... 5 Fakta Menarik tentang Tugu Tenun Klaten: Panduan DIY dan Inspirasi Kerajinan Tangan

Seni Tenun Klaten - Warisan Budaya dan Kreativitas DIY

Makna Filosofis Motif Kain Tenun Lurik

Kata atau istilah lurik berasal dari bahasa Jawa “lorek” atau “rik” atau “lirik-lirik.” Dalam bahasa Jawa kuno lorek berarti lajur atau garis, belang dan dapat pula berarti corak. Dan karena corak kotak-kotal itu terdiri dari garis-garis yang bersilang, maka corak kotak-kotak (cacahan) bisa juga dikategorikan sebagai lurik. Sementara laHal tersebut dikarenakan corak kotak-kotak terdiri dari garis-garis yang bersilang, maka corak kotak-kotak atau cacahan dinamakan pula lurik. Sementara kalau menurut para pakar Kejawen, secara religi “rik” itu berarti garis atau parit dangkal yang membekas yang menyerupai garis yang sulit dihapus.

Sejak zaman dahulu di daerah Jawa banyak dibuat kain tenun lurik yang memiliki aneka ragam corak dengan latar belakang filosofis tinggi. Makanya, di beberapa daerah seperti di Solo atau Yogyakarta, penggunaan kain lurik selalu berbeda-beda, disesuaikan dengan makna dan tujuannya. Motif kain lurik tradisional memiliki makna yang mengandung petuah, cita-cita serta harapan kepada pemakainya. Selain itu lurik juga dianggap memiliki kekuatan yang bersifat mistis. Bahkan sebagaian besar masyarakat pada waktu itu juga meyakini, bahwa jika mereka mengenakan pakaian lurik dengan motif tertentu, maka ia akan merasa lebih tenteram karena merasa terlindungi kesejahteraannya.

Konon motif ini diciptakan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I. Beliau memilih perbandingan kedua satuan kelompok tersebut dengan perbandingan 3:4 daripada 1:6 atau perbandingan 2:5, karena kecuali serasi untuk dipandang mata, juga mengandung makna falsafah.

Perbandingan 3 : 4 tidak terlalu mencolok, tidak jauh bahkan berdekatan, dibanding dengan perbandingan lainnya. Makna yang terkandung adalah bahwa seseorang yang lebih besar (bukan dalam arti harfiah) seperti umpamanya raja atau penguasa, harus dekat dengan rakyatnya serta harus merupakan pemberi kemakmuran dan kesejahteraan serta pengayom pada rakyatnya.

Daya Tarik Alun-Alun Klaten

1. Tempat Nyantuy Yang Asyik

Alun-Alun sering dijadikan lokasi untuk bersantai, karena tempatnya yang berada di tengah kota membuatnya dapat dijangkau dari mana saja.

Pepohonan rindang di sekitar Alun-Alun Klaten membuat adem dan nggak begitu panas jika berkunjung di siang hari. Biasanya tempat wisata gratis di Klaten yang satu ini ramainya di pagi dan malam hari.

Untuk kamu yang sedang mencari tempat wisata malam di Klaten, Alun-Alun Klaten dapat menjadi salah satu rujukannya. Bisa juga dijadikan lokasi untuk hunting kuliner, atau hanya sekedar menikmati suasana malam di Kota Seribu Candi.

2. Wahana Bermain Anak

Di Alun-Alun Klaten juga terdapat wahana bermain anak-anak yang bisa pengunjung gunakan secara gratis, jadi pengunjung bisa menikmati kebersamaan bersama keluarga dengan keuangan yang ramah di kantong.

Selain tempat bersantai dan bermain bersama keluarga tercinta, Alun-Alun Klaten ternyata juga bisa digunakan sebagai lokasi untuk berolahraga. Baik itu lari hingga bermain basket.

3. Spot Foto Yang Instagrammable

Wajah baru Alun-Alun Klaten terletak pada beberapa spot foto instagramable yang diletakkan di beberapa titik, yang menjadi incaran pengunjung ialah berfoto bersama air mancur dan landmark dari Alun-Alun Klaten itu sendiri.

