Menggali Kreativitas - Keindahan Kerajinan Tangan di Yogyakarta, Sumatera Barat, dan Bali
Gerabah Kasongan
Gerabah merupakan sebuah kerajinan yang selalu ada hampir di seluruh wilayah Indonesia. Sedangkan Kasongan merupakan sebuah desa yang berada di Bantul, Yogyakarta. Kota ini sudah membuat kerajinan gerabah sejak meletusnya perang Diponegoro yaitu pada tahun 1825-1830. Masyarakat Kasongan membuat gerabah untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari mereka. Gerabah yang dibuat biasanya merupakan peralatan rumah tangga seperti kuali, pengaron, kendi, anglo, cowèk, dan alat lainnya.
Sejak saat itu Kasongan tak hanya menghasilkan gerabah peralatan rumah tangga tetapi juga souvenir yang cantik. Pada tahun 1980 an kerajinan gerabah mengalami puncak kejayaannya dimana sepanjang jalan di Kasongan terdapat banyak sanggar untuk belajar membuat gerabah. Kerajinan gerabah Kasongan pun tak hanya diminati oleh masyarakat lokal tetapi juga oleh bangsa lain seperti dari Jepang, Eropa, Australia, hingga Kanada.
Penghasil Kerajinan Pajangan Perak: Kotagede, Yogyakarta
Kotagede merupakan sebuah kecamatan di sisi tenggara Yogyakarta. Wilayah yang berbatasan dengan Kecamatan Umbulharjo dan Kabupaten Bantul ini sudah lama terkenal menjadi surga untuk para pecinta kerajinan dari perak.
Hasil kerajinan perak dari Kotagede lebih banyak berupa barang seni untuk dipajang misalnya seperti miniatur kapal, patung Buddha, Candi Borobudur, kapal, andong, cangkir, mangkok, piring, panci, teko, dan lain-lain.
Ukuran serta harganya juga bermacam macam, mulai dari sepuluh ribu rupiah, sampai jutaan rupiah.
Nah, selain membeli barang yang sudah tersedia di etalase, di Kotagede kamu juga dapat memesan desain sendiri secara khusus atau custom.
Sebagai info, salah satu toko kerajinan perak yang terkenal di Kotagede adalah HS Silver yang berada di Jalan Mondorokan. Toko ini didirikan oleh Harto Soehardjo dan membuat sendiri kerajinan kerajinan yang dijual ditokonya.
RECOMMEND : √27 Inspirasi Lampion Stik Es Krim Mudah dan UnikUniknya, di Kotagede ketika berbelanja kerajinan kamu juga bisa sambil melihat proses pembuatannya.
Keris
Keris merupakan senjata tradisional khas Jawa termasuk Yogyakarta yang sudah ada sejak dahulu kala. Bagi masyarakat Jogja keris bukan hanya sekedar senjata tetapi juga benda berharga yang mengandung nilai filosofi leluhur. Keris terbuat dari besi yang dibentuk meliuk-liuk hingga menampilkan kesah gagah dan eksotis. Setiap keris memiliki bentuk liukan atau disebut luk dengan jumlah ganjil mulai dari tiga hingga seterusnya.
Jumlah luk yang ganjil bukan tanpa maksud dalam artian ada maknanya sendiri. Makna tersebut adalah manusia tidak akan pernah bisa genap atau sempurna. Keris memiliki wadah pembungkus yang disebut dengan warangka. Cara mengeluarkan keris dari warangka pun memiliki arti. Apabila pemilik keris tersebut dikeluarkan dengan cara menarik warangkanya maka berarti pemilik tersebut menghormat pandai besi atau pembuat keris tersebut. Namun jika pemilik keris mengeluarkannya dengan cara menarik gagang keris itu menandakan ia akan menikam atau menusuk seseorang.
Selain sebagai senjata tradisional, keris juga merupakan simbol dari status sosial seperti keris Kanjeng Kyai Ageng Kopek yang hanya boleh digunakan dan dimiliki oleh sultan keraton Yogyakarta. Keris juga kerap dijadikan sebagai aksesoris pelengkap dalam berpakaian terutama pakaian adat.
Desa Gamplong
Editor’s picks
instagram.com/dw.tenungamplong
Terletak di Kabupaten Sleman, desa Gamplong merupakan pusat kerajinan tenun tradisional di Yogyakarta yang sudah berkembang sejak jaman dahulu. Awal mula Industri tenun ini bermula ketika penduduk di desa ini membuat tenunan ikat bagoor sebagai pakaian bagi pribumi pada masa penjajahan.
Produk yang dihasilkan dapat berupa stagen, kain basah, serbet, hingga handuk. Semakin hari, produk yang dihasilkan bukan hanya tenunan tapi juga kerajinan anyaman yang terbuat dari serat alam seperti eceng gondok, lidi, dan mendong.
Salah satu keunikan di tempat ini, industri tenun di sini masih menggunakan ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin).
Tags: kerajinan hasil yogya