... Patung Tenun Klaten: Kesenian Sulaman Tradisional Indonesia yang Harus Anda Ketahui

Seni dan Keindahan Patung Tenun Klaten dalam Kerajinan Rajut dan Kerajinan DIY

Rahmad : maestro tenun lurik Pedan

Dari album foto yang diperlihatkan kepada saya, tentu Rahmad bukan sembarang orang yang hanya mengaku sebagai seorang pengusaha kain lurik. Ia kembali membuka identitas dirinya. Rahmad mengaku bahwa sebelum memulai bisnis tenun, ia sempat menabung pengalaman sebagai anggota yang mencetak dan mengedarluaskan tulisan dari penulis-penulis terkenal termasuk Buya Hamka (penulis Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck) di Panji Masyarakat.

Lebih dari sepuluh pekerja dengan rata-rata umur di atas lima puluh tahun saya temui. Rahmad tak mengatur jam bekerja di sini. Mereka bekerja secara bebas dengan mengatur jadwal sesuai waktu luang dan keinginan. Salah satu yang saya temui adalah Marsini (60 tahun).

Marsini saat itu sedang menggulung benang-benang yang semrawut di kalengnya. Deretan gigi putih dengan beberapa warna emas melemparkan senyum dan sapaan ramah kepada saya. Ibu dengan empat anak ini berprofesi utama sebagai petani. Belum lama ini, Marsini baru selesai memanen padi-padinya. Sementara menjadi pengrajin lurik di rumah Rahmad adalah pekerjaan sampingan saja.

Sabtu adalah hari yang membahagiakan bagi Marsini dan kawan-kawan. Setiap pekannya, mandor tenun lurik akan membagikan upah sesuai dengan jumlah pekerjaan yang sudah dirampungkan. Beberapa lembar uang lima puluh ribu yang diikat karet diterima Marsini dengan senang.

“Alhamdulillah. Nompo gaji (nerima gaji)”. Ia tak malu harus menunjukkan upah mingguannya kepada saya.

Jam istirahat tepat pada pukul 12.00 WIB. Seluruh pekerja yang tadinya beraktivitas kini bergiliran menunaikan solat zuhur. Dibagikan pula sebungkus jamuan makan siang. Dalam rehat yang sebentar, mereka berbincang akrab sembari melempar canda. Agar suasana semakin akrab, saya pun ikut bercanda bersama Endang (40 tahun). Mereka yang melihat Endang dirayu menyeringai tawa menyaksikan kami berdua.

Klaten Identik dengan Tenun Lurik. Klaten adalah Tenun Lurik

Usia tenun lurik di Indonesia, hampir setua sejarah berdirinya bangsa ini. Dari sejak jaman Majapahit, tenun lurik sudah dikenal masyarakat. Lurik juga muncul pada relief Candi Borobudur. Dimana pada reliefnya tergambar seseorang yang sedang menenun dengan alat tenun gendong. Prasasti Raja Erlangga Jawa Timur tahun 1033 ada juga menyebutkan tentang kain tuluh watu. Sementara tuluh watu itu adalah salah satu motif klasik tenun lurik.

Sekarang ini, Klaten merupakan daerah yang paling perhatian terhadap keberlangsungan hidup tenun lurik. Tak salah jika ada yang menyebut bahwa Kabupaten Klaten itu merupakan ibukota tenun lurik. Pasalnya, tenun ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) lurik menjadi andalan kota ini. Ada banyak sekali desa yang menjadi sentra pengrajin lurik. Bahkan jika kita memasuki atau melewati kota Klaten, maka di pintu masuknya kita akan menemui monumen berupa patung seseorang yang sedang menenun dengan ATBM. Monumen yang dibangun pada tahun 2012 ini, berdiri di Jalan Raya Yogyakarta-Solo, atau tepatnya di perempatan Tegalyoso, Klaten.

Dulu, ketika kain tenun lurik masih berada di jaman keemasannya, hampir semua penduduk di Klaten melakukan pekerjaan menenun. Jumlahnya ribuan. Keberadaan sentra tenun lurik menyebar di beberapa kecamatan antara lain, Pedan, Cawas, Bayat, Juwiring, Karangdawa dan Delanggu yang terkenal dengan beras rojolele-nya. Namun seiring persaingan bisnis kain yang makin ketat, dimana pasar lebih memilih harga murah, maka keberadaan sentra tenun lurik semakin berkurang. Dan dari sedikit yang masih bertahan itu diantaranya adalah Desa Wisata Tenun Tlingsing dan Lurik Prasojo di Pedan.


Tags: tenun

`Lihat Lagi
@ 2024 - Tenun Indonesia