Seni Ukiran Kayu Papua - Keajaiban Kerajinan Jarum dan Proyek DIY
Upacara Adat Suku Asmat
1. Upacara Tsyimbu
Upacara Tsyimbu diadakan setiap lima tahun sekali untuk pembuatan dan pengukuhan rumah lesung ataupun perahu. Dimana perahu ini akan diukur dengan gambar keluarga yang sudah meninggal dan berbagai gambar lainnya.
Kemudian diberi warna putih di bagian dalam dan warna merah yang berseling warna putih di bagian luarnya, serta diberi hiasan sagu. Biasanya akan dilakukan pertunjukan nyanyian dan tarian yang diiringi tifa sebelum perahu dibuat atau dikukuhkan.
Keluarga besar berkumpul di rumah kepala suku untuk melakukan pertunjukan tersebut, suasananya ramai dengan sorak-sorai. Perahu yang dibuat dalam Upacara Tsyimbu ini berfungsi menjadi pengangkut makanan, meski dulunya dipakai untuk memprovokasi musuh agar berperang.
2. Upacara Yentpokmbu
Rumah Jew atau biasa disebut Rumah Bujang biasanya diberi nama sesuai dengan marga sang pemilik. Pemberian nama dilakukan selama Upacara Yentpokmbu ini.
3. Upacara Mbismbu
BACA: Suku Osing, Mengenal Suku Asli Banyuwangi dengan Budaya Santet yang Paling DitakutiCukup seram, orang Asmat akan membalas dendam apabila kematian kerabat mereka terjadi karena dibunuh. Dimana mereka akan membalasnya dengan cara sama.
4. Ritual Kematian
Kematian dianggap sebagai hal yang sakral dalam budaya masyarakat Suku Asmat di Papua ini. Karena mereka percaya bahwa hal tersebut terjadi karena adanya gangguan dari roh jahat.
Sisa tulang lainnya juga akan disimpan di atas pokok kayu atau di atas perahu lesung yang disertai sagu, kemudian dihanyutkan ke laut. Lalu pihak keluarga akan membuat ukiran Mbis untuk mengenang orang yang sudah meninggal tersebut.
Unik sekali bukan adat istiadat suku asli papua ini? Tidak heran jika banyak ilmuwan yang melakukan ekspedisi untuk mencari tahu lebih banyak informasi mengenai suku ini. Tentunya ada lebih banyak fakta yang mungkin belum terkuak, sebab banyak dari orang Suku Asmat Papua yang hidup di pedalaman hutan belantara sehingga sulit untuk dijangkau.
Fungsi Seni Ukir
Dalam karya seni ukir ada beberapa fungsi yang dimiliki, diantaranya :
Fungsi Hias
Karya seni ukir yang dibuat oleh para seniman hanya untuk hiasan, artinya motif ukir tersebut tidak mengandung makna tertentu. Contohnya ukiran hiasan dinding.
Fungsi Magis
Ukiran ini dibuat dengan mengandung simbol-simbol tertentu dan digunakan sebagai benda magis yang berhubungan dengan kepercayaan dan spiritual. Contohnya ukiran pada patung suku asmat yang bernilai magis.
Fungsi Simbolik
Fungsi ukiran simbolik biasanya terdapat pada ukiran tradisional yang unik yaitu untuk menyimbolkan hal-hal tertentu yang berkaitan dengan spiritual.
Contohnya seperti beberapa ornamen rumah adat di Indonesia, seperti simbol ornament rumah adat Jawa Tengah.
Pada beberapa bangunan di Jawa biasanya dapat kita jumpai kayu yang terukir. Pada ornament tersebut mengandung makna simbolis. Seperti ayam jago, gunungan ular naga, banyu tretes, banaspati dan sebagainya.
Suku Asmat Keturunan Dewa Fumeripits
Menurut kepercayaan yang beredar di Papua, Suku Asmat diyakini sebagai keturunan dewa. Yakni Fumeripits yang turun dari dunia ghaib di suatu tempat nan jauh di pegunungan. Ia kemudian turun ke hilir sampai menemukan lokasi yang kini ditinggali oleh orang Asmat hilir.
Selama perjalanan turun, Fumeripits diserang oleh seekor buaya raksasa dan membuat perahunya tenggelam. Meskipun luka parah, Fumeripits berhasil membunuh buaya tersebut sampai dia terdampar di tepi Sungai Asewet.
Seekor burung flamingo pun membantu merawatnya hingga sembuh. Di sana Fumeripits pun membangun rumah berukuran panjang sebagai tempat tinggal, ditambah dua patung untuk menemanisnya supaya tidak kesepian.
