Seni Tenun Songket - Keindahan dan Kreativitas dalam Kerajinan Jarum dan DIY
Perjalanan Menuju Rumah Nyak Mu
Akmal, pria muda yang menjadi tour guide saya selama berada di Aceh, melambatkan kendaraan saat memasuki desa Siem, lokasi dimana rumah Nyak Mu berada. Di sepanjang perjalanan, tampak deretan rumah kayu sederhana dan pohon-pohon tinggi yang tumbuh subur dengan dedaunan hijau yang menyegarkan mata. Satu pemandangan eksklusif yang jarang saya nikmati selama tinggal di kawasan industri.
Menyertai mobil yang saya tumpangi berjalan melambat di atas jalur aspal yang mulai berlubang disana-sini, saya tekun mengamati betapa bersahajanya kehidupan masyarakat beberapa kampung dan desa yang sedang saya lihat saat itu.
Pencarian terus berjalan. Google maps tidak membantu banyak karena jaringan internet yang kurang stabil. Jadi dengan bermodalkan keyakinan bahwa kami sudah memasuki desa Siem, Akmal mengajak saya untuk ikut melihat tanda-tanda atau signage yang kemungkinan bisa membantu pencarian.
Dugaan ini benar. Kami melihat sebuah spanduk kecil yang menuliskan jenama Nyak Mu. Spanduk ini terikat baik di salah satu pagar kayu yang feasible dari jalanan. Saya meyakinkan diri sendiri bahwa untuk jenama sekelas Nyak Mu yang sering menjadi perhatian pemerintah dan banyak organisasi petunjuk arah seperti ini bakal sangat membantu. Apalagi rumah sang legenda tidak berada persis di pinggir jalan. Semoga petunjuk jalan ini nantinya bisa diganti dengan materi yang lebih permanen dan kuat seperti besi atau kayu.
Akmal berbelok mengikuti petunjuk arah tersebut. Tak lama, beberapa menit kemudian, sebuah rumah panggung yang terbuat dari kayu dan dominan bercat merah terlihat dari kejauhan. Sebuah pemandangan yang membuat Akmal tersenyum lebar. Rumah yang sama persis seperti yang kami lihat di beberapa jaringan media sosial.
“Nah, itu Bu rumah Nyak Mu. Kita sudah di tempat yang tepat,” ujarnya dengan nada puas dan suka cita. Saya? Tentu saja sama senang dan semangatnya.
Jenis – Jenis Kain Songket
1. Songket Lepus
Songket lepus adalah kain songket yang benang emasnya hamopir menutupi seluruh bagian kain. Kata lepus berarti menutupi. Songket lepus mempunyai beberapa motif yaitu motif lepus bintang, lepus berantai, lepus ulir, dll.
2. Songket Tawur
Pada Songket Tawur memiliki motif yang tidak menutupi seluruh permukaan kain tetapi berkelompok dan menyebar.
3. Songket Tretes
Songket Tretes motifnya biasanya terdapat pada kedua ujung pangkal kain dan pinggir-pinggir kain dan bagian tengah dibiarkan polos.
4. Songket Bungo Pacik
Songket Bungo Pacik mempunyai motif yang terbuat dari benang kapas putih sehingga benang emasnya tidak terlihat banyak dan hanya sebagai selingan saja.
5. Songket Limar
Songket Limar ditenun dengan corak ikat pakan. Motifnya berasal dari benang pakan yang diikat dan dicelup pewarna.
6. Songket Kombinasi
Songket kombinasi adalah perpaduan dari jenis songket lainnya.
Bagian Penting Dari Sejarah
Obrolan kami bertiga tak terasa sudah berlangsung berjam-jam lamanya. Seperti di banyak kesempatan berbicara dengan para legenda atau pembawa estafet tongkat kejayaan dari sang legenda, saya melibatkan diri pada banyak jejak yang harus dikumpulkan menjadi satu di sebuah keranjang ilmu. Dari keranjang inilah, catatan tersebut saya baca satu persatu kembali untuk kemudian saya susun menjadi sebuah atau rangkaian berkas yang berharga.
Kunjungan pertama saya ke Rumah Tenun Kelompok Bengong Jeumpa ini menjadi awal yang begitu mengesankan buat saya pribadi. Bertemu Kak Dahlia, Kak Dekya, dan beberapa orang penenun yang berkomitmen untuk terus menghasilkan tenun Songket Aceh yang cantik dan berkualitas mengisyaratkan betapa semangat untuk terus berkarya itu masih mendominasi kehidupan mereka.
