Seni dan Kreativitas - Memahami Keindahan Gelang Kain Tenun dalam Kerajinan Tangan dan DIY
Sejarah Tenun Gringsing
Menurut legenda, Kain Tenun gringsing adalah pemberian Dewa Indra, Dewa dalam Agama Hindu yang merupakan Dewa Pelindung Manusia. Saat itu dewa Indra sedang mengagumi keindahan langit malam. Saking kagumnya, Ia mencoba menggambarkannya pada umat manusia pilihannya, yaitu masyarakat Tenganan, Bali.
Diajarkannya para wanita Tenganan untuk menguasai teknik menenun Kain tenun gringsing demi mengabadikan keindahan bintang, bulan, matahari, dan hamparan langit lainnya. Maka terciptalah ciri Kain Tenun Gringsing yang bernuansa gelap pekat seperti gelapnya malam.
Kain Tenun Gringsing digunakan dalam ritual adat dan keagamaan dalam masyarakat Bali. Kain Tenun ini dipercaya mengandung kesaktian Dewa Indra, Dewa pelindung umat manusia. Kain Tenun Gringsing dipercaya mempunyai kekuatan magis, yaitu mampu menyembuhkan penyakit dan penolak bala.
Cara Menggunakan Tenun Ikat Amarasi
1. Pada Pria
Pada pria, tenun ikat amarasi digunakan dengan kemeja atau baju bodo. Kainnya sendiri diikat pada pinggang dan ditambah dengan selimut penutup serta selendang. Pria Suku Dawan biasanya menggunakan beberapa aksesoris tambahan untuk tenun ikat amarasi. Seperti ikat kepala atas yang dikenal sebagai destar, kemudian dikombinasikan dengan hiasan tiara dan gelang Timor 2 buah serta kalung habas emas.
2. Pada Wanita
Wanita Suku Dawan mengenakan dua lembar tenunan sebagai penutup badan. Yang pertama yaitu kain tais yang dipasang setinggi dada sampai mata kaki. Umumnya corak pada kain tenun tersebut menampilkan warna meriah. Seperti paduan warna kuning, biru tua, jingga, dan putih dalam lajur bergaris sempit. Kemudian dipadukan dengan corak ikat putih dengan latar biru tua atau hitam.
Sementara lembar keduanya adalah selempang yang terikat di depan dada berbentuk huruf V. Yang kedua ujungnya diletakkan pada kedua bahu bagian belakang. Untuk aksesorisnya, para wanita akan menggunakan seperangkat perhiasan dari logam kuning yang dikenal dengan istilah pato eban. Aksesoris tersebut semakin melengkapi nama pakaian daerah NTT amarasi, membuatnya unik dan khas.
Masih kental akan budaya, sangat menarik bukan pakaian adat dari Suku Dawan atau Suku Amarasi tersebut ? Tenun ikat amarasi ini masih sering dipakai oleh masyarakat setempat dan menjadi status sosial mereka. Hal itu tentu perlu diapresiasi, karena dengan begitu penduduk ikut melestarikan budaya Indonesia yang semakin tergerus oleh arus globalisasi.
- Menikmati Keindahan Kelimutu Sebagai Nama Danau di NTT yang Istimewa
- Daftar Nama Sungai di NTT yang Didominasi Jenis Sungai Ephemeral
- Mengulik Seluk Beluk Nama Marga Di Ntt, Ragam, Dan Tujuannya
1. Pakaian Adat suku Rote
Suku Rote di Nusa Tenggara Timur mendiami Pulau dengan nama yang sama dengan nama sukunya yaitu Pulau Rote. Pakaian yang mereka kenakan merupakan hasil tenunan sendiri yang menggunakan bahan serat gewang. Mereka juga menggunakan pewarna alami untuk bahan kain tenunnya.
Para pria di suku Rote biasanya mengenakan pakain kemeja putih yang dipadukan dengan sarung tenun sebatas betis. Lalu menggunakan selempang dari kain tenun dan hafa berupa kain tenun yang dililit di pinggang. Tak lupa akesoris berupa topi ti’ilangga, habas berupa kalung, dan juga golok.
Sedangkan para kaum wanita mengenakan kain tenun yang dipakai seperti kemben dan bagian bawah menggunakan tenun ikat. Pada bahu kiri dilempangkan kain tenun, lalu pendi berupa ikat pinggang terbuat dari perak atau emas. Lalu hiasan kepala bulak moti atau bulan baru dan habas berupa kalung.
Tags: tenun