Menghiasi Karya Seni - Keindahan Sulam Benang Emas dalam Kerajinan Tangan dan DIY
Sejarah Kain Songket Palembang
Sejarah kain songket tidak terlepas dari legenda kerajaan Sriwijaya. Pada jaman kerajaan Sriwijaya meninggalkan sebuah warisan yaitu kain tenun yang biasa disebut songket. Kain songket merupakan kain khas dari masyarakat daerah Sumatra Selatan.
Bukti dari kain songket sudah ada sejak jaman kerajaan sriwijaya yaitu adanya arca yang menggunakan kain songket. Menurut sebagian masyarakat Sumatra, kain songket ini dipengaruhi oleh perdagangan tiongkok yang membawa benang sutra oleh pedagang India.
Ada juga benang perak untuk mempercantik. Semua benang tersebut di tenun menggunakan pola yang rumit dengan alat tenun. Menenun merupakan kegiatan turun temurun pada masyarakat sumatra selatan.
Belajar menenun secara singkat akan sangat sulit, maka dari itu masyarakat sumatra selatan mengajarkan anak anak mereka terutama kaum perempuan untuk belajar menenun sejak kecil.
Kain songket ini memiliki kualitas yang bagus dan dapat bertahan selama berpuluh puluh tahun, biasanya kain songket warisan turun temurun. Hingga saat ini kain songket masih bisa kita temukan, dikarenakan kain ini diwariskan secara turun temurun. Maka dari itu keberadaannya masih tetap dijaga dan dilestarikan.
Nilai Filosofis pada Pakaian Adat Jambi
Baju kurung tanggung khas Jambi mempunyai model yang unik karena panjang lengannya yang tanggung tidak dibuat sembarangan. Potongan lengan ini mempunyai makna filosifis yang terutama bagi laki-laki Jambi.
Lengan tanggung pada pakaian adat Jambi laki-laki menyimbolkan ketangkasan dan kecerdasan yang wajib dimiliki oleh laki-laki Jambi. Seorang laki-laki harus dapat diandalkan untuk menyelesaikan pekerjaan apapun.
Pakaian adat biasanya digunakan pada acara-acara penting seperti pernikahan upacara adat lainnya. Pada pakaian adat Jambi yang digunakan untuk pernikahan mempunyai dominasi warna merah dan hiasan emas. Pakaian yang tampak mewah dan indah ini dibuat dari bahan beludru yang halus.
Pada bagian-bagian tertentu terdapat sulaman benang emas dengan ragam motif yang berbeda. Ada sulaman dengan motif kembang berangkai, motif bunga melati, dan motif tagapo atau bunga bertabur.
Pemilihan benang emas pada sulaman pakaian adat Jambi tidak sembarang. Warna emas bagi masyarakat Melayu adalah perlambang bahwa tanah Melayu adalah tanah yang subur dan kaya. Kilau emas ini merupakan melambangkan kesejahteraan.
Seiring waktu pakaian adat Jambi mengalami perkembangan. Kini, pakaian adat Jambi tidak hanya berwarna merah. Banyak pasangan pengantin yang menggunakan warna lain seperti paduan warna merah muda dan hijau muda. Namun, aksesoris dan model potongan baju adatnya persis sama.
