"Toko Mesin Jahit Singer Portable di Solo, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah"
Wisata Alam Batu Seribu
Tempat wisata di Sukoharjo selanjutnya adalah Geopark Batu Seribu atau yang disebut juga wisata Pacinan terletak di Desa Gentan, Kecamatan Bulu, Kabupaten Sukoharjo.
Lokasi tempat rekreasi keluarga yang satu ini hanya berjarak sekitar 20 km sebelah selatan Kota Sukoharjo. Akses menuju lokasi agak sulit karena belum ada petunjuk arah untuk sampai di lokasi.
Untuk bisa masuk ke dalam geopark ini, kamu hanya membayar Rp. 2000, itupun untuk parkir kendaraanmu. Dari pintu loket kamu harus berjalan sekitar 1,5 kilometer dengan jalan yang menanjak dan curam.
Bagaimana cara menuju ke geopark ini, silahkan i kuti rute Solo-Wonogiri menuju ke gerbang Obyek Wisata Batu Seribu. Ikuti petunjuk arah untuk menuju ke Bukit Sepikul.
Untuk rute menuju lokasi yaitu ambil arah jalan Raya Sukoharjo – Wonogiri (tepatnya di Pasar Jamu Nguter, Sukoharjo) kamu cukup berkendara sekitar 15 menit.

Asal-usul Nama Sukoharjo
Nama Sukoharjo diyakini berasal dari dua kata dalam bahasa Jawa, yaitu suka dan harja, yang berarti daerah yang mendatangkan kesejahteraan. Nama Sukoharjo ini awalnya muncul saat Susuhunan Pakubuwono II sedang mencari daerah baru untuk keraton.
Daerah baru dicari karena Keraton Mataram di Kartasura sudah hancur akibat peristiwa pemberontakan yang terjadi. Beberapa tokoh kerajaan diajak berembug oleh Pakubuwono II, seperti Kiai Yosodipuro, Kiai Tohjoyo, hingga Pangeran Wijil. Saat itu, Kiai Tohjoyo mengusulkan daerah yang akan menjadi pusat pemerintahan harus bersifat Sukoraharjo, atau dapat mendatangkan kemakmuran dan kesejahteraan. Maka, dibentuklah tim untuk mencari daerah yang diyakini memiliki sifat seperti yang disampaikan Kiai Tohjoyo. Salah satu tim yang diperintahkan itu terdiri dari Raden Tumenggung Honggowongso dan Tumenggung Tirtowiguno. Keduanya berhasil menemukan daerah yang tepat karena memiliki beberapa unsur yang pas untuk keraton. Unsur itu antara lain bacira ngayun (alun-alun depan), bacira pungkuran (alun-alun belakang), tempat pande besi, tempat pembuatan warangka keris (mranggen), hingga tempat para istri raja, serta tempat untuk kandang gajah raja. Awalnya daerah itu akan dipilih. Namun tidak jadi karena pertimbangan strategis, yaitu terlalu dekat dengan markas Pangeran Sambernyawa yang sedang berkonfrontasi dengan Pakubuwono II. Sejarah mencatat, pada akhirnya istana baru itu didirikan di Desa Sala, yang kemudian menjadi Keraton Kasunanan Surakarta.
Meski tidak jadi dipilih, daerah yang ditemukan itu tetap berkembang dan sekarang menjadi wilayah Sukoharjo. Daerah itu terdapat Desa Begajah yang akan dijadikan kandang gajah, lalu ada Desa Pandean tempat banyak pande besi, hingga Desa Mranggen tempat kerajinan warangka keris.

Kolam Renang Kora Kora
Tempat wisata di Sukoharjo yang menarik untuk kita kunjungi selanjutnya adalah Kolam Renang Kora Kora yang terletak di Desa Purbayan, Kec. Baki
Objek wisata yang satu ini memang khusus diperuntukkan bagi anak-anak yang ingin mengisi waktu liburan mereka. Untuk menghibur anak-anak yang datang kemari, sudah disediakan 5 buah kolam renang dengan kedalaman yang bervariasi, nantinya anak-anak dapat menyesuaikan kolam renang dengan ketinggian mereka.
Untuk berenang di Kolam Renang Kora Kora ini Sobat Seru cukup mengeluarkan kocek sebesar Rp 15rb saja per orangnya. Kalian akan disuguhkan dengan air kolam yang bersih dan tidak berbau kaporit.
Sangat nyaman untuk dijadikan tempat berenang, apalagi di sekitar kolam juga teduh ada banyak pohon rimbunnya. Dijamin anak-anak akan betah berenang seharian disini.
Untuk yang mau les berenang, kalian akan dilatih oleh profesional dengan tarif sekitar Rp 50rb/pertemuan dengan durasi kurang lebih 1 jam saja.
Untuk kedalaman kolam di kolam renang kora-kora ini paling dalamnya cuma 130cm, dari 5 kolam yang tersedia, 4 buah kolamnya dilengkapi dengan prosotan, sedangkan 1 kolam lainnya hanya berukuran kecil tanpa perosotan.

