Seni dan Keindahan Patung Tenun Klaten dalam Kerajinan Rajut dan Kerajinan DIY
Sejarah perkembangan lurik di Pedan
Cerita tentang sejarah hadirnya tenun lurik pun ia ceritakan runtun. Bermula pada 1938, tersebutlah seorang pengusaha asal Pedan bernama Suhardi Hadisumarto yang berkesempatan mendulang ilmu menenun di sekolah Textiel Inrichting Bandoeng (TIB). Sepulang dari TIB, Suhardi mengajak keluarganya untuk membangun rumah usaha tenun lurik di Pedan.
Bisnis tenun yang dirintisnya menjadi perusahaan yang terkenal dengan omzet yang luar biasa. Namun nahasnya, pada 1948 terjadi agresi militer oleh Belanda yang menyebabkan bisnis tenun Pedan ikut terkena dampaknya. Pada masa itu, Bung Karno dan Bung Hatta pun sempat ditangkap Belanda. Gejolak Agresi Militer II ini kemudian membuat Suhardi harus menutup bisnis tenunnya dan hidup jauh di pengungsian.
Sementara itu, saat terjadi pengungsian besar-besaran pada 1950, masyarakat yang tergabung dalam BKR (Badan Keamanan Rakyat) melakukan perlawanan terhadap Belanda lewat gencatan senjata. Bukti yang tersisa adalah pabrik gula di Pedan milik SG (Sunan Ground) Solo yang ikut terbakar. Meski pada akhirnya, BKR berhasil melucuti senjata dan mengusir tentara Belanda dari Pedan.
Bisa jadi, Suhardi nelangsa merindukan aktivitas menenunnya. Selama dalam pengungsian, Suhardi menyempatkan diri berbagi pengalaman dan mengajarkan pembuatan tenun lurik untuk masyarakat pengungsi.
Bisnis lurik semakin laris dan dilirik banyak daerah. Dalam misi menyejahterakan masyarakat Pedan, pada 1952 didirikanlah koperasi primer PPT (Pengusaha Perusahaan Tenun). Orde lama pernah bersabda, ‘berdikari berpijak di kaki sendiri, tidak bergantung dari luar’. Benteng-benteng koperasi pun mulai berdiri. Seperti G.K.B.J (Gabungan Koperasi Batik Indonesia) maupun Kopteksi (Koperasi Tekstil Seluruh Indonesia), yang berlandaskan koperasi kerakyatan.
Keberadaan koperasi ini sangat mendukung dalam usaha industri tenun lurik di Pedan. Keperluan seperti bahan dasar tenun yang berupa benang dan pewarna dikoordinir oleh koperasi sehingga pengadaan bahan tenun tidak sembarang tempat dan harga pasar tidak dipermainkan tengkulak. Itulah sebabnya, Bapak Koperasi disematkan atas kebaikan Bung Hatta yang menaruh rasa peduli pada rakyat kecil melalui pendirian koperasi di Indonesia.
Sentra Tenun Prasodjo Pedan
Pedan, kecamatan di Kabupaten Klaten dikenal sebagai pusat kerajinan tenun lurik. Di daerah ini lurik memiliki sejarah yang sangat panjang, serta cerita pasang surut yang mengiringinya. Ada sentra tennun lurik yang masih bisa bertahan, namun banyak pula yang tumbang. Salah satu yang masih bertahan yaitu Sentra Tenun Prasodjo yang didirikan Sumo Hartono sejak tahun 1950. Nama itu kemudia disingkat menjadi SH dan dijadikan logo merek.
Lurik Prasodjo terletak di Kampung Pencil, Kelurahan Bendo, Kecamatan Pedan, Kabupaten Klaten. Saya tiba di lokasi ini sekitar jam 3 sore. Bebarengan dengan bubarnya ratusan karyawan yang bekerja di situ. Agak sulit mendapat tempat parkir, karena mobil-mobil yang parkir banyak sementara tempat parkirnya terbatas. Rupanya banyak juga yang akan membelanjakan uangnya untuk membeli tenun lurik.
Dan benar saja. Begitu saya masuk ke showroom Lurik Prasodjo, di situ memang sudah berjubel para pembeli yang sibuk memilih kain tenun lurik. Ruangan showroom tidak terlalu luas, hanya terdiri dari 2 ruang saja. Di masing-masing ruangan tadi, berserakan kain-kain yang siap dibeli. Beragam motif dan warna yang bisa kita pilih. Selain kain, ada juga sandal lurik, tas lurik, baju ready to wear, bantal, dan sebagainya. Tinggal pilih saja mau beli yang mana. Ada banyak staff yang siap melayani. Mungkin karena banyak pembeli saat itu, saya merasa agak terabaikan. Tanya harga, dibilang gak tau. Tanya motif, dibilang gak tau juga. Ya ampun.
Tags: tenun