Keindahan dan Kreativitas dalam Kain Tenun Flores - Panduan dan Inspirasi DIY
Budaya Dan Kesenian Orang Ende
Seperti kebanyakan daerah di Indonesia, Ende memiliki budaya dan kesenian yang kaya dan unik.
Berikut adalah beberapa aspek dari budaya dan kesenian orang Ende:
1. Bahasa Ende
Bahasa yang umum digunakan di Ende adalah bahasa Ende atau bahasa Ngadha, tergantung pada wilayahnya. Selain itu,
banyak orang di sana juga bisa berbicara bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional.
2. Adat Istiadat di Ende
Adat istiadat di Ende adalah kumpulan nilai-nilai, norma, dan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi.
Ini merupakan bagian penting dari budaya masyarakat Ende dan masih dijunjung tinggi oleh penduduk setempat.
Adat istiadat mencakup beragam ritual, upacara, dan praktik kehidupan sehari-hari.
Beberapa aspek penting dalam adat istiadat orang Ende antara lain:
Upacara Adat
Dalam kehidupan masyarakat Ende, upacara adat memainkan peran penting dalam merayakan peristiwa penting dan meresmikan tahapan hidup tertentu.
Contohnya adalah upacara pernikahan, upacara kematian, upacara panen, dan upacara adat lainnya.
Adat dan Hukum Adat
Adat istiadat Ende juga mencakup hukum adat yang merupakan norma-norma yang mengatur konflik dan perselisihan di antara anggota masyarakat.
Hukum adat ini berfungsi sebagai sistem peradilan tradisional untuk menyelesaikan masalah secara adil.
Kepercayaan dan Agama
Adat istiadat juga mencakup kepercayaan dan praktik keagamaan tradisional, termasuk keyakinan animisme dan roh nenek moyang.
Seiring dengan perkembangan zaman, agama-agama seperti Katolik dan Islam juga mempengaruhi kepercayaan dan adat istiadat di Ende.
Makna Filosofis 14 Motif Tenun dari Nusa Tenggara
Seperti halnya puisi yang sarat makna, tiap lembaran kain tenun pun berusaha menyampaikan suatu kisah, nilai-nilai, atau makna filosofis kepada dunia luas. Dan kisah masing-masing tenun itu, tidak akan pernah sama antara yang satu dengan yang lainnya.
Hampir di setiap pelosok bumi nusantara ini menghasilkan kain tenun yang indah dengan beragam makna di dalamnya. Dari mulai Jawa, Sumatera, Maluku, Papua, Kalimantan dan seterusnya.
Pekerjaan menenun merupakan seni kerajinan tangan turun-temurun yang diwariskan oleh nenek moyang. Keragaman suku, etnis, budaya, adat, keyakinan yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, turut memperkaya khasanah ragam motif kain tenun di Indonesia.
Joseph Fisher, seorang pengamat tekstil dunia menyatakan bahwa Indonesia merupakan negara penghasil seni tenun yang paling kaya dan canggih yang pernah ada di dunia.
Umumnya, motif tenun berupa benda hidup naturalistis seperti manusia, hewan dan tumbuhan yang ada di sekitar para penenun.
Motif manusia digambarkan melalui sosok tubuh dan anggota tubuh dan biasanya diwujudkan secara utuh. Motif hewan dilukiskan dengan dua cara, baik secara utuh maupun hanya anggota badan saja (bagian ekornya, sayap atau kepala). Sedangkan ragam hias atau corak tenun, biasanya berupa tangkai kembang, suluran, belah ketupat, ujung tombak, tanda silang, titik-titik, persegi empat, dll.
Bagi saya yang awam, memahami masing-masing motif dan ragam hias tenun, bukanlah pekerjaan mudah.
Terkadang, saking rumit dan abstraknya, saya sampai perlu memicingkan mata dan mengerutkan kening untuk bisa memahami motif dan ragam hias kain tenun. Apalagi memahami pesan atau maknanya.
Namun di luar hal tersebut, melihat beragam warna, motif dan rajutan benang yang membentuk garis, titik-titik, lengkungan, segi empat, dan lainnya, di dalam sehelai kain tenun, sanggup mempesona dan mencuri hati saya.
5. Rumah Adat Ende
Rumah adat orang Ende disebut “Uma Mosa” Atau Rumah Musalaki. Rumah tradisional ini adalah salah satu ciri khas budaya NTT, termasuk daerah Ende.