Kak Dahlia sendiri, yang sudah berada di masa lansia, belum memiliki penerus yang serius untuk mengambil alih tugas dan tanggung jawab yang dibebankan kepadanya. Kecuali Kak Dekya, sang ipar, yang berjalan bersisian dengan Kak Dahlia, mereka masih mencari anak keturunan langsung Nyak Mu yang suatu saat berkenan mengemban tugas menjadi pembuat dan pelestari kain Tenun Songket Aceh yang sekarang mereka geluti.
“Anak-anak sekarang sudah jarang yang mau menenun Bu. Mencari penerus inilah yang jadi tugas saya hingga saat ini.” Begitu kalimat yang terdengar serius keluar dari mulut Kak Dahlia. Saya tak menampik kenyataan ini.
Saya membayangkan betapa berat beban yang sekarang dipikul Kak Dahlia. Tanggung jawabnya untuk melanjutkan dan “menulis jejak” di buku sejarah tentang kain Tenun Songket Aceh bukanlah perkara gampang. Nyak Mu sebagai nama dan jenama yang sudah dikenal seantero Aceh sebagai pelopor dan guru besar dari sekian banyak penenun di provinsi ini, tentunya harus tetap lestari.
Saya sendiri tak pun mampu menenun. Menyaksikan proses pembuatan yang begitu rinci dengan timbangan kesabaran yang tak terkira saja sudah membuat saya jeri. Apalagi duduk berjam-jam dan bekerja di atas alat tenun kaki tangan (ATKT) seperti yang dilakukan oleh para ibu tersebut.
Tentang Tenun Songket Aceh
Usai memotret dan berbincang akrab di dalam rumah khusus untuk menenun tersebut, Kak Dahlia mengajak saya ngobrol di sebuah bale-bale kayu yang luas dan berada persis di bawah rumah panggung.
Kak Dekya, adik ipar Kak Dahlia ikut bergabung. Kak Dekya ini ternyata juga adalah penenun dan punya studio tenun sendiri. Usianya jauh lebih muda dari Kak Dahlia. Dengan kemampuannya dalam berkomunikasi dan bersosialisasi akhirnya menempatkan Kak Dekya sebagai salah seorang wakil dari Tenun Songket Nyak Mu untuk berhubungan dengan pihak ketiga. Spoke person lah istilah kerennya. Termasuk diantaranya dengan Dekranasda Aceh, Bank Indonesia, awak media, dan banyak pihak yang ingin lebih mengenal Tenun Songket Nyakmu. Termasuk kedatangan saya tentunya.
Lewat diskusi dan cerita Kak Dahlia dan Kak Dekya inilah, cerita lengkap tentang Tenun Songket Nyak Mu saya dapatkan.
Kami memulai percakapan panjang dari kebanggaan Kak Dahlia akan Nyak Mu, sang ibu. Bagaimana sejak kecil dia melihat betapa besar perjuangan ibunya dalam membuat dan mengembangkan kain tenun asli Aceh. Saat itu, meskipun belum mengerti benar, Kak Dahlia sering melihat ibunya mengolah benang yang terbuat dari pilinan kapas yang kemudian diberikan pewarna alami dari tumbu-tumbuhan, dedaunan, kulit batang kayu, lumpur, dan beberapa materi alam lainnya.
Patron yang dibuat ibunya didominasi oleh motif bunga, hewan, alam, lingkungan sekitar dan kaligrafi Arab. Ini didapatkan dari sebuah warisan kain sutera pusaka dari Nyak Naim. Tarikan motifnya lurus-lurus, vertikal maupun horizontal. Semua dikerjakan sendiri dengan alat yang sangat sederhana. Patron inilah yang menjadi konsep dasar dari berbagai motif yang dikembangkan oleh Nyak Mu.
Waktu itu kain yang dihasilkan hanya untuk digunakan sebagai kebutuhan sandang pribadi dan keluarga. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, banyak pihak yang akhirnya tertarik dengan karya Nyak Mu. Jadilah kain-kain tersebut mulai dipasarkan, meski masih dalam kalangan terbatas.
Tags: tenun