Mengenal Kain Tenun Tolaki dalam Dunia Kerajinan Tangan
Motif-Motif pada Kain Tenun Palue Terbaru
1. Mudhu atau Gunung
Motif mudhu merupakan simbol dari gunung Rokatenda, satu-satunya gunung berapi di Pulau Palue. Pada 2013, Gunung Rokatenda meletus yang membuat sebagian besar warga berbondong-bondong pindah dari pulau tersebut. Oleh karena peristiwa meletusnya Gunung Rokatenda tersebut, masyarakat mengabadikan momennya melalui motif kain tenun mudhu ini.
2. Watu No’o Tana atau Batu dan Tanah
Masih terinspirasi dari letusan Gunung Rokatenda, masyarakat menggunakan kerikil dan batu yang bertebaran sebagai simbol dari terpisah-pisahnya masyarakat saat itu dan kemudian membentuk berbagai kelompok di tempat pengungsian yang baru.
Salah satunya adalah para pengungsi Palue yang tinggal di Desa Hewuli, Maumere dan membentuk kelompok tenun yang dinamakan Mbola So atau Terima Kasih. Salah satu anggota yang tergabung dalam kelompok tenun Mbola So adalah Natalia.
3. Pou atau Perahu
Para penenun termasuk Natalia seringkali menggunakan motif pou atau perahu. Desain perahu diciptakan untuk mengingatkan kepada masyarakat saat proses mengungsi dari Palue menuju Desa Hewuli.
Selain itu, bagi masyarakat juga perahu digunakan sebagai alat untuk menangkap ikan atau mencari sumber kehidupan lainnya. Simbol perahu juga dimaknai oleh para pengrajin untuk melambangkan ikat tenun dengan warna alam sebagai pegangan hidup para penenun.
4. Kunda atau Kalung Adat
Selain terinspirasi dari keadaan alam, para penenun juga menggunakan salah satu warisan budaya berupa kalung adat untuk dijadikan motif. Kunda merupakan benda sakral yang disimpan secara baik dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Kunda terbuat dari manik-manik yang disatukan menggunakan tali. Kunda menjadi simbol bagi para anggota kelompok tenun Mbola So yang terikat satu sama lainnya.

Nama Pakaian Adat Sulawesi Tenggara
Seperti pakaian adat yang berasal dari berbagai daerah, pakaian adat Sulawesi Tenggara juga memiliki keanekaragaman jenis pakaian. Berdasarkan suku yang mendiami tanah Sulawesi Tenggara, pakaian tradisional Sulawesi Tenggara ini dibedakan menjadi 3 jenis.
Ketiga jenis pakaian tradisional tersebut diantaranya adalah pakaian adat suku Tolaki, pakaian adat suku Muna, dan pakaian adat suku Buton. Adapun penjelasan lengkap mengenai ketiga jenis pakaian adat tersebut dapat disimak di bawah ini.
">No | ">Macam Macam Pakaian Adat Sulawesi Tenggara |
">1 | ">Pakaian Adat Suku Tolaki |
">2 | ">Pakaian Adat Suku Muna |
">3 | ">Pakaian Adat Suku Buton |
1. Pakaian Adat Suku Tolaki
Pakaian adat Sulawesi Tenggara yang pertama adalah pakaian adat suku Tolaki. Suku Tolaki merupakan salah satu kelompok etnis di Sulawesi Tenggara yang mendiami beberapa wilayah seperti,
Pada zaman dahulu pakaian adat ini biasa dikenakan oleh para bangsawan, saudagar, dan beberapa tokoh adat dan sekelompok orang dengan status sosial yang terpandang. Akan tetapi dewasa ini baju adat Tolaki bisa dipakai oleh semua kalangan masyarakat suku Tolaki.

