Kain Tenun Cepuk Rangrang - Keindahan dan Warisan Budaya dalam Seni Menjahit Tradisional
Sejarah dari Penamaan “Cepuk Rangrang”
Menurut masyarakat setempat, penamaan dari Kain Cepuk Rangrang ini diambil dari kata “Cepuk” dan “Rangrang”.
Di dalam Bahasa Sansekerta, Kata “Cepuk” ini bisa diartikan sebagai “Kayu Canging” yaitu salah satu jenis kayu yang dipakai sebagai bahan dasar untuk pewarnaan kain tenun ini.
Dan sedangkan, kata “Rangrang” ini bisa diartikan “Bolong-Bolong” atau lubang-lubang kecil yang bisa ditemukan pada tampilan pola motif dari lembaran kain.
Pola “Bolong-bolong” atau lubang-lubang ini tersebut dibuat untuk mesimbolkan sifat transparansi “jujur dan terbuka” di dalam kehidupan masyarakat setempat.
Dulunya, kain ini tidak dipergunakan secara sembarangan, masing-masing jenisnya memiliki fungsi tersediri, sebagai dibawah ini.
Dipakai oleh masyrakat yang hendak melakukan ritual pembersihkan diri atau melukat.
Biasanya dikenakan oleh para laki-laki dalam mengikuti upacara potong gigi (Manusa Yadnya).
Biasanya dikenakan oleh dipakai oleh para perempuan dalam mengikuti upacara potong gigi.
Hanya dikenakan untuk menghadiri upacara-upacara Pitra Yadnya seperti: Upacara Ngaben atau Kremasi Mayat.
Kain yang paling dominan dipakai oleh masyarakat pada hari-hari biasa.
Wayang Kulit ( Pulau Jawa)
Wayang kulit adalah kerajinan tangan sekaligus kesenian tradisional yang ada di Pulau Jawa, khususnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Menurut literatur kesusastraan Jawa, wayang kulit pertama kali diciptakan oleh Sunan Kalijaga dan terinspirasi dari Wayang Beber yang saat itu tengah eksis.
Kerajinan ini dibuat dari kulit kambing, sapi, atau kerbau yang sudah diproses menjadi kulit lembaran dan memiliki ukuran sekitar 50 x 30 cm. Pemakaian bahan tersebut berbeda dengan Wayang Beber yang notabene berbahan dasar kertas.
Pada 7 November 2003, UNESCO sudah mengakui wayang kulit sebagai karya kebudayaan mengagumkan dalam bidang cerita narasi, serta warisan yang indah dan berharga (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity).
Tags: dari tenun cepuk