Seni Memintal yang Memukau - Mengenal Benang Lawe dalam Kerajinan dan DIY
Makna filosofis balangan gantal
Salah satu hal yang menarik dari pernikahan adat Jawa adalah makna dan nilai-nilai keluhuran yang ada pada setiap upacaranya. Meskipun ada cukup banyak acara, setiap bagiannya mempunyai tujuan yang luhur dan bermakna baik bagi kedua pengantin. Salah satunya upacara balangan gantal.
Secara umum, upacara ini melambangkan pertemuan cinta kedua pasangan atau mereka sudah saling menemukan belahan hatinya. Namun, ada juga yang memaknai sebagai siapa yang akan mendominasi dalam rumah tangga dari kecepatan lemparannya.
Selain upacaranya, isian gulungan gantal juga ada makna filosofinya, lho. Kesempurnaan disimbolkan dari gulungan gantal yang lengkap.
Jambe dimaknai sebagai suara yang indah. Sedangkan gambir kuning menyimbolkan kecantikan. Kecocokan hati terwakilkan oleh tembakau hitam. Terakhir, benang lawe putih menjadi tanda pengikatnya.
Itu tadi penjelasan lengkap mengenai balangan gantal dalam pernikahan adat Jawa. Meskipun terlihat sederhana, upacara adat ini mempunyai makna yang mendalam dan berkesan. Tertarik untuk mengusung tema adat Jawa untuk pernikahan, Bela?
Penulis: Cesilia Sasanda Eka Putri Noveliana
17 Proses Pernikahan Adat Jawa yang Wajib Dilaksanakan
Biasanya, pemasangan tarub ini diikuti dengan pemasangan bleketepe—ini adalah anyaman daun kelapa tua yang dibuat oleh orang tua mempelai wanita—dan memasang tuwuhan di sisi kanan dan kiri gerbang rumah. Tuwuhan adalah tumbuh-tumbuhan yang berbuah banyak seperti pisang raja, kelapa muda, batang padi-padian, dan janur, semuanya memiliki makna penuh harap agar calon pengantin nantinya akan memperoleh keturunan yang sehat, berbudi baik, berkecukupan, dan selalu bahagia.
Siraman berawal dari kata siram yang dalam bahasa Jawa berarti mandi. Ritual siraman dalam pernikahan adat Jawa ini memiliki makna utama sebagai pembersihan atau penyucian diri calon pengantin agar ketika menjalankan proses pernikahan sudah dalam keadaan suci lahir dan batin.
Ritual siraman ini dilakukan oleh ayah dan ibu calon pengantin, lalu dilanjutkan dengan keluarga yang lebih tua atau sesepuh, kemudian kerabat dekat atau yang sudah menikah—untuk mintai restu dan berkahnya. Jumlah penyiramnya juga ada pakem tersendiri yaitu harus berjumlah ganjil. Biasanya tujuh atau sembilan orang.
Proses berikutnya di pernikahan adat jawa adalah midodareni. Midodareni berasal dari kata widadari atau berarti bidadari. Ritual ini dilakukan calon pengantin wanita di dalam kamarnya sejak pukul 18:00 sampai pukul 24:00. Di sini calon pengantin wanita dengan riasan yang tipis dan sederhana, hanya duduk tenang di dalam kamar bersama ibu dan kerabat dekatnya yang semuanya wanita. Terkadang juga ditemani oleh para sesepuh yang memberikan nasihat kepada calon pengantin dalam hidup berumah tangga.
Di malam yang sama ini juga dilakukan ritual tantingan, yaitu sang ayah dari calon pengantin wanita akan menanyakan kepada putrinya perihal kemantapan hati sang putri untuk berumah tangga dengan pria pilihannya tersebut. Selain itu, di dalam rangkaian prosesi pernikahan adat Jawa ini juga, ada yang namanya prosesi nyantri, dimana calon pengantin pria yang ditemani oleh keluarganya datang ke kediaman calon pengantin wanita, sebagai simbol bahwa dirinya sehat dan siap melangsungkan acara pernikahan esok hari.
Mantra Jaran Goyang
Mantra jaran goyang adalah sebuah ajian untuk pengasihan dan termasuk salah satu ilmu pelet paling ampuh. Karena bisanya digunakan untuk memikat hati seseorang dengan jarak jauh walaupun terhalang oleh beberapa rintangan.
Mantra jaran goyang adalah ilmu yang berpasangan dengan semar mesem. Sering disebut juga bahwa jaran goyang merupakan mantra atau ajian untuk pelet wanita. Bahwa jaran goyang memiliki arti yaitu sangat cepat apabila digunakan untuk menaklukkan hati seorang wanita ketimbang pria.
Perlu diingat, sebelum merapalkan mantra jaran goyang sebaiknya melakukan puasa putih selama 6 hari, dilanjutkan dengan 1 hari 1 malam pati geni. Selama masih dalam berpuasa mantra jaran goyang dibaca sebanyak 7 kali setiap malam. Adapun bacaan mantra tersebut adalah sebagai berikut.
Bismillahirohman Nirrohim,
Sun Matek Ajiku Si Jaran Goyang,
Tak Goyang Ing Tengah Latar,
Upet-Upetku Lawe Benang,
Pet Sabetake Gunung Gugur,
Pet Sabetake Lemah Bangka,
Pet Sabetake Ombak Gede Sirep,
Pet Sabetake Atine Si (Nama Orang Yang Dituju)
Bin (Nama Orang Tuanya)
Cep Sida Edan Ora Edan,
Sida Gendeng Ora Gendeng,
Sida Bunyeng Ora Mari-Mari,
Yen Ora Ingsun Sing Nambani.
Selanjutnya, jika kalian ingin menyadarkan cewenya dari pengaruh ajian jaran goyang, maka berikut ini doa dan penawar ajian jaran goyang.
Baca Juga: Khasiat Wirid Tawasul 7 Salamun, Tulisan Arab dan Cara MembacaSun matek ajiku si jaran goyang,
kaki danyang nyai danyang,
kompi jenggot sing nempel
neng nggone si (nama yang terkena jaran goyang)
balia nang Asalmu.
Assalamualaikum ,
wetan kulon,
lor kiduldalanmu mulih
Doa tersebut dibaca di dalam gelas berisi air putih, kemudian diminumkan orang orang yang terkena mantra jarang goyang.
Tags: benang adalah lawe