Seni Tenun Pringgasela - Keindahan dalam Ketrampilan Tangan dan Kreativitas DIY
Ketika Pringgasela Selatan Bangkit dari Tidur
Desa Pringgasela Selatan memiliki sejarah dan tradisi yang kuat. Desa yang berbaris agraris ini sejatinya memiliki nenek moyang prajurit yang merupakan penjaga tanah mereka.
Pringgasela Selatan berada di kaki Gunung Rinjani yang bertanah subur. Mata air mengalir jernih tak pernah putus. Masyarakatnya mayoritas adalah petani dengan hasil panen tiga kali setahun. Tempat ini juga menjadi penghasil ikan air tawar terbaik. Hasil kebun beraneka ragam mulai dari durian, manggis, nangka, kelapa, hingga rambutan. Kekayaan yang melimpah itu cukup bagi warga untuk hidup sejahtera.
Namun, ternyata desa yang berada di Kecamatan Pringgasela, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, itu lebih kaya dari itu. Desa yang dihuni oleh tiga trah besar, yakni Tanaq Gadang, Sumbawa atau Rempung dan Masbage, ini memiliki sejarah dan tradisi yang kuat. Desa yang berbaris agraris ini sejatinya memiliki nenek moyang prajurit yang merupakan penjaga tanah mereka.
Nizar Azhari (39), pemuda asli Pringgasela Selatan yang mengenyam pendidikan di Yogyakarta, menemukan kisah ini saat menggali kembali kekayaan lokal desanya. Nizar adalah seorang daya desa atau pendamping kebudayaan desa. Ia dan kawan-kawannya dari daya warga dengan dukungan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi mencoba menggali kisah lalu Pringgasela Selatan.
Parade 1350 Penenun Tradisional dan Kita Semua yang Berbahagia
sumber: Sareh Erwin
Ya terus inti tulisan ini apa? Saya pribadi sih memang mau mengabadikannya menjadi postingan blog sebagai tanda salutnya saya sama usaha anak-anak muda di Pringgasela yang sudah mau repot-repot ngadain pagelaran keren seperti ini setiap tahunnya. Tapi setidaknya ada beberapa poin penting yang bisa kita ambil dari gelaran Parade 1350 Penenun Tradisional di Alunan Budaya Desa 3 Pringgasela tersebut, yaitu:
- Para pemuda di Pringgasela sudah melakukan usahanya dengan baik dengan mengadakan Alunan Budaya Desa hingga tahun ketiganya. Dimana tahun ini dititikberatkan pada event yang berkaitan dengan kain tenun.
- Terkait parade 1.350 penenun yang gagal tercatat di Museum Rekor Indonesia (MuRI) tentu bukanlah masalah besar. Toh gagalnya bukan karena jumlah penenun yang tidak tercapai, melainkan lebih kepada pendanaan. Mencintai dan melestarikan budaya menenun hingga ke anak cucu kita itulah yang utama.
- Harapan saya, dan mungkin juga harapan para pemuda serta masyarakat di Pringgasela, agar pada pelaksanaan event selanjutnya para pemerintah terkait (baik kabupaten maupun provinsi) dapat ikut andil mempromosikan dan mendukung kegiatan seperti ini, sehingga Pringgasela pun dapat dikenal luas baik oleh warga Lombok sendiri, maupun wisatawan di luar sana.
