... Tarian Tenun Songket: Seni Tenun Tradisional Indonesia yang Menginspirasi dalam Dunia Kerajinan dan DIY

Seni Tenun Songket - Keindahan dan Kreativitas dalam Kerajinan Jarum dan DIY

Nyak Mu. Legenda Tenun Songket Aceh

Nama Maryamun yang kemudian dikenal dengan panggilan Nyak Mu ini lekat dengan eksistensi kekayaan salah satu wastra nusantara yang melegenda. Kata Nyak yang berarti Ibu adalah satu panggilan dalam bahasa Aceh untuk menghormati seseorang yang dihormati atau mengharumkan negeri ini dalam berbagai bidang.

Ratusan karya atau motif yang tercipta tersebut kemudian mendorong beliau menularkan ilmu atau mengajarkan kemampuannya menenun kepada siapapun yang berkenan untuk berlatih. Dari aktivitas inilah Nyak Mu melahirkan banyak penenun baru yang kemudian meneruskan kepiawaiannya dalam merancang motif dan mengerjakan kain khas Aceh ini.

Nyak Mu sendiri menerima warisan 25 motif tradisional dalam selembar kain sutera yang sudah berusia ratusan tahun dari ibunya, Nyak Naim. Seorang perempuan hebat yang sudah menginspirasi Nyak Mu untuk meneruskan usaha melestarikan Tenun Songket Aceh sekaligus menjaga tradisi tenun Aceh itu sendiri.

Nyak Mu kemudian membantu mengembangkan kelompok tenun Songket Aceh di berbagai sisi dan daerah di Nanggroe Aceh Darussalam lewat banyak pelatihan yang diselenggarakannya. Semua catatan bersejarah inilah yang kemudian menjadikan Nyak Mu layak untuk mendapatkan piala/penghargaan Kalpataru dari Soeharto (mantan presiden Republik Indonesia ke-2) pada 28 Desember 1991.

Tinggal di Desa Siem, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar, di sebuah tanah seluas sekitar 500m2, Nyak Mu mendirikan Rumah Tenun Kelompok Bungong Jeumpa. Tempat yang membuatnya terus aktif berkarya hingga akhir hayat dan mewariskan seluruh peninggalannya yang membanggakan tersebut kepada Dahlia, anak ketiga, satu-satunya ada perempuan dari lima anak yang dilahirkan Nyak Mu.

Dilihat dari bahan, proses pembuatan, dan harga, songket dahulu adalah kain mewah bagi para bangsawan yang menunjukkan kemuliaan dan martabat pemakainya. Namun sekarang, songket tidak lagi hanya dimaksudkan untuk kelompok masyarakat kaya saja, karena adanya variasi harga yang mencakup yang terjangkau dan murah hingga yang eksklusif dan mahal.

Penggunaan benang emas sintetis juga membuat harga songket tidak lagi sangat mahal seperti dahulu yang menggunakan emas asli. Meskipun begitu, songket berkualitas terbaik masih dihargai sebagai bentuk seni yang indah dan harganya tetap cukup mahal.

Sejak dahulu hingga sekarang, songket tetap menjadi pilihan populer untuk busana adat pernikahan masyarakat Melayu, Palembang, Minangkabau, Aceh, dan Bali. Kain ini seringkali diberikan oleh pengantin laki-laki kepada pengantin wanita sebagai bagian dari hantaran pernikahan.

Saat ini, busana resmi laki-laki Melayu juga sering menggunakan songket sebagai kain yang dililitkan di atas celana panjang atau menjadi destar, tanjak, atau ikat kepala. Sementara itu, bagi perempuan, songket biasa dililitkan sebagai kain sarung yang dikombinasikan dengan kebaya atau baju kurung.

Pembuatan songket merupakan kerajinan tangan yang banyak ditemukan di beberapa pulau di Indonesia, seperti Sumatra, Kalimantan, Bali, Sulawesi, Lombok, dan Sumbawa.

Daerah-daerah terkenal untuk kerajinan songket antara lain Songket Minangkabau di Pandai Sikek dan Silungkang di Sumatra Barat, Songket Palembang di Palembang di Sumatera Selatan, desa Sidemen dan Gelgel di Klungkung, Bali, desa Sukarara di kecamatan Jonggat, Lombok Tengah, dan luar negeri seperti Malaysia dan Brunei.

Mengenal Kain Songket – Sejarah, Persebaran serta Cara Pembuatan Kain Songket Yang Memiliki Efek Kemilau Cemerlang

Mengenal Kain Songket – Kata songket berasal dari istilah sungkit dalam bahasa Melayu dan bahasa Indonesia, yang berarti “mengait” atau “mencungkil.“ Hal ini berkaitan dengan metode pembuatannya, mengaitkan dan mengambil sejumput kain tenun, dan kemudian menyelipkan benang emas.

Kain Songket adalah kain tenun mewah yang biasanya dikenakan saat kenduri, perayaan atau pesta. Songket dapat dikenakan melilit tubuh seperti sarung, disampirkan di bahu, atau sebagai destar atau tanjak. Hiasan ikat kepala tanjak adalah semacam topi hiasan kepala yang terbuat dari kain songket yang lazim dipakai oleh sultan dan pangeran serta bangsawan Melayu.

Songket merupakan kain istimewa karena tidak dikenakan sehari-hari. Songket dinilai terlalu mewah jika digunakan sejari-hari. Oleh karena itu songket juga lebih sering digunakan untuk upacara-upacara adat.

Songket tidak bisa digunakan secara sembarangan, karena dalam setiap warna serta ragam hias dimiliki masing-masing memiliki makna yang melambangkan si pemakainya. Misalnya songket yang dikenakan untuk acara perkawinan berbeda dengan songket yang dikenakan untuk acara adat lainnya.

Kain Songket Nusantara


Tags: tenun

`Lihat Lagi
@ 2024 - Tenun Indonesia