... Segala yang Perlu Anda Ketahui tentang Industri Kerajinan dalam Dunia Jahitan dan DIY

Seni Kreatif di Tangan - Menggali Kecantikan dalam Industri Kerajinan

Ciri-ciri Industri Kecil

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa industri kecil adalah sebuah usaha atau industri yang dikembangkan atas sedikit orang dan memiliki nilai investasi kurang dari Rp1 miliar.

Selain itu, ada ciri-ciri industri kecil yang perlu Anda ketahui:

  • Terkadang mengalami kesulitan untuk menembus pasar yang lebih luas karena kalah saing dengan produk dari industri besar yang memberikan kualitas terbaik.
  • Teknologi yang digunakan oleh industri kecil cenderung terbatas dan tidak sedikit yang sudah ketinggalan zaman. Sehingga bisnisnya mudah disaingi oleh industri besar.
  • Umumnya, kemampuan produksi dari industri kecil adalah terbatas. Sebab, umumnya para tenaga kerja yang ada adalah orang-orang sekitar tempat usaha atau para ibu rumah tangga yang memiliki waktu kosong.
  • Karena tenaga kerja berasal dari orang-orang sekitar yang dilakukan dengan sistem self employment, maka tidak dibutuhkan keterampilan atau latar belakang pendidikan yang tinggi.
  • Beberapa dari industri kecil rentan terhadap persaingan bisnis. Hal ini bisa terjadi karena mereka tidak memiliki sistem organisasi, pelaksanaan, dan kontrol yang baik.

Pengertian Industri Kecil, Ciri-ciri, dan Contohnya

Redaksi KitaLulus merupakan content writer dan editor profesional yang mengelola konten artikel di KitaLulus.

Setiap usaha yang ada di Indonesia, dibagi menjadi beberapa skala. Ada industri besar, industri menengah, dan industri kecil. Kali ini, KitaLulus akan membahas mengenai industri dengan skala kecil.

Mungkin Anda mengenal istilah industri kecil sebagai industri atau usaha yang dilakukan di rumah. Bahkan jika dilakukan dengan benar, omzet yang dihasilkan sangat menjanjikan.

Mari kita simak selengkapnya terkait pengertian industri kecil, ciri-cirinya, dan beberapa contohnya dalam bahasan KitaLulus di bawah ini.

Contoh Industri Sedang/Menengah

1. Industri Perakitan Elektronik

Perakitan elektronik dianggap industri sedang menengah, karena perusahaan tidak perlu menggunakan alat terlalu canggih, melainkan cukup menggabungkan part yang sudah tersedia di pasar.

Indonesia memiliki beberapa perusahaan elektronik besar yang beroperasi di sektor elektronik, seperti Advan Digital, Asus Indonesia, Polytron, dan Axioo.

Ada juga beberapa perusahaan kecil dan menengah yang menghasilkan produk elektronik seperti peralatan listrik, lampu, dan kipas angin, speaker dan tv.

2. Industri Kosmetik

Industri kosmetik menengah ini biasanya memproduksi berbagai macam produk kosmetik, mulai dari produk perawatan wajah, rambut, tubuh, parfum, sabun, hingga kosmetik dekoratif.

Jenis perusahaan yang menangani industri kosmetik menengah biasa disebut perusahaan maklon.

Sedangkan ada perusahaan kosmetik besar di Indonesia yang memiliki produk kosmetik yang sangat diakui khasiatnya seperti:

  1. Wardah: Wardah adalah salah satu merek kosmetik lokal yang cukup terkenal di Indonesia. Merek ini memproduksi berbagai macam produk kosmetik, seperti bedak, lipstik, maskara, dan lain sebagainya.
  2. Mustika Ratu: Mustika Ratu adalah merek kosmetik yang memproduksi produk kosmetik berbahan alami. Produk-produknya antara lain seperti sabun mandi, shampo, dan perawatan wajah.
  3. Sariayu: Sariayu adalah merek kosmetik lokal yang memproduksi berbagai macam produk kosmetik dengan bahan alami. Produk-produknya antara lain seperti bedak, lipstik, dan eyeshadow.
  4. LT Pro: LT Pro adalah merek kosmetik yang memproduksi produk kosmetik profesional seperti foundation, concealer, dan bedak untuk makeup artis.
  5. Emina: Emina adalah merek kosmetik yang memproduksi berbagai macam produk kosmetik dengan harga terjangkau seperti BB cream, cushion, dan lip tint.

