... 5 Ide Kreatif: Cara Menghias Gerabah Vas Bunga, Guci, dan Piring dengan Kerajinan Tangan DIY

Seni Kerajinan Dalam Bingkai Gerabah - Menyulam Keindahan dalam Vas Bunga, Guci, dan Piring

Prinsip Kerajinan Bahan Lunak

Bahan lunak sebagai bahan kerajinan juga mempunyai prinsip-prinsip antara lain ialah:

Pada bagian ini tahapan pembuatan kerajinan hanya akan menggunakan tangan-tangan yang handal sebagai tenaga manual dalam proses pembuatan kerajinan, walaupun kerajinan yang diperlukan banyak.

Dalam prinsip ini proses pembuatan kerajinan akan dilakukan secara terus menerus berdasarkan pada kecakapan teknik. Biasanya kerajinan yang dihasilkan juga memiliki ciri khas tertentu, detail, dan terkesan yang rumit.

Dalam prinsip ini proses pembuatan kerajinan yang dibuat akan lebih mengutamakan nilai guna yang mempunyai sifat umum, akan tetapi masih dipengaruhi dengan nilai-nilai tradisional maupun adat istiadat.

Penutup

Kerajinan bahan ini akan mempunyai nilai jual yang tinggi karena bentuknya yang unik dan menarik. Selain digunakan sebagai benda hias, kerajinan dari bahan lunak juga bisa digunakan untuk beberapa keperluan.

Demikian penjelasan mengenai kerajinan bahan lunak, semoga dapat bermanfaat dan menambah wawasan kita semua.

2 komentar untuk “Kerajinan Bahan Lunak”

Jenis/Aneka Produk Kerajinan Bahan Lunak.

Berikut beberapa contoh kerajinan bahan lunak yang uraiannya adalah sebagai berikut,
  • Kerajinan tanah liat,
  • Kerajinan serat alam,
  • Kerajinan kulit,
  • Kerajinan gips,
  • Kerajinan lilin,
  • Kerajinan sabun, dan
  • Kerajinan bubur kertas,

Kerajinan bahan lunak dari tanah liat dikenal dengan kerajinan keramik, yaitu kerajinan yang menggunakan bahan dasar tanah liat yang melalui proses, dipijit, butsir,pilin, pembakaran, dan glasir, sehingga menghasilkan produk pakai dan hiasan yang indah. Contohnya, seperti gerabah, vas bunga, guci, atau piring.

Kerajinan dari serat alam dapat menghasilkan kerajinan tangan dengan berbagai macma jenis, misalnya tas, dompet, topi, alas meja, dan tempat lampu yang dibuat dengan menggunakan teknik cara menganyam.

Kerajinan ini berbahan dasar dari kulit yang seudah di samak, kulit mentah, atau kulit sintetis yang dapat menghasilkan beberapa macam produk, seperti tas, wayang kulit, sepatu, dompet dan jaket kulit. Kulit ini dapat diperoleh dari jenis-jenis hewan seperti sapi, kambing, kerbau, dan buaya.

Gips merupakan bahan mineral yang tidak larut dalam air dalam waktu yang lama jika sudah mengering atau memadat. Proses pembuatannya harus dengan cara dicairkan dahulu dan dibuatkan cetakan jika hendak diproduksi dalam jumlah yang banyak. Secara umum, untuk semua produk gips diperlukan cetakan yang dalam pembuatannya memerlukan bahan utama seperti silicone rubber, namun yang paling mudah dicari yaitu plastisin atau tanah liat. Fungsi kerajinan gips biasanya sebagia hiasan dinding, mainan, dan lainnya.

Asal-Usul Gerabah

Tajine (gerabah Maroko).

Gerabah yang paling sederhana dibentuk dengan hanya menggunakan tangan, yang berciri adonan kasar dan bagian pecahannya dipenuhi oleh jejak-jejak tangan (sidik jari), bentuknya pun kadang tidak simetris. Selain dibuat dengan teknik tangan, gerabah yang lebih modern dibuat dengan menggunakan tatap batu dan roda putar.

