... Tarian Tenun Songket: Seni Tenun Tradisional Indonesia yang Menginspirasi dalam Dunia Kerajinan dan DIY

Seni Tenun Songket - Keindahan dan Kreativitas dalam Kerajinan Jarum dan DIY

Bagian Penting Dari Sejarah

Obrolan kami bertiga tak terasa sudah berlangsung berjam-jam lamanya. Seperti di banyak kesempatan berbicara dengan para legenda atau pembawa estafet tongkat kejayaan dari sang legenda, saya melibatkan diri pada banyak jejak yang harus dikumpulkan menjadi satu di sebuah keranjang ilmu. Dari keranjang inilah, catatan tersebut saya baca satu persatu kembali untuk kemudian saya susun menjadi sebuah atau rangkaian berkas yang berharga.

Kunjungan pertama saya ke Rumah Tenun Kelompok Bengong Jeumpa ini menjadi awal yang begitu mengesankan buat saya pribadi. Bertemu Kak Dahlia, Kak Dekya, dan beberapa orang penenun yang berkomitmen untuk terus menghasilkan tenun Songket Aceh yang cantik dan berkualitas mengisyaratkan betapa semangat untuk terus berkarya itu masih mendominasi kehidupan mereka.

Kak Dahlia sendiri, yang sudah berada di masa lansia, belum memiliki penerus yang serius untuk mengambil alih tugas dan tanggung jawab yang dibebankan kepadanya. Kecuali Kak Dekya, sang ipar, yang berjalan bersisian dengan Kak Dahlia, mereka masih mencari anak keturunan langsung Nyak Mu yang suatu saat berkenan mengemban tugas menjadi pembuat dan pelestari kain Tenun Songket Aceh yang sekarang mereka geluti.

“Anak-anak sekarang sudah jarang yang mau menenun Bu. Mencari penerus inilah yang jadi tugas saya hingga saat ini.” Begitu kalimat yang terdengar serius keluar dari mulut Kak Dahlia. Saya tak menampik kenyataan ini.

Saya membayangkan betapa berat beban yang sekarang dipikul Kak Dahlia. Tanggung jawabnya untuk melanjutkan dan “menulis jejak” di buku sejarah tentang kain Tenun Songket Aceh bukanlah perkara gampang. Nyak Mu sebagai nama dan jenama yang sudah dikenal seantero Aceh sebagai pelopor dan guru besar dari sekian banyak penenun di provinsi ini, tentunya harus tetap lestari.

Saya sendiri tak pun mampu menenun. Menyaksikan proses pembuatan yang begitu rinci dengan timbangan kesabaran yang tak terkira saja sudah membuat saya jeri. Apalagi duduk berjam-jam dan bekerja di atas alat tenun kaki tangan (ATKT) seperti yang dilakukan oleh para ibu tersebut.

Sejarah Tari Tenun

Pementasan Tari Tenun. Foto: flickr.com

Pada zaman dulu, masyarakat Bali, terutama kaum perempuan masih aktif mengerjakan kerajinan tenun.

Akan tetapi, di beberapa daerah seperti Karangasem, Klungkung, dan Sidamen, masih banyak pengrajin tenun yang aktif bekerja sampai saat ini.

Para pengrajin tenun umumnya didominasi oleh kaum perempuan.

Lalu Gerakan yang mereka lakukan saat menenun memang sangat menarik untuk disaksikan. Hal inilah yang menginspirasi tercipatnya tari tenun.

Dari Tari Tenun pula, tergambar bahwa Bali merupakan daerah provinsi yang memiliki kebudayaan yang berorientasi pada masyarakat.

Dilihat dari bahan, proses pembuatan, dan harga, songket dahulu adalah kain mewah bagi para bangsawan yang menunjukkan kemuliaan dan martabat pemakainya. Namun sekarang, songket tidak lagi hanya dimaksudkan untuk kelompok masyarakat kaya saja, karena adanya variasi harga yang mencakup yang terjangkau dan murah hingga yang eksklusif dan mahal.

Penggunaan benang emas sintetis juga membuat harga songket tidak lagi sangat mahal seperti dahulu yang menggunakan emas asli. Meskipun begitu, songket berkualitas terbaik masih dihargai sebagai bentuk seni yang indah dan harganya tetap cukup mahal.

Sejak dahulu hingga sekarang, songket tetap menjadi pilihan populer untuk busana adat pernikahan masyarakat Melayu, Palembang, Minangkabau, Aceh, dan Bali. Kain ini seringkali diberikan oleh pengantin laki-laki kepada pengantin wanita sebagai bagian dari hantaran pernikahan.

Saat ini, busana resmi laki-laki Melayu juga sering menggunakan songket sebagai kain yang dililitkan di atas celana panjang atau menjadi destar, tanjak, atau ikat kepala. Sementara itu, bagi perempuan, songket biasa dililitkan sebagai kain sarung yang dikombinasikan dengan kebaya atau baju kurung.

Pembuatan songket merupakan kerajinan tangan yang banyak ditemukan di beberapa pulau di Indonesia, seperti Sumatra, Kalimantan, Bali, Sulawesi, Lombok, dan Sumbawa.

Daerah-daerah terkenal untuk kerajinan songket antara lain Songket Minangkabau di Pandai Sikek dan Silungkang di Sumatra Barat, Songket Palembang di Palembang di Sumatera Selatan, desa Sidemen dan Gelgel di Klungkung, Bali, desa Sukarara di kecamatan Jonggat, Lombok Tengah, dan luar negeri seperti Malaysia dan Brunei.

