Kapan Pembuatan Kain Tenun Pertama Kali Dikenal dalam Konteks Kerajinan Tangan dan DIY?
Makna Motif Tenun Endek
Kain mempunyai peranan penting selain sebagai penutup tubuh semata. Kain tenun endek juga dipakai dalam upacara-upacara adat dan keagamaan. Sehingga motif-motif tenun mempunyai fungsi dan makna tertentu. Misalnya seperti yang disimbolkan pada siklus hidup masyarakat Bali
Kain Tenun Endek selain dipergunakan sebagai pakaian juga dapat dipergunakan sebagai simbol ikatan tali persaudaraan (menyama braya) dan cindera mata kepada teman maupun kerabat. Bahkan dalam lingkungan masyarakat sekitar kain tenun ini juga dipinjamkan antar tetangga. Sebagai catatan benda lain yang umum untuk pinjam meminjam dalam masyarakat Bali hanyalah kemben.
Masyarakat Bali dikenal sebagai masyarakat yang taat dalam menjalankan ibadahnya. Upacara-upacara rutin dilakukan sepanjang hari dari matahari muncul sampai tenggelam. Sebagaimana diketahui, terdapat 5 jenis upacara keagamaan penting di Bali, atau sering disebut sebagai Panca Yadnya. Yaitu: Dewa Yadnya, Pitra Yadnya, Manusa Yadnya, Rsi Yadnya dan Butha Yadnya.
Dewa Yadnya adalah upacara-upacara kepada manifestasi Tuhan. Pitra Yadnya adalah upacara untuk roh leluhur, baik berupa kematian maupun penyucian. Manusa Yadnya adalah upacara siklus hidup manusia dari masa kehamilan sampai menikah. Rsi Yadnya adalah upacara untuk pentasbihan seorang pendeta. Sedangkan Butha Yadnya adalah upacara yang diadakan untuk butha dan kala atau roh pengganggu manusia.
Kain Tenun Endek adalah kain yang dipergunakan dalam banyak upacara-upacara penting adat dan keagamaan masyarakat Bali tersebut. Hal itu akibat Kain Tenun Endek sarat makna dan simbol-simbol didalamnya. Banyak simbolisme tentang, manusa (manusia), dewa, tokoh pewayangan, fauna, dll. dalam motif-motifnya.
Kain Tenun Endek merupakan hasil karya seniman bali yang merangkum keindahan Alam khas Bali sekaligus sejarah keindahan karya para seniman religius mereka. Semoga artikel tersebut dapat bermanfaat untuk kita semua, Terima kasih.
Jenis Motif Kain Tenun dari NTT
Kain Tenun Jara Nggaja Ende
Kain tenun dari Nusa Tenggara Timur yang satu ini punya motif utama yang berbentuk heewan kuda dan gajah. Dua motif hewan ini punya makna dan filosofi lho.
Motif kuda sendiri melambangkan kendaraan menuju ke alam baka, sedangkan motif gajah melambangkan kendaraan dewa pemberi keadilan dalam kepercayaan masyarakat di Ende.
Ada kepercayaan yang cukup mistis dibalik Kain Tenun Jara Nggaja Ende lho! Konon katanya, pemakaian kain tenun motif ini harus tepat dan benar. Kalau enggak, dipercaya akan membawa penggunanya menuju kematian. Hiii merinding yaa!
Kain Tenun Kelimara Nggela
Kain Tenun Kelimara Nggela melambangkan kehidupan masyarakat di Nggela, NTT yang begitu harmonis dan menyatu dengan alam, terlebih gunung. Hal ini juga sebagai perlambang rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Motif Kelimara yang cantik lahir dari filosofi ini. Kain tenun Kelimara Nggela identik dengan motif segitiga serupa gunung yang menjulang ke atas. Umumnya berwarna coklat tua.
Kain Tenun Jarang Atibalang
Berikutnya ada kain tenun Jarang Atibalang. Kain tenun ini asalnya dari Maumere, Nusa Tenggara Timur. Tenun Jarang Atibalang ini kalau secara bahasa dapat diartikan, “jarang” yaitu kuda dan “atibalang” yakni manusia.
Sama seperti kain tenun Jara Nggaja di Ende, kain tenun Jarang Atibalang juga punya makna filosofis berupa kuda sebagai kendaraan manusia menuju ke alam berikutnya dalam kepercayaan masyarakat setempat.
Kain Tenun Lawo Butu
Motif yang satu ini dikabarkan udah hampir punah atau jarang sekali ditemui. Dapat dikatakan, kain tenun dengan motif Lawo Butu adalah kain tenun paling kompleks diantara kain tenun NTT lainnya!
Kain tenun Lawo Butu juga cukup unik lho! Kain tenun ini biasa dipakai menjelang upacara sakral untuk memanggil hujan. Motif-motif rumit dari kain tenun ini biasanya didominasi oleh motif kuda, sampan, gurita, dan masih banyak motif kompleks lainnya!
