Mengenal Kain Tenun Lurik - Seni dan Kerajinan DIY
Sentra Tenun Prasodjo Pedan
Pedan, kecamatan di Kabupaten Klaten dikenal sebagai pusat kerajinan tenun lurik. Di daerah ini lurik memiliki sejarah yang sangat panjang, serta cerita pasang surut yang mengiringinya. Ada sentra tennun lurik yang masih bisa bertahan, namun banyak pula yang tumbang. Salah satu yang masih bertahan yaitu Sentra Tenun Prasodjo yang didirikan Sumo Hartono sejak tahun 1950. Nama itu kemudia disingkat menjadi SH dan dijadikan logo merek.
Lurik Prasodjo terletak di Kampung Pencil, Kelurahan Bendo, Kecamatan Pedan, Kabupaten Klaten. Saya tiba di lokasi ini sekitar jam 3 sore. Bebarengan dengan bubarnya ratusan karyawan yang bekerja di situ. Agak sulit mendapat tempat parkir, karena mobil-mobil yang parkir banyak sementara tempat parkirnya terbatas. Rupanya banyak juga yang akan membelanjakan uangnya untuk membeli tenun lurik.
Dan benar saja. Begitu saya masuk ke showroom Lurik Prasodjo, di situ memang sudah berjubel para pembeli yang sibuk memilih kain tenun lurik. Ruangan showroom tidak terlalu luas, hanya terdiri dari 2 ruang saja. Di masing-masing ruangan tadi, berserakan kain-kain yang siap dibeli. Beragam motif dan warna yang bisa kita pilih. Selain kain, ada juga sandal lurik, tas lurik, baju ready to wear, bantal, dan sebagainya. Tinggal pilih saja mau beli yang mana. Ada banyak staff yang siap melayani. Mungkin karena banyak pembeli saat itu, saya merasa agak terabaikan. Tanya harga, dibilang gak tau. Tanya motif, dibilang gak tau juga. Ya ampun.

Sejarah Kain Lurik
Namun, seiring berjalannya waktu, penggunaan kain lurik semakin meluas ke masyarakat umum. Kain ini menjadi populer karena bahan yang digunakan mudah didapatkan dan harganya terjangkau. Selain itu, motif dan warna yang dihasilkan juga memperlihatkan keunikan dan keindahan tersendiri.
Kain lurik juga memiliki nilai filosofis dan simbolis yang tinggi dalam kebudayaan Indonesia. Misalnya, ada beberapa daerah di Indonesia yang menggunakan kain lurik sebagai lambang identitas budaya. Seperti di Yogyakarta, lurik menjadi salah satu warisan budaya dan menjadi simbol khas dari daerah tersebut.
Saat ini, kain lurik tidak hanya digunakan sebagai pakaian tradisional, tapi juga sebagai bahan untuk membuat berbagai macam aksesoris, tas, hingga produk interior rumah. Hal ini menunjukkan bahwa kain lurik masih terus eksis dan menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia yang patut dilestarikan.

Makna Filosofis Motif Kain Tenun Lurik
Kata atau istilah lurik berasal dari bahasa Jawa “lorek” atau “rik” atau “lirik-lirik.” Dalam bahasa Jawa kuno lorek berarti lajur atau garis, belang dan dapat pula berarti corak. Dan karena corak kotak-kotal itu terdiri dari garis-garis yang bersilang, maka corak kotak-kotak (cacahan) bisa juga dikategorikan sebagai lurik. Sementara laHal tersebut dikarenakan corak kotak-kotak terdiri dari garis-garis yang bersilang, maka corak kotak-kotak atau cacahan dinamakan pula lurik. Sementara kalau menurut para pakar Kejawen, secara religi “rik” itu berarti garis atau parit dangkal yang membekas yang menyerupai garis yang sulit dihapus.
Sejak zaman dahulu di daerah Jawa banyak dibuat kain tenun lurik yang memiliki aneka ragam corak dengan latar belakang filosofis tinggi. Makanya, di beberapa daerah seperti di Solo atau Yogyakarta, penggunaan kain lurik selalu berbeda-beda, disesuaikan dengan makna dan tujuannya. Motif kain lurik tradisional memiliki makna yang mengandung petuah, cita-cita serta harapan kepada pemakainya. Selain itu lurik juga dianggap memiliki kekuatan yang bersifat mistis. Bahkan sebagaian besar masyarakat pada waktu itu juga meyakini, bahwa jika mereka mengenakan pakaian lurik dengan motif tertentu, maka ia akan merasa lebih tenteram karena merasa terlindungi kesejahteraannya.
Konon motif ini diciptakan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I. Beliau memilih perbandingan kedua satuan kelompok tersebut dengan perbandingan 3:4 daripada 1:6 atau perbandingan 2:5, karena kecuali serasi untuk dipandang mata, juga mengandung makna falsafah.
Perbandingan 3 : 4 tidak terlalu mencolok, tidak jauh bahkan berdekatan, dibanding dengan perbandingan lainnya. Makna yang terkandung adalah bahwa seseorang yang lebih besar (bukan dalam arti harfiah) seperti umpamanya raja atau penguasa, harus dekat dengan rakyatnya serta harus merupakan pemberi kemakmuran dan kesejahteraan serta pengayom pada rakyatnya.

Sentra Tenun Lurik Tlingsing
Sepanjang jalan menuju Tlingsing, tak satupun kendaraan roda empat yang saya temui. Motor pun hanya 1-2 saja yang lewat. Jadi, santai saja kalau datang ke sini. Karena meskipun lebar jalannya hanya muat satu mobil saja, namun tak ada mobil lain yang akan berpapasan dengan kita. Namun hati-hati, jangan sampai salah jalan. Putar baliknya agak PR yaaa… mengingat saking sempitnya jalan. Selain itu, lebih baik matikan GPS dari ponsel karena sinyal tak mau bersahabat dengan kita di lokasi ini. Mending gunakan GPS yang lain, yaitu ‘Gunakan Penduduk Setempat’.
Melewati jalan-jalan sempit di Tlingsing, di kanan-kiri jalan, kita akan disuguhi pemandangan area persawahan yang luas. Hanya sayang, waktu itu para petani tampaknya baru saja melakukan panen raya, sehingga saya tak menjumpai hamparan persawahan yang hijau selain batang-batang padi yang menguning habis dipotong. Tak terlihat juga para petani yang sibuk menjaga sawah, hanya saja terlihat 2-3 orang yang sedang membajak sawah dengan menggunakan hand tractor.
Baru beberapa langkah saja memasuki area perumahan warga di desa ini, saya sudah disambut dengan suara dag-dog-dag-dog yang berasal dari alat tenun ATBM. Suara itu terdengar sayup-sayup namun seolah bersahut-sahutan. Rupanya, jam-jam segini, merupakan jadwal menenun bagi warga desa ini. Padahal tadinya saya sempat berpikir, tak akan bisa menjumpai warga yang sedang menenun karena sudah terlalu siang sampai di sini. Tapi ternyata, banyak warga yang tengah bekerja dengan alat tenun ATBM-nya. Saya sempatkan diri untuk mengetuk pintu ke Pak RT (yang menemui Bu Widodo, istrinya). dan darinya saya mendapat informasi bahwa di wilayah inilah paling banyak jumlah penenunnya di banding desa lain di Klaten.

Tags: tenun