Seni Tenun Klaten - Warisan Budaya dan Kreativitas DIY
Pembuatan lurik ATBM
Saya menemukan sesuatu yang mengagumkan ketika tenun lurik hanya dipandang sebagai pakaian saja. Lantas, dihadirkan secara cuma-cuma pertunjukan pembuatan tenun lurik di bengkel tenun pinggir jalan raya.
Masing-masing pekerja tenun mendapati tugas yang berbeda-beda. Ada yang menggulung benang, ada yang mewarnai, dan ada pula yang menenun. Seperti sebuah orkestra. Meja kerja mereka membunyikan irama.
Proses panjang masih menanti. Tak semudah mengenakan lurik yang sudah jadi. Prosesnya terhitung rumit dan memakan waktu yang cukup lama. Dalam satu ruangan khusus, saya dipandu Yuri –cucu Rahmad– untuk menghitung proses pembuatan tenun lurik khas Pedan.
Yuri membuka bincang dengan melengkapi cerita tahapan pembuatan tenun lurik dengan istilah yang cukup rumit untuk dituliskan. Menurut penjelasannya, lurik adalah kain dengan motif garis-garis minimal dua warna dan maksimal lima warna.
Dari segi identitas sosial, dapat dilihat bahwa corak tenun menunjukkan pada identitas tertentu. Seperti seragam sekolah, seragam wiyogo, seragam pegawai, dan lainnya. Uniknya, pemesan tenun tak datang dari masyarakat Klaten saja, namun juga luar Jawa. Para pengusaha tenun di Bali contohnya. Mereka ikut memesan tenun lurik di tempat Rahmad.
Dengan menggunakan ATBM, Rahmad mengaku di sanalah letak keunggulannya. Meski tak sehalus kain pabrikan, motif kain yang digarap menggunakan ATBM memiliki tekstur yang khas dan kerumitan yang tak bisa digarap menggunakan mesin pabrikan.
Klaten Identik dengan Tenun Lurik. Klaten adalah Tenun Lurik
Usia tenun lurik di Indonesia, hampir setua sejarah berdirinya bangsa ini. Dari sejak jaman Majapahit, tenun lurik sudah dikenal masyarakat. Lurik juga muncul pada relief Candi Borobudur. Dimana pada reliefnya tergambar seseorang yang sedang menenun dengan alat tenun gendong. Prasasti Raja Erlangga Jawa Timur tahun 1033 ada juga menyebutkan tentang kain tuluh watu. Sementara tuluh watu itu adalah salah satu motif klasik tenun lurik.
Sekarang ini, Klaten merupakan daerah yang paling perhatian terhadap keberlangsungan hidup tenun lurik. Tak salah jika ada yang menyebut bahwa Kabupaten Klaten itu merupakan ibukota tenun lurik. Pasalnya, tenun ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) lurik menjadi andalan kota ini. Ada banyak sekali desa yang menjadi sentra pengrajin lurik. Bahkan jika kita memasuki atau melewati kota Klaten, maka di pintu masuknya kita akan menemui monumen berupa patung seseorang yang sedang menenun dengan ATBM. Monumen yang dibangun pada tahun 2012 ini, berdiri di Jalan Raya Yogyakarta-Solo, atau tepatnya di perempatan Tegalyoso, Klaten.
Dulu, ketika kain tenun lurik masih berada di jaman keemasannya, hampir semua penduduk di Klaten melakukan pekerjaan menenun. Jumlahnya ribuan. Keberadaan sentra tenun lurik menyebar di beberapa kecamatan antara lain, Pedan, Cawas, Bayat, Juwiring, Karangdawa dan Delanggu yang terkenal dengan beras rojolele-nya. Namun seiring persaingan bisnis kain yang makin ketat, dimana pasar lebih memilih harga murah, maka keberadaan sentra tenun lurik semakin berkurang. Dan dari sedikit yang masih bertahan itu diantaranya adalah Desa Wisata Tenun Tlingsing dan Lurik Prasojo di Pedan.
Rahmad dan Sejarah Tenun Lurik Pedan
Pedan masyhur sebagai kawasan penghasil kain tenun lurik. Sejatinya, di kawasan ini tidak hanya lurik yang hidup di atas pegiatnya. Kawasan ini ibarat kota sejarah yang terlupakan. Berdiri di sana sebuah pabrik gula peninggalan Belanda dengan cerobong asap yang menjulang tinggi. Bau ampas tebu menjadi aroma yang khas kala menyeberangi rel kereta.
Sebagai tengara Kecamatan Pedan, dibangun beberapa patung orang menenun yang akan mengarahkan saya menuju salah satu pabrik tenun yang sudah lama berdiri. Saya tersesat ke tempat lurik pabrikan. Saya pun sempat meniliknya sebentar.
Saya mengintip di antara lubang-lubang kaca yang tak banyak aktivitas manusianya. Namun, saya tak tertarik untuk menyaksikan secara intim cara mesin-mesin mahal ini bekerja.
“Pak, kalau lurik yang bukan mesin di sebelah mana ya? Yang buatnya masih pakai tangan?” tanya saya.
“Oh di sana, Mas. Dekat kelurahan. Ini keluar belok kiri. Nanti ada patung dua kembar”, jawab seorang juru parkir yang tak sempat saya tanya namanya.
Makna Filosofis Motif Kain Tenun Lurik
Kata atau istilah lurik berasal dari bahasa Jawa “lorek” atau “rik” atau “lirik-lirik.” Dalam bahasa Jawa kuno lorek berarti lajur atau garis, belang dan dapat pula berarti corak. Dan karena corak kotak-kotal itu terdiri dari garis-garis yang bersilang, maka corak kotak-kotak (cacahan) bisa juga dikategorikan sebagai lurik. Sementara laHal tersebut dikarenakan corak kotak-kotak terdiri dari garis-garis yang bersilang, maka corak kotak-kotak atau cacahan dinamakan pula lurik. Sementara kalau menurut para pakar Kejawen, secara religi “rik” itu berarti garis atau parit dangkal yang membekas yang menyerupai garis yang sulit dihapus.
Sejak zaman dahulu di daerah Jawa banyak dibuat kain tenun lurik yang memiliki aneka ragam corak dengan latar belakang filosofis tinggi. Makanya, di beberapa daerah seperti di Solo atau Yogyakarta, penggunaan kain lurik selalu berbeda-beda, disesuaikan dengan makna dan tujuannya. Motif kain lurik tradisional memiliki makna yang mengandung petuah, cita-cita serta harapan kepada pemakainya. Selain itu lurik juga dianggap memiliki kekuatan yang bersifat mistis. Bahkan sebagaian besar masyarakat pada waktu itu juga meyakini, bahwa jika mereka mengenakan pakaian lurik dengan motif tertentu, maka ia akan merasa lebih tenteram karena merasa terlindungi kesejahteraannya.
Konon motif ini diciptakan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I. Beliau memilih perbandingan kedua satuan kelompok tersebut dengan perbandingan 3:4 daripada 1:6 atau perbandingan 2:5, karena kecuali serasi untuk dipandang mata, juga mengandung makna falsafah.
Perbandingan 3 : 4 tidak terlalu mencolok, tidak jauh bahkan berdekatan, dibanding dengan perbandingan lainnya. Makna yang terkandung adalah bahwa seseorang yang lebih besar (bukan dalam arti harfiah) seperti umpamanya raja atau penguasa, harus dekat dengan rakyatnya serta harus merupakan pemberi kemakmuran dan kesejahteraan serta pengayom pada rakyatnya.
Tags: tenun