Keindahan Motif Sulam Pita dalam Seni Jahit dan DIY
Apa Itu Sulaman
Sulaman adalah salah satu hiasan yang melekat pada permukaan kain atau bahan dengan jarum dan benang jahit sehingga hal ini dapat memperindah kain yang akan di gunakan.
Banyak sekali macam macam jenis sulaman dengan dan cara membuatanya dengan keterampilan yang berbeda sehingga dapat dikembangkan tergantung pada lokasi dan negara.
Selain itu sulaman dapat menggunakan benang wol, linen, dan sutra, bordir katun atau viscose yang digunakan dalam sulaman modern dengan dasar jenis sulaman benang kain flanel, feston.
Karakteristik Sulaman
- Sulaman datar yang disulam dengan permukaan yang rata
- Sulaman Terawang sebagai hasil dari bordir dengan lubang-lubang pada kain.
- Sulaman yang dibuat dari hasil yang tergantung pada motifnya dengan membentuk tekstur pada permukaan kain.
Baca Juga: Birama 4/4
Proses Produksi Kerajinan Tekstil
Setiap jenis kerajinan tekstil memiliki bahan, alat, dan cara membuat atau produksi yang berbeda. Oleh karena itu, berikut adalah beberapa proses produksi kerajinan tekstil mulai dari kerajinan tekstil tapestri, batik, sulam, dan jahit aplikasi.
Kerajinan Tekstil Tapestri
Tapestri atau tenun banyak di temukan di Indonesia sebagai salah satu kearifan budaya kerajinan tekstil. Banyak kekayaan tenun menenun, dengan aneka ragam teknik dan prosesnya, serta ragam hias yang beraneka ragam di nusantara.
Kerajinan tenun dibuat dengan menggunakan alat tenun seperti gedogan ataupun ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin), dalam pembuatan hiasan tenun serat ini pun mengikuti kebiasaan dalam pembuatan tenun pada umumnya.
Bahan Pembuatan Hiasan Tapestri
Bahan yang digunakan untuk membuat hiasan tapestri sebagai berikut.
- Benang tipis untuk lungsi
- Benang tebal untuk pakan
Alat Pembuat Hiasan Tapestri
Alat yang digunakan dalam pembuatan hiasan tapestri sebagai berikut.
- Kayu spanram yang diberi paku untuk benang lungsi
- Batang kayu
Proses Pembuatan Tapestri
Membuat tapestri sebetulnya membutuhkan suatu keahlian dan keterampilan khusus yang harus dilatih dan ditekuni. Namun, secara umum, proses pembuatan tapestri dapat disederhanakan menjadi sebagai berikut.
- Membuat lungsi pada pemidangan tenun.
- Memasukkan benang pakan pada lungsi.
- Mengganti warna pakan sesuai motif yang diinginkan.
- Mengoperasikan alat tenun dengan cara menyesuaikan dan mengganti warna benang, lalu menarik bagian alat yang akan merapatkan benang.
10.21831/teknik busana.v7i2.10566
Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan, meningkatkan, dan membuktikan media flip chart
mampu meningkatkan kompetensi praktik sulam pita pada siswa tunagrahita ringan di SLB G Daya
Ananda Yogyakarta. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas. Subyek penelitian adalah siswa
tunagrahita ringan SLB G Daya Ananda Yogyakarta sebanyak 2 siswa. Metode pengumpulan data
menggunakan observasi, wawancara, dan tes unjuk kerja. Teknik analisis data menggunakan analisis
deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) penggunaan media flip chart dapat
membantu subjek lebih konsentrasi pada materi yang diajarkan, mampu dan mau mengutip motif, mampu
menyelesaikan tepat waktu, ukuran motif sesuai desain, motivasi belajar besar, (2) kompetensi praktik
sulam pita siswa mengalami peningkatan nilai rata-rata pada pra siklus sebesar 51,14, meningkat sebesar
sebesar 67,05 pada siklus I , dan pada siklus II meningkat kembali sebesar 75,57, dan (3) hal ini
membuktikan bahwa media flip chart terbukti dapat meningkatkan kompetensi praktik sulam pita pada
siswa tunagrahita ringan di SLB G Daya Ananda Yogyakarta.
Kata Kunci: flip chart, kompetensi praktik sulam pita, siswa tunagrahita ringan
ABSTRACT
This study aims to apply, improve, and prove the media flip chart is able to improve the
competence of ribbon embroidery practice in light tunagrahita students in SLB G Daya Ananda
Yogyakarta. This research is a Classroom Action Research. The subjects of the study were light tunagrah
students of SLB G Daya Ananda Yogyakarta as many as 2 students. Methods of data collection using
observation, interviews, and performance tests. Data analysis technique using quantitative descriptive
analysis. The results showed that (1) the use of flip chart media can help the subject more concentration
on the taught material, able and willing to trace the motif, able to finish on time, the size of the motif
according to the design, the motivation to learn big, (2) the competence of the ribbon embroidery
practice of students has increased the average value on pre-action by 51, 14, in cycle I of 67,05, and in
cycle II of 75,57, and (3) the use of flip chart media proved to improve the competence of ribbon
embroidery practice in light tunagrahita students in SLB G Daya Ananda Yogyakarta.
Pengerjaan [ sunting | sunting sumber ]
Pekerjaan membuat sulaman melalui beberapa tahap yakni membuat pola, memindahkan pola, memasang kain pada pamedangan, membuat sulaman, membuat renda, dan memasang renda. Setiap tahap dikerjakan oleh masing-masing orang karena orang yang ahli membuat sulaman kadang kurang mahir membuat renda. Oleh karena itu, pengerjaan sulam jarang sekali yang dilakukan oleh satu orang saja. Untuk selendang, pengerjaannya bisa melibatkan dua atau tiga orang. [24]
Pola dibuat di atas karton manila atau kertas minyak menggunakan pensil atau pena. Biasanya, karton manila lebih sering digunakan karena karena dapat digunakan berulang-ulang dibandingkan kertas minyak. Ukuran kertas yang digunakan untuk pola yakni mengikuti ukuran kain untuk memudahkan proses pemindahan pola ke dasar kain. Namun, secara umum, pola yang dibuat hanya untuk setengah kain. Jika kain yang akan disulam berukuran 200 x 60 cm, berarti ukuran pola dibuat yakni sepanjang 100 x 60 cm dan yang setengahnya lagi dijiplak dari pola yang sudah jadi. Lamanya proses pembuatan pola bergantung pada kepiawaian perancang pola. [25] [26]
Tags: sulam motif