Kain Tenun NTB - Karya Seni Tenun Tradisional Indonesia yang Memukau
Digunakan oleh setiap pengantin suku sasak
Pengrajin kain songket Fikri Koleksi. Dok: Pertamina
Kain tradisional ini dapat masuk ke golongan keluarga tenunan brukat, karena terbuat dari bahan pilihan yang diolah menggunakan teknik yang sangat rumit. Tidak semua penenun bisa menenun kain dengan motif songket ini.
Kain ini dibuat dengan cara nyesek (dalam bahasa sasak) alias ditenun. Kain songket ini juga biasanya dikenakan oleh pria atau wanita untuk keperluan upacara adat atau untuk pengantin yang berbahagia.
Biasanya keluarga dan kerabat Suku Sasak akan memberikan kain songket sebagai hadiah kepada pengantin baru. Meski demikian, kini penggunaan kain songket bukan hanya untuk pengantin baru. Siapapun dapat menggunakannya dan dalam kegiatan atau acara apa pun. Tidak hanya untuk acara adat, orang dapat menggunakan kain songket untuk kondangan atau untuk digunakan sehari-hari.
3. Motif Nggusu Upa
Kain tenun Tembe Nggoli motif Nggusu Upa terdiri dari dua macam bentuk motif, pada penerapannya motif diawali dengan pembuatan pola yang letaknya secara berhimpitan sebagai pola pokok, nama motif diambil dari banyaknya bagian motif tersebut dengan penerapan motif saling berhimpitan. Motif ini biasa digunakan oleh wanita. Hal ini dibuktikan dengan penggunaan motif belah ketupat pada pakaian wanita. Ukuran yang diterapkan dalam pembuatan tenun Tembe Nggoli Nggusu Upa adalah ukuran bagian pinggir kain adalah lebar motif 20 cm dan mengikuti panjang kain 2 m sampai 3 m, sedangkan untuk bagian tengah kain adalah lebar motif 10 cm dan panjang 15 cm mengikuti lebar kain 70 cm. Sebelum kedua motif diterapkan maka membuat pola terlebih dahulu. Pada buatan pola ini dibuat pola dengan motif pokok belah ketupat.
A. Warna Motif Nggusu Upa
Kain tenun Tembe Nggoli dengan motif Nggusu Upa menggunakan warna merah muda dari benang Nggoli sebagai warna dasar kain, untuk warna motif menggunakan warna kuning dari benang emas. Warna kuning dari benang emas kain ini lebih menonjol jika dipadukan dengan warna merah muda.
B. Makna Simbolis Motif Nggusu Upa
Kain tenun Tembe Nggoli Nggusu Upa adalah dihitung dari banyaknya jumlah sudut dari motif tersebut yaitu segi empat dalam bahasa Dompu disebut Nggusu Upa. Motif Nggusu Upa memiliki makna simbolik adalah empat sifat utama yang harus dimiliki oleh seseorang yaitu suka membantu, jujur, berhati mulia, dan bekerja keras. Makna kain tenun motif Nggusu Upa menjelaskan karakter masyarakat Mbojo yaitu melambangkan sikap hidup jujur, suka membantu, berhati mulia, dan bekerja keras.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa motif kain tenun Tembe Nggoli Nggusu Upa adalah sikap hidup jujur, suka membantu, berhati mulia, dan bekerja keras. Kain tenun Tembe Nggoli motif Nggusu Upa digunakan pada saat upacara pawai kerajaan maupun pawai budaya dan tarian daerah. Di bawah ini adalah gambar kain tenun Tembe Nggoli motif Nggusu Upa.
Jenis-jenis kain songket sasak
ilustrasi kain tenu (ksmtour.com)
Jika merujuk pada kegunaannya, maka kain Songket Sasak atau Lombok ini dapat dibedakan menjadi lima jenis, yakni:
- Bendang yang digunakan sebagai kain panjang para kaum hawa
- Selewoq yang dikenakan sebagai kain panjang para kaum adam
- Dodo alias Leang yang digunakan oeh kaum adam sebagai saput
- Sabuk Bendang alias Sabuk Anteng yang dikenakan oleh kaum hawa sebagai selendang atau ikat pinggang
- Bebet yang digunakan oleh kaum adam sebagai sebuah ikat pinggang.
4. Pakaian Adat Katente Tembe
Katete tembe merupakan istilah untuk pakaian yang dikenakan oleh kaum pria dari suku Mbojo dari daerah Bima. Pakaian dari kaum pria ini menggunakan dua buah kain sarung. Kain sarung tersebut digunakan seperti sarung hingga menutup lutut, sedangkankan satunya digunakan sebagai selendang.
Sarung yang digunakan sebagai selempang bahu biasa disebut dengan istilah saremba. Pakaian ini melambangkan ketaatan dalam beribadah dan juga lambang kerja keras. Pakaian ini tak hanya digunakan oleh masyarakat Bima tapi juga dikenakan oleh kaum pria dari masyarakat Dompu.
Tags: tenun