Mengungkap Kecantikan "Motif Sulam Usus" dalam Kerajinan Tangan dan DIY
Kain Tapis
Wastra cantik ini dikenal dengan nama kain sulam Tapis Lampung. Selain kekayaan berupa sulaman buatan tangan dari benang emas, kain ini juga memiliki ragam hias dan motif yang sangat menarik dan berkarakter.
Tapis atau dikenal juga dengan nama cucuk adalah busana wanita berbentuk kain sarung. Kain ini terbuat dari hasil tenun benang kapas beragam motif seperti alam, flora dan fauna yang disulam dengan benang emas dan perak. Wastra khas Lampung ini sangat lekat dengan bahan-bahan alami yang diolah sendiri oleh para perajin.
Pengolahannya menggunakan sistem ikat, dan membutuhkan banyak bahan baku yang keseluruhannya diolah dari alam. Sebut saja misalnya, benang sulam tapis terbuat dari kapas. Sarang lebah digunakan untuk merenggangkan benang. Sedang sekar serai wangi sebagai pengawet benangnya.
Soal warna pun, kain tapis Lampung juga menggunakan bahan alami. Untuk menjaga warna kain agar tidak luntur, pada awalnya menggunakan daun sirih. Untuk mewarnai kain juga memanfaatkan material alam, misalnya buah pinang muda, daun pacar, dan kulit kayu kejal digunakan sebagai pewarna merah. Kulit kayu salam dan kulit kayu rambutan sebagai pewarna hitam. Kulit kayu mahoni atau kulit kayu durian untu pewarna cokelat. Buah deduku atau daun talom untuk pewarna biru, kunyit dan kapur sirih untuk pewarna kuning.
Kini, seiring berkembangnya jaman bahan baku kain tapis dari alam sudah jarang digunakan lagi. Namun, saat ini ada bahan-bahan lain yang mudah dijumpai di pasaran sebagai pengganti untuk dapat dipakai memproduksi kain tapis dalam jumlah yang lebih banyak.
Harga mencapai Rp35 juta
Siti Rahayu, pengrajin sulam usus di Lampung (IDN Times/Silviana)
Untuk harga satu baju sulam usus \mulai dari Rp1,5 juta hingga paling mahal Rp35 juta. Sedangkan harga kopiah mulai dari Rp150 ribu.
Menurut salah satu karyawan, Eliyanti, pembuatannya memang cukup rumit, ia bahkan sudah 21 tahun menekuni pekerjaan menyulam masih merasa kesulitan saat melakukan jelujur. Yakni proses menjait kain usus pada kerangka design yang melingkar-lingkar di kardus.
Terlebih jika ada gaun yang harus dirombak karena ukuran tidak sesuai itu juga cukup rumit menurutnya.
"Semakin kecil lingkarannya semakin sulit," tuturnya.
Satu gaun dikerjakan 10 orang
Proses jelujur sulam usus (IDN Times/Silviana)
Siti Rahayu, pengrajin sulam usus di Lampung (IDN Times/Silviana)
Rahayu mengatakan, belajar menyulam secara otodidak. Sebagai sebagai orang Lampung ia memang sudah memiliki kebiasaan menyulam tangan.
"Saya awalnya guru SD terus pernah jadi Kabag Kesra di Bandar Lampung. Tapi saya pilih pensiun sebelum selesai karena menekuni sulam usus ini," bebernya.
Awalnya, Rahayu hanya membuat satu atau dua tapis. Namun semakin lama semakin bertambah hingga menekuni sulam usus.
Saat ini produknya sudah cukup banyak, untum sulam usus tak hanya gaun saja melainkan ada kopiah, bad cover, taplak meja dan pernak pernik lainnya.
Baru-baru ini ia bahkan menciptakan tapis Cantik Mulang tiyuh yang sudah dibeli oleh Istri Presiden Indonesia, Iriana.
"Mulang tiyun artinya pulang kampung jadi maknanya, tapis memang cantik, kemudian ramai-ramai pulang kampung dan membangun kampung," ujarnya.
Mengenal Teknik Sulam Khas Lampung, Ada Gambarkan Sejarah Transmigrasi
Hasil teknik sulam usus khas Lampung. (Pemkot Metro).
Bandar Lampung, IDN Times - Kain tapis, kain sulam usus, hingga kain celugam. Yaps, ini adalah aneka kain khas milik Lampung terkenal sebagai salah satu kain tradisional khas Indonesia punya corak menawan.
Kain-kain itu dihasilkan dengan teknik sulaman khusus lho. Setidaknya ada 3 jenis teknis teknik sulam khas Provinsi Lampung mulai dari sulam usus, sulam maduaro, dan sulam jelujur.
Apa saja sih yang dihasilkan dari teknik-teknik sulam khas Provinsi Lampung ini? Bagaimana hasil keindahannya? Simak ya guys.
Berdayakan perempuan di Lampung
IDN Times/Silviana
Selama menekuni bisnisnya Rahayu mengatakan, banyak dibantu karyawannya yang sudah ia latih secara perlahan untuk menyulam.
"Saya kan dari kampung, jadi saya cari perempuan di sana saya ajak buat bikin kerajinan ini. Saya ajari mereka bahkan saya bawa mereka melihat dunia luar," ungkapnya.
Bahkan saat ini Rahayu dipercaya oleh Wali Kota Bandar Lampung, Eva Dwiana untuk mengajari 50 perempuan di setiap kecamatan di Kota Bandar Lampung.
"Ada 20 kecamatan dan ini baru mulai satu kecamatan. Dari pada kalau ngumpul cuma ngomongin orang kan mending belajar buat kerajinan ini," pungkasnya.
Tags: sulam motif usus