... Kerajinan Seni Pahat yang Memukau dari Masa Dinasti Abbasiyah: Temukan Inspirasi DIY!

Kecantikan Seni Pahat dalam Karya DIY - Jejak Kebudayaan Dinasti Abbasiyah

Kekhalifahan Abbasiyah: Sejarah, Masa Keemasan, dan Akhir Kekuasaan

Kekhalifahan Abbasiyah berusaha menggulingkan Kekhalifahan Umayyah karena mengklaim sebagai penerus sejati Nabi Muhammad, berdasarkan garis keturunan mereka yang lebih dekat.

Pemberontakan yang dilakukan Bani Abbasiyah didukung oleh sebagian besar orang Arab yang dirugikan dengan tambahan faksi Yaman dan Mawali mereka. Muhammad bin Ali, cicit dari Abbas, kemudian mulai menjalankan kampanye untuk mengembalikan kekuasaan pemerintahan kepada keluarga Bani Hasyim di Parsi pada masa pemerintahan Khalifah Umar II. Pada masa pemerintahan Khalifah Marwan II, pertentangan mereka semakin memuncak. Akhirnya pada 750 masehi, Abu al-Abbas al-Saffah berhasil meruntuhkan Dinasti Umayyah dan kemudian dilantik sebagai khalifah. Baca juga: Masuknya Islam ke Nusantara

Menyingkap Kisah Tiga Khalifah Pengukir Sejarah Dinasti Abbasiyah

Selanjutnya Dinasti Abbasiyah memperoleh serangan secara langsung dari pasukan Mongol yang berasal dari Timur ke wilayah kekuasaan Islam. Khalifah Dinasti Abbasiyah pada saat itu adalah Al- Mu’tasim tak mampu membendung serangan Mongol dan sekutunya yang dipimpin cucu Genghis Khan. Pada tahun 1258 tentara Hulagu Khan berhasil mengalahkan tentara khalifah dan membumihanguskan kota Baghdad.

Sambutan Hulagu Khan sungguh diluar dugaan khalifah. Apa yang dikatakan wazirnya tidak benar, mereka semua termasuk wazir sendiri dibunuh dengan leher dipancung secara bergiliran. Dengan pembunuhan yang kejam ini berakhirlah kekuasaan Abbasiyah di Baghdad. Kota Baghdad sendiri dihancurkan rata dengan tanah, sebagaimana kota-kota lain yang pernah diserang oleh bangsa Mongol.

Walaupun sudah dihancurkan, Hulagu Khan memantapkan kekuasaannya di Baghdad selama dua tahun, sebelum melanjutkan ke Syiria dan Mesir. Jatuhnya kota Baghdad ditangan bangsa Mongol bukan saja mengakhiri kekuasaan khilafah Bani Abbasiyah di sana, tetapi merupakan awal kehancuran peradaban Islam yang sangat kaya dengan khazanah ilmu pengetahuan itu ikut lenyap dibumihanguskan oleh bangsa Mongol.

Dengan hancurnya kota Baghdad, tentu memberikan dampak yang sangat besar terhadap sejarah umat Islam. Jatuhnya kota Baghdad bukan mengakhiri khalifah, akan tetapi merupakan awal dari kemunduran dunia Islam, ketika hancur khazanah keilmuan di kota itu ikut lenyap. Seiring dengan kemunduran Islam di bidang ilmu pengetahuan, negara-negara Barat justru berkembang menjadi negara-negara modern. Sehingga orang Islam banyak belajar kepada bangsa Barat.

Aspek yang ketiga adalah ekonomi, yakni dengan hancurnya Dinasti Abbasiyah akan berdampak terhadap ekonomi masyarakat, terjadi krisis ekonomi bagi umat Islam. Sehingga umat Islam mengalami keterbelakangan dari aspek ekonomi dibandingkan negara-negara Barat dan negara non muslim. Di dalam buku yang berjudul “ Keunggulan Ekonomi Islam: Mengkaji Sistem Ekonomi Barat dengan Kerangka Pemikiran Sistem Ekonomi Islam” karya Baqir Ash-shadr dijelaskan bahwa dunia Islam dipimpin oleh Dunia Barat dalam tiga aspek, yakni tunduk secara ekonomi, politik, dan tunduk kepada sistem barat.

