... It looks like your message didn't come through. Could you please try sending it again?

Mengenal Hifa - Inspirasi Benang Jamur dalam Kerajinan Tangan1 / 2

Klasifikasi Fungi

Berdasarkan struktur tubuhnya, klasifikasi fungi atau jamur dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu kelompok jamur bersekat dan kelompok tidak bersekatnya hifa. Contoh kelompok fungi tidak bersekat adalah kelompok Zygomycota. Sementara kelompok bersekat, yaitu Ascomycota, Basidiomycota, dan Deuteromycota. Mari kita bahas satu per satu tiap klasifikasinya.

Zygomycota

Zygomycota merupakan kelompok jamur yang membentuk spora istirahat berdinding tebal dikenal dengan zigospora. Anggota zygomycota umumnya adalah jamur yang hidup saprofit, yaitu mendapatkan makanan dari organisme yang sudah busuk atau mati. Kelompok fungi ini memiliki banyak inti sel dan terdiri atas hifa tidak bersekat. Contohnya, Rhizopus Oryzae dan Mucor Javanicus.

Ascomycota

Ascomycota memiliki ciri khusus yaitu memiliki talus yang terdiri dari miselium bersekat. Dinding selnya terdiri dari zat kitin. Kelompok ini memiliki sifat uniseluler atau multiseluler. Anggota ascomycota ada yang hidup saprofit, parasit, maupun simbiosis.

Secara umum, anggotanya meliputi 3 kelas, yaitu Hemiascomycetes, Plectomycetes, dan Pyrenomycetes. Contohnya, Aspergillus fumigatus dan Penicillium (Plectomycetes), serta Neurospora untuk pembuatan oncom (Pyrenomycetes).

Basidiomycota

Klasifikasi fungi basidiomycota mencakup sebagian besar spesies makroskopis dan amat mencolok. Jamur ini sering dijumpai di tanah lapang dan pada hutan-hutan. Ciri khususnya memiliki hifa bersepta dengan sambungan apit. Spora seksualnya dihasilkan di atas struktur dengan bentuk gada, yang dikenal dengan istilah basidium. Anggota basidiomycota hidup sebagai saprofit dan parasit terhadap organisme lain. Contohnya, Volvariella volvacea (jamur padi).

Reproduksi Fungi/Jamur

Reproduksi fungi terbagi menjadi aseksual dan seksual. Reproduksi aseksual umumnya terjadi pada kelompok khamir dan sebagian kelompok fungi lainnya. Reproduksi aseksual terbagi menjadi pembentukan spora secara aseksual (dengan mitosis), terpisahnya miselium, dan terpisahnya sel tunas pada khamir. Kelompok fungi yang memiliki reproduksi aseksual tetapi belum diketahui siklus reproduksi seksual digolongkan dalam deuteromycota (dalam Bahasa Yunani, deutero “kedua” dan mycete “jamur”) (Urry dkk. 2017: 655).

Reproduksi seksual dimulai dari penyatuan hifa fungi yang bersifat haploid. Ketika hifa yang berbeda saling bertemu, terjadi fusi membentuk plasmogami. Uji kompatibilitas pada fungi berfungsi mencegah hifa saling berfusi dengan hifa dari miselium yang sama dan meningkatkan variasi genetik. Plasmogami yang terbentuk merupakan penyatuan sitoplasma dari dua miselium yang berbeda.

Ketika terjadi plasmogami, umumnya nukleus dari masing-masing hifa sebelumnya tidak langsung berfusi, sehingga miselium tersebut disebut miselium heterokarion, yang terdiri dari dua atau lebih nukleus yang berbeda. Proses selanjutnya yaitu peleburan nukleus-nukleus yang berbeda membentuk miselium diploid, disebut kariogami. Kariogami menghasilkan zigot dan berkembang ke tahap meiosis membentuk sel haploid, menghasilkan pembentukan spora sebagai bibit baru penyebaran fungi (Urry dkk. 2017: 656). Proses reproduksi seksual dan aseksual fungi dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Siklus Reproduksi Fungi
Sumber gambar: Urry dkk. 2017: 656

Struktur Tubuh dan Bentuk Jamur

Struktur Tubuh

Struktur vegetatif jamur berbentuk filamen panjang bercabang seperti benang yang disebut hifa. Hifa jamur memanjang bercabang-cabang dan berjalinan membentuk miselium.

Miselium ini berfungsi untuk meningkatkan luas penyerapan pada jamur. Pada jenis jamur tertentu hifanya terpisah oleh sekat/ ruang antarsel yang disebut septum.

