"Keunikan Motif Ukiran Kayu Cirebon - Benangan yang Memukau"
Ragam Hias Nusantara motif Majapahit
Ragam hias majapahit berbentuk bulatan dan krawingan (cekung) dan terdiri dari ujung ukel dan daun – daun waru maupun pakis. Dalam raga mini patran dau diwujudkan krawing (cekung).
Bentuk ragam hias majapahit untuk ragam pokok berbentuk seperti tanda tanya. Ragam-ragam ini terdapat pada bekas-bekas potongan batu yang hanya sedikit dan pada potongan kayu yang sudah rusak. Ragam majapahit diketemukan oleh Ir. H. Maclaine Pont, seorang pejabat pada Museum Trowulan dan juga dapat dilihat pada tiang pendopo Masjid Demak.
Menurut sejarah tiang tersebut merupakan benda peninggalan kerajaan Majapahit yang dibawa oleh Raden Patah.
- campuran cekung dan cembung
- angkup
- jambul
- trubusan
- benangan
- simbar
- dan pecahan.
Bentuk Ornamen Nusantara dan Makna Ornamen Nusantara
1. Gunungan
Gunungan adalah simbol seluruh jagat raya, yang pusatnya adalah simbol keagungan dan keesaan.
Orang jawa sekali memasang motif gunungan dirumah sebagai harapan akan adanya ketentraman dan perlindungan dalam rumah.
Ornamen nusantara, gunungan bisa juga diartikan gerbang atau pintu surga, karena biasanya gambar dalam gunungan ada gerbang besar yang bisa diartikan awal dan akhir.
2. Wajikan
Wajikan berasal dari kata wajik yaitu sejenis makanan yang berasal dari ketan yang dicampur dengan gula kelapa.
3. Lung-Lungan
Kata “lung” memiliki makna batang tumbuhan yang masih muda. simbol ini berupa tangkai, buah, bunga dan daun.
Jenis tumbuhan yang sering digunakan ialah tumbuhan teratai, melati, kliwuh, beringin buah keben dan lain-lain.
Simbol ini dipercaya melambangkan kesuburan sebagai sumber penghidupan di muka bumi.
4. Patran
Patran seperti bentuk daun yang disusun berderet-deret, biasanya patran diletakan pada bangunan yang sempit dan panjang.
5. Banyu Tetes
Salah satu ornamen ini bisa di tempatkan bersamaan dengan patran. Ornamen nusantara ini menggambarkan tetesan air hujan dari pinggiran atap yang berkilau memantulkan cahaya matahari.
Ragam Hias Nusantara motif Surakarta
Motif ragam hias Surakarta mengambil gubahan patrari dan ukel pakis yang sedang menjalar dengan bebas berbentuk cembung dan cekung, yang dilengkapi dengan buah dan bunga. Hasil seni merupakan pembawaan dan watak penciptaan pengaruh alam sekitarnya.
Pada umumnya penduduk Surakarta gemar akan gerak irama yang bebas namun tetap memenuhi syarat komposisi. Seolah-olah ada keseragaman hidup masyarakat Surakarta dengan aliran Bengawan Solo. Ragam hias ini masih banyak terdapat disekitar Kraton Solo, di Museum Radya Pustaka dan di tebeng Langse Makam Pujangga Ronggo Warsito di desa Plalar Klaten, diambil juga gubahan daun bakung dan kangkung.
Pokok motifnya adalah mirip motif campuran antara ragam hias Jepara dan Pekalongan yang berbentuk cembung dan cekung serta runcing dan bulat, mempunyai angkup, benangan
Ragam Hias Nusantara motif Yogyakarta
Motif ragam hias Yogyakarta mengambil gubahan sulur-sulur yang berbentuk pilin tegar. Sulur bunga sebetulnya akar gantung, melilit menyerupai tali yang bergelombang. Pada jarak-jarak ada tertentu dari buku-buku dari sinilah selalu tumbuh keluar tangkai daun, yang berbentuk seperti pilin.
Pilin-pilin ini mengikal kekanan dan kekiri berganti-ganti. Pada ujung tiap-tiap tangkai daun, ada buah dan bunganya. Daun-daun yang menempel pada tangkainya, mengikal berlawanan arah. Penjelasan ini diberikan oleh Dr. Brandes.
Ragam hias tersebut banyak digunakan pada hiasan-hiasan aluminium, perak, emas dari barang-barang kerajinan yang dihasilkan oleh penduduk Yogyakarta, misalnya: alat-alat seperti sendok, asbak, kerangka/sarung keris, gong, bejana, cerana, dll.
Pokok motif ini diambil dari gubahan sulur yang berbentuk pilin yang tegar, bertangkai bulat, mempunyai daun yang mengikal berlawanan, mempunyai pecahan dan angkup.
Tags: benang yang kayu motif ukiran berbentuk cirebon