... 10 Ide Kain Tenun Pringgasela untuk Proyek Kerajinan Tangan DIY Anda

Seni Tenun Pringgasela - Keindahan dalam Ketrampilan Tangan dan Kreativitas DIY

Bahan-Bahan dan Alat Pembuatan

Terdapat 3 macam benang yang dipakai dalam menenun tenun ini, yaitu: benangkatun, benang kapas dan benang merser. Ketiga macam benang tersebut berbahan dasar sama yaitu kapas namun dengan finishing yang berbeda. Benang katun memiliki kualitas yang lebih baik dari benang kapas dilihat dari pilinan benangnya sehingga menjadi lebih kuat. Benang merser adalah yang terbaik karena selain pilinan yang lebih rapat serta proses merser (mercerized) yang membuat benang jenis ini menjadi lebih kuat, halus dan berkilau.

Aktivitas para pengerajin disaat menenun dan memintal benang (sumber:andyhardiyantidotcom)

Adapun alat yang digunakan adalah alat pintal dan alat tenun yang masih sangat tradisional dari sinilah kita mendapatkan hasil karya para pengerajin tenun yang memintal kapas demi kapas sehingga menjadi benang dan setiap benang dipintal atau ditenun dengan penuh kesabaran dan keuletan dari para wanita dan ibu-ibu, hingga menjadi karya yang tak ternilai harganya.

Salah satu pengrajin Ibu Marsini sedang menenun kain songket (sumber:akarmediadotcom)

Alunan Budaya Desa 3 Pringgasela

Sumber: Fikri Chili

Tahun 2017 merupakan tahun ke-3 diselenggarakannya event Alunan Budaya Desa. Sebuah event yang digagas oleh para pemuda dan masyarakat di Pringgasela, atau yang lebih akrab disebut Pringgos. Event yang menampilkan berbagai pertunjukan seni dan budaya yang ada di Pringgasela ini selalu ramai setiap tahunnya. Tujuan digelarnya Alunan Budaya Desa tidak lain adalah untuk mengenalkan Pringgasela sebagai salah satu destinasi Desa Wisata di Lombok. Hayooo.. teman-teman yang sudah ke Lombok ada yang pernah ke Desa Pringgasela gak nih? Saya pribadi, baru 4 kali ke sana yang tujuannya adalah untuk mengenalkan objek wisata di Pringgasela ke teman-teman yang lagi pada berwisata ke Lombok.

Oh iya, adapun pertunjukan yang ditampilkan di Alunan Budaya Desa setiap tahunnya yaitu: pentas musik tradisional, festival gendang beleq, pameran hasil tenun dan produk kreatif lainnya, berbagai permainan tradisional serta masih banyak lagi. Yang berbeda pada gelaran Alunan Budaya Desa Pringgasela tahun ini adalah adanya parade dari 1.350 penenun tradisional yang ada di Pringgasela.

Harga

Ada beberapa faktor yang yang mempengaruhi harga tenun songket. Yang paling jelas adalah dari sisi pewarna yang digunakan, jika menggunakan pewarna alami tentunya harganya jauh lebih mahal dibandingkan dengan jika menggunakan pewarna sintetis atau kimia. Faktor yang lain adalah dari sisi kerumitan dalam proses pembuatan. Sebagai gambaran untuk menenun selembar kain dengan ukuran 3 meter kali 60 cm membutuhkan 2 hingga 4 orang dan selesai dalam waktu antara 10 hingga 14 hari. Untuk gambaran harga satu kain songket berkisar antara Rp. 200.000 sampai dengan 3 Juta Rupiah.

Demikian artikel yang membahas tentang kerajinan tangan kain tenun songket yang berada di Desa Pringgasela, Kabupaten Lombok Timur. Mulai dari sejarah, alat dan bahan yang digunakan, hingga motif dan harga nya yang bervariatif. Semoga ada kesempatan untuk berjung ke Lombok, berwisata menikmati berbagai macam keindahan alam dari laut hingga pegunungan, dari kerajinan tangan hingga berbagai macam kuliner dan jajanan. Sampai bertemu diartikel menarik berikutnya. Jangan lupa pula kunjungi artikel kami yang lain tentang wisata pantai pink dan pantai lainnya serta berbagai hal menarik lainnya di Pulau Lombok . Semoga bermanfaat.Wassalamualaikum WarahmatuLlahi Wabarokatuh.

