... Panduan Lengkap Membuat Kain Tenun Sambas: Seni dan Kerajinan Tangan untuk Pecinta DIY

Keindahan dan Kerajinan Kain Tenun Sambas

TENUN SAMBAS SEBAGAI WARISAN BUDAYA TAK BENDA (WBTB) DI KABUPATEN SAMBAS, KALIMANTAN BARAT

Agus Dediansyah, IKIP PGRI Pontianak, Indonesia
Muhammad Sadikin, IKIP PGRI Pontianak
Basuki Wibowo, IKIP PGRI Pontianak

10.21831/istoria.v17i2.41468

Abstract

Abstract

This study aims to see the history of Sambas weaving from the kingdom to the republic, weaving the identity of the Malay community of Sambas Regency and seeing how the efforts to preserve Sambas weaving by the community and local government of Sambas Regency. This research was conducted using the historical method which consists of the stages of source collection, source criticism, interpretation, and historiography. The results of this study indicate that the history of Sambas weaving cannot be separated from the spread of Islam in the archipelago. The development of Sambas weaving during the Sambas kingdom was so intense and experienced ups and downs during the arrival of the Dutch East Indies and Japanese troops. Weaving as the identity of the Sambas community began to develop and had a market from abroad when it was moved by the Malay community. The identity of Sambas weaving cannot be separated from the characteristics of the Malay community, both in terms of motifs and colors used. The preservation of weaving is carried out in various ways, such as registering as an intangible heritage, establishing a Sambas weaving museum to conducting training training for the younger generation.

Keywords: Sambas Weaving

Full Text:
References

Annisa, Rizky. (2020). Peninggalan Sejarah Islam Di Buleleng Bali. ISTORIA: Jurnal Pendidikan dan Sejarah, 16 (1), 1-12.

Arby, Aurura, Alexander, Bell & Soleman, Bessie. (1995). Album Seni Budaya Nusa Tenggara Timur. Jakarta: Departemen Pendidikan & Kebudayaan.

Kerajinan Tenun: Pengertian, Sejarah, dan Jenisnya

Sejumlah perempuan menenun di baawah rumah Desa Gumananon, Kecamatan Mawasangka, Buton Tengah. Sulawesi Tenggara. Desa Gumananon menjadi tempat warisan leluhur turun temurun terkait tenun Kamohu. (Dok. KemenKopUKM)

Oleh: Ani Rachman, Guru SDN No.111/IX Muhajirin, Muaro Jambi, Provinsi Jambi KOMPAS.com - Kerajinan tenun menjadi salah satu kekayaan budaya, berupa kerajinan tangan, yang dimiliki Indonesia. Apa itu kerajinan tenun?

Budaya Tenun Sebagai Desa Wisata dan Pembangun Ekonomi Desa

Desa Wisata Budaya Tenun ini setidaknya memiliki tiga kelompok pengrajin tenun. Antaranya Rantai Mawar, Sumber Rezeki, dan Cual Mandiri.

Andri mengatakan, ketiganya merupakan kelompok mandiri yang masing-masing dibina oleh perusahaan yang berbeda. Tentu, ketiganya memiliki pola pengelolaan yang berbeda-beda. Begitu juga dengan pemasarannya.

Rantai Mawar berada di bawah binaan Bank Indonesia melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Sambas, relasi yang dibangun dengan mitra dibilang cukup kokoh hingga pengadaan koperasi untuk menjual produk kelompok.

Sumber Rezeki pun sempat berada di bawah binaan Dompet Ummat mendapatkan bantuan prasarana berupa satu alat tenun untuk 50 anggota pengrajin.

Sementara itu, kelompok Cual Mandiri berada di bawah binaan Pokdarwis dan kampus sekitar. Kelompok ini menampung dan membina masyarakat yang masih belum masuk pada kedua kelompok tersebut.

“Bahkan jumlahnya lebih banyak, beberapa ada yang mengeluarkan modal secara mandiri,” ungkap Andri menyinggung pengrajin yang tidak termasuk pada kelompok.

Namun, ketiga kelompok ini tidak berada pada satu naungan Pokdarwis Ketunjung. Hal ini ditengarai dengan pengusulan satu koordinator kelompok pengrajin tersebut sempat tidak diterima oleh masing-masing kelompok.

Akhir-akhir ini, kelompok Jual Mandiri mendapat bantuan Gazebo Tenun, salah satu bantuan dari PKM Politeknik Sambas. Gazebo ini digunakan untuk menyimpan alat tenun.

Refbacks

Copyright (c) 2021 agus dedi ansyah


This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

ISTORIA has been Indexed by:

Supervised by:


/>Jurnal ISTORIA: Jurnal Pendidikan dan Sejarah by History Education Study Program, UNY is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

Mengulik Pesona Tenun Sambas, Berawal dari Abad 16 dan Corak Pucuk Rebung Sarat Makna

Nurleila, perajin Tenun Sambas dalam konferensi pers "LANGGAM 15 : Lima Belas Tahun Cita Tenun Indonesia Untuk Negeri" di The Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Selasa, 7 November 2023. Foto: CANTIKA/ Ivana Felysitaswati Palla

CANTIKA.COM , Jakarta - Dalam acara puncak perayaan 15 tahun Cita Tenun Indonesia, perajin tenun Sambas Nurleila berbagi cerita soal pesona tenun di salah satu kabupaten di Kalimantan Barat itu. Menurut Nurleila, ciri khas tenun Sambas dari memiliki pinggiran yang menggunakan benang putih, motif pucuk rebung hingga benang emas.

“Motif tenun Sambas sangat bervariasi, termasuk motif mawar, serong, dan bertabur” jelasnya dalam konferensi pers di Jakarta Selatan, Selasa, 7 November 2023

Dalam perkembangannya, tenun Sambas melibatkan modifikasi dengan menambahkan tumpal di bagian tengah, elemen pucuk rebung, dan taburan benang emas untuk memberikan tampilan lebih modern dan bervariasi.

Sama seperti wastra Nusantara lainnya, proses pembuatan tenun Sambas membutuhkan waktu yang cukup lama. Kain-kain ini bak karya seni yang dikerjakan dengan dedikasi penuh.

Menurut Nurleila, pembuatan tenun bisa mencapai berbulan-bulan. Proses memintal hingga menggulung benang bisa mencapai dua bulan. Sementara untuk proses menenun bisa mencapai tiga minggu.

Dalam sehari, para penenun bisa menenun hingga 15 cm hari tergantung kompleksitas corak. Dan bukan main perjuangannya, jika ada kesalahan dalam penenunan, kain tersebut harus diganti.


Tags: tenun

`Lihat Lagi
@ 2024 - Tenun Indonesia