Rekomendasi
8 Fakta Unik Palestina: Negara yang Kaya Situs Arkeologi dan Warisan Budaya
Suku Osing, Mengenal Suku Asli Banyuwangi dengan Budaya Santet yang Paling Ditakuti
Kedua patung tersebut diletakkan berjajar di sekitar rumah, dan masyarakat mempercayainya sebagai asal usul Suku Asmat yang ada sampai sekarang.
Contoh Hasil Kerajinan Ukiran Kayu Asmat
Salah satu benda hasil kerajinan ukiran yang cukup populer di dunia adalah panel-panel unik yang sering dimanfaatkan menjadi hiasan dinding. Panel-panel ukiran ini biasanya mempunyai pola ukiran hewan atau garis-garis tribal khas Asmat. Benda ini menjadi begitu terkenal karena keunikannya dan kemudahannya untuk dibawa dalam jarak jauh, mengingat para wisatawan biasanya membeli panel untuk dijadikan buah tangan.
Selain bentuk panel, jenis ukiran yang tak kalah terkenal adalah Patung Bis atau disebut leluhur dan Totem. Pembuatan kedua ukiran ini sangatlah berkaitan dengan kehidupan spiritual masyarakat Asmat. Mereka biasanya akan menggunakan satu batang utuh dari sebuah pohon lalu diukir hingga menyerupai manusia yang mereka anggap sebagai leluhur.
Untuk totem sendiri, biasanya dibuat dari sebuah batang pohon yang terbalik. Bagian akar akan ditaruh di atas karena mereka akan menggunakan akarnya yang panjang tersebut sebagai pelambangan kesuburan dan harus diletakkan di bagian atas totem. Kedua benda ini sangatlah sakral bagi masyarakat setempat dan biasanya akan ditempatkan pada tempat yang sakral pula seperti ditempatkan diJew (Rumah Bujang) atau pintu masuk desa Asmat.
Harga Ukiran Kayu Asmat
namun untuk Harga jual panel-panel anda bisa membeli nya dengan harga yang tidak terlalu mahal, untuk satu buah panel berukuran paling kecil umumnya dijual seharga 200.000-300.000 rupiah. menurut kami Harga ini cukup pantas karena panel-panel ini juga mempunyai nilai sertatingkat kesulitan yang cukup tinggi dalam membuatnya.
Sejarah Seni Ukir di Indonesia
Pada tahun 1500 SM, Indonesia mengenal seni ukir tepat sejak zaman batu muda. Pada saat itu, nenek moyang bangsa Indonesia sudah berhasil membuat ukiran dari bahan batu dan tempaan yang terbuat dari tanah liat.
Motif ukir yang digunakan masih sangat sederhana. Pada umumnya, motif ukiran bermotif geometris yang berupa garis, titik dan lengkungan.
Seiring perkembangan zaman, bahan membuat ukiran semakin berkembang dengan menggunakan perunggu, perak, emas dan lainnya. Teknik ukir yang digunakan menggunakan media cor.
Perkembangan seni ukir di Indonesia semakin pesat ketika agama Islam, agama Hindu dan agama Budha masuk ke Indonesia. Karya seni ukir yang dihasilkan dalam bentuk desain, motif dan produksi.
Jenis ukiran yang ditemukan pada badan candi dan prasasti yang dibuat pada masa itu untuk mengenang para raja-raja.
Bentuk ukiran juga ditemukan pada senjata tradisional (seperti keris dan tombak), alat musik tradisional (seperti gamelan dan wayang).
Motif ukiran pada masa itu, selain menggambarkan bentuk ukiran, terkadang berisi kisah para dewa dan mitos kepahlawanan.
Bukti sejarah peninggalan ukiran pada masa tersebut dapat ditemui pada relief candi Penataran di Blitar, candi Prambanan dan candi Mendut di Jawa Tengah.
Sedangkan motif ukir yang digunakan pada zaman perunggu yaitu motif ukir mender, motif ukir topeng pilin berganda, motif ukit topeng, motif ukir tumpal, motif ukir binatang dan motif ukir manusia.
- Motif meander ditemukan pada nekara perunggu dari gunung merapi dekat Bima.
- Motif tumpal ditemukan pada buyung perunggu dari kerinci Sumatera Barat dan pada pinggiran sebuah nekara (moko dari Alor, NTT).
- Motif pilin berganda ditemukan pada nekara perunggu dari Jawa Barat dan pada bejana perunggu dari kerinci, Sumatera.
- Motif topeng ditemukan pada leher kendi dari Sumba, Nusa Tenggara. Dan pada kapak perunggu dari danau sentani, Irian Jaya, pada motif ini menggambarkan muka dan mata orang yang sedang memberi kekuatan magis yang dapat menangkis kekuatan jahat
- Motif binatang dan manusia ditemukan pada nekara dari Sangean.
Tags: kayu ukiran