... Kain Tenun Kupang: Panduan Lengkap dan Cara Membuat Sendiri

Kain Tenun Kupang - Seni Tenun Tradisional yang Mengagumkan

6. Pakaian Adat Suku Lio

Suku Lio merupakan suku terbesar dan juga tertua yang terdapat di Pulau Flores NTT. Orang Lio memiliki ragam kain tenun yang diberi nama tenun ikat patola. Kain tenun ini dibuat untuk kalangan kerajaan dan juga kepala suku. Motif dari kain tenunnya berupa motif dedaunan, biawak, dan manusia.

Pakaian pria yang biasa dikenakan oleh Suku Lio berupa ragi atau kain sarung yang berwarna hitam dengan beragam motif. Luka merupakan selendang yang biasa di digunakan di sebelah kanan. Satu lagi adalah lesu berupa ikat kepala yang hanya digunakan oleh para pelaksana ritual adat.

Wanita dari suku Lio biasanya mengenakan pakaian tradisional yang bernama lambu yang mirip dengan baju bodo. Bawahannya biasanya berupa kain sarung yang disebut dengan lawo yang memiliki beragam motif. Aksesoris yang dikenakan biasanya berupa tusuk konde, anting , dan juga kalung.

Pakaian Tradisional Lelaki “Atoin Meto” Amfoang

Sebagai provinsi kepulauan yang didiami banyak etnis, Nusa Tenggara Timur sangat kaya akan budaya dan adat-istiadat. Salah satu kekayaan itu berupa pakaian tradisional.
Pada 15 Juni lalu, saya berkesempatan menghadiri festival pangan lokal di Desa Oh’aem I, Kecamatan Amfoang, Kabupaten Kupang. Tidak hanya menikmati kekayaan olahan pangan tradisional, saya juga mempelajari tata cara berpakaian lelaki Timor—orang Timor menyebut diri sendiri atoin meto– lebih spesifik lagi orang-orang Kecamatan Amfoang.

Selimut Adat dan Destar

Secara umum ada dua item utama dalam outfit tradisional lelaki di Nusa Tenggara Timur, yaitu kain tenun dan destar.
Lelaki di Amfoang, seperti suku-suku lain di Timor menggunakan kain terusan berenda ujung yang mereka sebut sebagai ‘selimut’ dalam dialeg melayu Kupang atau mau dalam bahasa Dawan, bahasa utama di Timor Barat.

Kain ‘selimut’ yang dikenakan lelaki atoin meto ini berbeda dengan lelaki etnis-etnis di Pulau Flores yang mengenakan kain sarung. Di Timor yang mengenakan sarung (tais) adalah kaum perempuan. Pada sarung kedua ujung kain dijjahit menyatu, sementara pada ‘selimut’ tidak.

Pasangan mertua-menantu sedang menenun.

Kain tenun Oh’aem bermotif serupa tenunan Amfoang umumnya tetapi dengan gradasi warna merah yang lebih gelap.
Sebagai tutup kepala, Orang Amfoang (corak Desa Oh’aem) mengikatkan destar batik dengan puncak kerucut terletak di sisi samping atau belakang kepala. Bagian atas kepala dibiarkan terbuka. Corak ini berbeda dengan suku-suku di Flores yang mengikat destar dengan puncak mengerucut terletak di bagian depan atau tanpa kerucut dengan seluruh permukaan atas tertutup.

2.Motif Liris Kupang

Motif Liris Kupang ditandai dengan garis-garis geometris dan hiasan tenun ikat di ujungnya. Motif geometris bisa berupa garis beralur vertikal, horizontal, maupun diagonal atau miring. Makna batik ini melambangkan ketabahan dan solidaritas masyarakat NTT.

3.Motif Kuda Kupang

Foto: KREASI BATIK KUPANG Creation of Batik Kupang

Motif batik Kuda Kupang memiliki ciri khas corak daerah Kupang yang kuat dan berkarakter. Guratan motifnya didominasi geometris yang indah dengan makna filosofis yang mendalam.

Motif ini merupakan simbol tentang hubungan kekeluargaan, kerukunan dan kebersamaan warga masyarakat serta harapan untuk terus melestarikan budaya setempat. Kerukunan masyarakat Kupang diharapkan membawa manfaat berupa kemakmuran dan kejayaan bagi masyarakat setemat serta bangsa dan negara

4.Motif Pucuk Mekar

Pucuk Mekar merupakan motif batik yang mengambil inspirasi dari hujan. Daerah Nusa Tenggara Timur umumnya kering dan hujan selalu membawa berkah tersendiri bagi masyarakat setempat. Motif ini merupakan simbol penggambaran rasa syukur dan kebahagiaan atas anugerah turunnya hujan dari Yang Maha Kuasa.

5.Motif Teguh Bersatu.

Tenun Nusa Tenggara Timur

Masyarakat di Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang penuh budaya dan kaya akan keberagaman. Salah satunya ditandai dengan cara berpakaian. Salah satu hal yang paling berpengaruh terhadap cara berpakaian ialah bahan dasar berpakaian. Jika di masyarakat Jawa terdapat batik maka di masyarakat lainnya khususnya masyarakat Nusa Tenggara Timur terdapat kain tenun. Meski secara administratif gugusan-gugusan pulau di wilayah tersebut berada dibawah satu pemerintahan namun tak berarti budaya yang juga homogen. Beranekaragamnya suku yang ada menyebabkan tiap suku dan etnis memiliki bahasanya masing-masing yang mempunyai ratusan dialek lebih. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa terdapat beragamnya motif yang ada pada tenunan. Tiap wilayah dan suku masing-masing mempunyai keunikan yang khusus dibanding dengan daerah, contohnya seperti menampilkan legenda, mitos dan hewan masing-masing daerah. Ada juga yang bertujuan untuk menggambarkan penghayatan akan karya Tuhan yang besar.

Mengenal Kain Tenun sebagai Kain NTT

Foto: tenun NTT (indonesia.go.id)

Selain itu, tenun bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur dipandang sebagai harta berharga milik keluarga yang bernilai tinggi.

Harganya menjadi sangat tinggi karena tingkat kesulitan dalam proses pembuatan. Selain itu, model motif tenun yang dihasilkan penenun juga berbeda-beda.

Tak heran, proses menenun itu menghasilkan harga kain yang cukup mahal. Harga kain NTT bahkan bisa dijual hingga ratusan juta Rupiah.

Bahkan saking berharganya hasil karya tersebut, kain bekas pakai tersebut juga masih memiliki harga jual yang tinggi.

Dahulu kala, kain tenun dibuat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, yakni sebagai busana biasa.

Namun kemudian, cara memakai kain NTT ini berkembang untuk kebutuhan adat, seperti upacara, tarian, perkawinan, dan pesta.

Hingga kini, kain tenun juga biasa digunakan sebagai selendang, sarung, selimut, hingga pakaian.

Sejak itulah diperkirakan masyarakat setempat sudah mengenal seni dan budaya, seperti misalnya kegiatan menenun.


Tags: tenun

`Lihat Lagi
@ 2024 - Tenun Indonesia