Kain Tenun Alor - Memelihara Warisan Budaya Melalui Kerajinan Menjahit Sendiri
17 Tempat Wisata di Alor yang Wajib Dikunjungi
Alor adalah salah satu Kabupaten yang terdapat di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kabupaten ini sendiri menyimpan banyak sekali potensi wisata yang sangat cantik. Alor sendiri bisa menjadi sebuah destinasi baru dari wisata bahari di Indonesia. Hal ini dikarenakan memang lokasi dari tempat ini banyak sekali dikelilingi oleh pantai-pantai.
Apalagi bentuk dari kabupaten ini sendiri merupakan sebuah pulau yang tak jauh dari pulau utama sendiri. Banyak sekali tempat wisata di Alor yang bisa kita kunjungi, setiap tempat memiliki keindahan dan kelebihannya masing-masing. Kebanyakan tempat wisata yang ada di Alor ini sendiri adalah wisata alam seperti pantai, air terjun, atau kolam-kolam yang sangat cantik. Apapun bentuknya tempat wisata di Alor tak akan mengecewakan kita.
Alor merupakan salah satu bagian penting dalam beberapa tempat wisata di Nusa Tenggara Timur. Karena itulah maka keberadaan pulau ini sangat dijaga kelestariannya dan diperhatikan objek wisatanya. kali ini kita akan membahas mengenai beberapa tempat wisata yang berada di Kabupaten Alor. Objek wisata yang tak boleh kalian lewatkan jika kalian berkunjung ke tempat ini.

Kecintaan dan Amal Baik
Kecintaan Mama Sariat pada budaya tenun ikat ini tidak peru diragukan lagi. Namun bukanlah cinta namanya kalau hanya dipendam sendiri, cinta itu haruslah dibagikan. Dan untuk membagikan kecintaannya akan budaya kain tenun ini, Mama Sariat mengajarkan warga Alor Besar, khususnya wanita, untuk menenun. Ia membentuk suatu kelompok yang dia beri nama Kelompok Tenun Ikat Hula.
Kelompok yang dirintis sejak tahun 2000 ini kini sudah beranggotakan lebih dari 60 orang. Pada kelompok inilah ia mengajarkan bagaimana cara memintal benang yang benar, cara menenun yang baik, cara mengkombinasikan warna dan cara membuat motif khas Alor. “Saya bertahan hidup dari kecil dengan kain tenun. Rasa susah dan senang bersama kain tenun ini sudah saya rasakan. Saya tidak ingin warga merasakan kesusahan yang saya rasakan, biarlah lewat kain tenun ini mereka bisa merasakan sukacita dan mendapatkan tambahan penghasilan dan juga tembahan keterampilan tentunya.” Jelas Mama Sariat dengan penuh semangat.
Mama Sariat bersama beberapa warga Alor Besar
Seorang warga sedang asik memintal benang
Kaka nona sedang asyik menunjukkan kepada kami cara menenun
Dalam 1 bulan, kelompok bentukan ibu dari 6 orang anak ini bisa menghasilkan 60-70 kain tenun ikat. Motif khas Alor melekat di setiap helainya. Lama pengerjaan untuk 1 lembar kain tenun sangatlah bervariasi, tergantung dari besarnya, motifnya, banyaknya warna yang digunakan dan kecepatan si pengrajin. “Kalau untuk ukuran scarf, mungkin 1-2 hari bisa selesai. Tapi kalau yang sebesar gorden bisa memakan waktu berminggu-minggu.” jelasnya.
Harga kain tenun ikat buatan Kelompok Tenun Ikat Hula in dibanderol dengan harga Rp 200.000 – Rp 3.000.000. Peminatnya pun tidak hanya dari dalam negeri saja. Salah satu negara yang rutin memesan kain tenun ikat Mama Sariat adalah Jepang. Motif dan pewarna alami sudah tentu menjadi alasannya.

