Keindahan Seni Gerabah - Jejak Kreativitas di Daerah Penciptaan
Wayang Kulit
Jogjakarta selain terkenal dengan makanan gudegnya juga terjenal dengan pertunjukan seni wayang kulitnya. Wayang kulit merupakan pertunjukkan yang dipentaskan oleh sebuah dalang menggunakan wayang berbentuk menyerupai makhluk hidup dan terbuat dari kulit. Kulit yang digunakan biasanya adalah kulit binatang seperti kerbau, lembu, ataupun kambing. Seni wayang erat kaitannya dengan penyebaran agama Hindu-Budha di Pulau Jawa. Wayang digunakan dalam ritual adat yang berhubungan dengan roh spiritual.
Namun wayang juga digunakan oleh para wali songo untuk berdakwah menyebarkan agama Islam. Oleh sebab itu meski agama lain masuk ke Jogja namun seni wayang kulit masih dapat dinikmati oleh masyarakat. Pertunjukkan wayang biasanya akan digelar semalam suntuk yang dipimpin oleh seorang dalang dan diiringi oleh musik gamelan. Wayang kulit tak hanya digunakan dalam pertunjukkan tetapi juga diperjualbelikan di toko-toko souvenir. Bentuk wayang kulit yang paling banyak memiliki peminta yaitu wayang kulit dengan bentuk punakawan dan pandawa lima.
Sentra kerajinan gerabah
Sapto Hudoyo seniman asal Yogyakarta, disebut-sebut sebagai orang yang membantu warga desa mengembangkan kerajinan di Kasongan pada 1970-an. Ia membina warga agar bisa membuat kerajinan yang lebih unik dan menarik sehingga bisa menambah nilai jual.
Hasil kerajinan dari gerabah yang diproduksi Kasongan umumnya berupa guci dengan berbagai motif (burung merak, naga, bunga mawar dan banyak lainnya), pot berbagai ukuran (dari yang kecil hingga seukuran bahu orang dewasa), cendera mata, pigura, hiasan dinding, dan berbagai macam perabotan.
Seiring waktu, produk gerabah yang dihasilkannya menjadi lebih bervariasi, meliputi bunga tiruan dari daun pisang, perabotan dari bambu, topeng-topengan dan masih banyak yang lainnya.
Produk gerabah Kasongan di Bantul terus berkembang hingga kini dan mampu menghasilkan produk-produk yang berkualitas. Karena keunggulan kualitasnya itu, gerabah kasongan mampu menembus pasar ekspor hingga ke Eropa dan Amerika.
Keris
Keris merupakan senjata tradisional khas Jawa termasuk Yogyakarta yang sudah ada sejak dahulu kala. Bagi masyarakat Jogja keris bukan hanya sekedar senjata tetapi juga benda berharga yang mengandung nilai filosofi leluhur. Keris terbuat dari besi yang dibentuk meliuk-liuk hingga menampilkan kesah gagah dan eksotis. Setiap keris memiliki bentuk liukan atau disebut luk dengan jumlah ganjil mulai dari tiga hingga seterusnya.
Jumlah luk yang ganjil bukan tanpa maksud dalam artian ada maknanya sendiri. Makna tersebut adalah manusia tidak akan pernah bisa genap atau sempurna. Keris memiliki wadah pembungkus yang disebut dengan warangka. Cara mengeluarkan keris dari warangka pun memiliki arti. Apabila pemilik keris tersebut dikeluarkan dengan cara menarik warangkanya maka berarti pemilik tersebut menghormat pandai besi atau pembuat keris tersebut. Namun jika pemilik keris mengeluarkannya dengan cara menarik gagang keris itu menandakan ia akan menikam atau menusuk seseorang.
Selain sebagai senjata tradisional, keris juga merupakan simbol dari status sosial seperti keris Kanjeng Kyai Ageng Kopek yang hanya boleh digunakan dan dimiliki oleh sultan keraton Yogyakarta. Keris juga kerap dijadikan sebagai aksesoris pelengkap dalam berpakaian terutama pakaian adat.
Lokasi Desa Kasongan
Desa Wisata Kasongan itu sendiri berada di pedukuhan Kajen, Desa Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Wisatawan yang berasal dari pusat Jogja bisa menuju ke arah selatan Jogja. Tujulah perempatan Rong Road selatan – jalan Bantul, atau yang biasa disebut dengan perempatan Dongkelan. Dari perempatan tersebut, ambil.ke.arah selatan. Tidak sampai 30 menit, Anda akan sampai di Desa Kasongan sebagai desa wisata yang terkenal. Anda bisa melihat sebuah gerbang masuk atau gapura desa wisata itu. Masuk saja dan nikmati seluruh aktivitas menarik di sana.
Tips Liburan Sehari di Jogja adalah berkunjung ke wisata edukasi untuk mengetahui proses pembuatan gerabah. Proses pembuatan gerabah pada dasarnya dibedakan menjadi dua cara utama. Yaitu dengan cara cetak atau dengan cara manual. Pembuatan dengan teknik cetak biasanya digunakan untuk perlengkapan yang diproduksi secara massal. Sedangkan yang dibuat dengan tangan biasanya adalah model guci, pot, atau jambangan, atau yang bentuknya silinder.
Untuk proses pembuatan tangan sendiri, dilakukan dengan menambahkan sedikit demi sedikit tanah liat sambil diputar. Proses ini juga dilengkapi dengan proses perhitungan yang menghitung besaran diameter dari bentuk tersebut. Seluruh proses itu bisa memakan waktu 2 sampai 4 hari, hingga proses penjemurannya. Lalu proses selanjutnya adalah dipoles dengan cat atau lainnya sehingga terlihat menjadi lebih menarik. Proses pembuatan ini dilakukan oleh perajin galeri. Galeri itu sendiri kebanyakannya adalah milik keluarga yang diwariskan secara turun temurun. Walau pada akhirnya mereka merekrut karyawan atau pekerja di kemudian hari, mereka tetap bertanggung jawab dengan galeri mereka.
Demikianlah beberapa penjelasan mengenai objek wisata Desa Wisata Kasongan yang menarik untuk dikunjungi. Semoga bermanfaat untuk Anda dan selamat berlibur. Jika tertarik, segera agendakan untuk berkunjung ke sana, terutama bagi Anda yang menggemari kerajinan tangan dari gerabah.
Tags: kerajinan yang adalah