Seni dan Keindahan Patung Tenun Klaten dalam Kerajinan Rajut dan Kerajinan DIY
Makna Filosofis Motif Kain Tenun Lurik
Kata atau istilah lurik berasal dari bahasa Jawa “lorek” atau “rik” atau “lirik-lirik.” Dalam bahasa Jawa kuno lorek berarti lajur atau garis, belang dan dapat pula berarti corak. Dan karena corak kotak-kotal itu terdiri dari garis-garis yang bersilang, maka corak kotak-kotak (cacahan) bisa juga dikategorikan sebagai lurik. Sementara laHal tersebut dikarenakan corak kotak-kotak terdiri dari garis-garis yang bersilang, maka corak kotak-kotak atau cacahan dinamakan pula lurik. Sementara kalau menurut para pakar Kejawen, secara religi “rik” itu berarti garis atau parit dangkal yang membekas yang menyerupai garis yang sulit dihapus.
Sejak zaman dahulu di daerah Jawa banyak dibuat kain tenun lurik yang memiliki aneka ragam corak dengan latar belakang filosofis tinggi. Makanya, di beberapa daerah seperti di Solo atau Yogyakarta, penggunaan kain lurik selalu berbeda-beda, disesuaikan dengan makna dan tujuannya. Motif kain lurik tradisional memiliki makna yang mengandung petuah, cita-cita serta harapan kepada pemakainya. Selain itu lurik juga dianggap memiliki kekuatan yang bersifat mistis. Bahkan sebagaian besar masyarakat pada waktu itu juga meyakini, bahwa jika mereka mengenakan pakaian lurik dengan motif tertentu, maka ia akan merasa lebih tenteram karena merasa terlindungi kesejahteraannya.
Konon motif ini diciptakan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I. Beliau memilih perbandingan kedua satuan kelompok tersebut dengan perbandingan 3:4 daripada 1:6 atau perbandingan 2:5, karena kecuali serasi untuk dipandang mata, juga mengandung makna falsafah.
Perbandingan 3 : 4 tidak terlalu mencolok, tidak jauh bahkan berdekatan, dibanding dengan perbandingan lainnya. Makna yang terkandung adalah bahwa seseorang yang lebih besar (bukan dalam arti harfiah) seperti umpamanya raja atau penguasa, harus dekat dengan rakyatnya serta harus merupakan pemberi kemakmuran dan kesejahteraan serta pengayom pada rakyatnya.
Ke Klaten, Menguak Kisah Kain Tenun Lurik
Klaten (Bahasa Jawa: Klathen) merupakan salah satu kabupaten di Jawa Tengah dan boleh dibilang wilayah yang cukup subur karena letaknya memang dekat dengan Gunung Merapi. Secara geografis kota ini diapit oleh dua kota besar bekas Kerajaan Mataram, yaitu Yogyakarta dan Solo. Mungkin saking besarnya potensi kedua kota yang mengapitnya, tak jarang hal ini membuat Klaten hanya dianggap sebagai pupuk bawang atau menjadi daerah yang kurang diperhitungkan bagi kalangan wisatawan. Tapi apa iya, di kota yang konon berasal dari kata “Kelathi” (buah bibir) ini memang benar-benar gak ada destinasi yang menarik?
Hohoho… jangan salah.
Meskipun terhitung kota kecil, Klaten banyak menyimpan potensi destinasi wisata. Ada wisata sejarah, seperti misalnya: Museum Gula, Candi Sewu, Candi Plaosan, Benteng Loji (Fort Engelenburg) dan sebagainya. Jika menyebut wisata alam, maka nama Umbul Ponggok akan langsung berada di urutan teratas. Nah, kalau yang disebut adalah wisata tenun di Jawa Tengah, sudah pasti Klaten-lah yang muncul sebagai juaranya. Ada beberapa sentra tenun lurik yang dapat kita kunjungi. Dan sebagai pemerhati kain tenun, justru alasan terakhir inilah yang membuat saya bersemangat mengeksplor Klaten.
Rahmad dan Sejarah Tenun Lurik Pedan
Pedan masyhur sebagai kawasan penghasil kain tenun lurik. Sejatinya, di kawasan ini tidak hanya lurik yang hidup di atas pegiatnya. Kawasan ini ibarat kota sejarah yang terlupakan. Berdiri di sana sebuah pabrik gula peninggalan Belanda dengan cerobong asap yang menjulang tinggi. Bau ampas tebu menjadi aroma yang khas kala menyeberangi rel kereta.
Sebagai tengara Kecamatan Pedan, dibangun beberapa patung orang menenun yang akan mengarahkan saya menuju salah satu pabrik tenun yang sudah lama berdiri. Saya tersesat ke tempat lurik pabrikan. Saya pun sempat meniliknya sebentar.
Saya mengintip di antara lubang-lubang kaca yang tak banyak aktivitas manusianya. Namun, saya tak tertarik untuk menyaksikan secara intim cara mesin-mesin mahal ini bekerja.
“Pak, kalau lurik yang bukan mesin di sebelah mana ya? Yang buatnya masih pakai tangan?” tanya saya.
“Oh di sana, Mas. Dekat kelurahan. Ini keluar belok kiri. Nanti ada patung dua kembar”, jawab seorang juru parkir yang tak sempat saya tanya namanya.
Proses Pembuatan Kain Tenun Lurik Klaten
Lurik menjadi salah satu ciri khas dari Kabupaten Klaten, hampir berbagai macam industri mulai dari konveksi, hingga kerajian berupa tenun lurik berada di Klaten. Bila ada melewati Kabupaten Klaten yang terletak diantara Kota Jogja dan Kota Solo ini, akan terdapat patung berupa orang yang sedang menenun lurik, pantaslah Klaten mendapat julukan sebagai Ibukotanya Tenun Lurik. Ingin tahu bagaimanakah cara dan proses untuk pembuatan kain lurik ini. yuks simak ulasannya berikut ini…
Kain lurik dibuat dengan cara menenun helaian-helaian benang menjadi selembar kain. Nah proses pertama ini adalah mencelupkan helaian-helaian benang tersebut pada warna yang diinginkan.
Proses pembuatan kain tenun lurik klaten
5 Kerajinan Khas yang Harus Kamu Beli Saat Liburan ke Klaten
instagram.com/kun_tama11
Terletak di antara kota Solo dan Yogyakarta membuat Klaten memiliki keunikannya tersendiri. Banyaknya orang yang melintasi Klaten untuk bolak-balik Solo-Yogyakarta menjadikan Klaten sebagai salah satu kota dengan berbagai hal menarik.
Tak hanya Umbul Ponggok saja yang melegenda, tapi Klaten punya berbagai makanan khas dan kerajinan yang sebaiknya kamu coba saat sedang liburan ke sini. Inilah lima kerajinan unik yang hanya khas Klaten yang hanya ada di #WonderfulIndonesia.
Tags: tenun