Seni dan Kesabaran - Proses Pembuatan Kain Tenun Secara Tradisional
Proses dan Teknik Pembuatan [ sunting | sunting sumber ]
Buah kemiri (Aleurites moluccana) diambil langsung di hutan Tenganan dan pembuat kain gringsing harus menggunakan kemiri yang benar-benar matang, serta jatuh dari pohonnya. Hal ini sesuai dengan awig-awig (aturan adat) yang menyatakan bahwa beberapa jenis pohon tertentu (kemiri, keluak, tehep, dan durian) yang tumbuh di atas tanah milik individu tidak boleh dipetik oleh pemiliknya, melainkan harus dibiarkan matang di pohon dan kemudian jatuh. [6]
Benang akan dipintal menjadi sehelai kain yang memiliki panjang (sisi pakan) dan lebar (sisi lungsi) tertentu. Untuk merapatkan hasil tenunan, benang akan didorong menggunakan tulang kelelawar. Kain yang sudah jadi akan diikat oleh juru ikat mengikuti pola tertentu yang sudah ditentukan. Proses pengikatan menggunakan dua warna tali rafia, yaitu jambon dan hijau muda. Setiap ikatan akan dibuka sesuai proses pencelupan warna untuk menghasilkan motif dan pewarnaan yang sesuai. [2]
Ragam Kain Tenun yang Berasal dari Daerah Indonesia
Kain tenun Indonesia adalah kain yang proses pembuatannya dengan cara menenun benang secara manual menggunakan alat tenun tradisional. Tenun ikat Indonesia memiliki beragam motif, ciri khas, makna, dan cara pembuatan yang bervariasi tergantung dari daerah asalnya.
- Tenun Berasal dari Daerah Mana?
- Jenis Kain Tenun Indonesia
- Teknik Pembuatan Tenun
- Tahap Pembuatan Kain Tenun
- Kegunaan Tenun Secara Adat Tradisional
- Fungsi Kain Tenun di Era Modern
- Desainer Fashion yang Menggunakan Tenun
Indonesia memiliki beragam jenis kain tenun yang terkenal di dunia, seperti batik, ikat, songket, tenun ulos, dan masih banyak lagi. Setiap jenis tenun memiliki ciri khas dan teknik pembuatan yang berbeda-beda, tergantung pada budaya dan kebiasaan masyarakat di daerah pembuatnya.
Weaving is a method of textile production in which two distinct sets of yarns or threads are interlaced at right angles to form a fabric or cloth. Pengertian tenun menurut Wikipedia
7 Tahapan Proses Pembuatan Kain Tenun
Tahapan pertama dalam menghasilkan kain tenun adalah dengan proses menghani. Menghani adalah proses awal menenun. Proses ini adalah proses membuat helaian benang yang kemudian akan dibentuk menjadi lungsi. Pertama, akan dibuat pola ukuran seperti lungsi kemudian benang akan diurai menjadai helaian.
Setiap 10 benang lungsi akan diikat sehingga akan memudahkan untuk menghitung benang lungsi yang akan digunakan. Namun juga banyak kain tenun yang menggunakan perhitungan lainnya selain 10 helai. Lepas helai benang perlahan lahan dan jangan sampi kusut atau bisa juga degan cara menggulung benang dan membentuknya seperti tautan rantai.
Upaya menjaga kelestarian nilai kain tenun ikat Sumba
Salah satu upaya yang dilakukan untuk menjaga kelestarian tenun adat ini dilakukan oleh Yayasan Sekar Kawung. Tujuan utama yayasan ini adalah untuk menguatkan akar budaya tekstil di Desa Lambanapu dan Desa Mauliru di Sumba Timur, merestorasi lingkungan hidup dengan tanaman-tanaman serat dan pewarna alam, serta membangun fondasi ekonomi berkelanjutan di desa-desa itu dengan menjadikan budaya tenun sebagai poros utamanya.
''Mahalnya tenun ikat Sumba selain dinilai dari pemrosesan yang cukup lama, juga terkait soal nilai dan budaya leluhur tenun ikat itu sendiri. Memang, harganya mahal, tapi kain tenun ikat Sumba nyatanya punya pasar tersendiri,'' jelas Chandra Kirana, Ketua Yayasan Sekar Kawung, dalam diskusi online ''Merawat Alam, Merawat Warisan'', Selasa (22/9/2020).