- Yang terakhir, saran saya buat kalian yang mau berwisata ke Lombok, jangan sampai gak ke Pringgasela. Guidenya gak nganter kemarih? Minta dianterin! Ini tempat keren banget lho 😉
Oke, udah yaa.. ini postingan kok jadinya panjang benar. Pokoknya sukses terus buat anak-anak muda Pringgasela!
andyhardiyanti
25 Comments
Dita Indrihapsari 13 September 2017 at 12:47 am Whoaah keren banget mba acaranya.. Suka banget aku liat foto penenun lagi aktivitas bareng. Ini yang gagas anak muda di sana aja, enggak sama pemerintah desanya ya? Aku belum pernah ke Lombok.. Semoga nanti bisa ada rezeki dan kesempatan ke sana.. 😀 Reply
Sejarah
Dusun Prigi adalah bagian dari wilayah kekuasaan Kerajaan Selaparang. Dusun Prigi berbatasan dengan dengan Kali Belimbing yang digunakan sebagai tempat pertahanan dari serangan musuh. Sebagian besar penduduk Dusun Prigi berasal dari keturunan Selaparang sehingga Dusun Prigi diberi nama Pringgasela dengan Pringga memiliki arti prajurit, generasi, keturunan, raga atau batu, sedangkan Sela bermakna Selaparang. Jadi Pringgasela bisa diartikan generasi atau keturunan selaparang. Sebagaimana asal muasal Dusun Prigi yang ditempati mayoritas oleh orang keturunan kerajaan Selaparang.
Menurut sejarah sebelum lahirnya Desa Pringgasela, ada seorang tokoh agama Islam yang datang dari Sulawesi untuk menyebarkan dakwah islam di pulau Lombok. Tokoh tersebut bernama Lebai Nursini. Masyarakat Pringgasela menjuluki beliau sebagai wali karena ketakwaannya dan ketekunannya mengajarkan dan mendakwahkan islam kepada penduduk. Selain itu beliau juga ternyata mengajarkan penduduk setempat untuk bertani dan menenun.
Hingga saat ini kain tenun yang dibuat oleh Lebai Nursini masih tersimpan sebagai pusaka leluhur Desa Pringgasela yang disebut Reragian. Selain itu terdapat umbul-umbul atau penjor pertama dan tertua di Indonesa yang berumur sekitar 288 tahun yang terbuat dari rajutan potongan kain tenun yang disebut Tunggul. Kata Tunggul disarikan dari kata Tunggal, satu atau esa yang melambangkan nilai agama islam yakni Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT. Jadi kita bisa memahami bahwa dibalik karya tenun gedokan terdapat nilai dakwah kepada islam, dimana pada masa itu keyakinan animisme dan dinamisme yang pada awalnya dianut oleh masyarakat setempat tidak memiliki aturan sebagaimana islam dalam menutup bagian tertentu dari tubuh yang disebut aurot.
Harga
Ada beberapa faktor yang yang mempengaruhi harga tenun songket. Yang paling jelas adalah dari sisi pewarna yang digunakan, jika menggunakan pewarna alami tentunya harganya jauh lebih mahal dibandingkan dengan jika menggunakan pewarna sintetis atau kimia. Faktor yang lain adalah dari sisi kerumitan dalam proses pembuatan. Sebagai gambaran untuk menenun selembar kain dengan ukuran 3 meter kali 60 cm membutuhkan 2 hingga 4 orang dan selesai dalam waktu antara 10 hingga 14 hari. Untuk gambaran harga satu kain songket berkisar antara Rp. 200.000 sampai dengan 3 Juta Rupiah.
Demikian artikel yang membahas tentang kerajinan tangan kain tenun songket yang berada di Desa Pringgasela, Kabupaten Lombok Timur. Mulai dari sejarah, alat dan bahan yang digunakan, hingga motif dan harga nya yang bervariatif. Semoga ada kesempatan untuk berjung ke Lombok, berwisata menikmati berbagai macam keindahan alam dari laut hingga pegunungan, dari kerajinan tangan hingga berbagai macam kuliner dan jajanan. Sampai bertemu diartikel menarik berikutnya. Jangan lupa pula kunjungi artikel kami yang lain tentang wisata pantai pink dan pantai lainnya serta berbagai hal menarik lainnya di Pulau Lombok . Semoga bermanfaat.Wassalamualaikum WarahmatuLlahi Wabarokatuh.
Tags: tenun