Pada awalnya, gerabah dibuat dengan bentuk polos dan mudah rapuh, tetapi saat ini tembikar tersedia dalam berbagai macam bentuk, motif, gambar, atau lukisan khas dan daya tahan lebih lama. Gerabah di Indonesia dibawa melalui kebudayaan Sa Huynh, suatu kebudayaan kuno di daerah Vietnam selatan (Champa) yang terkenal akan seni gerabah dan tembikar kunonya.

Di Balik Pena: dr. Andreas Kurniawan Berbagi Tutorial Melalui Duka dan Mencuci Piring

Dalam ilmu purbakala (arkeologi), istilah lain gerabah atau keramik tradisional ini adalah kereweng, pottry, terracotta dan tembikar. Istilah tersebut dipergunakan untuk menyebut pecahan-pecahan periuk dan alat lainnya yang dibuat dari tanah liat dan ditemukan di tempat-tempat pemakaman zaman prasejarah. Barang-barang tanah bakar yang ditemukan di luar sarkofagus (peti mati dari batu) berupa jembung, piring-piring kecil, periuk-periuk kecil, stupa-stupa kecil dan sebaginya.

Teknik proses pembuatan gerabah dari masa tersebut masih sangat sederhana, yaitu dengan teknik tangan dan pembakaran tradisional. Pembakaran tradisional adalah pembakaran secara terbuka, dalam lubang dangkal beralas tanah liat dengan api rerumputan menyala. Teknik proses pembuatan gerabah seperti itu masih digunakan sampai sekarang oleh sebagian perajin keramik di Indonesia.

Contoh dari gerabah

ilustrasi membuat gerabah (pexels.com/Anubhaw Anand)

Adapun beberapa contoh gerabah bisa kamu jumpai pada perkakas rumah tangga sesuai dengan asal mulanya. Berikut beberapa contoh dari gerabah.

  • Kendi digunakan sebagai alat minum.
  • Periuk digunakan sebagai alat untuk memasak nasi.
  • Belanga digunakan sebagai alat untuk memasak sayur.
  • Tempayan digunakan sebagai alat untuk menyimpan beras atau air.
  • Anglo digunakan sebagai alat untuk memasak (berupa seperti kompor).

Dari contoh gerabah yang disebutkan di atas, adakah alat gerabah yang pernah kamu gunakan dalam kehidupan?

Gerabah menjadi karya seni yang memiliki harga jual tinggi karena proses pembuatannya tidak mudah. Selain itu, prosesnya juga masih dilakukan secara tradisional dengan tangan. Jadi, wajar saja kalau saat membeli gerabah, kamu akan melihat harga yang cukup tinggi.

Nah, itulah informasi mengenai gerabah beserta sejarah dan contohnya. Apakah kamu salah satu pengrajin atau penjual gerabah?

Oleh: Srikandy Indah Karina S.B

Sejarah gerabah

ilustrasi membuat gerabah (pexels.com/Quang Nguyen Vinh)

Menurut sejarah, kerajinan gerabah diperkirakan berasal dari negeri China, yakni sekitar 4000 SM. Pada masa itu, orang-orang membuat gerabah dengan tujuan sebagai perkakas rumah tangga dan teknik pembuatannya melalui teknik bakar. Seiring berjalannya waktu, gerabah tidak lagi dibuat untuk perkakas rumah tangga saja, namun untuk kebutuhan bangunan rumah.

Dari perkembangan itu pula, masyarakat menggolongkan gerabah menjadi dua jenis, yakni mampu menyerap air dan yang tidak mampu menyerap air. Untuk yang mampu menyerap air, ada bata merah, kuali, tungku, dan lain-lain. Sementara yang tidak mampu menyerap air, ada tegel lantai, cangkir, guci, piring, dan lain-lain.

Sebagai pengingat, masyarakat pada zaman prasejarah kerap menggunakan keranjang anyaman untuk menyimpan bahan makanan. Agar tidak bocor, masyarakat melapisinya dengan tanah liat hingga muncul gerabah dalam kehidupan sehari-hari hingga saat ini.


Tags: kerajinan dari contoh adalah bunga

`Lihat Lagi
@ 2024 - Tenun Indonesia