Pembuatan Kain Tapis
Pada tahun 1950, para penenun kain tapis masih menggunakan bahan hasil pengolahan sendiri, khususnya untuk bahan tenun. Biasanya penenun tapis menggunakan metode ikat, berikut beberapa bahan baku:
1. Khambak atau kapas sebagai bahan dasar benang katun
2. Kepompong ulat sutera untuk membuat benang sutera.
3. Pantis atau lilin sarang lebah untuk meregangkan benangAkar serai wangi untuk pengawet benang. Daun sirih untuk membuat warna kain tidak luntur
4. Buah pinang muda, daun pacar, kulit kayu kejal untuk pewarna merah
5. Kulit kayu salam, kulit kayu rambutan untuk pewarna hita
6. Kulit kayu mahoni atau kalit kayu durian untuk pewarna coklat
7. Buah deduku atau daun talom untuk pewarna biru
8. Kunyit dan kapur sirih sebagai pewarna kuning
Proses pembuatan kain tapis Lampung terdiri dari 4 tahapan yaitu pembuatan benang, pewarnaan, perajutan, dan penyulaman motif.
1. Langkah pertama yaitu pemintalan kapas dan kepompong ulat sutera menjadi benang katun serta benang emas.
2. Selanjutnya, benang diawetkan dengan cara merendamnya pada air yang sudah ditambah daun sirih wangi.
3. Tahap ketiga ialah pewarnaan benang menggunakan bahan-bahan alami.
5. Langkah berikutnya yakni pengolahan benang menjadi kain polos lewat mekanisme perajutan.
6. Terakhir, tahapan paling penting adalah pembuatan motif mengandalkan benang-benang warna. Benang emas dan perak disulam menggunakan sistem cucuk hingga membentuk motif.
Perkembangan teknologi mendorong penyulaman kain tapis dengan mesin bordir. Kendati demikian, penyulaman tapis teknik tradisional masih tetap dipertahankan walau butuh waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan lamanya.
So, jangan heran kalau harga kain tapis mencapai ratusan ribu bahkan puluhan juta rupiah, tergantung kerumitan motifnya. Kain tapis dipasarkan dalam bentuk sarung, hiasan dinding, taplak meja, tas, dan masih banyak lagi.
Karakteristik Tenun Endek
Sebagaimana kita tahu, di Bali, kain tidak hanya dipakai sebagai penutup tubuh atau pakaian saja. Namun kain juga digunakan untuk menghias tempat-tempat upacara di pura, rumah maupun di pusat desa.
Masyarakat Bali mempercayai ada kain tertentu yang dapat berfungsi sebagai penolak bala, misalnya kain tenun endek asli seperti endek gringsing, endek cepuk dan endek bebali. Contoh upacara yang menggunakan kain bebali sebagai unsur ritualnya adalah upacara nelu bulanan dan ngaben. Kain endek bali juga biasa digunakan dalam pementasan kesenian tradisional.
Ada pula yang menyebutkan bahwa beberapa jenis ragam hias Tenun Endek memiliki fungsi sebagai penangkal bahaya wabah penyakit atau kematian. Kepercayaan tersebut diyakini secara turun temurun. Contohnya adalah motif Gringsing Isi dan Sanan Empeg adalah dua diantaranya.
Kain Tenun Endek bermotif gringsing diyakini dapat digunakan sebagai penangkal wabah penyakit. Apabila digunakan sebagai penangkal (pasikepan) tidak harus dipakai kamben, namun bisa juga dalam bentuk kain sobekan kecil. Asalkan sobekan tersebut tepat pada bagian motif yang disakralkan.
Makna Motif pada Kain Tapis
Kain tapis terbagi menjadi berbagai tingkatan sehingga pemakaiannya berbeda-beda menurut siapa yang akan memakainya. Hal itu karena dahulu, kain tapis Lampung menggambarkan status sosial pemiliknya. Motif kain tapis digunakan dalam prosesi penikahan dan upacara pemberian gelar adat, termasuk golongan keluarga pemimpin adat atau pemimpin suku. Oleh sebab itu, pemakaian kain tapis terbagi menjadi beberapa tingkatan dan harus disesesuaikan dengan perannya dalam masyarakat.
1. Kain tenun tapis bermotif Tapis Agheng, Tapis Kaca, dan Cucuk Pinggir dikhususkan bagi wanita atau istri tua.
2. Sedangkan kain tapis Jung Sarat, Raja Tunggal, Dewasano, Raja Medal, Limar Sekebar, Ratu Tulang Bawang, dan Cucuk Semako digunakan sang pengantin dalam acara adat pernikahan.
3. Untuk penari cangget (tarian menyambut tamu) tapis yang digunakan biasanya adalah Tapis Balak, Bintang Perak, Pucung Rebung, Kibang, dan Lawek Linau.
Tags: tenun pertama