Suasana di malam hari jelas akan sangat berbeda, dimana Alun-Alun Klaten akan dihiasi oleh beberapa lampu taman.

Artikel lainnya
  • Hutan Kota Gergunung Klaten, Ruang Terbuka Hijau Yang Cocok Untuk Ngadem
  • Rowo Jombor Klaten, Wisata Keluarga Tempat Rekreasi Sambil Menikmati Pesona Alam
  • Taman Lampion, Wisata Klaten Yang Asri Di Pagi Hari dan Cantik Di Malam Hari
  • Bukit Sidoguro, Wisata Terbaru Klaten Yang Recommended
  • Wahana Soko Alas, Mahakarya Cantik Di Desa Ponggok Klaten
  • Umbul Nilo Klaten, Terbaru Lengkap Dengan Area Waterboom

Rahmad dan Sejarah Tenun Lurik Pedan

Pedan masyhur sebagai kawasan penghasil kain tenun lurik. Sejatinya, di kawasan ini tidak hanya lurik yang hidup di atas pegiatnya. Kawasan ini ibarat kota sejarah yang terlupakan. Berdiri di sana sebuah pabrik gula peninggalan Belanda dengan cerobong asap yang menjulang tinggi. Bau ampas tebu menjadi aroma yang khas kala menyeberangi rel kereta.

Sebagai tengara Kecamatan Pedan, dibangun beberapa patung orang menenun yang akan mengarahkan saya menuju salah satu pabrik tenun yang sudah lama berdiri. Saya tersesat ke tempat lurik pabrikan. Saya pun sempat meniliknya sebentar.

Saya mengintip di antara lubang-lubang kaca yang tak banyak aktivitas manusianya. Namun, saya tak tertarik untuk menyaksikan secara intim cara mesin-mesin mahal ini bekerja.

“Pak, kalau lurik yang bukan mesin di sebelah mana ya? Yang buatnya masih pakai tangan?” tanya saya.

“Oh di sana, Mas. Dekat kelurahan. Ini keluar belok kiri. Nanti ada patung dua kembar”, jawab seorang juru parkir yang tak sempat saya tanya namanya.

Pembuatan lurik ATBM

Saya menemukan sesuatu yang mengagumkan ketika tenun lurik hanya dipandang sebagai pakaian saja. Lantas, dihadirkan secara cuma-cuma pertunjukan pembuatan tenun lurik di bengkel tenun pinggir jalan raya.

Masing-masing pekerja tenun mendapati tugas yang berbeda-beda. Ada yang menggulung benang, ada yang mewarnai, dan ada pula yang menenun. Seperti sebuah orkestra. Meja kerja mereka membunyikan irama.

Proses panjang masih menanti. Tak semudah mengenakan lurik yang sudah jadi. Prosesnya terhitung rumit dan memakan waktu yang cukup lama. Dalam satu ruangan khusus, saya dipandu Yuri –cucu Rahmad– untuk menghitung proses pembuatan tenun lurik khas Pedan.

Yuri membuka bincang dengan melengkapi cerita tahapan pembuatan tenun lurik dengan istilah yang cukup rumit untuk dituliskan. Menurut penjelasannya, lurik adalah kain dengan motif garis-garis minimal dua warna dan maksimal lima warna.

Dari segi identitas sosial, dapat dilihat bahwa corak tenun menunjukkan pada identitas tertentu. Seperti seragam sekolah, seragam wiyogo, seragam pegawai, dan lainnya. Uniknya, pemesan tenun tak datang dari masyarakat Klaten saja, namun juga luar Jawa. Para pengusaha tenun di Bali contohnya. Mereka ikut memesan tenun lurik di tempat Rahmad.

Dengan menggunakan ATBM, Rahmad mengaku di sanalah letak keunggulannya. Meski tak sehalus kain pabrikan, motif kain yang digarap menggunakan ATBM memiliki tekstur yang khas dan kerumitan yang tak bisa digarap menggunakan mesin pabrikan.


Tags: tenun

`Lihat Lagi
@ 2024 - Tenun Indonesia