Keindahan dan Kerajinan Kain Tenun Sambas
Sejarah dan perkembangan kerajinan tenun di Indonesia
diskominfo.kaltimprov.go.id Kain Tenun Ulap Doyo dari Kalimantan Timur
KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR Kain Tenun bermotif Songke menjadi daya tarik menggaet wisatawan Nusa tara dan mancanegara untuk belajar menenun, identitas, nilai, makna dibalik motif-motif, Senin, (15/8/2022). (KOMPAS.com/MARKUS MAKUR)
| Jenis kain tenun | Asal daerah |
| Kain tenun Sambas | Kalimantan Barat |
| Kain tenun Donggala | Sulawesi Tengah |
| Kain tenun Gringsing | Bali |
| Kain Hinggi | Nusa Tenggara Timur |
| Kain tenun Toraja | Sulawesi Selatan |
| Kain tenun songket Sukarara | Nusa Tenggara Barat |
| Kain songket Palembang | Sumatera Selatan |
| Kain tapis | Lampung |
| Kain tenun Ulos | Sumatera Utara |
| Kain songket Minangkabau | Sumatera Barat |
| Kain tenun Troso Jepara | Jawa Tengah |
| Kain tentun Doyo | Kalimantan Timur |
Suka baca tulisan-tulisan seperti ini? Bantu kami meningkatkan kualitas dengan mengisi survei Manfaat Kolom Skola
Sejarah Tenun Sambas
Dikutip dari warisanbudayatakbenda.kemdikbud.go.id, masyarakat Melayu Sambas mulai mengenal dan melakukan praktik menenun secara tradisional (baik teknik ikat maupun teknik songket) pada masa pemerintahan Raden Bima (sultan Sambas yang ke-2, memerintah tahun 1668-1708) yang bergelas Sultan Muhammad Tajudin menggantikan ayahandanya Raden Sulaiman bin Raja Tengah. Sejak masa itulah, menenun menjadi seni kerajinan dan diwariskan secara turun-temurun sampai sekarang.
Di masa Hindia Belanda, gairah menenun dan jumlah kain tenun yang dihasilkan cukup menggembirakan, hampir di setiap kampung ada perajin dan memiliki alat tenun sendiri. Pada saat itu, Raja Sambas mendapat hadiah berupa seperangkat alat mesin tenun dari Kesultanan Brunei, sehingga menginginkan masyarakatnya belajar menenun.
Di momen itu, proses menenun diajarkan kepada masyarakat yang berada di sekitar keratin. Dan, hingga saat ini tenunan Sambas ini banyak dilakukan oleh masyarakat yang bermukim di sekitar keratin Sambas.
Pelestarian Tenun Sambas, Jadi Magnet Peningkatan Ekonomi Desa
Desa Sumber Harapan, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat menjadi salah satu desa yang masih mempertahankan budaya tenun Sambas. Pelestarian budaya tenun juga dapat menarik pengunjung untuk datang, sehingga ekonomi masyarakat meningkat.
Kolomdesa.com, Sambas – Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat merupakan salah satu daerah penghasil kain tenun di Indonesia. Tradisi tenun-menenun sudah ada sejak dahulu kala dan masih eksis hingga saat ini. Salah satu Desa yang masih menjaga budaya bertenun adalah Desa Sumber Harapan.
Desa Sumber Harapan merupakan desa yang terletak di bagian timur laut Kecamatan Sambas dengan luas wilayah 22,56 km2. Desa ini terdiri dari tiga dusun yakni Dusun Semberang 1, Dusun Semberang II dan Dusun Sulur Medan.
Perjalanan menuju desa ini dapat ditempuh melalui jalan darat maupun jalur sungai dengan menggunakan perahu maupun motor air. Untuk menuju ibukota kecamatan, dapat menempuh jarak 9 km melalui perjalanan darat. Desa ini memiliki lanskap yang unik karena pemukimannya dibelah oleh Sungai Sambas Kecil.
Desa yang pernah memecahkan rekor kain songket terpanjang se-Indonesia ini sudah lama dikenal sebagai sentra kerajinan tenun dan desa wisata budaya di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Branding ini juga membawa kain tenun Desa Sambas menjadi warisan tak benda, penetapan ini berlangsung pada tahun 2010 silam.
Kain Sambas memiliki ciri khas yang bergaya Melayu. Gaya Melayu ini dilambangkan dengan adanya benang emas di dalam tenunan kainnya.
Selain itu, yang membedakan kain tenun Sambas dengan kain lainnya adalah pinggiran kainnya yang berwarna putih polos dan tak terkena tenunan. Juga terdapat 3-5 jalur benang lungsin dan pakan benang vertikal putih di kiri dan kanannya.
Motif khas dari kain Sambas ini biasanya didominasi oleh motif bunga-bungaan, misalnya bunga ketunjung, mawar, kembang tanjung sampai bunga manggar kelapa.
Tags: tenun