Seni dan Keindahan Kain Tenun Sumbawa dalam Kerajinan Tangan dan DIY
Pangkenang Lonas Panemu
Lonas Panempu berarti Remaja/pemuda yang mengikuti/menghadiri suatu kegiatan. Pakaian yang dihajatkan untuk remaja dan kaum muda yang belum menikah ini dikenakan dalam berbagai kesempatan budaya, penyambutan tamu baik di dalam maupun di luar daerah.
Pakaian Pria Terdiri Dari : Sapu Alang Tokko Mako Turen Den/Layar Pele, Pabasa Alang Salonang dengan empat lipatan, Kere Alang dikenakan dengan cara "Tepong gadu" yakni melipat kain dipinggang kiri dan kanan, lalu diberi Parabat. Panjang kain -+ 10 cm di bawah lutut. Lamung Taruna Lengan lengan panjang, Saluar Belo Parabat,Salepe, Alas kaki (sepatu sandal/sepatu)
Pakaian Wanita Terdiri Dari : Sapu Kidasanging disampirkan di bahu kiri, Lamung Pene diberi hiasan dengan teknik border/payet (cepo/cila), Kere Alang, Parabat, Bebat (stagen), Assesoris: Kemang Bagegar/Kemang Kanentek (tiga batang), Bengkar Tarowe (anting), Kemang Sumping, Tonang Mastora (kalung), Ponto (gelang), Salepe, Alas kaki (selop terbuka),
10. Kre’alang
Kain tenun merupakan salah satu produksi kain yang banyak dijumpai di Indonesia, salah satunya di wilayah Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Daerah ini dikenal sebagai penghasil kain tenun terbaik. Kalau kamu ke Sumbawa, kamu bisa membawa pulang kre’alang.
Kre'alang merupakan kerajinan tenun yang berupa sarung yang dibuat memakai sesek. Ukuran kain sarung ini lebih kecil jika dibandingkan dengan kain sarung pada umumnya. Kre'alang terbuat dari benang berwarna emas dan punya ciri khas yaitu motifnya yang berbentuk binatang ataupun tumbuhan.
Oleh-oleh khas Sumbawa ini bisa kamu beli di pusat pengrajin kre’alang, yaitu di desa Poto. Oleh-oleh ini merupakan produk handmade maka harganya sedikit mahal yaitu sekitar 1,5 juta rupiah per helai.
Selain memiliki alam yang cantik, Sumbawa pun memiliki oleh-oleh khas yang sayang untuk dilewatkan. Jadi, kalau kamu berkunjung ke Sumbawa, pastikan tak ketinggalan untuk membeli salah satu rekomendasi oleh-oleh yang dibahas di artikel ini.
Motif Lonto Engal
Penciptaan lonto engal merupakan salah satu bentuk ekspresi masyarakat tentang kesuburan dan kemakmuran daerah Sumbawa (Tana Samawa) dimasa lalu. Kesuburan ditandai dengan tumbuhnya berbagai jenis tumbuhan dan tanaman yang menginspirasi masyarakat untuk menciptakan motif tersebut. Engal adalah salah satu jenis tumbuhan merambat yang mudah tumbuh dimana saja. Umbinya dapat dimakan dan umumnya menjadi makanan favorit di kalangan masyarakat sehingga motif lonto engal ini menjadi simbol kemakmuran.
Pada motif lonto engal, motifnya meniru bentuk tumbuhan merambat jika berbuah isinya bisa dimakan. Motif ini merupakan motif hias sulur yang dimana bagian batang pada lonto engal menjalar atau merambat yang kemudian dituangkan menjadi lonto engal. Pada motif ini seluruh permukaan dasar kain terisi dan pada permukaan motif terisi seragam. Pola yang digunakan pola berangkai dimana motif saling terhubung secara horizontal.
Pada motif lonto engal menggambarkan secara utuh bentuk tumbuhan menjalar atau merambat yang kemudian dituangkan menjadi motif lonto engal. Motif lonto engal adalah motif sulur yang menggambarkan tentang kontinuitas dan kesinambungan yang tidak terputus. Engal merupakan tanaman merambat yang umbinya bisa dimakan. Motif lonto engal diberi nama sebagai ragam hias menurut masyarakat Sumbawa dimaksudkan sebagai tinggi dan cerdasnya tingkat berpikir serta bertindak dalam kehidupan nyata. Pada motif lonto engal memiliki simbol daur hidup yang berkesinambungan, artinya bahwa kehidupan harus saling seimbang. Ibarat air yang terus mengalir bahwa segala sesuatu yang kita kerjakan jangan setengah-setengah, melainkan harus selesai jika ingin mendapatkan hasil.
Pada motif lonto engal menggunakan warna coklat dengan warna dasar merah. Warna merah mempunyai makna sebagai semangat, perjuangan, gejolak, dan cinta kasih. Dan warna coklat mempunyai arti tenang, selalu hangat dan bersahabat, sekaligus membedakan depan dan belakang.
Tags: tenun