Mengenal Kain Tenun NTT: Bicara Soal Filosofi dan Makna Dibaliknya
Kain tenun khas Nusa Tenggara Timur bukan semata-mata dinilai sebagai fesyen dan trend semata di tengah zaman modern ini lho Sobat Indahnesia!
Lebih jauh daripada itu, menurut salah satu pengerajin kain tenun dari Molo, Timor Tengah Selatan, mengatakan bahwa kain tenun NTT masih menjunjung tinggi nilai-nilai tradisional dan merupakan bentuk penghormatan terhadap acara-acara sakral, seperti pernikahan, atau bahkan upacara kematian.
Beberapa motif dari kain tenun NTT juga punya makna dan filosofinya tersendiri. Gak sembarangan dibuat atau asal cantik dilihat mata saja!
Selain dari segi motif, masyarakat NTT juga percaya kalau kain tenun merupakan wujud hubungan manusia dengan alam, Sang Pencipta, atau leluhur mereka.
Tiga faktor kepercayaan ini pula yang gak bisa terlepas dari para penenun kain di NTT dan menjadikannya bagian daripada sumber inspirasi mereka.
Jadi, gak semata-mata membeli sebuah kain atau pakaian, ternyata kamu juga bisa mendapati nilai-nilai luhur di dalamnya!
Untuk motif sendiri, masyarakat NTT memang sangat filosofis. Misalnya saja, motif rote pada salah satu kain tenun menandakan pulau paling selatan di Indonesia, yakni Pulau Rote.
Pun soal warna, mereka sangat detail mencermikan sebuah nilai dalam balutan warna-warna di kain tenun Biasanya, warna-warna ini juga ditentukan dari kondisi daerah asal dari para penenun tersebut.
Contoh pengaplikasiannya, misalkan jika kain tenun yang dibuat kebanyakan berwarna hitam dan kecoklatan, maka biasanya itu berasal dari daerah Timor Tengah Utara, dimana daerah ini termasuk ke dalam daerah yang cenderung hangat.
Untuk di Timor Tengah Selatan sendiri, biasanya menggunakan warna-warna yang cenderung cerah. Hal ini juga difaktori oleh kondisi di TTS yang cenderung dingin.

Jenis Motif Kain Tenun dari NTT
Kain Tenun Jara Nggaja Ende
Kain tenun dari Nusa Tenggara Timur yang satu ini punya motif utama yang berbentuk heewan kuda dan gajah. Dua motif hewan ini punya makna dan filosofi lho.
Motif kuda sendiri melambangkan kendaraan menuju ke alam baka, sedangkan motif gajah melambangkan kendaraan dewa pemberi keadilan dalam kepercayaan masyarakat di Ende.
Ada kepercayaan yang cukup mistis dibalik Kain Tenun Jara Nggaja Ende lho! Konon katanya, pemakaian kain tenun motif ini harus tepat dan benar. Kalau enggak, dipercaya akan membawa penggunanya menuju kematian. Hiii merinding yaa!
Kain Tenun Kelimara Nggela
Kain Tenun Kelimara Nggela melambangkan kehidupan masyarakat di Nggela, NTT yang begitu harmonis dan menyatu dengan alam, terlebih gunung. Hal ini juga sebagai perlambang rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Motif Kelimara yang cantik lahir dari filosofi ini. Kain tenun Kelimara Nggela identik dengan motif segitiga serupa gunung yang menjulang ke atas. Umumnya berwarna coklat tua.
Kain Tenun Jarang Atibalang
Berikutnya ada kain tenun Jarang Atibalang. Kain tenun ini asalnya dari Maumere, Nusa Tenggara Timur. Tenun Jarang Atibalang ini kalau secara bahasa dapat diartikan, “jarang” yaitu kuda dan “atibalang” yakni manusia.
Sama seperti kain tenun Jara Nggaja di Ende, kain tenun Jarang Atibalang juga punya makna filosofis berupa kuda sebagai kendaraan manusia menuju ke alam berikutnya dalam kepercayaan masyarakat setempat.
Kain Tenun Lawo Butu
Motif yang satu ini dikabarkan udah hampir punah atau jarang sekali ditemui. Dapat dikatakan, kain tenun dengan motif Lawo Butu adalah kain tenun paling kompleks diantara kain tenun NTT lainnya!
Kain tenun Lawo Butu juga cukup unik lho! Kain tenun ini biasa dipakai menjelang upacara sakral untuk memanggil hujan. Motif-motif rumit dari kain tenun ini biasanya didominasi oleh motif kuda, sampan, gurita, dan masih banyak motif kompleks lainnya!

Tags: tenun