Beberapa tipe struktur hifa pada jamur yaitu sebagai berikut:

  • Hifa yang tidak bersekat (hifa aseptat), yaitu hifa yang tidak mempunyai sekat, sehingga antara inti satu dan yang lain tidak dilapisi sekat/ membran. Hifa semacam itu disebut soenositik.
  • Hifa bersekat inti tunggal (hifa septat uninukleus), yaitu hifa dengan sel yang berinti tunggal. Sekat membagi hifa menjadi ruang-ruang dengan setiap ruang memiliki satu inti.
  • Hifa bersekat berinti banyak (hifa septat multinukleus), yaitu hifa dengan sel yang berinti banyak. Sekat membagi hifa menjadi ruang-ruang dengan sel berinti banyak.

Bentuk Jamur

Jamur memiliki bentuk tubuh yang bervariasi. Misalnya ada yang berbentuk benang (filamen), ada yang berbentuk bulat, dan ada yang berbentuk tubuh buah pada jamur multiseluler.

Tubuh buah jamur mempunyai bentuk yang beraneka ragam yaitu seperti mangkuk, kuping, payung, setengah lingkaran, atau bulat. Tubuh buah jamur berukuran makrokospis.

Fungi

Fungi atau jamur merupakan kelompok eukariot yang kebanyakan membentuk filamen multiseluler membentuk benang-benang hifa. Benang-benang hifa saling menjalin membentuk miselium agar dapat menembus tempat untuk menyerap nutrisi. Dalam pemenuhan nutrisi, fungi tergolong heterotrof “tidak dapat membuat makanan sendiri’ atau tidak dapat mengubah senyawa anorganik menjadi senyawa organik.

Dengan miselium yang dapat menjalar luas, sebagian besar ekosistem terestrial dikolonisasi oleh fungi. Keanekaragaman spesies fungi saat ini berkisar 100.000 spesies, diduga terdapat 1,5 juta spesies fungi yang belum teridentifikasi. (Urry dkk. 2017: 652—653). Ilmu yang mempelajari fungi disebut mikologi, dalam Bahasa Yunani mykes “jamur” dan logos “ilmu.”

Fungi berperan dalam sebagian besar kehidupan di terestrial. Fungi dapat mencerna material organik sebagai saproba untuk mendaur ulang nutrien, sehingga disebut saprofit. Peran fungi yang bermanfaat untuk manusia, seperti manjadi bahan makanan, pembuatan antibiotik, dan penyuburan tanaman. Peran fungi lainnya yang merugikan yaitu sebagai parasit terhadap manusia, hewan ternak, maupun tanaman budidaya di pertanian (Urry dkk. 2017: 652—653).

Klasifikasi Fungi/Jamur

Pengelompokkan fungi terbagi dari empat filum, seperti Zygomycota (hifa koenositik), dan fungi bersepta, seperti Ascomycota, Basidiomycota, dan Deuteromycota.

1. Zygomycota

Ciri-ciri Zygomycota:
Reproduksi Zyogomycota

Terdapat dua tipe miselium yang berbeda akan saling berfusi, yaitu miselium + dan miselium -. Miselium yang bersebelahan membentuk perluasan hifa atau disebut gametangium yang membawa nukleus haploid. Gametangium yang saling berdekatan membentuk zigosporangium dalam proses plasmogami. Ketika keadaan lingkungan menguntungkan, terjadi kariogami membentuk nukleus diploid, dilanjutkan dengan proses meiosis. Zigosporangium yang bergeminasi berubah menjadi sporangium. Sporangium menyebarkan spora haploid dan terbentuk miselium haploid baru. Kelompok Pilobolus dapat membidikkan sporangium ke arah cahaya matahari dan menyebarkan dalam semburan air sejauh 2 m.

Spora dari sporangium tumbuh menjadi miselium baru dan membentuk sporangium tanpa proses seksual. Reproduksi aseksual lainnya seperti pemutusan hifa pada stolon atau rizoid membentuk individu baru. Siklus reproduksi zygomycota dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3. Siklus Reproduksi Zygomycota
Sumber gambar: Urry dkk. 2017: 660

Contoh Zygomycota: Rhizopus oryzae (untuk pembuatan tempe), R. stolonifer, R. oligosporus, Pilobolus (Raven dkk. 2017: 625—626, Urry dkk. 2017: 660—661).

2. Ascomycota

Ciri-ciri Ascomycota:
Reproduksi Ascomycota

Gambar 4. Siklus Reproduksi Ascomycota
Sumber gambar: Urry dkk. 2017: 662

Contoh Ascomycota: Morchella esculenta (morel yang dapat dimakan), Tuber melanosporum sebagai truffle, Neurospora crassa untuk pembuatan oncom (Urry dkk. 2017: 661—662).


Tags: benang yang

`Lihat Lagi
@ 2024 - Tenun Indonesia