Model Baju Tenun Troso - Inspirasi Cantik untuk Keterampilan Jahit Sendiri
Rekomendasi Gamis Tenun Troso Kombinasi Polos
Pernahkah ZALORAns mendengar tenun troso? Kain tenun troso merupakan tenun khas Jepara, Desa Troso. Tenun ikat troso ini berupa kain yang ditenun dari setiap helaian benang pakan atau benang lungsin yang sebelumnya diikat dan dicelupkan ke dalam zat pewarna alami.
Lalu, bagaimana jika kain tenun ikat troso dikombinasikan dengan kain polos? Mari kita intip bareng yuk, beberapa model gamis tenun troso kombinasi dengan kain polos berikut ini!
Tenun Jepara, Warisan Budaya dari Desa Troso
TENUN.id – Jepara merupakan salah satu daerah penghasil tenun di Indonesia. Kerajinan daerah ini terkenal dengan nama kain Tenun Troso karena proses pembuatan yang terletak di desa Troso, Kecamatan Pecangaan.
Kita akan mengenal tenun berasal dari daerah pesisir utara Pulau Jawa yaitu Jepara. Seperti namanya, kain tenun Jepara memang awalnya hanya melibatkan masyarakat desa yang terletak 15 KM dari kota Jepara ini. Namun kini, kain Jepara tidak hanya melibatkan pengrajin desa Troso saja, namun juga mulai merambah desa sekitar. Cara pembuatan kain tenun yang mereka gunakan sebagian besar masih tradisional.
Sebagai salah satu warisan budaya, tenun Troso Jepara tetap terjaga eksistensinya. Terlihat dengan adanya produksi tenun yang terus berlangsung hingga saat ini di daerah Troso. Sejak pertama kali pembuatan pada tahun 1935, kerajina tenun Troso terus bertahan dari generasi ke generasi.
Seiring berkembangnya zaman dan teknologi, pembuatan tenun Troso Jepara mengalami beberapa perkembangan terutama pada motif yang menjadi ragam hias. Meskipun demikian, tenun Troso masih mempertahankan keaslian proses tradisionalnya. Hal yang membuat kain tenun ini tetap eksis bersama kain-kain tenun dari daerah lainnya seperti tenun rangrang Nusa Penida dan Tapis Lampung.
Cara Memilih dan Memadukan Baju Tenun
Cara memilih dan memadukan baju tenun dapat tergantung kepada selera kamu. Namun, ada beberapa hal yang dapat dicermati untuk mendapatkan penampilan terbaik dengan baju tenun:
- Pilih Motif dan Warna: Dalam memilih baju tenun, kamu bisa memilih berdasarkan motif dan warna yang kamu sukai. Misalnya, jika kamu adalah penggemar motif geometris, kamu bisa mencoba tenun ikat. Sedangkan jika kamu suka motif floral, tenun batik bisa menjadi pilihan.
- Paduan Warna: Memadukan warna baju tenun dengan atasan atau bawahan yang polos bisa menjadi cara yang aman untuk memakai baju tenun. Misalnya, jika kamu memilih dress tenun, kamu dapat memakai sepatu dan aksesori dengan warna netral.
- Aksesori dan Sepatu: Dalam memilih aksesori dan sepatu, kamu bisa menyesuaikanya dengan jenis acara dan model baju tenun yang kamu kenakan. Misalnya, untuk acara formal, kamu bisa memilih clutch dan sepatu hak. Sedangkan untuk acara santai, tote bag dan sepatu flats bisa menjadi pilihan.
Dapatkan berbagai produk fashion dari brand-brand ternama hanya di ZALORA. Jangan lewatkan potongan harga yang sudah menantimu!
Sejarah Tenun Troso
Desa Troso, terletak 15 km ke arah tenggara dari pusat kota Jepara. Dari sinilah proses perkembangan sentra industri tenun berawal, berkembang dan mengalami pasang surut dari tahun ke tahun. Menurut legendanya, sejarah Kain Tenun Troso dimulai saat masuknya Agama Islam di wilayah Jawa tengah dan sekitarnya. Yaitu pada masa berdirinya Kerajaan Mataram Islam.
Kain ini dipakai pertama kali oleh Mbah Senu dan Nyi Senu saat menemui Ulama Besar Mbah Datuk Gunardi Singorojo saat sedang berdakwah di Desa Troso. Kemudian pada masa awalnya kain tenun ini dibuat khusus sebagai pelengkap pakaian raja. Sejak saat itulah keterampilan membuat kain tenun troso dimiliki oleh warga Desa Troso dan diwariskan secara turun temurun.
Pada sekitar tahun 1935, sebelum masa kemerdekaan Indonesia, para pengrajin Tenun Troso membuat Kain Tenun Gedong. Kemudian saat keahlian mereka semakin berkembang, mereka mulai membuat kain Tenun Pancal, yaitu pada sekitar tahun 1943.
Pada saat tahun 60-an terjadi sebuah perkembangan signifikan pada industri tenun di daerah ini. Dimana saat itu para perajin tenun secara besar-besaran mulai beralih menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) menggantikan alat tenun tradisional. Produksi kain tenun lurik, mori dan sarung ikat mengalami perkembangan pesat secara jumlah maupun kualitas.
Saat itu adalah masa keemasan dan kejayaan Kain Tenun Troso. Namun pada akhir tahun 70-an industri tenun Troso mulai mengalami kelesuan ekonomi. Banyak perusahaan tenun mengalami gulung tikar. Peristiwa ini diakibatkan karena mulai berdirinya perusahaan tenun besar di Indonesia yang menggunakan Alat Tenun Mesin (ATM).
Pengrajin tradisional tak mampu bersaing dalam hal harga sehingga industri tenun tradisional tidak berkembang dan bahkan banyak mengalami kebangkrutan.
Pada awal tahun 80-an, industri Tenun Troso sempat mengalami kebangkitan. Unit-unit usaha di pedesaan sempat tumbuh kembali. Produksi tenun tradisional Troso muncul kembali di pasaran.
Proses Pembuatan Tenun Ikat
Meski alat yang pengrajin gunakan masih sederhana, proses pembuatan tenun Troso terbilang cukup rumit. Benang-benang sebagai bahan utama pembuat kain sebelumnya harus melalui proses pewarnaan terlebih dahulu kemudian berlanjut proses jemur untuk mengeringkan pewarnaan pada benang. Proses ini bernama menter atau pewarnaan.
Jika warna benang sudah kering, benang kemudian digulung dan dipasang pada ATBM. Jika benang sudah terpasang dan tertata, maka proses menenun bisa mulai berjalan. Kerumitan proses tersebut berlanjut dengan proses pewarnaan yang berjalan secara manual. Namun, justru hal ini membuat motif pada kain tenunan memiliki keunikan tersendiri.
Alat yang masih tradisional serta cara pembuatan tenun Troso yang sangat rumit menghasilkan kain yang tahan lama dengan motif yang indah dan detail. Penggunaan kain tenun ini pun cukup luas karena bisa dipakai oleh semua wanita dari berbagai kalangan tanpa adanya batas atau aturan adat.
Penulis: Tutla Ayuhanna, alumni Universitas Negeri Semarang. Tinggal di Jepara
Tags: tenun baju model