"Telung Benang Bahasa Bali - Warisan Budaya yang Kaya"
Kruna wilangan tan janten
Ilustrasi pasir pantai. (Unsplash.com/Kunj Parekh)
Kruna wilangan tan janten adalah kata bilangan yang menunjukkan jumlah benda yang tidak bisa dihitung. Oleh karena itu, kruna wilangan tan janten ini ditulis dalam kata, bukan berbentuk angka.
Contoh Kruna wilangan tan janten:
- Liu artinya banyak
- Abedik atau bedik artinya sedikit
- Aketek artinya sedikit
- Agetul artinya satu celupan
- Adesa artinya satu desa atau menunjukkan jumlah yang banyak
- Akikit artinya sedikitpun
- Apaso artinya satu jembung atau panci
- Bek artinya banyak
- Begeh artinya banyak.
Bentuk-bentuk sarana Upacara Otonan
Upacara otonan menggunakan beberapa sarana upacara yang memiliki bentuk tertentu.
Bhagawadgita.IX.26 :
Patram puspam phalam to yam yo me bhaktya prayacchati tad aham bhaktyupahrtam asnami prayatatmanah
Artinya :
Siapapun yang dengan kesujudan mempersembahkan pada-Ku daun,bunga,buah-buahan atau air, persembahan yang didasari oleh cinta dan dari hati yang suci, Aku terima sebagai bakti persembahan dari orang yang berhati suci.
Adapun sarana upacara yang membentuk upacara otonan tersebut antara lain sebagai berikut.
(1) Banten Byakala atau Byakaon
(2) Banten Peras
Peras alasnya berupa taledan, diisi raka-raka (buah-buahan) lengkap, kulit peras yang dialasi beras dan di atasnya ditaruh nasi, sirih tampelan, benang dan kojong rangkadan. Dilengkapi dengan sampiyan peras atau pengambeyan, dapat dilengkapi dengan ayam panggang atau tutu dan canang sari. Banten Peras sesuai dengan namanya memohon keberhasilan, sukses atau prasidha (Sidhakarya) nya sebuah yadnya. Di dalamnya juga terkandung permohon kepada Sang Hyang Widhi dalam wujudnya sebagai Tri Murti, guna menyucikan Tri Guna (sifat Sāttwam, Rājas dan Tāmas) pada diri manusia.
(3) Banten Pengambeya
Banten ini memiliki alas berupa taledan, raka-raka (buah-buahan) lengkap dilengkapi dengan jajan bantal pengambeyan, nasi berupa 2 tumpeng yang ditengah-tengahnya disandarkan ketipat pengambeyan, 2 buah tulung pengambeyan yang berisi nasi, kacang saur, kojong rangkadan dan ayam panggang. Sampiyan pengambeyan dan sebuah canang. Kata Ngambe berarti memanggil atau memohon. banten Pengambeyan mengandung makna simbolis memohon karunia Sang Hyang Widhi dan para leluhur guna dapat menikmati hidup dan kehidupan senantiasa berdasarkan Dharma di bawah lindungan dan kendali Sang Hyang Widhi dan para Leluhur. Disini muncul permohonan ketegaran dan ketangguhan untuk menghadapi tantangan hidup dan kehidupan.
Tags: benang