Sentra Kerajinan Batik, Giriloyo

Giriloyo adalah dusun yang berada di bawah kaki Perbukitan Imogiri, dekat dengan situs Makam Raja-Raja. Suasananya yang asri di kaki Bukit membawa rasa nyaman dan damai ketika mengunjunginya.

Secara tekstual tidak tertulis kapan pastinya kerajinan batik masuk ke Giriloyo. Merujuk kepada sejarah, kemungkinan sekitar abad ke 17 ketika sebagian besar penduduk menjadi abdi dalem keraton Yogyakarta yang bertugas menjaga dan merawat makam raja-raja.

Beberapa kerabat keraton kemudian memberi pekerjaan kepada masyarakat Giriloyo khususnya ibuibu sebagai buruh nyanthing batik. Dari situlah kemudian kampung Giriloyo selalu memproduksi batik setengah jadi yang kemudian dijual ke juragan-juragan batik di pusat kota Yogyakarta.

Adanya bencana gempa bumi tahun 2006 membuat kegiatan membatik di Giriloyo lumpuh. Atas bantuan LSM, masyarakat memiliki semangat untuk kembali bangkit dan membangun kembali kampung batik.

Dari sini kampung Giriloyo bisa berkembang jauh lebih baik daripada sebelumnya. Kini ibu-ibu tidak hanya menjadi buruh nyanthing batik yang menjual bahan setengah jadi. Lewat banyak pelatihan, mereka bisa meningkatkan kemampuan untuk memproduksi batik jadi dan siap dijual. Ditambah lagi dengan ilmu pemasaran yang memadai, mampu meningkatkan taraf perekonomian hidup mereka.

Saat ini ada belasan kelompok batik tulis di Giriloyo dengan koleksi-koleksi batik yang anggun. Selain sering didatangi pengunjung yang ingin membeli batik, Sentra Batik Giriloyo juga kerap dipenuhi wisatawan yang ingin melihat proses pembuatan batik. Biasanya wisatawan ini berasal dari siswa sekolah, instansi, keluarga, hingga turis mancanegara. Mereka juga bisa belajar membatik secara langsung.

Sentra Kerajinan Wayang Kulit, Pucung

Selama hampir 100 tahun Desa Pucung terkenal sebagai desa wayang kulit. Desa ini sudah resmi dinobatkan sebagai Sentra Kerajinan Wayang Kulit oleh pemerintah Kabupaten Bantul.

Desa wisata Pucung terletak di Kalurahan Wukirsari, hanya berjarak 2 km dari Makam Raja-Raja Imogiri. Selain keahlian penduduknya membuat wayang kulit, keindahan alamnya yang asri dengan suasana pedesaan juga menjadi daya tarik tersendiri.

Sejarah Pucung menjadi kampung pengrajin wayang kulit berawal dari mbah Atmo Karyo yang menjadi Lurah Dusun Pucung pada tahun 1917. Pada masa itu menjadi seorang Lurah harus mendapatkan pelatihan dari Panewu (Camat) yang memiliki hubungan langsung dengan keraton Jogja. Pelatihan mbah Atmo langsung dibina oleh Sultan Hamengkubuwono VII. Maka secara tidak langsung, mbah Atmo pun menĀ­jadi abdi dalem Keraton.

Mbah Atmo alias Mbah Glemboh kemudian diberi tugas Sultan untuk merawat dan menjaga wayang keraton. Saat itulah ia tertarik untuk membuat wayang kulit sendiri. Bersama dengan empat orang tetangganya: Mbah Reso Mbulu, Mbah Cermo, Mbah Karyo, dan Mbah Sumo, mbah Glemboh mulai belajar menatah wayang.

Mbah Glemboh awalnya hendak memperlihatkan hasil karyanya kepada Sultan. Namun di tengah perjalanan, BeĀ­landa melihat hasil karya tersebut lalu membeli semuanya. Tambahan pula, pemilik salah satu toko batik terkenal yang kebetulan melihat, membawa wayang itu, kemudian membeli dan memajang wayang Mbah Glemboh di toko batiknya.

Dari sinilah wayang kulit mbah Glemboh semakin dikenal dan laris dibeli orang. Hingga kini, anak keturunan mbah Glemboh beserta segenap warga desa Pucung aktif memproduksi tatah sungging wayang.


Tags: kerajinan adalah industri

`Lihat Lagi
@ 2024 - Tenun Indonesia