... Harga Kain Tenun Sulawesi: Panduan Belanja dan Tips DIY Terbaik!

"Keindahan dan Kekayaan Kain Tenun Sulawesi - Mengungkap Harga dan Kebudayaan"

Desa Wisata Sa'dan To'barana Toraja

Toraja merupakan salah satu provinsi yang ada pada Sulawesi Selatan. Tidak hanya terkenal dengan wisata alam dan budayanya saja, tetapi Toraja juga terkenal dengan hasil kerajinannya. Salah satu kerajinan yang khas dari Tana Toraja yaitu tenun.


Toraja memiliki budaya tenun secara turun-temurun. Berbagai kain hasil tenunan bisa Anda dapatkan dalam pasar atau toko souvenir di Rantepao kabupaten Toraja Utara. Namun apabila ingin memberi langsung bisa mengunjungi Sa'dan To'barana.


Sa'dan To'barana sendiri merupakan kampung tenun yang terletak pada desa Sa'dan Malimbong 16 km dari Rantepao. Desa ini sudah terkenal sejak puluhan tahun dengan keahlian kerajinan tenun.


Adanya berbagai Tongkonan dan milik keluarga bangsawan Langi Para'pa yang menjadi keluarga terpandang sudah turun temurun di sana. Sebagian besar warga To'barana memiliki kepandaian dalam bidang tenun menenun.


Keahlian tersebut sudah diwariskan sejak zaman dahulu. Mereka sudah berhasil untuk melestarikan keahlian tenun turun-temurun sampai saat ini. Berikut sejumlah informasi yang sudah Tondok Toraya ringkas untuk Anda.

Pengunjung Bisa Melihat Proses Pembuatan Tenun


Di salah satu sudut Desa wisata tenun To'barana Toraja, pengunjung akan melihat kompres beberapa tongkonan rumah adat Toraja. Pada sela-sela rumah adat tersebut akan terdapat lapak penjual kain lengkap dengan demonstrasi tenun.

Para pengunjung bisa membeli kain tenun langsung dari para pengrajinnya. Tidak hanya itu, para pengunjung juga bisa melihat langsung proses pembuatan yang dikerjakan dengan tradisional.


Kain tenun Tana Toraja memang memiliki kedudukan yang sangat tinggi pada budaya masyarakat. Tidak hanya memegang peranan penting dalam berbagai upacara adat penolak balas saja. Tetapi, kain tenun juga menjadi simbol kemakmuran bagi para pemiliknya.


Pada masa lalu yang bisa memiliki kain tenun hanyalah kaum bangsawan saja atau orang-orang kaya. Hal itu karena harga kain tenun sama dengan harga kerbau. Maka dari itu, hanya kaum bangsawan atau orang kaya saja yang bisa membeli kain tenun.

1. Kain Tenun Sengkang

Masyarakat Bugis yang masih memegang ajaran adat Bugis masih menggunakan kain tenun sengkang sebagai sandang utama mereka.

Kain tenun Sengkang memang memilki daya tariknya tersendiri dan nilai budaya yang tinggi.

Tenun Sengkang adalah tradisi turun-temurun yang dilakukan masyarakat asli kota Sengkang, Sulawesi Selatan, sejak ratusan tahun lalu.

Tepatnya di Desa Pakanna, Kecamatan Tanasitolo, yang memang dikenal sebagai kampung penenun.

Konon di Desa Pakanna dahulu, hampir di seluruh wilayah Kabupaten Wajo dipenuhi para petani ulat sutra, hingga pengrajin tenun sutra.

Dalam pembuatannya sendiri, kain sengkang masih mengandalkan kelihaian dari para penenunnya.

Motif kain khas Makassar ini biasanya berbentuk garis-garis vertikal dan motif kembang.

Tak hanya itu, membuat motif pada kain tenun sengkang juga harus memiliki hitungan ganjil. Untuk motifnya sendiri ada beragam jenis, antara lain:

  • Cobo
  • Balo tettong
  • Makkalu
  • Ukiran Toraja
  • Balo renni
  • Aksara Bugis

Aneka motif ini tentunya dibuat dan dirangkai mnggunakan benang sutra dengan warna yang cukup mencolok.

Moms bisa membelinya dengan harga mulai dari Rp65.000.

Keistimewaan Tenun Bentenan

Keistimewaan dari kain Bentenan ini yaitu proses pembuatannya yang rumit dan memakan waktu yang lama, kain bentenan ditenun dengan teknik dobel ikat, benang yang membentuk lebar kain (pakan) disebut Sa’lange dan benang yang memanjang (lungsi) disebut Wasa’lene.

Teknik double ikat seperti ini adalah teknik tenun ikat dengan tingkat kesulitan yang tinggi, sangat jarang teknik ini digunakan di daerah lain. Motif yang dapat tercipta dari teknik ini akan bergambar halus, rumit dan sangat unik.

Kain Bentenan ditenun tanpa terputus menghasilkan sebuah kain berbentuk silinder atau tabung. Kemudian dalam proses pewarnaan, kain Bentanan menggunakan zat pewarna alami yang berasal dari tumbuhan yang tumbuh di wilayah tersebut.

Warna biru atau hijau biasanya diperoleh dari pohon Taun, kemudian apabila ditambah dengan air kapur sirih, maka warna biru itu akan berubah menjadi hitam.

Semak Lenu (morinda bractenta) untuk warna kuning dan apabila dicampur air kapur sirih akan menjadi warna merah. Lelenu (peristrophe tinctoris) untuk warna merah, Sangket (homnolanthus paulifolius) kulitnya menghasilkan warna hitam.

Makna & Filosofi Tenun Bentenan

Kain bentenan merupakan kain yang sakral dan langka dari Manado. Dikatakan sakral karena kain ini dahulu hanya digunakan oleh kalangan tertentu pada waktu tertentu.

Dahulu, cara memakai pun tidak bisa sembarangan. Kain bentenan hanya digunakan para pemimpin adat (Tonaas) dan pemimpin agama (Walian) untuk dikenakan dalam berbagai upacara adat, seperti upacara membangun rumah, menentukan masa tanam, hingga berperang.

Selain itu, kain Manado ini juga digunakan dalam berbagai upacara daur hidup, seperti digunakan sebagai kain pembungkus bayi yang baru lahir, upacara pernikahan, hingga pembungkus jenazah bagi kalangan tertentu.

Dalam upacara tersebut, Walian dan Tonaas akan memohon perlindungan pada Opo-Opo (dewa) dengan membaca mantra khusus.

Demikianlah informasi tentang kain tenun bentenan, Meski sempat menghilang, kain bentenan kembali eksis dan terus disosialisasikan di tengah masyarakat Minahasa.


Tags: tenun lawe

`Lihat Lagi
@ 2024 - Tenun Indonesia