Menghiasi Karya Seni - Keindahan Sulam Benang Emas dalam Kerajinan Tangan dan DIY
Teknik sulaman [ sunting | sunting sumber ]
Adapun kapalo samek adalah teknik sulaman yang terbentuk dari bulatan-bulatan kecil pada kain. Proses pembuatannya yakni benang dililitkan pada jarum baru ditusukan pada kain sehingga benang lilitan itu timbul pada kain. Biasanya, bagian pinggir bunga dijahitkan benang emas, agar bentuk bunganya lebih nyata. [5]
Berhubung proses pembuatan sulaman baik suji caia maupun kapalo samek berlangsung dalam waktu lama, selama rentang waktu pengerjaankain bahan tetap dibiarkan pada pamedangan. Oleh sebab itu, agar kain bahan tidak kena debu atau kotoran lain, maka ditutup dengan plastik. Plastik hanya dibuka ketika menyulam dan itu hanya pooa bagian yang sedang dikerjakan, sedangkan yang lainnya tetap tertutup plastik. [5]
Hasil [ sunting | sunting sumber ]
Selendang bersulam termasuk pakaian adat yang dipakai oleh seorang perempuan Koto Gadang. Pemakaian motif, warna, dan bahan selendang yang digunakan disesuaikan dengan status dan usia wanita yang memakai. Untuk wanita muda, biasanya wama yang dipakai adalah warna terang seperti merah dan motifnya agak rapat sehingga bahan dasar kain terlihat sedikit saja. Adapun bagi wanita yang sudah bekeluarga, kain yang digunakan yakni berwarna tua seperti nila atau hijau dan motif yang agak jarang. [36] [2]
Menurut penelitian Ernatip dari Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional (BPSNT) Padang, masyarakat Koto Gadang saat ini banyak menekuni sulaman dan menjadikannya sebagai suatu pekerjaan yang menghasilkan uang. Selendang bersulaman Koto Gadang termasuk sulaman yang sangat halus dan rapi bila dibandingkan dengan sulaman daerah lain sehingga harga selendang bersulaman Koto Gadang relatif lebih mahal. [37] [12] Pada saat ini, selendang sulaman suji caia dijual seharga Rp2.000.000 sampai Rp2.500.000 per helai, sedangkan selendang sulaman kapalo samek dijual dengan harga Rp1.750.000 hingga Rp2.250.000 per helai. [12] [7] Namun, karena dikerjakan oleh tenaga manusia, pengerjaan sulaman Koto Gadang membutuhkan waktu yang lama. Untuk satu helai kain sulaman Koto Gadang membutuhkan waktu penyelesaian setidaknya dua bulan. [a]
Selendang sulaman Koto Gadang sudah terkenal sampai ke mancanegara. Pengenalan selendang sulaman Koto Gadang ke dunia luar terus dilakukan, terutama oleh pengrajin itu sendiri. Berbagai pameran baik di tingkat daerah maupun tingkat nasional ikut menampilkan selendang sulaman Koto Gadang sebagai produk kerajinan unggulan. [38] [7] [37] Dikenalnya sulaman Koto Gadang oleh masyarakat luas secara tidak langsung memberi peluang bagi pengrajin sulam untuk mendapatkan penghasilan yang lebih layak. [39]
Dalam gelaran Festival Sulam Bordir di Jakarta pada 2012, ditampilkan karya selendang sulam sepanjang 20 meter yang menggunakan berbagai jenis teknik sulam dari Sumatera Barat, termasuk sulam suji caia dan kepalo samek dari Koto Gadang. Selendang tersebut mendapatkan penghargaan sebagai sulam terpanjang di dunia dari Museum Rekor Indonesia (MURI). [40] [41]
Sulaman Sepanjang Sejarah Dimulai pada Zaman Perunggu
Pada abad ke-5/ke-6 M, ketika Mesir adalah bagian dari Kekaisaran Bizantium, tunik lebar yang meriah pada periode itu dihiasi dengan roundel dan panel. Sebagian besar strip dekoratif dengan desain kelautan dan pastoral ini ditenun dengan teknik yang serupa dengan tenun Jacquard. Namun beberapa roundel bertahan dalam tusuk belah, tusuk tikam jejak, dan sulam rantai.
Seperti contoh Zaman Kegelapan yang lebih akhir di mana jahitan garis digunakan untuk mengisi bentuk, garis besar gambar dijahit terlebih dahulu, dengan sulaman yang berlanjut dalam spiral ke dalam hingga bagiannya terisi.
Sulaman abad ke-10 dari Mammen di Denmark menggunakan tusuk tikam jejak dan sulam herringbone untuk gambar binatang dan pita yang menggambarkan daun acanthus dan wajah manusia. Meskipun jahitan-jahitan tersebut terlalu terpisah untuk diketahui dengan pasti, jahitan-jahitan itu mungkin menghiasi jubah atau tunik.
