... 10 Daerah Sentra Kerajinan Tangan Eceng Gondok yang Harus Dikunjungi untuk DIY Anda

Seni Merajut dan Kerajinan DIY - Eksplorasi Sentra Kerajinan Tangan Eceng Gondok

Ciri dan Morfologi

Bentuk eceng gondok cukup mudah dikenali. Selain ciri utamanya yang hidup mengapung di permukaan air, tumbuhan ini juga memiliki akar serabut seperti rambut untuk menyerap nutrisi.

Tinggi tanaman mulai 40 hingga 80 centimeter dan tidak memiliki batang sejati. Bentuk daunnya tunggal, berbentuk oval, permukaannya licin dan berwarna hijau. Pada bagian ujung serta pangkal daun cenderung meruncing dengan pangkal tangkai daun lumayan menggelembung.

Jenis bunga enceng gondok termasuk bunga majemuk, berbentuk bulir dan kelopaknya berbentuk tabung. Bijinya berwarna hitam dan berbentuk bulat. Ketika berbuah, buahnya berbentuk kotak, memiliki tiga ruang dan berwarna hijau.

baca juga: Sirsak - Taksonomi, Morfologi, Habitat, Sebaran, Budidaya & Manfaat Buah

Eceng Gondok: Ancaman atau Peluang?

Pembina Industri di BBSPJPPI Kementerian Perindustrian. Kandidat Doktor Ilmu Lingkungan, Sekolah Pasca Sarjana Universitas Diponegoro. Auditor Halal LPH BBSPJPPI Semarang. Pelatih dan Pendamping Penulisan Artikel Ilmiah.

Tulisan dari Rame tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hamparan "permadani hijau" ini bukan hanya mengubah pemandangan sungai, tetapi juga mengancam keberlangsungan ekosistem yang ada (Liputan6.com, 1 November 2023).

Banyak yang berpendapat bahwa keberadaan eceng gondok di sungai ini akan membawa dampak negatif bagi lingkungan (Suara.com, 31 Oktober 2023). Namun, di sisi lain, ada pula yang melihat ini sebagai sebuah peluang.

Jembatan modern berdiri gagah di atas Bengawan Solo, sementara eceng gondok menghiasi permukaan airnya, menciptakan kontras antara kemajuan teknologi dan kekuatan alam. Foto: Muhammad Mada/ANTARA FOTO (kumparanNEWS, 31 Oktober 2023).

Namun, apakah hanya pembersihan yang bisa dilakukan? Ataukah ada langkah lain yang bisa diambil untuk memanfaatkan eceng gondok sebagai sumber daya yang berpotensi bagi keberlanjutan lingkungan?

Dengan mengkaji lebih dalam mengenai eceng gondok, kita mungkin bisa menemukan jawaban atas pertanyaan tersebut. Tanaman ini bisa jadi bukan hanya ancaman, tetapi juga peluang yang dapat dimanfaatkan dengan bijak.

Sebagai masyarakat, kita dituntut untuk selalu berpikir kritis dan inovatif dalam menghadapi setiap permasalahan lingkungan. Sehingga, kita bisa bersama-sama menciptakan solusi yang berkelanjutan untuk masa depan yang lebih hijau dan lestari.

Bengok Craft: Gebrakan Upcycle Eceng Gondok dari Desa Kesongo

Bengok Craft merupakan satu lagi karya putra Tanah Air yang tidak hanya menghadirkan solusi untuk masalah lingkungan, namun juga memberdayakan masyarakat. Simak kisah mereka berikut ini.

Menyadari ini, Firman Setyaji membentuk usaha kerakyatan yang berbasis pemberdayaan masyarakat untuk mengolah eceng gondok jadi kerajinan, dengan produk bernama Bengok Craft. Bengok craft melibatkan seluruh lapisan warga, mulai dari ibu-ibu sampai pemuda-pemudi Desa Kesongo, Jawa Tengah.

“Kita mulai memanfaatkan gulma. Hal yang tidak berguna itu diolah menjadi hal yang lebih bermanfaat,” kata Firman kepada Greeners (17/2/2021).

Firman Setyaji membentuk usaha kerakyatan yang berbasis pemberdayaan masyarakat untuk mengolah eceng gondok jadi kerajinan, dengan produk bernama Bengok Craft. Foto: Bengok Craft.

Berawal dari Bahan Mentah

“Di sini malah yang belum ada perajinnya. Nah, ini makanya kita bergerak untuk ayo kita di sini juga bisa bikin jadi daerah perajin. Angan-angan nantinya ingin jadi sentra kerajinan, itu kita mulai dan kita terus berproses dan berprogress,” ucap Firman.

Merek Bengok Craft bermakna sederhana, namun erat dengan ciri khas produk yang mereka jual. Firman menuturkan, bengok merupakan penyebutan nama lokal enceng gondok di daerah mereka.

“Sedangkan craft itu nama global. Kita sedari awal pengin bawa produk lokal ini ke ranah global,” tambahnya.

Ketika menjual eceng gondok basah ke para penjemur, biasanya bahan mentah itu terjual Rp500,00 per kilo.

“Dijemur selama 2-3 minggu sampai kering itu dijual per kilonya Rp5000,00. Apabila satu kilo ini dibikin kerajinan, itu bisa menghasilkan berkali-kali lipat,” jelas Firman.

Misalnya, perajin membuat topi, topi membutuhkan eceng gondok sekitar satu kilogram. “Jadi, ada peningkatan harga di situ. Bahkan 10 kali lipat lebih dengan kita berkreasi,” ucap Firman.

Firman menuturkan, bengok merupakan penyebutan nama lokal enceng gondok di Desa Kesongo, Jawa Tengah. Foto: Bengok Craft.


Tags: kerajinan dari yang tangan adalah gondok eceng

`Lihat Lagi
@ 2024 - Tenun Indonesia