... Apa Itu Kain Tenun Lurik? Panduan DIY untuk Pecinta Kerajinan Tangan

Mengenal Kain Tenun Lurik - Seni dan Kerajinan DIY

Sentra Tenun Lurik Tlingsing

Sepanjang jalan menuju Tlingsing, tak satupun kendaraan roda empat yang saya temui. Motor pun hanya 1-2 saja yang lewat. Jadi, santai saja kalau datang ke sini. Karena meskipun lebar jalannya hanya muat satu mobil saja, namun tak ada mobil lain yang akan berpapasan dengan kita. Namun hati-hati, jangan sampai salah jalan. Putar baliknya agak PR yaaa… mengingat saking sempitnya jalan. Selain itu, lebih baik matikan GPS dari ponsel karena sinyal tak mau bersahabat dengan kita di lokasi ini. Mending gunakan GPS yang lain, yaitu ‘Gunakan Penduduk Setempat’.

Melewati jalan-jalan sempit di Tlingsing, di kanan-kiri jalan, kita akan disuguhi pemandangan area persawahan yang luas. Hanya sayang, waktu itu para petani tampaknya baru saja melakukan panen raya, sehingga saya tak menjumpai hamparan persawahan yang hijau selain batang-batang padi yang menguning habis dipotong. Tak terlihat juga para petani yang sibuk menjaga sawah, hanya saja terlihat 2-3 orang yang sedang membajak sawah dengan menggunakan hand tractor.

Baru beberapa langkah saja memasuki area perumahan warga di desa ini, saya sudah disambut dengan suara dag-dog-dag-dog yang berasal dari alat tenun ATBM. Suara itu terdengar sayup-sayup namun seolah bersahut-sahutan. Rupanya, jam-jam segini, merupakan jadwal menenun bagi warga desa ini. Padahal tadinya saya sempat berpikir, tak akan bisa menjumpai warga yang sedang menenun karena sudah terlalu siang sampai di sini. Tapi ternyata, banyak warga yang tengah bekerja dengan alat tenun ATBM-nya. Saya sempatkan diri untuk mengetuk pintu ke Pak RT (yang menemui Bu Widodo, istrinya). dan darinya saya mendapat informasi bahwa di wilayah inilah paling banyak jumlah penenunnya di banding desa lain di Klaten.

Kain Tenun Lurik Zaman NOW

Sekarang ini pasar tidak lagi peduli tentang warna, jenis, motif, dan makna filosofis di balik sehelai kain tenun lurik yang selama ini dikembangkan oleh para leluhur. Sekarang ini banyak bermunculan jenis, corak dan warna dasarnya yang diambil dari lurik tradisi dengan sentuhan masa kini yang lebih bervariasi mengikuti tren dunia fashion.

Jika kondisi ini dibiarkan terus berlangsung, saya kira bukan gak mungkin tenun lurik semakin termarjinalkan dan lama-kelamaan akan hilang dari peredaran. Dan jika memang itu yang terjadi, berarti memang kita tidak bisa menjadi ahli waris yang dapat menjaga dan mengembangkan warisan adiluhung nenek moyang kita.

Dan barangkali benar, kita tak perlu membawa-bawa masa lampau ke era sekarang. Sekarang sudah era revolusi 4.0 dimana yang mahal dan ribet tak lagi laku, karena yang dibutuhkan serba instant dan yang penting murah.

Ke Klaten, Menguak Kisah Kain Tenun Lurik

Klaten (Bahasa Jawa: Klathen) merupakan salah satu kabupaten di Jawa Tengah dan boleh dibilang wilayah yang cukup subur karena letaknya memang dekat dengan Gunung Merapi. Secara geografis kota ini diapit oleh dua kota besar bekas Kerajaan Mataram, yaitu Yogyakarta dan Solo. Mungkin saking besarnya potensi kedua kota yang mengapitnya, tak jarang hal ini membuat Klaten hanya dianggap sebagai pupuk bawang atau menjadi daerah yang kurang diperhitungkan bagi kalangan wisatawan. Tapi apa iya, di kota yang konon berasal dari kata “Kelathi” (buah bibir) ini memang benar-benar gak ada destinasi yang menarik?