Juga temukan bagaimana Anda bisa memulai menyulam.
Membuat Kerajinan Emas pada Zaman Kegelapan
Meskipun emas mungkin dimasukkan ke dalam pakaian pada masa yang jauh lebih awal, salah satu penggunaan sulaman emas paling awal yang dikonfirmasi berasal dari makam Ratu Merovingian, Arnegunde, dari abad ke-6 SM. Pakaian luarnya memiliki manset sulaman emas dalam desain roset.
Sebuah fragmen kecil dari akhir abad ke-8 dan ke-9 dari Maaseik, Belgia menggunakan pelapis permukaan untuk benang emas dan tusuk belah di latar belakangnya – pendahulu Opus Anglicanum pada periode abad pertengahan.
Stole dan meniple St. Cuthbert menggunakan tusuk tikam jejak untuk garis luarnya dan lagi-lagi, tusuk belah untuk mengisi gambarnya. Benang emas untuk latar belakangnya ditahan di tempat dengan couching sederhana.
Sejarah [ sunting | sunting sumber ]
Asal-usul dan perkembangan tekat secara langsung dikaitkan dengan kegunaan pakaian dan kelengkapan keluarga raja-raja atau istana. Perkembangan awal seni tekat dapat dikesan pada awal kurun ke-15, iaitu semasa zaman keagungan Sultan Melayu Melaka. Kesan penggunaan sulaman dapat dilihat di kalangan masyarakat Cina yang keturunan Baba Melaka. Mereka menggunakan sulaman tekat untuk pakaian-pakaian mereka.
Hingga ke hari ini seni tekat masih dihasilkan oleh rakyat negeri Perak Darul Ridzuan dan Negeri Sembilan Darul Khusus. Negeri Perak Darul Ridzuan merupakan negeri yang banyak sekali mengusahakan kraf seni tekat timbul benang emas. Terdapat beberapa jenis tekat yang dikerjakan oleh pandai tukang menekat. Antaranya ialah tekat timbul benang emas, tekat gubah dan tekat perada.
Tekat terus berkembang dengan hasil mutunya yang terjamin.
Kelengkapan [ sunting | sunting sumber ]
Kain dasar atau irasan [ sunting | sunting sumber ]
Corak tekatan atau sulaman dikenakan pada suatu kain lapik dasar iaitu irasan sama ada dari jenis baldu dan kain batik. Kain dasar atau irasan yang paling sesuai berwarna terang. Kain baldu berwarna merah dan biru paling banyak digunakan oleh para penekat di sampin warna merah tua, merah pulasan, biru tua, ungu, hijau dan hitam.
Kain baldu ini dilapisi dengan sehelai kain kapas putih yang berfungsi untuk mengukuh dan mengemaskan sulaman benang yang buruk dan hitam berserta kurap dan taik yang berterabur sebagai corak tambahan. Adakalanya, anyaman daun pandan malah juga lapisan kertas surat khabar dilekat tindih padat turut dipakai. [1]
Alatan [ sunting | sunting sumber ]
Kedua-dua kain dasar dan kain lapik diregangkan atas suatu bingkai bulat iaitu pemidang bagi memudahkan kerja sulaman di samping mengelakkan kedutan atau lipatan kain mahupun regangan berlebihan pada tekatan yang barangkali dapat berlaku menjejaskan corak akhir, [2] pemidang ini diperbuat dari kayu dengan ukuran bergantung pada lebar kain dasar atau jenis barang yang hendak dihasilkan. Pemidang ini boleh "berkaki" mahupun "tanpa kaki".
Corak atau motif yang ingin disulam adakala akan digubah dan dilukis terlebih dahulu pada suatu stensil iaitu mempulur diperbuat daripada rotan sega, kadbod atau kertas tebal. Mempulur ini kemudiannya bentuk motif ini dipotong dan diasingkan. Penggunaan mempulur akan menjadikan bentuk sulaman timbul.
Benang dikaitkan menggunakan suatu jarum besar iaitu cuban. Ukuran jarum menentukan ikatan supaya tidak meninggalkan kesan lubang pada kain dasar, jarum akan dicucuk agak ke dalam dari bawah batang mempulur.
Benang [ sunting | sunting sumber ]
Terdapat beberapa jenis benang yang digunakan dalam penekatan corak:
- benang-benang emas dan perak: sebagai benang hiasan. benang-benang emas haruslah disusun rapat-rapat supaya batang mempulur tidak kelihatan dari atas.
- benang putih: mengetatkan kedudukan tekat emas secara menindih dan mengikat jahit benang emas pada mempulur tanpa meninggalkan kesan pada permukaan kain. Ikatan benang putih mestilah ketat dan kukuh.
Tags: benang sulam