Keindahan dan Kerajinan Baju Tenun Kalimantan
Jenis Tenun Ikat Sintang
Berdasarkan teknik pewarnaan jenis kain tenun ikat Dayak dapat terbagi menjadi dua macam yaitu, tenun ikat menggunakan pewarnaan kimia (bahan kimia) dan tenun ikat menggunakan pewarnaan alami (tumbuh-tumbuhan). Dalam proses pewarnaan kain tenun biasanya seorang penenun suku Dayak harus mengenakan kain adat berbentuk tating untuk menghormasti leluhur atau nenek moyang mereka.
Banyak motif tenun ikat yang merupakan buatan masyarakat Dayak. Motif paling banyak beredar adalah motif geometris. Beberapa motif adalah motif sakral dan suci. Karena itu, tidak sembarang orang boleh membuatnya. Hanya orang tua yang sudah banyak berpengalaman yang boleh membuat motif tersebut.
Konon jika terjadi kesalahan dalam membuat motif tersebut dapat mengakibatkan kematian. Motif yang sakral biasanya yang menggambarkan mahluk hidup seperti manusia, naga, dan buaya. Mereka percaya motif tersebut juga harus mendapat “makanan”, yakni melakukan ritual khusus dalam proses pembuatannya.
Berdasarkan hasil pengerjaan, kain tenun ikat sintang terbagi menjadi dua jenis yakni kebat dan kumbu. Tenun kebat merupakan jenis kain tenun yang berukuran agak kecil dan hanya cukup untuk menjadi busana wanita dan anak-anak. Sedangkan tenun ikat kumbu merupakan kain tenu ikat yang berukuran lebih besar sehingga cukup untuk menjadi bahan pakaian dewasa baik pria, wanita, maupun anak-anak.
Baju Adat Pengantin Kalimantan
Baju Adat Pengantin Dayak Kanayatu
Suku Dayak di Kalimantan memiliki ratusan sub suku, salah satu di antaranya adalah Dayak Kanayatu. Baju adat pengantin yang berasal dari suku Dayak Kanayatu itu terbuat dari kulit kayu. Untuk mempelai wanita, busana pengantinnya berhias motif geometris dan terdiri dari 3 bagian, yaitu penutup pundak, penutup tubuh dan bawahan berupa rok panjang.
Selain itu, busana pengantin wanita Dayak Kanayatu itu dilengkapi pula dengan hiasan kepala seperti mahkota yang juga terbuat dari kulit kayu dan dihiasi dengan bulu burung enggang. Sedangkan untuk mempelai pria, menggunakan baju Marote yaitu rompi khas Dayak Kanayatu yang terbuat dari kulit kayu dan juga dihiasi dengan motif geometris.
Sementara itu, untuk bawahannya menggunakan cawat yang terbuat dari lilitan kain dari pinggang, hingga ke bagian pangkal paha. Mempelai pria juga mengenakan hiasan kepala semacam mahkota atau ikat kepala yang melambangkan status sosial raja. Hiasan kepala yang dikenal dengan sebutan tengkulas itu, dihiasi oleh bulu burung kuau raja dan enggang.
Baju Adat Pengantin Melayu Banjar
Busana pengantin khas suku Melayu Banjar ini cukup populer di Kalimantan Selatan. Mempelai wanita mengenakan baju poko berhias manik-manik serta kida-kida, yaitu hiasan pengantin yang bentuknya persegi lima.
Sedangkan, mempelai pria mengenakan kemeja lengkap dengan kerenda pada bagian dada dan dipadukan pula dengan jas sebagai atasan. Sementara itu, untuk bawahannya mengenakan celana panjang yang dilengkapi dengan ikatan kain bermotif halilipan dan tali wenang di bagian pinggang.
Tags: tenun baju kalimantan