Keindahan Tenunan Bali - Mengenal Alat-Alat Tradisional yang Terkenal
Sejarah kain endek
Kain endek Bali digunakan di rumah mode Christian Dior (www.dior.com)
Pesona Bali memang tidak ada habisnya. Selain destinasi wisata yang beragam, kebudayaan yang melekat pun membuat hati turis terpikat. Berbagai karya seni juga menjadi ciri khas Pulau Dewata, salah satunya adalah kain endek.
Penduduk lokal menamainya wastra endek, tapi ada juga yang menyebutnya dengan istilah kain tenun endek. Julukan 'endek' berasal dari bahasa setempat ngendek atau gendekan. Maknanya sendiri, yakni diam dan tidak berubah warna.
Penamaan tersebut berkaitan engan pembuatan kainnya. Dalam prosesnya, kain akan diikat dan diwarnai. Meski demikian, warna benang tidak yang digunakan tidak berubah, melansirVisit Bali.
Kain endek merupakan budaya turun-temurun masyarakat Bali sejak masa pemerintahan Raja Dalem Waturenggong. Beliau merupakan pemimpin sebuah kerajaan bernama Gelgel yang memerintah pada 1480 - 1550. Kerajaan ini terletak di Gelgel, Klungkung, Bali, melansir situs resmi Desa Kampung Gelgel.
Sementara itu, menurut situr Warisan Budaya Takbenda Indonesia Kemdikbud, kebudayaan tenun di Bali sudah dikenal sejak masa prasejarah. Adapun kebudayaan tenun endek ini diperkirakan muncul sejak abad ke-8 Masehi, sebagaimana yang tercatat pada kamus oleh Van Der Tuuk.
Tenun Endek Bali
Tenun adalah hasil kerajinan yang berupa bahan (kain) yang dibuat dari benang (kapas, sutra dan sebagainya) dengan cara memasuk-masukkan pakan secara melintang pada lungsin. Tenun Endek Bali adalah kain tenun tradisional khas Bali. Nama “Endek” diambil dari kata gendekan atau ngendek yang maknanya diam atau tetap, tidak berubah warnanya.
Dalam kehidupan sehari-hari kain endek memiliki berbagai fungsi. Kain endek digunakan sebagai pakaian sakral dalam kegiatan upacara besar dan sembahyang di pura. Selain itu endek juga digunakan untuk seragam sekolah dan kantor setiap hari Selasa. Namun, ada beberapa motif yang dianggap sakral yang hanya digunakan dalam acara keagamaan saja. Ada juga motif yang hanya digunakan untuk orang-orang tertentu seperti para raja atau bangsawan.
Alasan di balik penggunaan kain ini secara rutin di hari Selasa adalah karena masyarakat perlu berperan secara aktif mempromosikan dan memasarkan kain tenun endek dalam berbagai kegiatan lokal, nasional, dan internasional guna meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan. Dengan demikian, kain tenun endek tidak hanya sebagai bentuk perlindungan budaya asli, tetapi juga sebagai bentuk promosi aktif di bidang ekonomi dan budaya.
Sebagai bentuk perlindungan dari produksi kain asli tenun endek, Gubernur Bali juga menetapkan peraturan yang menyatakan bahwa Kain Tenun Endek Bali hanya boleh diproduksi secara tradisional oleh perajin lokal masyarakat Bali, dan tidak boleh lagi diproduksi oleh pihak lain di luar Bali.
Tags: dari yang untuk alat digunakan