Keindahan Model Kain Tenun NTT dalam Karya Jahit dan DIY
Tenun Ikat, Aset Budaya Bernilai Ekonomis
Selamatkan Kain Tenun Ikat NTT
Tentu ini merupakan kebanggaan masyarakat NTT. Dan, yang lebih membanggakan, di seluruh dunia hanya ada tenun ikat khas NTT yang memiliki corak, bahan dan motif yang berbeda dari jenis kain lainnya.
Bila kain batik asal Pulau Jawa yang menjadi kebanggaan orang Jawa, namun kain serupa juga terdapat di Malaysia, China, Thailand, Vietnam negara lainnya di Asia Tenggara, maka tenun ikat NTT tidak ada duanya di dunia. Keunikan corak maupun bahannya tercipta dari proses pembuatannya yang alami. Ditenun- pintal dengan tangan-tangan terampil tanpa bantuan mesin tenun, menjadikan kain tanunan khas NTT memiliki nilai lebih. "Keaslian" proses pembuatannya inilah yang menjadikan kain tenun ikat khas NTT banyak dicari orang.
Namun di tengah pesona kain tenun ikat NTT ini, kita lengah sehingga motif khas NTT mulai nongol pada kain- kain bukan tenun ikat NTT.
Kini, di tengah-tengah upaya masyarakat dan Pemerintah Propinsi NTT menjadikan kain tenun ikat sebagai salah satu komoditi yang bernilai ekonomi, muncul kain batik bermotif tenun ikat NTT. Ini tentu merupakan pukulan bagi kain tenun ikat NTT. Dan, ini jelas merugikan perajin tenun ikat NTT.
Sejumlah perajin tenun ikat NTT di Kota Kupang mengaku sangat dirugikan dengan munculnya kain batik bermotif khas NTT yang kini dijual bebas di pasar. Mereka khawatir penjualan batik bermotif NTT itu lambat laun mengganggu usaha yang mereka geluti. Inilah yang sudah dikemukakan Pemimpin Kelompok Perajin Tenun Ikat Ina Ndao, Dorce D Lussi.
Lussi mengatakan, penjualan kain batik bermotif khas NTT berpengaruh terhadap omset penjualan kain tenun ikat NTT yang dihasilkan Kelompok Perajin Ina Ndao. Keluhan yang sama disampaikan perajin tenun ikat lainnya. Mereka tidak ingin usaha keras mereka melestarikan tenun ikut dalam bentuk usaha kecil ini hancur akibat membanjirnya batik bermotif khas NTT ke pasar-pasar di NTT.
7 Motif Kain Tenun Sumba, Apa yang Membuatnya Spesial?
Motif kain tenun jadi salah satu identitas suatu daerah di Indonesia karena keberagamannya dan nilai yang diusungnya.
Salah satu daerah di Indonesia bagian timur tepatnya di provinsi Nusa Tenggara Timur yang memiliki motif kain tenun yang khas adalah pulau Sumba.
Dengan Pulau Sumba yang semakin diminati sebagai tujuan wisata oleh turis lokal maupun mancanegara, eksistensi kain tenun Sumba pun semakin dicari karena dianggap spesial dari segi motif, cara pembuatan, hingga nilai spiritualnya!
Namun sebelum berminat untuk memiliki kain tenun Sumba, ada beberapa informasi menarik yang perlu kamu tahu tentang mahakarya tersebut.
Table of Contents
Cara Membuat Kain Tenun Nusa Tenggara Timur
Proses pembuatan kain tenun pada tiap daerah di Indonesia tentu aja berbeda ya Sobat Indahnesia! Terkhusus pada pembuatan kain tenun khas Nusa Tenggara Timur sendiri, dibagi menjadi 3 cara.
- Tenun Ikat atau yang biasa disebut Tenun Futus biasanya melalui proses pengikatan benang-benang untuk membentuk sebuah pola atau motif sepanjang kain.
- Tenun Buna, merupakan teknik mewarnai benang yang akan digunakan dalam proses menenun untuk menciptakan pola saat nanti kain tenun sudah rampung dibuat.
