Kain Tenun Sumba Timur - Keindahan Budaya dalam Karya Sulam dan Kerajinan Tangan
Fungsi Kain Tenun Sumba
Selain berfungsi sebagai bahan pakaian, penggunaan kain tenun Sumba juga sering untuk upacara adat dan tingkatan sosial seseorang di masyarakat. Semakin banyak jumlah kain tenun yang mereka miliki, beragam corak dan warnanya, maka semakin tinggi juga kedudukan pemiliknya di mata masyarakat.
Sedangkan pada upacara pemakaman, kain tenun yang terbaik akan selalu hadir untuk menutupi jenazah. Hal ini sebagai penghargaan pada almarhum. Bagi para pelayat pun biasanya membawa kain tenun sebagai tanda belasungkawa.
Selain corak yang memiliki makna, pemilihan warna kain tenun untuk setiap acara pun berbeda. Misalnya, untuk acara pernikahan lebih sering memakai kain tenun bewarna terang seperti merah. Dan untuk kematian, akan menggunakan warna hitam atau biru. Sedangkan untuk upacara adat biasa bisa memakai warna kain tenun apa saja.
Melihat dari keindahan tenun Sumba ini bisa kita katakan jika wastra ini merupakan hasil karya seni. Tidak heran jika tenun Sumba menjadi salah satu warisan dunia dari Indonesia.
Penulis : Ikke Dwi A. Alumni jurusan Jurnalistik Universitas Padjajaran yang juga seorang pecinta kain tradisional dan tinggal di Bandung.
Jalur tenun
Tantangan bagi tenun Sumba adalah standardisasi. Pada masa ketika teknologi informasi memungkinkan semua aspek kehidupan saling terhubung, e-dagang menawarkan kain Sumba sebagai tandingan penjualan di tempat asal. Calon pembeli akan melihat perbandingan harga yang cukup besar antara kain tenun yang ditawarkan langsung di tempat dan yang ditawarkan melalui situs e-dagang.
Orang dapat banyak mengajukan pembelaan mengapa kain tenun harganya lebih mahal di tempat asal pembuatnya, tetapi tantangan ini harus mendapat jalan keluar demi masa depan tenun Sumba dan para penenunnya. Apalagi tenun akan dijadikan daya tarik bagi wisatawan agar tinggal lebih lama di Sumba dengan membangun sejumlah pusat penenunan.
Melalui rumah tenun, Yori Antar ingin ekonomi perempuan terangkat sehingga posisinya semakin terhormat di masyarakat patriarkat tersebut. Lagi pula, perempuan biasanya menggunakan pendapatannya yang bernilai ekonomi untuk pertama-tama menyejahterakan keluarga, membeli makanan, dan membiayai pendidikan anak-anak.
Seperti dikatakan Robert Ramone, alam Sumba indah, tetapi kehidupan masyarakatnya belum seindah alamnya. Indeks pembangunan manusia di Sumba tahun 2017 sebesar 63,73, masih di bawah rata-rata nasional, yakni 70,81. Indeks ini mengukur kualitas pembangunan manusia dilihat dari tingkat pendidikan, derajat kesehatan, dan kemakmuran ekonomi masyarakat.
Ignatius Hapu Karanjawa menyebutkan, membangun rumah tenun tidak hanya untuk keperluan pariwisata dan menenun kain. ”Di sini kita menenun harapan, membahas persoalan yang kita hadapi di masa depan. Rumah ini tempat berdebat, menyampaikan ide-ide yang muncul saat menenun,” katanya.
Sumba memiliki alam yang indah, tetapi seperti disebut Robert Ramone, kehidupan masyarakatnya tidak seindah alamnya. Kemiskinan masih menjadi bagian melekat pada rakyat.
Tags: tenun