... Panduan Lengkap Membuat Kerajinan Tangan dari Eceng Gondok: Teknik dan Tips DIY untuk Pemula

Pengrajin Eceng Gondok dalam Dunia Kerajinan Tangan dan DIY

Awal Merintis Usaha: Modal Rp4 Juta

"Waktu itu, saya cuman punya modal Rp4 juta, itu pun dikasih pinjaman sama pabrik tempat dulu saya kerja. Dengan modal segitu, ya cuma bisa pasrah aja sama Yang Kuasa," ujarnya saat ditemui Merdeka.com pada Selasa, 1 Desember 2020.

Modal Rp4 juta tersebut, Giyanti gunakan untuk membeli bahan baku dan berbagai alat pembuatan kerajinan enceng gondok. Bahan baku tersebut ia dapatkan dari berbagai daerah, seperti Ambarawa dan Demak. Bersama warga sekitar, yang mayoritas ibu rumah tangga, Giyanti mulai membuat beberapa anyaman enceng gondok.

"Awalnya, saya dikasih contoh oleh pabrik yang ada di Cirebon itu kerajinan enceng gondok, terus nyampe rumah saya bongkar-bongkar, kemudian saya pasang lagi. Kegiatan itu saya lakukan secara berulang sama ibu-ibu sekitar, pokoknya sampai bisa," imbuh perempuan lulusan SMK N 1 Wonosari itu.

Giyanti mengaku, proses memperkenalkan produk tersebut ke pasar memerlukan waktu yang tidak sebentar. Setidaknya butuh waktu lima tahun sebelum akhirnya pada 2007 kerajinan enceng gondok miliknya mulai diminati konsumen atau diterima pasar.

Manfaat Eceng Gondok

Meski dianggap sebagai gulma, eceng gondok memiliki berbagai manfaat untuk lingkungan dan manusia jika jumlahnya terkendali. Untuk lingkungan, ia mampu mengurangi pencemaran air dan dimanfaatkan menjadi pakan ternak, pupuk kompos, dan bioenergi.

Eceng gondok adalah tanaman air yang banyak menyerap timbal untuk kebutuhan nutrisi pertumbuhan. Oleh karena itu, tanaman ini acap kali ditemukan pada sungai yang tingkat pencemarannya tinggi. Tanaman ini juga menjadi indikator suatu sungai tercemar atau tidak. Tanaman ini cukup efektif untuk mengurangi pencemaran air karena ia menyerap banyak fosfor dan dan nitrogen dari air yang tercemar limbah bahan beracun.

Tumbuhan ini memiliki kandungan nutrisi yang tinggi sehingga cocok untuk pakan ternak dan pupuk. Tanaman ini digunakan sebagai pakan ternak karena kandungan mineral dan air yang tinggi. Untuk memperkaya nutrisi, ia dapat dicampur dengan dedak untuk menambah kandungan karbohidrat. Selain pakan ternak, tanaman ini bisa dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Ia memiliki kandungan fosfor, nitrogen, dan kalium yang tinggi. Untuk bisa digunakan sebagai pupuk, eceng gondok harus diolah menjadi kompos terlebih dahulu.

Eceng gondok juga bermanfaat sebagai sumber energi alami. Tanaman ini bisa diolah menjadi bioenergi, bahan bakar yang terbuat dari pengolahan tanaman (biomassa). Hasil olahan bioenergy dari eceng gondok menghasilkan biogas yang dapat dimanfaatkan untuk bahan bakar pada skala rumah tangga. Selain itu juga dapat diubah menjadi biogas karena tanaman ini memiliki kandungan hemiselulosa dan selulosa yang cukup besar yaitu 43% dan 17%. Proses hidrolisis dari dua kandungan tersebut menghasilkan gas metana dan karbon dioksida. Karena pembuatan juga melalui proses fermentasi, kandungan air tinggi yang mencapai 95% dan struktur jaringan yang berongga turut menghasilkan gas.

Tetap Bertahan di Masa Pandemi, Pengrajin Enceng Gondok Raup Ratusan Juta per Bulan

Merdeka.com - Seperti yang sudah diketahui, Pandemi Covid 19 berdampakhampir ke semua sektor, terutama di bidang ekonomi. Tidak sedikit perusahaan harus mengurangi jumlah karyawan, bahkan gulung tikar akibat Pandemi Covid 19. Beberapa daerah di Indonesia juga mengalami dampaknya, tak terkecuali di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta.

Melansir dari ANTARA, pada bulan April lalu, setidaknya terdapat 199 karyawan yang mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan 587 dirumahkan di Kabupaten Gunungkidul. Beberapa perusahaan tidak mampu mempertahankan karyawan karena dari internal juga mengalami pengurangan kegiatan atau bahkan diberhentikan.

Kendati demikian, ada banyak Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Gunungkidul yang berhasil bertahan atau tetap melakukan produksi saat Pandemi. Bahkan, tak jarang para pelaku UMKM justru mengalami peningkatan omzet selama Pandemi. Salah satunya dirasakan oleh Sugiyanti (47), pemilik usaha kerajinan enceng gondok "Ridho Craft" di Padukuhan Ngaglik, Kalurahan Ngeposari, Kapanewon Semanu, Kabupaten Gunungkidul.

Adapun hasil produksi enceng gondok tersebut tak hanya diminati konsumen dalam negeri, tapi juga tembus pasar internasional seperti Eropa dan Australia. Berikut kisah selengkapnya:

Dua Sisi Eceng Gondok Untuk Ekosistem Perairan

Eceng gondok adalah tanaman air asal Brazil yang biasa hidup di perairan air tawar seperti danau, kolam, rawa dan sungai. Tumbuhan ini memiliki nama latin Eichorniacrassipes. Seperti halnya tanaman lain, anatomi tubuhnya terdiri dari akar serabut, batang, daun, buah, dan bunga. Batang eceng gondong panjangnya bisa mencapai lebih dari 50 cm. Daunnya tunggal berwarna hijau dan memiliki permukaan yang licin. Tanaman air yang mengapung ini dapat berkembang biak dengan sangat cepat dan dapat beradaptasi dengan baik pada kondisi lingkungan apapun bahkan yang tercemar limbah kima. Oleh karena itu, ia sering dianggap sebagai gulma. Gulma adalah berbagai jenis tumbuhan yang keberadaannya merugikan dan merusak ekosistem disekitarnya. Meskipun memiliki daya tahan yang kuat, tumbuhan satu ini tidak tahan pada wilayah perairan yang memiliki kadar garam tinggi. Kadar garam tinggi dapat menghambat pertumbuhan tanaman air ini.


Tags: gondok eceng

`Lihat Lagi
@ 2024 - Tenun Indonesia