Masjid Baiat

Masjid Baiat atau Baiah adalah jejak Dinasti Abbasiyah di Mekah tepatnya di kawasan Jamarat yang juga didirikan oleh khalifah al Manshur yakni pada tahun 761 Masehi. Tempat ini diyakini sebagai tempat bertemunya Rasulullah dengan para pengikutnya yakni kaum Anshar dan menjadi tempat baiat aqabah. Masjid ini juga dibangun untuk menghormati sang pelopor berdirinya Dinasti Abbasiyah yang masih merupakan paman nabi Muhammad yaitu Abbas bin Abdul Muthalib.

Dari arah Syam dan Yaman terlihat ada dua serambi di masjid ini dengan masing-masing memiliki 3 buah kubah, 4 tiang dan 2 pintu ke arah masjid. Pada awalnya masjid ini tidak begitu terlihat karena lokasinya yang tersembunyi yakni di balik gunung Mina serta terbuat dengan bahan-bahan yang sangat sederhana. Namun gunung tersebut sudah dihilangkan dan masjid Baiat pun dapat dilihat oleh para jemaah haji yang sedang berada di kawasan Jamarat.

Istana Qashrul Dzahabi

Istana Qashrul Dzahabi merupakan salah satu peninggalan Dinasti Abbasiyah yang berada di kota Baghdad. Nama lain dari istana ini adalah Istana Emas karena dihiasi oleh struktur bangunan yang megah dan menggambarkan sebagai surga dunia. Istana ini dibangun oleh Khalifah Al-Manshur dengan total luas 160.000 Hasta persegi serta lengkap dengan fasilitas-fasilitas untuk setiap penghuninya seperti mushola, kantor polisi, puri dan yang lainnya.

Istana ini dibangun dengan memiliki 4 gerbang yang mengapit bangunan dimana masing-masing gerang diberi nama Bab Al-Kufah (di sebelah barat daya), Bab al-Syam (di sebelah barat laut), Bab al-Basrah (di sebelah tenggara), dan Bab al-Khurasan (di sebeah timur laut). Setiap gerbang memiliki 28 menara yang digunakan para prajurit untuk memantau keadaan luar. Kegunaan dari bangunan begitu megah ini adalah sebagai tempat tinggal khalifah dan keluarganya.

Kejayaan Dinasti Abbasiyah di Tangan Harun Ar-Rasyid

Sebelum membahas masa kehancuran Daulat Abbasiyah, penulis menyinggung terlebih dahulu tentang faktor-faktor kemunduran Abbasiyah. Ada beberapa faktor yang menyebabkan kemunduran Abbasiyah, pertama faktor internal, yaitu adanya penguasa lemah yang sulit mengendalikan wilayah luas ditambah sistem komunikasi masih sangat lemah dan belum maju menyebabkan lepasnya daerah satu persatu. Kecenderungan para penguasa hidup mewah, mencolok, berfoya-foya, yang diikuti oleh para hartawan dan anak-anak pejabat yang turut menyebabkan roda pemerintah terganggu dan rakyat menjadi miskin.

Di samping kelemahan khalifah, ada juga yang menjadi penyebab mundurnya khalifah Abbasiyah, yaitu munculnya Dinasti-dinasti kecil yang memerdekakan diri, yang mana dapat kita lihat dari tekanan-tekanan oleh pemerintah terhadap rakyat, baik orang Turki, Bani Buwaihi dan Turki Saljuk. Sehingga rakyat makin gusar dan mereka mendirikan pemerintah di daerah masing-masing.

Perang saudara antara Al-amin dan Al-makmun secara jelas membagi Abbasiyah menjadi dua kubu, yaitu kubu Arab dan Persia, menyebabkan pertentangan Arab dan non Arab, perselisihan antara muslim dan non muslim, serta perpecahan di kalangan umat Islam sendiri, perebutan kekuasaan pemerintah, persaingan antarbangsa, kemerosotan ekonomi, konflik keagamaan, dan lain-lain.


Tags: kerajinan pada abbasiyah

`Lihat Lagi
@ 2024 - Tenun Indonesia