Parade 1350 Penenun Tradisional Ramaikan Alunan Budaya Desa 3 di Pringgasela

Sumber: Lho Hans

Parade Penenun Pringgasela yang Tetap Meriah Walau Batal Pecahkan Rekor MuRI

Pagi itu, tepatnya Senin 11 September 2017, terletak di sekitar Tugu Mopra Pringgasela, ribuan penenun tradisional sudah siap mendemonstrasikan proses menenun di hadapan para penonton. Kebayang kan gimana ramainya? Selama ini mungkin belum banyak teman-teman yang tahu, bahwa Pringgasela merupakan salah satu daerah penghasil tenun di Lombok. Mau mencari tenun dengan pewarnaan yang alami? Cuss ke sini aja! Di sini, setiap kali kita berjalan ke kampung-kampung, bisa dipastikan para perempuan di tiap rumahnya adalah penenun. Mau ada wisatawan ataupun tidak, ya pekerjaan mereka memang menenun.

Jadi bukanlah hal yang sulit bagi para pemuda di Pringgasela untuk mengumpulkan sebanyak 1.350 penenun pada parade tenun tersebut. Bahkan 2.000 pun bisa. Eh kok saya bahas ini? Yups, soalnya di media sosial pada ramai dibahas kalau parade penenun tradisional di Pringgasela digadang-gadang mampu memecahkan rekor MuRI. Namun kabarnya batal. Klarifikasi ya gaes, mereka para panitia lebih terkendala di urusan dana, bukan karena jumlah penenun yang kurang dari target. Catat ya. Mengingat MURI adalah sebuah lembaga nirlaba maka penyelenggara harus menanggung segala biaya yang timbul seperti akomodasi, transportasi dan biaya biaya lain hingga selesainya acara. Menurut mereka, para panitia, dibanding duitnya untuk hal tersebut, lebih baik dipakai buat para penenun. Apalah artinya sebuah rekor. Ya kan?

Kain Tenun, Warisan Budaya bagi Perempuan di Pringgasela

Sejarah

Dusun Prigi adalah bagian dari wilayah kekuasaan Kerajaan Selaparang. Dusun Prigi berbatasan dengan dengan Kali Belimbing yang digunakan sebagai tempat pertahanan dari serangan musuh. Sebagian besar penduduk Dusun Prigi berasal dari keturunan Selaparang sehingga Dusun Prigi diberi nama Pringgasela dengan Pringga memiliki arti prajurit, generasi, keturunan, raga atau batu, sedangkan Sela bermakna Selaparang. Jadi Pringgasela bisa diartikan generasi atau keturunan selaparang. Sebagaimana asal muasal Dusun Prigi yang ditempati mayoritas oleh orang keturunan kerajaan Selaparang.

Menurut sejarah sebelum lahirnya Desa Pringgasela, ada seorang tokoh agama Islam yang datang dari Sulawesi untuk menyebarkan dakwah islam di pulau Lombok. Tokoh tersebut bernama Lebai Nursini. Masyarakat Pringgasela menjuluki beliau sebagai wali karena ketakwaannya dan ketekunannya mengajarkan dan mendakwahkan islam kepada penduduk. Selain itu beliau juga ternyata mengajarkan penduduk setempat untuk bertani dan menenun.

Hingga saat ini kain tenun yang dibuat oleh Lebai Nursini masih tersimpan sebagai pusaka leluhur Desa Pringgasela yang disebut Reragian. Selain itu terdapat umbul-umbul atau penjor pertama dan tertua di Indonesa yang berumur sekitar 288 tahun yang terbuat dari rajutan potongan kain tenun yang disebut Tunggul. Kata Tunggul disarikan dari kata Tunggal, satu atau esa yang melambangkan nilai agama islam yakni Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT. Jadi kita bisa memahami bahwa dibalik karya tenun gedokan terdapat nilai dakwah kepada islam, dimana pada masa itu keyakinan animisme dan dinamisme yang pada awalnya dianut oleh masyarakat setempat tidak memiliki aturan sebagaimana islam dalam menutup bagian tertentu dari tubuh yang disebut aurot.


Tags: tenun

`Lihat Lagi
@ 2024 - Tenun Indonesia