Tentang Tenun Songket Aceh

Usai memotret dan berbincang akrab di dalam rumah khusus untuk menenun tersebut, Kak Dahlia mengajak saya ngobrol di sebuah bale-bale kayu yang luas dan berada persis di bawah rumah panggung.

Kak Dekya, adik ipar Kak Dahlia ikut bergabung. Kak Dekya ini ternyata juga adalah penenun dan punya studio tenun sendiri. Usianya jauh lebih muda dari Kak Dahlia. Dengan kemampuannya dalam berkomunikasi dan bersosialisasi akhirnya menempatkan Kak Dekya sebagai salah seorang wakil dari Tenun Songket Nyak Mu untuk berhubungan dengan pihak ketiga. Spoke person lah istilah kerennya. Termasuk diantaranya dengan Dekranasda Aceh, Bank Indonesia, awak media, dan banyak pihak yang ingin lebih mengenal Tenun Songket Nyakmu. Termasuk kedatangan saya tentunya.

Lewat diskusi dan cerita Kak Dahlia dan Kak Dekya inilah, cerita lengkap tentang Tenun Songket Nyak Mu saya dapatkan.

Kami memulai percakapan panjang dari kebanggaan Kak Dahlia akan Nyak Mu, sang ibu. Bagaimana sejak kecil dia melihat betapa besar perjuangan ibunya dalam membuat dan mengembangkan kain tenun asli Aceh. Saat itu, meskipun belum mengerti benar, Kak Dahlia sering melihat ibunya mengolah benang yang terbuat dari pilinan kapas yang kemudian diberikan pewarna alami dari tumbu-tumbuhan, dedaunan, kulit batang kayu, lumpur, dan beberapa materi alam lainnya.

Patron yang dibuat ibunya didominasi oleh motif bunga, hewan, alam, lingkungan sekitar dan kaligrafi Arab. Ini didapatkan dari sebuah warisan kain sutera pusaka dari Nyak Naim. Tarikan motifnya lurus-lurus, vertikal maupun horizontal. Semua dikerjakan sendiri dengan alat yang sangat sederhana. Patron inilah yang menjadi konsep dasar dari berbagai motif yang dikembangkan oleh Nyak Mu.

Waktu itu kain yang dihasilkan hanya untuk digunakan sebagai kebutuhan sandang pribadi dan keluarga. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, banyak pihak yang akhirnya tertarik dengan karya Nyak Mu. Jadilah kain-kain tersebut mulai dipasarkan, meski masih dalam kalangan terbatas.

Sejarah Kain Songket

Secara historis, penenunan kain Songket dikaitkan dengan wilayah dan budaya Palembang dan Minangkabau yang berasal dari pulau Sumatera. Menurut Hikayat Palembang, asal mula Songket bermula dari kemahkotaan Sriwijaya. Bahan utama dari pembuatan kain songket biasanya adalah seperti sutra dan umumnya diproduksi oleh petani ulat sutra lokal.

Namun, untuk menghasilkan kualitas Songket yang lebih baik, masyarakat lokal juga mengekspor bahan sutra dari Tiongkok. Sementara itu, benang emas biasanya diproduksi oleh masyarakat setempat dengan memproses emas yang diambil dari beberapa daerah di pulau Sumatra.

Songket ditempa pada mesin tenun bingkai dan pola-pola rumit dibuat dengan menambahkan benang emas atau perak dengan menggunakan jarum.

Kain songket berasal dari Palembang dan menyebar ke wilayah yang dikuasai Sriwijaya, seperti Sumatra, Kepulauan Riau, Kalimantan, Semenanjung Malaya, Thailand, Kamboja, dan sebagian Jawa. Ada dua versi cerita tentang asal muasal teknik menenun kain songket.

Menurut tradisi Kelantan, teknik ini berasal dari Chaiya, Thailand, yang merupakan bagian dari Sriwijaya, dan berkembang ke selatan hingga sampai ke Kelantan dan Terengganu pada abad ke-16.

Namun, menurut penenun Terengganu, teknik menenun ini pertama kali dikenalkan oleh pedagang Minangkabau, Palembang, dan India yang berlayar dari Palembang sejak zaman kejayaan Sriwijaya.

Menurut tradisi Indonesia, kain songket yang berlapis-lapis emas sering dikaitkan dengan kejayaan Sriwijaya, sebuah kerajaan perdagangan maritim yang makmur dan kaya yang berdiri pada abad 7 hingga 14 di Sumatra.

Hingga saat ini, tradisi songket tetap terjaga dan terpelihara dengan baik di Palembang, yang dikenal sebagai pusat produksi kain songket terkenal di Indonesia. Songket adalah kain mewah yang aslinya membutuhkan benang emas asli yang ditenun tangan menjadi kain yang indah.

Secara sejarah, tambang emas di Sumatera terdapat di Sumatra Selatan dan bagian dalam dataran tinggi Minangkabau. Ditemukannya benang emas di situs bekas Sriwijaya di Sumatra, bersama dengan batu merah delima yang belum dipoles, dan potongan lempeng emas, menunjukkan bahwa tenun lokal sudah menggunakan benang emas sejak abad ke-6 hingga ke-7 Masehi di Sumatra.


Tags: tenun

`Lihat Lagi
@ 2024 - Tenun Indonesia