3+ Pakaian Adat Sulawesi Tenggara : Nama, Gambar dan Penjelasan
Pakaian Adat Sulawesi Tenggara – Pakaian adat merupakan salah satu warisan bangsa kita dan tergolong sebagai produk budaya yang khas dan unik.
Setiap pakaian adat dikenakan dan menjadi identitas suatu kelompok etnis, seperti halnya pakaian adat Sulawesi Tenggara yang menjadi karakter dan identitas masyarakat setempat yang mendiami provinsi tersebut.
Lantas, kira-kira bagaimana sih sebenarnya pakaian adat Sulawesi Tenggara? Ada Berapa jenis pakaian tradisional yang berasal dari Sulawesi Tenggara? Serta, keunikan apa yang terdapat pada masing-masing pakaian tradisional tersebut?
Untuk mengetahui jawaban selengkapnya, mari kita scroll ke bawah artikel ini dan simak penjelasannya sampai tuntas ya.

Pakaian Adat Tolaki untuk Perempuan
Pakaian adat Tolaki untuk perempuan disebut Babu Nggawi. Baju tradisional ini terdiri atas dua potong, yaitu atasan yang disebut Lipa Hinoru dan bawahan berupa rok yang disebut Roo Mendaa. Rok yang dipakai memiliki panjang hingga mata kaki, tak lupa dihiasi manik-manik emas pada bagian depan.
Dalam rok tersebut terdapat sebuah motif yang merupakan khas Suku Tolaki. Motif yang dimaksud adalah motif pinetobo, pineburu mblaku, dan pinesewu. Pakaian adat Tolaki yang dipakai oleh perempuan dalam berbagai kesempatan, salah satunya pernikahan, dilengkapi dengan perhiasan dan aksesori.
Anda akan melihat mereka mengenakan anting atau dalam bahasa setempat disebut andi-andi, kalung eno-eno, gelang tangan atau disebut bolosu dan alas kaki atau solop. Bagian kepala pun tidak luput dari hiasan, yakni sanggul berbentuk bunga di bagian atas yang berwarna emas dan tampak mewah.
Suku Tolaki sendiri memiliki sub-suku, yaitu Tolaki Mekongga atau disebut Suku Kolaka. Suku Kolaka juga punya pakaian khasnya sendiri. Hal paling cantik dan membuat baju tradisional Suku Kolaka tampil menawan adalah bentuk mahkota menyerupai burung yang seperti sedang mengepakkan sayapnya.

Pakaian Adat Buton untuk Laki-laki
Pakaian adat Buton pada dasarnya hanya terdiri atas ikat kepala serta sarung berwarna biru . Namun, seiring perkembangan, warna pada pakaian tradisional Suku Buton bisa bermacam-macam. Ciri khas yang mudah dikenali adalah terdapat rumbai dari manik-manik pada bagian ikat pinggang atau kobekena tanga serta ikat kepala berupa kain yang dilipat-lipat.
Pakaian adat Suku Buton yang digunakan oleh laki-laki sebenarnya tidak hanya satu macam. Ketika seorang anak laki-laki Suku Buton dikhitan, dia akan mengenakan pakaian bernama baju Ajo Tandaki. Begitu pun saat laki-laki Suku Buton akan memasuki kehidupan pernikahan.
Baju Ajo Tandaki khas dengan corak hitam yang dipakai dengan cara dililitkan ke tubuh pemakainya, mirip dengan baju ihram saat berhaji. Saat memakai baju ini, terdapat aksesori pelengkap berupa tandaki atau sejenis mahkota, ikat pinggang dan keris.
Selain Ajo Tandaki, ada juga Ajo Bantea. Pakaian ini khusus digunakan oleh putra bangsawan yang belum memangku sebuah jabatan khusus di Kesultanan Buton. Baju Ajo Bantea terdiri atas celana panjang atau sala arabu yang ditambah kampurui bewe patawala dan keris, serta sarung.
Baju tradisional Suku Buton bagi laki-laki selanjutnya bernama baju Balahadada. Baju adat ini berwarna hitam yang melambangkan keterbukaan para pejabat terkait dengan kebenaran serta kesejahteraan. Hal ini dibuktikan dengan pengambilan keputusan secara musyawarah dan kesepakatan.
Baju Balahadada dipakai bersamaan dengan celana, sarung, destar atau ikat kepala, ikat pinggang dan bio ogena atau sarung besar. Ia juga dilengkapi dengan aksesori berupa hiasan yang disimpan di bagian pinggang bernama pasamani.

Tags: tenun tolaki