... 5 Fakta Menarik tentang Tugu Tenun Klaten: Panduan DIY dan Inspirasi Kerajinan Tangan

Seni Tenun Klaten - Warisan Budaya dan Kreativitas DIY

Rahmad : maestro tenun lurik Pedan

Dari album foto yang diperlihatkan kepada saya, tentu Rahmad bukan sembarang orang yang hanya mengaku sebagai seorang pengusaha kain lurik. Ia kembali membuka identitas dirinya. Rahmad mengaku bahwa sebelum memulai bisnis tenun, ia sempat menabung pengalaman sebagai anggota yang mencetak dan mengedarluaskan tulisan dari penulis-penulis terkenal termasuk Buya Hamka (penulis Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck) di Panji Masyarakat.

Lebih dari sepuluh pekerja dengan rata-rata umur di atas lima puluh tahun saya temui. Rahmad tak mengatur jam bekerja di sini. Mereka bekerja secara bebas dengan mengatur jadwal sesuai waktu luang dan keinginan. Salah satu yang saya temui adalah Marsini (60 tahun).

Marsini saat itu sedang menggulung benang-benang yang semrawut di kalengnya. Deretan gigi putih dengan beberapa warna emas melemparkan senyum dan sapaan ramah kepada saya. Ibu dengan empat anak ini berprofesi utama sebagai petani. Belum lama ini, Marsini baru selesai memanen padi-padinya. Sementara menjadi pengrajin lurik di rumah Rahmad adalah pekerjaan sampingan saja.

Sabtu adalah hari yang membahagiakan bagi Marsini dan kawan-kawan. Setiap pekannya, mandor tenun lurik akan membagikan upah sesuai dengan jumlah pekerjaan yang sudah dirampungkan. Beberapa lembar uang lima puluh ribu yang diikat karet diterima Marsini dengan senang.

“Alhamdulillah. Nompo gaji (nerima gaji)”. Ia tak malu harus menunjukkan upah mingguannya kepada saya.

Jam istirahat tepat pada pukul 12.00 WIB. Seluruh pekerja yang tadinya beraktivitas kini bergiliran menunaikan solat zuhur. Dibagikan pula sebungkus jamuan makan siang. Dalam rehat yang sebentar, mereka berbincang akrab sembari melempar canda. Agar suasana semakin akrab, saya pun ikut bercanda bersama Endang (40 tahun). Mereka yang melihat Endang dirayu menyeringai tawa menyaksikan kami berdua.

Rahmad dan Sejarah Tenun Lurik Pedan

Pedan masyhur sebagai kawasan penghasil kain tenun lurik. Sejatinya, di kawasan ini tidak hanya lurik yang hidup di atas pegiatnya. Kawasan ini ibarat kota sejarah yang terlupakan. Berdiri di sana sebuah pabrik gula peninggalan Belanda dengan cerobong asap yang menjulang tinggi. Bau ampas tebu menjadi aroma yang khas kala menyeberangi rel kereta.

Sebagai tengara Kecamatan Pedan, dibangun beberapa patung orang menenun yang akan mengarahkan saya menuju salah satu pabrik tenun yang sudah lama berdiri. Saya tersesat ke tempat lurik pabrikan. Saya pun sempat meniliknya sebentar.

Saya mengintip di antara lubang-lubang kaca yang tak banyak aktivitas manusianya. Namun, saya tak tertarik untuk menyaksikan secara intim cara mesin-mesin mahal ini bekerja.

“Pak, kalau lurik yang bukan mesin di sebelah mana ya? Yang buatnya masih pakai tangan?” tanya saya.

“Oh di sana, Mas. Dekat kelurahan. Ini keluar belok kiri. Nanti ada patung dua kembar”, jawab seorang juru parkir yang tak sempat saya tanya namanya.


Tags: tenun

`Lihat Lagi
@ 2024 - Tenun Indonesia