Makna dan Kecantikan Motif Sulaman Benang Emas dalam Seni Kerajinan Menjahit
Yuk, Kenali Pakaian Adat Jambi yang Kental Budaya Melayu!
Jambi adalah salah satu provinsi di Indonesia yang mendapat pengaruh budaya Melayu yang sangat kental. Hal ini disebabkan karena mayoritas masyarakat Jambi adalah suku Melayu oleh sebab itu pengaruh budaya ini mengakar dalam keseharian masyarakat Jambi. Budaya Melayu tercermin dari adat istiadat dan pakaian yang dikenakan.
Pakaian adat Jambi yang disebut Baju Kurung Tanggung. Model baju kurung pakaian adat Jambi sama persis dengan baju kurung Melayu lainnya. Hanya saja ukuran lengan baju kurung tanggung milik Jambi tidak menutupi pergelangan tangan. Itulah kenapa pakaian adat Jambi dinamai Baju Kurung Tanggung.
Motif dan Fesyen Corak Sulaman Benang
Seperti mana sulaman riben, corak sulaman benang yang menjadi tarikan untuk individu untuk mempelajarinya ialah rekaan bunga ros. Hal ini berkemungkinan ia dipengaruhi oleh corak rekaan sulaman tangan klasik Eropah juga Inggeris kerana ia dapat dilihat pada trend pakaian kanak-kanak atau dalam hasil rekaan jahit smoking.
Corak Sulaman Benang Menghiasi Kerudung Bawal
Adapun, pada sekitar tahun 2009 dan sehingga hari ini, barulah kita didedahkan dengan fesyen kerudung bawal yang mempunyai corak rekaan sulaman benang . Di sini, kita dapati bahawa rekaan sulam benang lebih kepada rekaan tempatan yang mengguna pakai motif sulur kacang serta awan larat sebagai bingkai dalam hasil rekaan sulaman tangan benang tersebut.
Sulaman Benang Klasik Dengan Rekaan Bunga
Corak flora juga mula diperkenalkan bersama motif bungaan cendawan yang memiliki 5 kelopak serta dijahit secara bertingkat-tingkat bersama warna yang agak kontra untuk menaikkan lagi seri hasil sulaman benang tersebut.
Penulis berharap agar industri kerajinan halus tangan ini akan terus berkembang bersama arus fesyen semasa. Ini kerana motif dan corak sulaman benang ini mampu digayakan dalam apa jua jenis busana, kraf mahupun dekorasi dalaman.
Pengasas Butik Sulaman & Akademi Sri Classic Collection
Jom Belajar Sulaman Benang Bersama Kami!
PERUBAHAN DESAIN MOTIF SULAMAN BENANG EMAS PADA BUSANA PENGANTIN WANITA DI SUNGAYANG KABUPATEN TANAH DATAR
Yuliarma Yuliarma, Universitas Negeri Padang
Yolanda Putri Arvany, Universitas Negeri Padang
10.21831/hej.v7i1.59408
Abstract
Abstrak: Fenomena yang terjadi dalam dunia fashion adalah perubahan ragam hias sulaman benang emas, khususnya pada busana pengantin wanita di Sungayang. Tujuan penelitian adalah untuk mendeskripsikan bentuk motif, pola hias dan tata letak sulaman benang emas pada baju pengantin wanita. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan sumber data primer dan sekunder. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data adalah reduksi data dari narasumber, bahan pustaka, buku, literatur, dan sebagainya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) ditemukan motif kaluak paku,burung hong dan bunga karang pada baju pegantin. 2) ditemukan pola hias pinggiran, pola hias tabur, pola hias mengisi bidang dan pola serak. 3) ditemukan penempatan motif pada bagian leher, bagian bawah baju, bagian dada dan ujung lengan.
Full Text:
References
Arifovna, K. N., & Ilhomovna, I. S. (2019). Characteristics of uzbek embroidery. European Journal of Research and Reflection in Educational Sciences, 2019.
Doble, L., Stan, O., Suteu, M. D., Albu, A., Bohm, G., Tsatsarou-Michalaki, A., & Gialinou, E. (2017, October). Romanian traditional motif-element of modernity in clothing. In IOP Conference Series: Materials Science and Engineering (Vol. 254, No. 17, p. 172009). IOP Publishing.
GÖKSEL, N., & Kutlu, N. (2016). Decorative elements in turkish garment culture from past to future: art of embroidery. Tekstil Ve Mühendis, 23(103), 231-236.
Dangkua, S. (2015). Penciptaan desain ragam hias kreatif khas Gorontalo untuk produk fashion. Penelitian Dana PNBP, 2(1045).
Peralatan dan bahan [ sunting | sunting sumber ]
Teknologi pembuatan sulaman Koto Gadang masih menggunakan teknologi tradisional. [15] Peralatan utama untuk menyulam dikenal dengan nama pamedangan. Ukurannya yakni 200 x 60 cm. Pamedangan terbuat dari kayu pada bagian kerangkanya. Keempat kayu dirangkaikan menjadi empat persegi panjang dengan paku. Tinggi pamedangan yakni sekitar 30 cm mengikuti ukuran standar yang memudahkan bagi penyulam untuk duduk bersimpuh ataupun meluruskan kakinya di bawah pamedangan pada saat menyulam. [16] [17]
Untuk menyulam kain yang berukuran kecil, seperti saputangan, bunga baju, dan sarung bantal maka digunakan alat bernama ram. [18] Ram berbentuk bundar dengan diameter berkisar 20 cm sampai 50 cm. Ram terbuat dari dua buah besi ataupun kayu yang dibentuk melingkar dengan menggunakan alat pengunci. [19]
Peralatan utama dalam menyulam berikutnya yakni kelos. Kelos berfungsi untuk menggulung benang. Kelos terbuat dari batang kulit manis dengan panjang berkisar 15 cm sampai 20 cm. Jumlah kelos bergantung pada banyak warna benang yang akan digunakan. [20]
Adapun alat bantu dalam membuat sulaman yakni karton manila atau kertas minyak untuk membuat pola, kertas karbon untuk memindahkan pola, jarum jahit untuk membuat aneka tusukan pada kain, dan gunting untuk memutus benang. Kesederhaan peralatan membuat proses pembuatan sulaman Koto Gadang menjadi lama dan rumit serta membutuhkan kepiawaian atau keahlian dari penyulam karena semata-mata mengandalkan pekerjaan tangan dan bukan mesin. [16] [21]
Sementara itu, bahan-bahan yang digunakan untuk menyulam yakni kain dan benang. Kain yang digunakan yakni semua jenis kain seperti katun, linen, sutra, atau wol. [16] Ukuran kain yang standar adalah dua meter untuk panjang dan lebar yang bervariasi dari 50 cm hingga 75 cm, tetapi ukuran lebar yang standar adalah 50 cm. [22] Adapun benang sulam dapat berupa benang mauline dan benang katun. [23]
Tags: benang sulam motif