Sejarah [ sunting | sunting sumber ]
Pasca Perang Jawa (1825-1830), pemerintah Hindia Belanda makin memperketat keamanan untuk mencegah terulangnya pemberontakan. Kondisi masyarakat Jawa yang semakin miskin mendorong terjadinya tindak kejahatan (pidana) di berbagai tempat. Menghadapi hal itu pemerintah kolonial menekan raja Surakarta dan Yogyakarta agar menerapkan hukum secara tegas. Salah satunya dengan membentuk lembaga hukum yang dilengkapi dengan berbagai pendukung. Di Kasunanan Surakarta dibentuk lembaga Pradata Gedhe, yakni pengadilan kerajaan yang menjadi pusat penyelesaian semua perkara. Lembaga ini dipimpin oleh Raden Adipati (Patih) di bawah pengawasan Residen Surakarta. Dalam pelaksanaannya, Pradata Gedhe mengalami kesulitan karena volume perkara yang sangat besar. Sunan Pakubuwono dan Residen Surakarta memandang perlu melimpahkan sebagian perkara kepada pemerintah daerah. Mereka sepakat membentuk pengadilan di tingkat kabupaten yang diberi nama Pradata Kabupaten. [butuh rujukan]
Pada tanggal 16 Februari 1874, Sunan Pakubuwono IX dan Residen Surakarta, Keucheneus, membuat perjanjian pembentukan Pradata Kabupaten untuk wilayah Klaten, Boyolali, Ampel, Kartasura, Sragen dan Larangan. Surat perjanjian tersebut disahkan pada hari Kamis tanggal 7 Mei 1874, Staatsblad nomor 209. Pada Bab I surat perjanjian, tertulis sebagai berikut:
Ing Kabupaten Klaten, Ampel, Boyolali, Kartasura lan Sragen, apadene ing Kawedanan Larangan kadodokan pangadilan ingaranan Pradata Kabupaten. Kawedanan Larangan saikiki kadadekake kabupaten ingaranan Kabupaten Sukoharjo. (Di Kabupaten Klaten, Ampel, Boyolali, Kartasura dan Sragen, dan juga Kawedanan Larangan dibentuk pengadilan yang disebut Pradata Kabupaten. Kawedanan Larangan sekarang dijadikan kabupaten dengan nama Kabupaten Sukoharjo).
Berdasarkan surat perjanjian tersebut sekarang ditetapkan bahwa Kamis, 7 Mei 1874 menjadi tanggal berdirinya Kabupaten Sukoharjo, yang sebelum itu bernama Kawedanan Larangan. Pada era kemerdekaan atau Pemerintahan Hari Lahir Kabupaten Sukoharjo dengan adanya Penetapan Pemerintah No.16/SD, tepatnya pada hari / tanggal Senin Pon, 15 Juli 1946 dan juga adanya pembentukan Pemerintah Daerah di karesidenan Surakarta, pada Minggu Wage, 16 Juni 1946.

Dunia Air Pandawa
“Ancolnya Sukoharjo”, mungkin itulah julukan yang tepat untuk tempat wisata hits di Sukoharjo yang satu ini.
Pasalnya objek wisata ini menawarkan berbagai macam wahana permainan air yang mirip seperti wahana permainan air di Taman Wisata Jaya Ancol. Dari mulai seluncuran sampai dengan ombak buatan, semuanya bisa ditemui di sini.
Hal unik lain yang mungkin hanya bisa ditemui di Dunia Air Pandawa adalah keberadaan patung wajah Pandawa yang berukuran sangat besar.
Kalau datang ke sini jangan lupa untuk berfoto dengan latar belakang patung tersebut ya!
Lokasi objek wisata Dunia Air Pandawa ada di Komplek Pandawa, Jl. Cemara Raya, Gedangan, Grogol, Kab. Sukoharjo, Jawa Tengah.
Di hari kerja objek wisata ini beroperasi dari mulai pukul 12 siang sampai dengan pukul 6 sore, sedangkan di hari libur dan akhir pekan jam operasionalnya dimulai dari pukul 8 pagi sampai dengan pukul 6 sore.
Untuk tiket masuknya sendiri di hari kerja ditetapkan sebesar 80 ribu rupiah. Saat liburan dan akhir pekan akan dinaikkan 20 ribu rupiah menjadi 100 ribu rupiah per orang.

Tags: jahit mesin toko portable singer jawa solo