Seni Ukiran Kayu Suku Asmat - Inspirasi Luar Biasa untuk Kerajinan Sulam dan DIY
Suku Asmat Keturunan Dewa Fumeripits
Menurut kepercayaan yang beredar di Papua, Suku Asmat diyakini sebagai keturunan dewa. Yakni Fumeripits yang turun dari dunia ghaib di suatu tempat nan jauh di pegunungan. Ia kemudian turun ke hilir sampai menemukan lokasi yang kini ditinggali oleh orang Asmat hilir.
Selama perjalanan turun, Fumeripits diserang oleh seekor buaya raksasa dan membuat perahunya tenggelam. Meskipun luka parah, Fumeripits berhasil membunuh buaya tersebut sampai dia terdampar di tepi Sungai Asewet.
Seekor burung flamingo pun membantu merawatnya hingga sembuh. Di sana Fumeripits pun membangun rumah berukuran panjang sebagai tempat tinggal, ditambah dua patung untuk menemanisnya supaya tidak kesepian.
Rekomendasi
8 Fakta Unik Palestina: Negara yang Kaya Situs Arkeologi dan Warisan Budaya
Suku Osing, Mengenal Suku Asli Banyuwangi dengan Budaya Santet yang Paling Ditakuti
Kedua patung tersebut diletakkan berjajar di sekitar rumah, dan masyarakat mempercayainya sebagai asal usul Suku Asmat yang ada sampai sekarang.
Persebaran Suku Asmat
Jumlah orang Suku Asmat sangat banyak, bahkan menjadi suku dengan jumlah anggota terbanyak yang ada di Papua. Itulah kenapa orang-orang suku ini tidak bertempat tinggal di satu tempat saja, namun tersebar di beberapa wilayah.
Ada yang tinggal di daerah pesisir di sekitar Pantai Laut Arafuru sampai pedalaman hutan. Karena dekat dengan sumber mata air dan makanan, mereka yang tinggal di pesisir pantai memiliki kehidupan yang terlihat lebih mudah.
Sedangkan mereka yang tinggal di kawasan Pegunungan Jayawijaya, di tengah hutan belantara, cenderung lebih sulit. Bahkan batu yang ditemukan di jalanan pun dapat menjadi benda berharga sebagai mas kawin.
Itu karena sulit untuk menemukan batu di hutan belantara yang berupa rawa-rawa. Sehingga batu pun dinilai memiliki banyak manfaat untuk kehidupan sehari-hari. Selain digunakan sebagai mas kawin, batu ini juga dimanfaatkan untuk membuat kapak maupun berbagai peralatan bertahan hidup lainnya.
Rumah Adat Asmat
Ada dua macam rumah adat yang digunakan sebagai tempat tinggal oleh Suku Asmat Papua. Yang pertama yaitu Rumah Jew, dibangun demi kepentingan bersama masyarakat setempat. Jadi rumah ini secara khusus digunakan untuk melakukan berbagai macam kegiatan ritual, rapat desa, hingga tempat berkumpulnya para pemuka adat.
Ukurannya cukup besar dengan bentuk memanjang yang memiliki 17 pintu masuk. Jalur masuk di depan pintu rumah memiliki tangga sederhana yang mempunyai lebih dari satu tangga.
Disebut juga sebagai rumah bujang lantaran orang yang tinggal di dalamnya merupakan laki-laki yang belum menikah. Sementara rumah adat dengan ukuran yang lebih kecil disebut Rumah Tysem.
BACA: Suku Kajang Ammatoa, Suku Unik dan Paling Ditakuti dari Sulawesi SelatanRumah Tysem tersebut biasanya ditempatkan di sekitar Rumah Jew, dibuat sebagai tempat tinggal anggota keluarga dengan maksimal tiga kepala keluarga. Mulai dari bapak, ibu, dan anak yang sudah menikah bersama pasangannya.
Rumah Adat Suku Asmat
Dari berbagai literatur disimpulkan bahwa ada beberapa macam rumah adat suku Asmat yaitu jew, tsyem, dan bivak.
Jew
Jew adalah salah satu rumah adat suku Asmat yang berukuran cukup besar dan berpondasi kayu besi yang kokoh, yang dibangun di antara pohon di pinggir sungai.
Panjang rumah mencapai 25 meter dengan pintu masuk lebih dari satu. Ada pula tangga sederhana yang terletak di depan pintu rumah sebagai jalur masuk ke dalam rumah.
Jew disebut rumah bujang karena menjadi kediaman bagi kaum laki-laki yang belum pernah menikah.
Tidak hanya itu, jew juga dapat digunakan oleh seluruh penduduk suku Asmat, terutama laki-laki, karena mereka merupakan pimpinan keluarga.
Jew juga dapat berfungsi sebagai balai desa yakni tempat untuk melakukan rapat desa atau menentukan strategi perang yang dilakukan oleh para pemuka adat dan pimpinan suku Asmat.
Tsyem
Tsyem adalah rumah adat suku Asmat berupa rumah panggung kecil berukuran (3 x 4 x 5) m. Rumah ini berfungsi sebagai tempat tinggal, tempat menyimpan senjata, tempat menyimpan peralatan untuk berburu, maupun alat bercocok tanam.
Bivak
Bivak adalah rumah adat suku Asmat berukuran besar yang dibangun di hutan dan berfungsi sebagai tempat tinggal sementara.
Pendirian rumah bivak ini tidak terlepas dari pola hidup suku Asmat yang dahulu kerap berpindah-pindah tempat untuk mencari bahan makanan.
Kesenian Suku Asmat
Suku Asmat juga memiliki beragam kesenian yang membuat mereka unik dan menarik di antaranya seni kerajinan dan seni pertunjukan.
1. Seni Kerajinan
Masyarakat suku Asmat memiliki seni kerajinan yang cukup terkenal, yaitu membuat ukiran kayu dalam bentuk patung, topeng, tombak, perisai, tifa, dan penokak sagu.
Salah satu seni ukiran kayu yang paling terkenal dari suku Asmat adalah seni patung atau tiang mBis.
Jenis patung yang dibuat biasanya berupa patung-patung nenek moyang yang dibuat secara bersusun dan disesuaikan dengan silsilah nenek moyang.
Selain mahir membuat patung, masyarakat adat suku Asmat juga pandai membuat peralatan rumah tangga, seperti kapak yang terbuat dari batu.
2. Seni Pertunjukan
Seni pertunjukan masyarakat suku Asmat tidaklah banyak, dalam artian hanya terbatas pada tarian adat yang berkaitan dengan upacara religi atau upacara kemasyarakatan lain.
Misalnya tari perang atau tari pergaulan yang biasa dibawakan oleh sekelompok penari laki-laki dan perempuan secara berpasangan.
Adapun gerakan tarian yang ditampilkan tidaklah rumit. Intinya adalah gerakan kaki dan badan yang dilakukan secara harmonis sesuai dengan iringan musik yang sederhana.
Tags: kayu ukiran