Hohoho… jangan salah.

Meskipun terhitung kota kecil, Klaten banyak menyimpan potensi destinasi wisata. Ada wisata sejarah, seperti misalnya: Museum Gula, Candi Sewu, Candi Plaosan, Benteng Loji (Fort Engelenburg) dan sebagainya. Jika menyebut wisata alam, maka nama Umbul Ponggok akan langsung berada di urutan teratas. Nah, kalau yang disebut adalah wisata tenun di Jawa Tengah, sudah pasti Klaten-lah yang muncul sebagai juaranya. Ada beberapa sentra tenun lurik yang dapat kita kunjungi. Dan sebagai pemerhati kain tenun, justru alasan terakhir inilah yang membuat saya bersemangat mengeksplor Klaten.

Kain Lurik – Kain Tradisional Khas Dari Jogjakarta Dengan Pola Khas Bergaris-garis yang Cantik dan Unik

Kain Lurik – Lurik merupakan salah satu jenis kain tenun yang berasal dari pulau Jawa. Salah satu daerah penghasil lurik adalah Yogyakarta. Lurik merupakan salah satu pakaian khas Yogyakarta selain kain batik. Kata lurik berasal dari bahasa Jawa yaitu “lorek” yang berarti garis-garis.

Menurut Eksiklopedinasional Indonesia (1997) lurik adalah suatu kain hasil tenunan benang yang berasal dari daerah Jawa Tengah dengan motif dasar garis-garis atau kotak-kotak dengan warna-warna suram yang pada umumnya diselingi aneka warna benang. Kata lurik berasal dari akar kata rik yang artinya garis atau parit yang dimaknai sebagai pagar atau pelindung bagi pemakainya.

Sejarah Kain Lurik

Sentra Tenun Prasodjo Pedan

Pedan, kecamatan di Kabupaten Klaten dikenal sebagai pusat kerajinan tenun lurik. Di daerah ini lurik memiliki sejarah yang sangat panjang, serta cerita pasang surut yang mengiringinya. Ada sentra tennun lurik yang masih bisa bertahan, namun banyak pula yang tumbang. Salah satu yang masih bertahan yaitu Sentra Tenun Prasodjo yang didirikan Sumo Hartono sejak tahun 1950. Nama itu kemudia disingkat menjadi SH dan dijadikan logo merek.

Lurik Prasodjo terletak di Kampung Pencil, Kelurahan Bendo, Kecamatan Pedan, Kabupaten Klaten. Saya tiba di lokasi ini sekitar jam 3 sore. Bebarengan dengan bubarnya ratusan karyawan yang bekerja di situ. Agak sulit mendapat tempat parkir, karena mobil-mobil yang parkir banyak sementara tempat parkirnya terbatas. Rupanya banyak juga yang akan membelanjakan uangnya untuk membeli tenun lurik.

Dan benar saja. Begitu saya masuk ke showroom Lurik Prasodjo, di situ memang sudah berjubel para pembeli yang sibuk memilih kain tenun lurik. Ruangan showroom tidak terlalu luas, hanya terdiri dari 2 ruang saja. Di masing-masing ruangan tadi, berserakan kain-kain yang siap dibeli. Beragam motif dan warna yang bisa kita pilih. Selain kain, ada juga sandal lurik, tas lurik, baju ready to wear, bantal, dan sebagainya. Tinggal pilih saja mau beli yang mana. Ada banyak staff yang siap melayani. Mungkin karena banyak pembeli saat itu, saya merasa agak terabaikan. Tanya harga, dibilang gak tau. Tanya motif, dibilang gak tau juga. Ya ampun.


Tags: tenun

`Lihat Lagi
@ 2024 - Tenun Indonesia