... 10 Motif Bunga Cantik untuk Proyek Sulam DIY Anda | Panduan Menyulam Terkini

Motif Bunga Cantik untuk Menyulam - Inspirasi DIY untuk Keterampilan Sulam Anda

Tutorial Menyulam Online

Jika buku-buku terlalu abstrak dan Anda perlu melihat lebih dekat kepribadian orang yang mengajari Anda, namun tidak punya waktu atau keinginan untuk mengambil kursus menjahit, mengapa tidak melihat beberapa blog menyulam? Lihatlah aksi menjahit selimut, pelajari cara memperindah desain atau jahitan halus untuk membuat tusuk satin.

  • The Spurce adalah blog komersial namun dengan sejumlah besar tutorial kerajinan berbeda. Blog menyulam mereka penuh dengan proyek-proyek kecil yang menyenangkan, berbagai jahitan tradisional dan etnis, serta beberapa kiat dan trik. Pasti layak dilihat.
  • Needle ‘n Thread adalah blog yang wajib diikuti bagi para penggemar sulaman. Blog ini mencakup dasar-dasar jahitan dan teknik-teknik canggih – termasuk hal-hal seperti cara memulai dan mengakhiri sulaman – berbagai gaya jahitan dan beberapa proyek blogger saat ini.
  • Nordic Needle punya koleksi jahitan dan tutorial bagus.
  • Anna Scott Embroidery dibuat oleh wanita dengan bakat gila. Karena dia menjahit proyek-proyeknya, memberikan kiat-kiat seperti cara memadukan shading ketika menggunakan tusuk tikam jejak atau cara membelokkan sudut.
  • Pumora memiliki serangkaian tutorial yang benar-benar dasar unruk memulai menyulam.
  • Sublime Stitching punya serangkaian tutorial untuk semua jahitan sulaman dasar.

Bagi siapa pun yang tertarik dengan sulaman bersejarah, Racaire punya banyak informasi dan proyek-proyek menakjubkan mulai dari bantal hingga hiasan dinding, atau lihat blog ini.

Sejarah [ sunting | sunting sumber ]

Pada awalnya, selendang bersulam Koto Gadang hanya dipakai oleh orang Koto Gadang dan tabu apabila dipakai oleh orang di luar Koto Gadang. Bahkan, keterampilan menyulam tidak diajarkan kepada orang yang bukan asli Koto Gadang. Sulaman Koto Gadang mulai terkenal sejak berdirinya Kerajinan Amai Setia pada 1911. Didirikan oleh Roehana Koeddoes, sekolah tersebut mengajarkan berrnacam-macam keterampilan rumah tangga untuk perempuan, termasuk menyulam, baik untuk perempuan Koto Gadang maupun dari luar Koto Gadang. Lama kelamaan, selendang bersulam Koto Gadang dikenal oleh orang dan bahkan banyak pesanan akan selendang tersebut. Salah seorang rekan Roehana yang seorang saudagar, Hadisah memasarkan hasil sulaman Koto Gadang ke istri pejabat-pejabat Belanda untuk dipakai atau dikirimkan ke kolega mereka di luar Minangkabau, yakni Eropa. [13] [2] Sementara itu, rekan Roehana yang lain, Rukbeny memperkenalkan selendang bersulam Koto Gadang ke luar daerah Sumatera Barat. [14]

Sejak Kerajinan Amai Setia berdiri, kegiatan menyulam menjadi pekeijaan yang digemari perempuan Koto Gadang. Selain dapat menghasilkan uang, pekerjaan menyulam bagi perempuan dianggap sebagai pekerjaan yang mulia. [13] Perempuan dapat bekerja di dalam rumah sambil mengurus keluarga. Saat ini, sulaman Koto Gadang menjadi produk yang diincar perempuan Paris dan Belanda. Meski tak seperti abad ke-19, perempuan Koto Gadang masih menghasilkan kain bersulam aneka motif dan cara pengerjaan. [2]

Penyebutan sulaman kadang disamakan dengan bordir karena memiliki persamaan. Perbedaannya terletak pada hasil dan cara pengerjaannya. Menurut Ernatip, peneliti Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional (BPSNT) Padang, penyebutan bordir di Minangkabau identik dengan sebuah kain yang memiliki hiasan yang dibuat oleh teknologi mesin, sedangkan apabila hiasan dikerjakan dengan keterampilan tangan rnaka lebih dikenal dengan sebutan sulaman. [13] Baik sulaman maupun bordir masih tetap eksis dalam masyarakat Minangkabau sebagai salah satu warisan masa lampau. [7]

Teknik-Teknik Sulaman dari Seluruh Dunia

Setiap budaya menggabungkan berbagai jahitan dan warna untuk menciptakan sulaman istimewa mereka sendiri.

Sulaman Pita

Sulaman pita sutra berasal dari Prancis pada abad ke-18. Sulaman tersebut menghasilkan desain tiga dimensi yang menarik dan relatif cepat selesai. Banyak dari jahitan tersebut sama dengan sulaman benang, tapi ada beberapa yang unik juga.

Hardanger: Teknik whitework Norwegia

Hardanger adalah teknik whitework yang cukup populer dan mencakup berbagai jenis sulaman, mulai dari tusuk satin hingga jahitan potong dan tarik (di mana benang yang berasal dari kain sulaman dipotong dan ditarik keluar, kemudian disatukan untuk membuat pola) hingga tenunan.