- Lalu yang ketiga ada Tenun Lotis atau Sotis, dimana cara pembuatannya mirip dengan Buna, yakni merendam benang terlebih dahulu, namun dipadukan dengan proses menyulam.
Umumnya, di NTT sendiri para penenun memadukan cara membuat kain tenun dengan menyulam sejumlah motif secara bersamaan. Sehingga hasil akhir dari kain tenunnya sendiri terlihat seperti 3 dimensi.
Lebih detailnya, untuk pembuatan kain tenun dimulai dengan proses pemintalan kapas untuk diproses menjadi benang, lalu diikat.
Nah, funfact-nya, Nusa Tenggara Timur juga termasuk provinsi dengan penghasil kapas terbesar di Indonesia lho Sobat Indahnesia! Pantas saja mereka lebih memilih melalui proses pembuatan benang dari kapas terlebih dulu ketimbang menggunakan benang siap pakai.
Untuk pewarna sendiri, para penenun di NTT masih menggunakan bahan-bahan tradisional, seperti warna dari akar-akar pepohonan.
Fungsi [ sunting | sunting sumber ]
Kain adat mempunyai banyak fungsi penggunaan di masyarakat, meski tiap daerah ada penggunaan khusus di tiap suku, namun secara umum berikut adalah fungsi dari kain tenun: [1]
1. Sebagai busana untuk penggunaan sehari-hari dan menutupi badan.
2. Sebagai busana dalam tari adat dan upacara adat.
3. Sebagai mahar dalam perkawinan dalam bahasa daerah disebut sebagai “belis” nikah.
4. Sebagai pemberian dalam acara kematian dan sebagai wujud penghargaan.
5. Sebagai penunjuk status sosial.
6. Sebagai alat untuk membayar hukuman jika terjadi ketidakseimbangan.
7. Sebagai alat barter/transaksi.
8. Sebagai bentuk cerita mengenai mitos dan cerita-cerita yang tergambar di motif-motif nya.
9. Sebagai bentuk penghargaan bagi tamu yang datang berkunjung.
Kain Tenun NTT
“Ini risiko dari sebuah kesepakatan perdagangan bebas. Dan, saya melihat, kita belum siap untuk menghadapi CAFTA,” kata Ketua Umum DPP PDIP itu.
Putri proklamator Bung Karno itu mencontohkan, NTT dengan produk kain tenun ikat yang luar biasa, bisa kalah bersaing dengan produk serupa dari Cina atau kawasan ASEAN lain di pasaran jika tidak dikemas dengan lebih baik dan profesional.
“Kain Batik khas Indonesia saja sudah bisa ditiru oleh negara lain dengan mengklaim sebagai produk negaranya. Ini sebuah ancaman yang serius bagi industri manufaktur di dalam negeri,” katanya.
Megawati meminta perhatian pemerintah daerah untuk memperhatikan masalah ini dengan lebih serius. “Jangan kita hanya mengutak-atik anggaran belanja dalam APBD saja, tetapi bagaimana kita mempersiapkan masyarakat kita untuk menghadapi perdagangan global ini,” ujarnya.
Mantan presiden itu meminta pemerintah daerah untuk memperhatikan produk lokal yang menjadi unggulan daerahnya masing-masing. “Jika produk unggulan NTT adalah kain tenun ikat, misalnya, maka produk tersebut harus tetap dipertahankan kualitas dan performanya agar tetap diminati di pasar bebas. Di sinilah letak peran pemerintah daerah dalam melindungi usaha rakyatnya,” kata Megawati.
Ketika menjabat presiden, Megawati mengatakan bahwa saat itu dia melarang mengimpor beras, gula dan tekstil agar tetap melindungi hasil petani di dalam negeri sebagai salah satu upaya untuk memperbaiki ekonomi petani. “Jika semua serba impor, apa jadinya dengan para petani tebu, beras dan tekstil di Indonesia? Kondisi semacam ini yang perlu diperhatikan sehingga tidak mengorbankan rakyat,” tambah Megawati.
Tags: tenun model