Keindahan dan Kerajinan Baju Tenun Kalimantan
Kain Tenun Samarinda
Sarung merupakan kain yang umum digunakan di Indonesia terutama para laki-laki. Samarinda ternyata memiliki kain sarung tradisionalnya sendiri yang dikenal sebagai sarung tenun Samarinda atau Tajong Samarinda dalam bahasa lokal. Dalam proses pembuatannya memakan waktu cukup lama sebab kain ini ditenun dengan menggunakan alat tenun bukan mesin. Tak heran jika satu lembar kain sarung membutuhkan waktu hingga 2 minggu.
Asal usul dari kain sarung ini dimulai sejak tahun 1668 yang dibawa oleh seseorang dari Bugis. Ia adalah Sultan La Madukelleng bersama dengan rombongannya dan meminta sebidang tanah kepada penguasa Kutai saat itu. Permintaan pun dipenuhi oleh Raja dengan syarat harus tetap patuh pada pemerintah Kutai. Tanah ini lah yang sekarang disebut dengan Samarinda.
Sultan Madukelleng dan rombongan pun memanfaatkan wilayah mereka agar berkembang. Mereka pun menerapkan budaya menenun Bugis ke Samarinda hingga terciptalah kain sarung tenun Samarinda. Kain ini memiliki banyak sekali motif namun yang paling umum adalah motif geometris.
Sejarah Kain Tenun Ikat Sintang
Untuk diketahui, pada masa lampau suku Dayak membuat kain tenun menjadi sakral. Menurut kepercayaan leluhur, dunia terbagi menjadi dua kehidupan yaitu kehidupan atas dan kehidupan bawah. bentuk sakral dari kain tenun bagi masyarakat dayak terdapat pada benang dan motif. Karena kain tenun merupakan benda sakral, maka kain tenun menjadi pakaian wajib dalam setiap upacara adat masyarakat dayak.
- Penyiapan bahan baku berupa kapas.
- Proses pemintalan menjadi benang.
- Pembuatan pola benang dengan proses ikat.
- Mewarnai benang. Pewarnaan ada yang menggunakan pewarna kimia dan pewarna alam. Pewarna alam yang pengrajin gunakan berasal dari akar pohon, daun-daunan, kulit kayu serta tumbuhan.
- Menenun benang menjadi kain.
Tak hanya menggunakan teknik tradisional, peralatan tradisional pun tetap bertahan sampai sekarang. Alat pemintal dan penenun yang mereka pakai sangat sederhana, tidak seperti ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) yang banyak pemakaiannya di berbagai daerah di Indonesia seperti Tenun Donggala atau Tenun Garut.
Kain Ulap Doyo di Masa Kini
Foto: kain ulap doyo untuk fesyen (detik.net)
Di tangan desainer ini, kain Ulap Doyo tampak lebih modern, kekinian dan bisa dipakai untuk sehari-hari.
Misalnya Billy Tjong yang merilis koleksi busana berbahan tenun doyo pada beberapa tahun silam.
Bahkan pada 2015, ada perancang senior Itang Yunasz yang mengangkat keindahan kain tersebut untuk salah satu koleksinya.
Beberapa unsur tenun ikat serat ulap doyo dihadirkan dengan print dengan material yang lebih terjangkau masyarakat.
Namun, saat ini ia mencampurnya dengan benang poliester sehingga tidak terlalu mahal.
Sementara itu, harga kain khas Kalimantan Timur ini dijual dengan harga yang beragam.
Mereka bisa dijual seharga Rp 150 ribu hingga Rp 300 ribu.
Moms pun bisa membelinya jika suatu hari punya kesempatan untuk mengunjungi Kalimantan Timur.
Sumber
- https://wolipop.detik.com/fashion-news/d-4681481/ibu-kota-pindah-ke-kaltim-ini-kain-tenun-khasnya-yang-jadi-warisan-budaya
- https://lokadata.id/artikel/tenun-ulap-doyo-khas-dayak-benuaq
Keunikan Baju Adat Kalimantan
Penduduk Kalimantan yang paling dikenal adalah baju adat Dayak. Baju ini memiliki keunikan tersendiri, yaitu tampilan yang eksotis, sebab terbuat dari berbagai bahan yang berasal dari alam. Selain itu, warna dan motif tersebut juga sangat cerah, unik dan beraneka ragam. Selain untuk upacara adat, pakaian tradisional suku Dayak itu juga berfungsi sebagai tanda pemberian kasta. Sementara itu, untuk baju adat suku Melayu di Kalimantan juga memiliki ciri khasnya sendiri. Berbeda dengan pakaian adat Dayak, baju tradisional Melayu terbuat dari bahan kain dan kental dengan nilai Islami, sehingga cenderung dibuat untuk menutupi aurat.
King Baba
King Baba merupakan salah satu jenis baju adat Kalimantan Barat, khususnya untuk suku Dayak laki-laki. Baju adat ini terbuat dari bahan-bahan yang berasal dari alam, yaitu dari kulit tanaman yang diolah sedemikian rupa dan dihias dengan lukisan etnik khas Dayak. Lukisan untuk penghias pakaian adat itu juga terbuat dari pewarna alami, yang mampu menghasilkan warna-warna cerah.
King Bibinge
Sama seperti King Baba, baju tradisional khas suku Dayak ini juga terbuat dari kulit tanaman berserat tinggi yang diolah sedemikian rupa dan dihias dengan lukisan khas Dayak. Namun, King Bibinge ini adalah baju yang khusus dikenakan olah perempuan Dayak. Selain pakaian yang terbuat dari kulit tanaman, King Bibinge juga dilengkapi dengan stagen yang berfungsi sebagai penutup dada.
Pelengkap lain untuk King Bibinge di antaranya seperti ikat kepala berbentuk segitiga, perhiasan seperti gelang yang terbuat dari pintalan akar tanaman, kalung yang terbuat dari tulang hewan dan akar pohon serta berbagai jenis perhiasan lain, yang dikenal dengan sebutan galing gading, tajuk bulu tentawan, tajuk bulu area dan juga pasan manik.
Baju Adat Kalimantan
Indonesia merupakan negara yang kaya akan khazanah budaya, bahkan untuk jenis baju adatnya saja tiap daerah memiliki keunikan masing-masing. Salah satu dari sekian banyak jenis baju adat Indonesia adalah baju adat Kalimantan. Seperti diketahui, mayoritas penduduk di Kalimantan adalah suku Dayak, oleh sebab itu, budaya Dayak sangat dikenal di Pulau Kalimantan
Selain Dayak, sebenarnya di Kalimantan juga ada suku Melayu yang terbagi menjadi beberapa suku lainnya seperti Kutai, Paser, dan Banjar. Kamu perlu tahu bahwa ada perbedaan cukup mencolok antara baju adat masyarakat Kalimantan yang bersuku Dayak dan Melayu. Agar lebih lengkap penjelasannya, maka simak ulasannya berikut ini.
Tags: tenun baju kalimantan