesaran dengan unsur warna merah dan putih juga kerap digunakan, salah satunya oleh Kerajaan Majapahit (1293–1527 Masehi).
Pada masa perjuangan melawan penjajah Belanda atau VOC, pasukan Pangeran Diponegoro mengibarkan panji merah putih dalam Perang Jawa (1825-1830) di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Begitu pula dengan bendera perang Sisingamangaraja XII (1876-1907) di tanah Batak, Sumatera Utara.
Selanjutnya, memasuki abad ke-20 atau Era Pergerakan Nasional, bendera dengan warna merah dan putih berkibar saat pelaksanaan Kongres Pemuda II di Batavia (Jakarta) pada 28 Oktober 1928 yang menghasilkan Sumpah Pemuda.
Menjelang kemerdekaan RI, Fatmawati yang merupakan istri Ir. Sukarno, menjahit kain berwarna merah dan putih untuk dijadikan bendera. Bendera bersejarah yang disebut Sang Saka Merah Putih ini akhirnya dikibarkan dalam upacara proklamasi Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1945.
History [ edit ]
The Bendera Pusaka was sewn by Sukarno's wife Fatmawati. [1] It was based on a 13th-century Majapahit flag, which had nine stripes of red and white. [2]
It was first raised at Sukarno's house at 56 Pegangsaan Timur Street, Jakarta, after Sukarno read the Proclamation of Indonesian Independence. [3] It was hoisted on a short bamboo staff by a group led by Captain Latief Hendaningrat, after its hoisting, the gathered crowd sang "Indonesia Raya". [2] [4]
During the first year of the Indonesian National Revolution, the Bendera Pusaka flew day and night. After the Dutch took Jakarta in 1946, the Bendera Pusaka was brought to Yogyakarta in Sukarno's briefcase. During Operatie Kraai, the Bendera Pusaka was cut in half and given to Indonesian composer Husein Mutahar for safekeeping, Mutahar was told to "protect the flag with [his] life". Despite being captured by and escaping from the Dutch, Mutahar managed to bring the flag to Jakarta, sew it back together, and turn it over to Soedjono. Soedjono later returned the flag to Sukarno, who was in exile in Bangka. [4]
After the end of the war, the Bendera Pusaka was raised once a year in front of the Presidential Palace during Independence Day celebrations. [1] However, due to the flag's fragile state, beginning in 1968 it has been replaced by a replica. [ citation needed ]
In 2003, plans were released to relocate the Bendera Pusaka from the Presidential Palace to the National Monument. In 2004, the relocation was expected to cost Rp. 3.5 billion (US$388,889), with the flag being stored in a 24-karat gold-plated case within the Independence Room of the Monument. [5] However, the relocation has been consistently delayed. [6] As of 2009, its storage at the National Monument has been mandated by law. [3]
Suhud Sastro Kusumo
Suhud ini sahabat dekat dari Latief, sayangnya, nggak banyak literatur yang mengisahkan tentang kehidupannya. Suhud lahir tahun 1920. Beliau menjadi anggota Barisan Pelopor yang didirikan Jepang. Beliau wafat pada tahun 1986 di usianya yang ke 66 tahun. Di buku sejarah, nama Suhud selalu bersanding dengan Latief sebagai pengibar bendera.
Padahal, sebelum memulai tugas mulianya pada 17 Agustus 1945 sebagai pengibar bendera, Suhud memiliki peran yang cukup penting pula. Menjelang hari proklamasi, tepatnya di tanggal 14 Agustus 1945, Suhud dan beberapa anggota Barisan Pelopor kala itu, ditugaskan untuk menjaga keluarga Soekarno.
Namun, di tanggal 16 Agustus, Suhud kecolongan dengan diculiknya Soekarno oleh golongan pemuda (Sukarni dan Chaerul Saleh). Inilah awal mula terjadinya peristiwa Rengasdengklok.
Tags: jahit yang ende