Keindahan dan Kerajinan Baju Tenun Kalimantan
Kain Tenun Corak Insang
Kain tenun ini merupakan kain yang biasa digunakan oleh orang-orang Melayu khususnya di kota Pontianak, Kalimantan Barat. Pada tahun 1777 yaitu pada masa Kesultanan Kadriyah kain ini digunakan oleh para bagsawan dan hanya dipakai di wilayah istana saja. Kain tenun corak insang digunakan pada saat acara pertemuan antar kerajaan atau sebagai oleh khas kerajaan.
Diberi nama corak insang sebab motif kain ini terinspirasi dari anggota tubuh seekor ikan yaitu bagian insang. Insang dianggap memiliki filosofi yaitu alat kehidupan dan hasil akal budi yang akan digunakan dalam hidup. Motif ini juga menggambarkan kehidupan masyarakat Pontianak yang bermukim di sepanjang sungai Kapuas.
Perkembangan Pakaian Adat Kalimantan
Masyarakat Kalimantan, khususnya suku Dayak didominasi dengan model pakaian tanpa lengan, lengkap dengan celana ataupun rok pendek. Hal tersebut disebabkan karena keseharian suku Dayak dihabiskan di hutan, sehingga model bajunya pun disesuaikan dengan kebiasaan hidup mereka yang cenderung keras di alam terbuka.
Sebenarnya, perkembangan pakaian adat Kalimantan di zaman modern ini, jika dilihat dari desain atau model bajunya tidak mengalami banyak perkembangan. Hanya saja, gambar atau motif hias warna warni khas dari pakaian adat Dayak kini mulai banyak dituangkan dalam versi batik.
Selain itu, Kalimantan juga dikenal berbagai jenis kain tenun. Beberapa jenis kain tenun khas Kalimantan yang menjadi favorit masyarakat Indonesia di antaranya seperti Tenun Sambas khas Kalimantan Selatan, Ulap Doyo khas Kalimantan Timur, Tenun Ikat Sintang khas Kalimantan Barat dan kain Sasirangan khas Kalimantan Selatan.
Baju adat Kalimantan itu beraneka ragam, bahkan masing-masing Propinsi di Kalimantan memiliki jenis pakaian yang berbeda. Kebanyakan pakaian adat masyarakat Kalimantan adalah pakaian khas suku Dayak, yang terbuat dari bahan alam, namun ada pula sebagian daerah di Kalimantan yang baju adatnya berasal dari suku Melayu, yang terbuat dari kain dengan desain pakaian yang lebih tertutup.
Kain Tenun Samarinda
Sarung merupakan kain yang umum digunakan di Indonesia terutama para laki-laki. Samarinda ternyata memiliki kain sarung tradisionalnya sendiri yang dikenal sebagai sarung tenun Samarinda atau Tajong Samarinda dalam bahasa lokal. Dalam proses pembuatannya memakan waktu cukup lama sebab kain ini ditenun dengan menggunakan alat tenun bukan mesin. Tak heran jika satu lembar kain sarung membutuhkan waktu hingga 2 minggu.
Asal usul dari kain sarung ini dimulai sejak tahun 1668 yang dibawa oleh seseorang dari Bugis. Ia adalah Sultan La Madukelleng bersama dengan rombongannya dan meminta sebidang tanah kepada penguasa Kutai saat itu. Permintaan pun dipenuhi oleh Raja dengan syarat harus tetap patuh pada pemerintah Kutai. Tanah ini lah yang sekarang disebut dengan Samarinda.
Sultan Madukelleng dan rombongan pun memanfaatkan wilayah mereka agar berkembang. Mereka pun menerapkan budaya menenun Bugis ke Samarinda hingga terciptalah kain sarung tenun Samarinda. Kain ini memiliki banyak sekali motif namun yang paling umum adalah motif geometris.
Berbagai Motif Kain Ulap Doyo
Foto: motif kain ulap doyo (helloindonesia.id)
Untuk motif, kain Ulap Doyo yang sudah eksis sejak berabad-abad silam ini muncul memiliki berbagai motif dan corak.
Motif kain khas Kalimantan Timur ini bisa berupa flora dan fauna yang ada di tepian Sungai Mahakam.
Selain itu, juga ada motif yang menggambarkan peperangan antara manusia dengan naga juga menjadi sumber inspirasi para pembuatnya.
Berdasarkan informasi di situs Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Kalimantan Timur, motif naga ini bisa melambangkan kecantikan seorang wanita.
Moms juga bisa menemukan motif limar atau perahu yang melambangkan kerja sama.
Sementara itu, ada motif timang atau harimau melambangkan keperkasaan seorang pria.
Motif tangga tukar toray atau tangga rebah bermakna melindungi usaha dan kerjasama masyarakat, dan berbagai motif yang lain.
Sementara itu, cara memakai kain khas Kalimantan Timur ini cukup beragam.
Tenun Ulap Doyo dapat digunakan oleh laki-laki dan perempuan dalam upacara adat, tari-tarian, dan dalam kehidupan sehari-hari suku Dayak Benuaq.
Menariknya, terdapat pembagian kasta dan bisa dilihat dari motif kain khas Kalimantan Timur ini.
Misal, kain motif waniq ngelukng, diperuntukan masyarakat biasa.
Sementara itu kain bermotif jaunt nguku hanya boleh dipakai kalangan bangsawan atau raja.
Tags: tenun baju kalimantan