Uma Mosa biasanya dibangun dengan menggunakan bahan-bahan alami yang tersedia di sekitar lingkungan, seperti bambu, kayu, dan daun lontar.
Uma Mosa memiliki struktur berbentuk kerucut. Atapnya cenderung melengkung ke atas, yang membuatnya lebih kuat untuk menghadapi cuaca ekstrem.
Uma Mosa biasanya memiliki tanah lantai yang terbuat dari tanah liat atau batu.
Budaya dan kesenian orang Ende menawarkan pandangan yang menarik tentang kekayaan budaya dan tradisi NTT.
Selain itu, juga menjadi daya tarik bagi para wisatawan yang tertarik untuk mengenal dan menghargai keberagaman budaya Indonesia.
Motif Kain Tenun dari Flores
Flores memiliki banyak sentra penghasil kain tenun, yang antara lain: Maumere, Sikka, Ende, Manggarai, Ngada, dan lain sebagainya. Setiap daerah atau etnis memiliki ragam motif, corak dan preferensi warna yang berbeda-beda dalam membuat kain tenun.
Kain tenun khas daerah Sikka misalnya, biasanya selalu menggunakan warna gelap seperti hitam, coklat, biru, dan biru-hitam. Untuk motifnya, cenderung menggunakan benda dan mahluk hidup yang berkaitan dengan laut. Seperti misalnya, figur nelayan, sampan, penyu, udang, atau kepiting. Wajar, karena nenek moyang mereka dahulu termasuk pelaut ulung dan tangguh.
Sementara, di Ende lebih banyak menggunakan warna cokelat dan merah serta memadukannya dengan ragam hias motif bergaya Eropa. Hal ini karena letak strategis Ende di pesisir selatan Flores yang memungkinkan orang-orang Ende zaman dahulu mudah berhubungan dengan bangsa pendatang, seperti orang Eropa. Ciri khas lain motif kain tenun Ende adalah penggunaan hanya satu jenis motif pada bidang di tengah-tengah kain.
Jarang Atabilang dari Maumere
Jara Nggaja dari Ende
Jara dari Desa Bena
Bintang Kejora dari Maumere
Motif Bintang Kejora berbentuk bintang berganda tiga yang melambangkan unit keluarga yang terdiri dari suami, istri dan anak. Persegi empat dengan isian belah ketupat kompleks melambangkan pertanda pencegah malapetaka. Sehingga, motif Bintang Kejora ini diyakini, pemakainya bisa mendapatkan penerangan atau petunjuk dan sekaligus kain itu digunakan sebagai media penolak malapetaka. Konon, dulunya motif ini merupakan motif khas yang khusus diperuntukkan bagi putri-putri Kerajaan Sikka. Dan sekarang-sekarang ini, motif Bintang Kejora atau sering juga disebut Mawarani inilah yang paling banyak diminati para perempuan dari berbagai negara.
Motif Kain Tenun Sumba, NTT
Bagi masyarakat Sumba, kain tenun memiliki multi fungsi. Kain tenun dapat berfungsi sebagai alat tukar, hadiah, mas kawin, harta benda, membungkus bayi yang baru lahir maupun membungkus jenazah.
Marie Jeanne Adams penulis buku ‘Decorative Arts of Sumba’ mengemukakan, bahwa secara umum, motif dan ragam hias kain tenun Sumba cenderung berukuran besar-besar. Meskipun begitu, terdapat perbedaan motif yang cukup signifikan pada kain tenun Sumba Barat dan Sumba Timur.
Kain tenun Sumba Timur mencerminkan kemeriahan, kaya dan beragam dengan ornamen dekoratif margasatwa yang tampak realistis. Sedangkan kain tenun Sumba Barat mencerminkan kesederhanaan yang dihiasi dengan garis-garis halus indigo. Permukaannya polos tanpa ornamen, hanya di bagian bawah dan atas terdapat hiasan simetris atau figur hewan.
Di Sumba Timur, sentra kain tenun diantaranya terdapat di Waingapu, Kanatang, Kambera, Rindi. Sementara di Sumba Barat, sentra tenun antara lain terdapat di Kodi, Waikabubak, Wanokaka dan Lamboya.
Berikut beberapa motif kain tenun dari Sumba:
Motif Kaliuda
Motif Andungu
Motif Kurangu
Motif Mamuli
Tags: tenun