Kapan Pembuatan Kain Tenun Pertama Kali Dikenal dalam Konteks Kerajinan Tangan dan DIY?
Mengenal Tenun Endek – Sejarah, Keistimewaan, Ragam Motif dan Cara Pembuatan Kain Tenun Khas Bali Yang Syarat Akan Makna Religius
Tenun Endek –Kain Tenun Endek sering dijumpai di Bali dalam bentuk kain panjang, sarung, dan selendang, atau yang sering disebut dengan anteng. Bentuk sarung lazim dipakai oleh para laki-laki. Dengan ciri mempunyai sambungan pada bagian tengah atau sampingnya.
Sedangkan Kain Tenun Endek berbentuk kain panjang dipakai oleh kaum hawa. Dengan ciri mempunyai motif ragam hias ikat yang menghias bagian pinggir kain. Pada bagian tengah kain berwarna polos. Sejalan dengan perkembangannya, ditemukan banyak variasi, seperti ragam hias juga dibuat pada bidang tengah kain selain pada jalur hiasan pinggir.
Pembuatan Tenun Endek merupakan sebuah rangkaian proses kreatif yang memadukan unsur seni, kreativitas, teknik pewarnaan, dan inovasi. Keempat hal tersebut sangatlah penting untuk menghasilkan Kain Tenun Endek yang mempunyai kualitas tinggi.
Fakta Unik Kain Tenun Endek Bali
Mengenal Kain Tenun Indonesia
Negara-negara yang banyak memberi pengaruh pada tenunan Indonesia seperti India, Persia, Cina, Eropa, Vietnam, Myanmar, dan Thailand.
Pada prasasti Karang Tengah tahun 847 terdapat tulisan “putih hlai 1 (satu) kalambi”artinya adalah kian putih satu helai dan baju. Pada prasasti Baru tahun 1034 M disebut kata “Pawdikan”artinya pembatik atau penenun.
Pada prasasti Cane tahun 1021 M dan prasasti dari Singosari tahun 929 M terdapat istilah “Makapas”atau“Madagang Kapas”.
Dalam sebuah cerita rakyat Sang Kuriang, disebutkan bahwa seorang tokoh penting yaitu Dayang Sumbi yang pekerjaannya sehari-hari adalah menenun.
Dan petunjuk satu lagi yang memperkuat soal menenun di Indonesia adalah terdapat relief “wanita sedang menenun” di pahatan umpak batu pada abad 14 di daerah Trowulan (Museum Trowulan. Jawa Timur)
Pembuatan Kain Tapis
Pada tahun 1950, para penenun kain tapis masih menggunakan bahan hasil pengolahan sendiri, khususnya untuk bahan tenun. Biasanya penenun tapis menggunakan metode ikat, berikut beberapa bahan baku:
1. Khambak atau kapas sebagai bahan dasar benang katun
2. Kepompong ulat sutera untuk membuat benang sutera.
3. Pantis atau lilin sarang lebah untuk meregangkan benangAkar serai wangi untuk pengawet benang. Daun sirih untuk membuat warna kain tidak luntur
4. Buah pinang muda, daun pacar, kulit kayu kejal untuk pewarna merah
5. Kulit kayu salam, kulit kayu rambutan untuk pewarna hita
6. Kulit kayu mahoni atau kalit kayu durian untuk pewarna coklat
7. Buah deduku atau daun talom untuk pewarna biru
8. Kunyit dan kapur sirih sebagai pewarna kuning
Proses pembuatan kain tapis Lampung terdiri dari 4 tahapan yaitu pembuatan benang, pewarnaan, perajutan, dan penyulaman motif.
1. Langkah pertama yaitu pemintalan kapas dan kepompong ulat sutera menjadi benang katun serta benang emas.
2. Selanjutnya, benang diawetkan dengan cara merendamnya pada air yang sudah ditambah daun sirih wangi.
3. Tahap ketiga ialah pewarnaan benang menggunakan bahan-bahan alami.
5. Langkah berikutnya yakni pengolahan benang menjadi kain polos lewat mekanisme perajutan.
6. Terakhir, tahapan paling penting adalah pembuatan motif mengandalkan benang-benang warna. Benang emas dan perak disulam menggunakan sistem cucuk hingga membentuk motif.
Perkembangan teknologi mendorong penyulaman kain tapis dengan mesin bordir. Kendati demikian, penyulaman tapis teknik tradisional masih tetap dipertahankan walau butuh waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan lamanya.
So, jangan heran kalau harga kain tapis mencapai ratusan ribu bahkan puluhan juta rupiah, tergantung kerumitan motifnya. Kain tapis dipasarkan dalam bentuk sarung, hiasan dinding, taplak meja, tas, dan masih banyak lagi.
Apa itu kain tapis?
Kain tapis merupakan jenis kain tenun dari Provinsi Lampung yang bentuknya menyerupai sarung. Kain ini mempunyai motif dasar garis horizontal yang diberi hiasan benang emas, perak dan sutra menggunakan sistem sulam atau cucuk.Di daerah asalnya, kain tapis hanya dikenakan oleh kaum wanita. Kata ‘tapis’ sendiri bermakna ‘menimpa atau ditimpa’.
Biasanya corak kain tapis terdiri dari unsur geometris, flora, fauna, manusia dan lain sebagainya. Banyak pengrajin kain tapis juga menambahkan aksesoris-aksesoris tambahan seperti kaca, moci atau payet, dan uang logam.
Sumber: https://pelajarindo.com/
Suku Lampung beradat Papadun merupakan salah satu penghasil tenun tapis berkualitas khas provinsi yang terletak di ujung selatan pulau Sumatera. Sejak jaman dulu, masyarakat Lampung dikenal sebagai penenun handal terlihat dari corak tenun mereka yang terbilang rumit. Kemampuan menciptakan alat tenun tradisional menggunakan desain yang unik serta mengenal teknik-teknik pewarnaan alami.
Awalnya kain tapis digunakan sebagai simbol penghormatan dan bentuk pemujaan terhadap arawah leluhur mereka. Tak jarang, kain ini dimanfaatkan sebagai sarana yang menghubungkan manusia dan alam toh. Dalam perkembanganny, kain tapis mulai populer diguanakan untuk mrnghadiri acara-acara adat sepanjang lingkaran hidup yang terkait dengan ritual keagamaan.
Tags: tenun pertama