Sulaman Koto Gadang
Sulaman Koto Gadang adalah teknik kerajinan tangan menghias kain dengan benang yang dikerjakan secara tradisional oleh masyarakat Koto Gadang, salah satu nagari di Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Sulaman ini dihasilkan dari pengetahuan masyarakat Koto Gadang dalam membentuk jalinan benang di atas kain yang diwariskan secara turun-temurun. Pengerjaannya sama sekali tidak menggunakan teknologi mesin, melainkan menggunakan peralatan sederhana dan bergantung pada keterampilan tangan. [1]
Di antara teknik sulaman Koto Gadang yang masih digunakan saat ini yakni teknik sulaman "suji caia" dan "kapalo samek". Sulam suji caia menampilkan permainan gradasi warna benang yang saling menyatu (bahasa Minang: caia, artinya cair) sehingga menghasilkan bentuk bunga yang tampak hidup. [4] Adapun sulam kapalo samek (dari bahasa Minang, artinya kepala peniti) karena dalam pembuatannya benang dikait dan ditarik sampai ujung peniti sehingga menghasilkan bentuk bulat di atas kain. [5]
Pengetahuan dan keterampilan membuat sulaman Koto Gadang diwariskan secara turun-temurun, umumnya dari ibu ke anak perempuan. Saat ini, masih banyak ditemukan perempuan Koto Gadang yang menekuni sulaman dan bahkan menjadikannya sebagai mata pencaharian tambahan. Kekhasan sulaman Koto Gadang terletak dari proses pembuatan, motif, dan detail pengerjaan. Oleh karena itu, sulaman ini memiliki nilai jual yang relatif tinggi, hingga mencapai jutaan rupiah per helainya. [6] [7] Namun, rumitnya pengerjaan membuat sulaman Koto Gadang bisa membutuhkan waktu penyelesaian hingga dua bulan. [8]
Seni tekat
Rencana ini memerlukan petikan dan rujukan tambahan untuk pengesahan. Sila bantu memperbaiki rencana ini dengan menambahkan petikan ke sumber-sumber yang boleh dipercayai. Bahan yang tidak disahkan mungkin akan dipertikai dan dipadam.
Cari sumber: "Seni tekat" – berita · akhbar · buku · sarjana · JSTOR (Ketahui cara dan masa untuk membuang pesanan templat ini)
Seni tekat, seni sulam atau bersuji merupakan kerja mengait benang emas (menekat atau menyulam) ke atas kain dasar lazimnya yang jenis baldu).dikenali juga dengan nama . Menekat Kerja-kerja menekat memerlukan pemidang untuk meregangkan kain baldu, mempulur sebagai acuan motif dan benang emas untuk membentuk bunga tekat. [1]
Jahitan Sulam untuk Permadani Abad Pertengahan
Orang-orang di dunia abad pertengahan yang memiliki uang, baik itu raja kastil, pedagang kaya, atau biara, menutupi dinding batu dengan permadani untuk menahan panas. Beberapa dari permadani-permadani itu adalah kain tenun, dan beberapa adalah sulaman.
Tusuk Bayeux
Mungkin karya sulaman paling terkenal dari Abad Pertengahan adalah Permadani Bayeux abad ke-11, secarik kain sepanjang 50 cm dan hampir sepanjang 70 meter yang menceritakan kisah pertempuran Hastings pada 1066. Menurut legenda, permadani tersebut dipesan khusus dan sebagian disulam oleh Ratu Mathilda, istri William Sang Penakluk. Permadani ini berbeda dengan permadani-permadani belakangan karena latar belakangnya dibiarkan kosong, dengan hanya gambar-gambar yang disulam. Sedangkan pada permadani-permadani belakangan, tusuk tikam jejak digunakan sebagai garis luar, dengan sebagian besar gambarnya dibuat dengan teknik yang dikenal dalam bahasa Inggris kebanyakan sebagai Bayeux stitch (tusuk Bayeux), metode laid-and-couched di mana serangkaian jahitan pertama diletakkan di jahitan satin, kemudian jahitan tunggal diletakkan melintang dan dilapisi.
Tusuk Bayeux umumnya mangacu pada karya yang diletakkan dan dilapisi (laid and couched), di Skandinavia, tempat asalnya, disebut Refilsaum.
Tusuk Kloster
Klosterstitch adalah teknik couching sendiri – yaitu, benang yang diletakkan sama dengan benang yang digunakan untuk couching. Klosterstitch dikerjakan dengan jahitan yang diletakkan vertikal. Jahitan tersebut diatur dari atas ke bawah dan ditumpuk dari bawah ke atas. Dalam Klosterstitch jahitan couching secara praktis tidak terlihat, memisahkannya dari teknik serupa seperti tusuk bokhara, yang jahitan couching-nya membentuk pola di atas sulaman dasar. Tusuk Roumanian juga sama, tapi dikerjakan secara horizontal ketimbang vertikal.
Tags: benang sulam