Seni Tenun Pringgasela - Keindahan dalam Ketrampilan Tangan dan Kreativitas DIY
Tenun penjaga
Berbeda dengan klenang nunggal yang kembali hidup, tenun Pringgasela tetap terawetkan hingga kini. Tenun ini terjaga oleh usaha regenerasi para penenunnya lewat sekolah tenun Nina (Perempuan) Penenun. Nina Penenun yang diinisiasi oleh Sri Hartini (45) menjadi tempat belajar sekaligus wadah bagi para penenun untuk mendapatkan hasil yang lebih baik lagi.
Hingga kini masih ada 600-700 penenun di Desa Pringgasela Selatan. Jumlah itu belum termasuk anak-anak yang kini masih belajar menenun.
Pada garis besarnya motif tenun dari Pringgasela menarik garis hubungan antara manusia dan Tuhan, manusia dan manusia, serta manusia dn alam. Motif manusia dengan Tuhan adalah motif kuno yang saat ini jarang sekali dipakai dan ditenun.
Motif ini harus menggunakan bahan khusus, di antaranya pintalan kapas, yang kini sangat sulit didapat. Pembuatannya pun memakan waktu berbulan-bulan. Kain tenun itu pun disimpan khusus dan dipakai pada saat-saat tertentu dan diwariskan turun-temurun.
Adapun motif yang menggambarkan manusia dengan alam dan manusia dengan manusia biasanya digunakan sehari-hari. Tenun ragi atau motif Sri menanti adalah salah satunya. Sri menanti konon berasal dari kisah seorang putri yang menanti kekasihnya. Selama dalam penantian ia pun menciptakan motif garis-garis yang melambangkan kerinduan. Karena itu, motif itu diberi nama Sri Menanti.
Rekonstruksi
Dari kepingan-kepingan sejarah itu, pemuda desa di Pringgasela Selatan mencoba untuk merekonstruksi lagi kekayaan lampau mereka. Dibantu dengan rekan-rekan daya warga, Nizar bertemu dengan para sesepuh, mengumpulkan berbagai data, dari internet hingga buku.
Dari proses pencarian itu, mereka menemukan musik sejenis gamelan yang dikenal dengan nama klenang nunggal. Klenang adalah alat musik pukul mirip kenong di Jawa, tetapi hanya satu bilah. Jumlahnya yang tunggal membuat alat musik ini mudah dibawa berkeliling. Untuk memainkan sebuah gending setidaknya butuh 12 bilah.
Taufiq, pengurus Desa Pringgasela Selatan yang sekarang bermain sebagai pemain klenang nunggal, mengatakan, saat ditemukan, bilah-bilah itu tertumpuk dalam satu karung di dalam sebuah gudang mushala Kampung Pancor Kopong. Kondisinya berdebu tetapi tak berkarat.
Kuningan yang dipakai masih sangat baik walau tak terawat. ”Saat saya coba ketuk, suaranya masih nyaring. Kami jajarkan dan mulai memainkan nada dan ternyata masing-masing punya nada berbeda,” katanya.
Dengan berbekal ingatan masa kecil, Amak Maisur dan sesepuh lainnya pun merangkai melodi menjadi alunan gending dari 23 klenang yang berhasil ditemukan. “Tiga lagu bisa dimainkan, saya hanya ingat pernah mendengarnya,” kata Amak Maisur.
Pemainnya adalah warga desa. Sebagian dari mereka adalah orang lama yang masih mengingat lagi-lagu yang sering didendangkan oleh Ina atau ibu mereka agar mereka terlelap. Kini alunan klenang itu sudah bisa dinikmati dalam pertunjukan musik di desa dengan nama Mahapati, sebuah grup kesenian baru dari Pringgasela Selatan.
Pelangi
Temuan-temuan lama dan berbagai kekayaan budaya itu kini diangkat dalam Festival Dongdala atau pelangi yang digelar mulai 19-21 Desember 2023. Festival ini membangkitkan kebanggaan warga Pringgasela Selatan akan kekayaan budaya mereka. Puncak festival yang berupa pawai Nyiru Jaja Bejangkongan, Rabu (20/12/2023), tergambar bagaimana bersemangatnya warga berpartisipasi dalam mengangkat kekayaan budayanya.
Ribuan orang tanpa diminta turut datang mengikuti pawai. Mereka memakai baju terbaiknya untuk tampil. Para gadis dan ibu yang berdandan cantik. Mereka memakai tenun ragi bayan sambut abang terbaik sebagai bawahannya. Atasannya menggunakan lambung atau baju tradisional hitam dengan lingkaran selendang tenun. Sambil berbaris rapi mereka menyunggi nyiru yang berisi aneka jajan pasar, hasil bumi, hingga buah-buahan.
Jajan pasar yang mereka bawa sebagian adalah hasil buatan mereka sendiri. Ada cerorot, kue berbahan tepung beras, santan dan gula merah yang dibungkus balutan janur. Ada orog-orog yang berbahan ubi kayu tumbuk dicampur dengan gula dan parutan kelapa. Ada pula kue bantal yang terbuat dari beras ketan yang dicampur dengan parutan kelapa dan diisi seiris pisang serta dibungkus dengan daun aren.
Tags: tenun