... 10 Daerah Sentra Kerajinan Tangan Eceng Gondok yang Harus Dikunjungi untuk DIY Anda

Seni Merajut dan Kerajinan DIY - Eksplorasi Sentra Kerajinan Tangan Eceng Gondok

Habitat Eceng Gondok

Eceng gondok biasa tumbuh di kolam dangkal, rawa, lahan basah, aliran air yang lambat, danau, penampungan air dan sungai yang arus airnya relatif tenang. Tumbuhan air ini dapat berkembangbiak dengan sangat cepat sehingga sering dianggap sebagai gulma yang bisa merusak tatanan lingkungan perairan.

Eceng gondok adalah tumbuhan yang sangat kuat dan mampu beradaptasi di hampir semua lingkungan. Tumbuhan ini mampu beradaptasi dengan perubahan kondisi air yang ekstrem. Mulai dari ketinggian air, kecepatan arus air, jumlah nutrisi di air, pH dan temperatur. Bahkan enceng gondok juga dapat bertahan dari berbagai jenis racun serta zat kimia berbahaya yang terkandung dalam air (pencemaran air).

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, pertumbuhan eceng gondok sangatlah cepat. Menurut penelitian FAO, hal ini terjadi karena habitatnya yang berada di lingkungan berair. Biasanya air mengandung nutrien yang tinggi, seperti nitrogen, fosfat dan potasium.

Meskipun begitu, bukan berarti enceng gondok tidak memiliki kelemahan. Ada beberapa faktor yang dapat menghambat pertumbuhan eceng gondok. Contohnya seperti kandungan garam di dalam air yang akanmenghambat pertumbuhan enceng gondok.

Kondisi tersebut terjadi di perairan di pantai Afrika Barat. Di sana eceng gondok akan bertambah pesat selama musim hujan. Namun memasuki musim kemarau, enceng gondok akan berkurang secara drastis ketika kandungan garam atau salinitas air meningkat.

Eceng Gondok: Ancaman atau Peluang?

Pembina Industri di BBSPJPPI Kementerian Perindustrian. Kandidat Doktor Ilmu Lingkungan, Sekolah Pasca Sarjana Universitas Diponegoro. Auditor Halal LPH BBSPJPPI Semarang. Pelatih dan Pendamping Penulisan Artikel Ilmiah.

Tulisan dari Rame tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hamparan "permadani hijau" ini bukan hanya mengubah pemandangan sungai, tetapi juga mengancam keberlangsungan ekosistem yang ada (Liputan6.com, 1 November 2023).

Banyak yang berpendapat bahwa keberadaan eceng gondok di sungai ini akan membawa dampak negatif bagi lingkungan (Suara.com, 31 Oktober 2023). Namun, di sisi lain, ada pula yang melihat ini sebagai sebuah peluang.

Jembatan modern berdiri gagah di atas Bengawan Solo, sementara eceng gondok menghiasi permukaan airnya, menciptakan kontras antara kemajuan teknologi dan kekuatan alam. Foto: Muhammad Mada/ANTARA FOTO (kumparanNEWS, 31 Oktober 2023).

Namun, apakah hanya pembersihan yang bisa dilakukan? Ataukah ada langkah lain yang bisa diambil untuk memanfaatkan eceng gondok sebagai sumber daya yang berpotensi bagi keberlanjutan lingkungan?

Dengan mengkaji lebih dalam mengenai eceng gondok, kita mungkin bisa menemukan jawaban atas pertanyaan tersebut. Tanaman ini bisa jadi bukan hanya ancaman, tetapi juga peluang yang dapat dimanfaatkan dengan bijak.

Sebagai masyarakat, kita dituntut untuk selalu berpikir kritis dan inovatif dalam menghadapi setiap permasalahan lingkungan. Sehingga, kita bisa bersama-sama menciptakan solusi yang berkelanjutan untuk masa depan yang lebih hijau dan lestari.

Berawal dari Bahan Mentah

“Di sini malah yang belum ada perajinnya. Nah, ini makanya kita bergerak untuk ayo kita di sini juga bisa bikin jadi daerah perajin. Angan-angan nantinya ingin jadi sentra kerajinan, itu kita mulai dan kita terus berproses dan berprogress,” ucap Firman.

Merek Bengok Craft bermakna sederhana, namun erat dengan ciri khas produk yang mereka jual. Firman menuturkan, bengok merupakan penyebutan nama lokal enceng gondok di daerah mereka.

“Sedangkan craft itu nama global. Kita sedari awal pengin bawa produk lokal ini ke ranah global,” tambahnya.

Ketika menjual eceng gondok basah ke para penjemur, biasanya bahan mentah itu terjual Rp500,00 per kilo.

“Dijemur selama 2-3 minggu sampai kering itu dijual per kilonya Rp5000,00. Apabila satu kilo ini dibikin kerajinan, itu bisa menghasilkan berkali-kali lipat,” jelas Firman.

Misalnya, perajin membuat topi, topi membutuhkan eceng gondok sekitar satu kilogram. “Jadi, ada peningkatan harga di situ. Bahkan 10 kali lipat lebih dengan kita berkreasi,” ucap Firman.

Firman menuturkan, bengok merupakan penyebutan nama lokal enceng gondok di Desa Kesongo, Jawa Tengah. Foto: Bengok Craft.


Tags: kerajinan dari yang tangan adalah gondok eceng

`Lihat Lagi
@ 2024 - Tenun Indonesia