Temukan kursus menjahit ntuk pemula di dekat saya di sini.

Sulaman huck Swedia

Tenunan huck atau huck Swedia adalah sebuah teknik menenun – jarumnya dilewatkan ke depan di atas dan di bawah lungsin dan pakan kain sulaman untuk membuat pola. Tenunan ini memiliki nuansa pedesaan yang indah, cocok untuk tirai setengah, handuk dapur, atau sulaman manset.

Redwork Hungaria

Pola bunga redwork Hungaria yang berani, tebal, dan nyaris geometris tampak menawan pada linen – untuk taplak meja, seprai, atau bahkan rok pendek yang melebar.

Lukisan jarum: sulaman tusuk satin Tionghoa

Siapa yang tidak mengakui sulaman indah gaun, sandal, dan baldachin istana Tionghoa? Desain yang cemerlang dengan shading halus ini hampir sepenuhnya dikerjakan dengan tusuk satin, meskipun beberapa gaya menggunakan sulam rantai serta beberapa lainnya. Ada beberapa sekolah menyulam besar yang memilih desain dan warna mereka menurut kriteria berbeda.

Peralatan dan bahan [ sunting | sunting sumber ]

Teknologi pembuatan sulaman Koto Gadang masih menggunakan teknologi tradisional. [15] Peralatan utama untuk menyulam dikenal dengan nama pamedangan. Ukurannya yakni 200 x 60 cm. Pamedangan terbuat dari kayu pada bagian kerangkanya. Keempat kayu dirangkaikan menjadi empat persegi panjang dengan paku. Tinggi pamedangan yakni sekitar 30 cm mengikuti ukuran standar yang memudahkan bagi penyulam untuk duduk bersimpuh ataupun meluruskan kakinya di bawah pamedangan pada saat menyulam. [16] [17]

Untuk menyulam kain yang berukuran kecil, seperti saputangan, bunga baju, dan sarung bantal maka digunakan alat bernama ram. [18] Ram berbentuk bundar dengan diameter berkisar 20 cm sampai 50 cm. Ram terbuat dari dua buah besi ataupun kayu yang dibentuk melingkar dengan menggunakan alat pengunci. [19]

Peralatan utama dalam menyulam berikutnya yakni kelos. Kelos berfungsi untuk menggulung benang. Kelos terbuat dari batang kulit manis dengan panjang berkisar 15 cm sampai 20 cm. Jumlah kelos bergantung pada banyak warna benang yang akan digunakan. [20]

Adapun alat bantu dalam membuat sulaman yakni karton manila atau kertas minyak untuk membuat pola, kertas karbon untuk memindahkan pola, jarum jahit untuk membuat aneka tusukan pada kain, dan gunting untuk memutus benang. Kesederhaan peralatan membuat proses pembuatan sulaman Koto Gadang menjadi lama dan rumit serta membutuhkan kepiawaian atau keahlian dari penyulam karena semata-mata mengandalkan pekerjaan tangan dan bukan mesin. [16] [21]

Sementara itu, bahan-bahan yang digunakan untuk menyulam yakni kain dan benang. Kain yang digunakan yakni semua jenis kain seperti katun, linen, sutra, atau wol. [16] Ukuran kain yang standar adalah dua meter untuk panjang dan lebar yang bervariasi dari 50 cm hingga 75 cm, tetapi ukuran lebar yang standar adalah 50 cm. [22] Adapun benang sulam dapat berupa benang mauline dan benang katun. [23]

Sulaman Koto Gadang

Sulaman Koto Gadang adalah teknik kerajinan tangan menghias kain dengan benang yang dikerjakan secara tradisional oleh masyarakat Koto Gadang, salah satu nagari di Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Sulaman ini dihasilkan dari pengetahuan masyarakat Koto Gadang dalam membentuk jalinan benang di atas kain yang diwariskan secara turun-temurun. Pengerjaannya sama sekali tidak menggunakan teknologi mesin, melainkan menggunakan peralatan sederhana dan bergantung pada keterampilan tangan. [1]

Di antara teknik sulaman Koto Gadang yang masih digunakan saat ini yakni teknik sulaman "suji caia" dan "kapalo samek". Sulam suji caia menampilkan permainan gradasi warna benang yang saling menyatu (bahasa Minang: caia, artinya cair) sehingga menghasilkan bentuk bunga yang tampak hidup. [4] Adapun sulam kapalo samek (dari bahasa Minang, artinya kepala peniti) karena dalam pembuatannya benang dikait dan ditarik sampai ujung peniti sehingga menghasilkan bentuk bulat di atas kain. [5]

Pengetahuan dan keterampilan membuat sulaman Koto Gadang diwariskan secara turun-temurun, umumnya dari ibu ke anak perempuan. Saat ini, masih banyak ditemukan perempuan Koto Gadang yang menekuni sulaman dan bahkan menjadikannya sebagai mata pencaharian tambahan. Kekhasan sulaman Koto Gadang terletak dari proses pembuatan, motif, dan detail pengerjaan. Oleh karena itu, sulaman ini memiliki nilai jual yang relatif tinggi, hingga mencapai jutaan rupiah per helainya. [6] [7] Namun, rumitnya pengerjaan membuat sulaman Koto Gadang bisa membutuhkan waktu penyelesaian hingga dua bulan. [8]


Tags: untuk motif bunga

`Lihat Lagi
@ 2024 - Tenun Indonesia