Ia menjelaskan, di Desa Lambanapu terdapat banyak sekali tanaman kapas yang merupakan bahan dasar kain. Masyarakat yang bekerja sebagai penenun, menggunakan kapas yang akan dipintal menjadi benang. Mereka menanam pohon kapas di sekitar halaman rumah, dekat dengan persawahan atau ladang.
Kapas sebagai bahan dasar tenun ikat Sumba | Dok. Yayasan Sekar Kawung
Namun sekarang, Ibu Kirana--sapaan kami kepadanya--menjelaskan bahwa semakin sedikit yang bisa memintal benang dari kapas ini. Mungkin karena proses membuatnya lama dan semakin jarang yang bisa memintal.
''Itu yang kita upayakan agar mereka para wanita muda terus menjaga makna tenun ikat Sumba agar tak lari dari ruhnya. Karena salah satu ruh dari tenun ikat Sumba adalah soal proses pembuatan dan nilai budayanya,'' jelasnya.
Ia juga menyebut bahwa memang ada kendala soal tradisi tenun-menenun ini. Hadirnya kain tenun ikat yang berbahan dasar sintetis yang dijual di beberapa kota di wilayah Sumba, juga nyatanya cukup mendegradasi semangat para wanita-wanita muda Sumba untuk menjaga nilai-nilai leluhur ini.
Namun sekali lagi Ibu Kirana meyakinkan mereka bahwa nilai kain tenun Sumba yang orisinal tak dapat tergantikan oleh apapun, karenanya perlu upaya yang besar untuk menyedarkan masyarakat untuk menjaga warisan budaya tersebut.
Perlunya vokasi dan literasi intens
Ibu Kirana juga mengatakan bahwa untuk menjaga dan melestarikan budaya penenunan kain tenun ikat Sumba dibutuhkan konsistensi yang tak kenal lelah. Lain itu, butuh dilakukan vokasi atau pendampingan bagi para penenun dan artisan terkait manajemen waktu, tenaga, serta proses pemasaran yang tepat.
Dibutuhkan pula lini eksposur yang militan, agar budaya ini terdengar ke seluruh penjuru negeri, bahkan tenar hingga mancanegara.
''Jadi, kita juga mendorong mereka untuk terus berinovasi dengan motif-motif baru yang menarik, namun tetap lekat dengan nilai seni dasar leluhur. Karena kalau motifnya itu-itu saja, konsumen akan bosan," tandasnya.
Soal eksposur, yayasan juga kerap menggelar pameran saban tahunnya untuk memperkenalkan budaya tenun ikat Sumba. Terakhir, pameran itu dilakukan di Museum Bank Mandiri, Jakarta, pada 2019.
Mimpi lain Ibu Kirana adalah, bahwa dari setiap daerah atau wilayah yang memiliki keanekaragaman budaya untuk dibuatkan Museum.
''Mimpi saya membuat museum disetiap wilayah yang memiliki tradisi seni dan budaya. Ya salah satunya di Sumba ini, harus ada itu museumnya di sana,'' harapnya.
Lebih jauh lagi ia berharap agar anak-anak muda atau masyarakat Indonesia pada umumnya, harus lebih menghargai akar dan nilai budaya dari sebuah hasil karya kedaerahan. Memang, banderol kain adat di beberapa provinsi di Indonesia harganya sangat mahal, tapi baginya itu pantas, karena sebenarnya nilai budaya tak bisa dihargai dengan nilai uang berapa pun.
Upaya lain yang dilakukan untuk menjaga marwah tenun ikat Sumba adalah dengan membawa para penenun ke museum-museum yang berada di luar negeri, agar mereka tahu betapa tinggi nilai kain tenun adat mereka itu di mata dunia internasional.
''Beberapa dari mereka kami ajak untuk melihat langsung pameran di museum yang ada di luar negeri. Mereka takjub, bahwa hasil karya mereka begitu dihargai di sana. Nah, kami berharap bahwa efek psikologis itu yang akan membawa mereka untuk terus melestarikan adat dan budaya leluhur mereka,'' bebernya.
Tags: cara tenun luka tradisional