Seni Merajut dan Kerajinan DIY - Eksplorasi Sentra Kerajinan Tangan Eceng Gondok
Berawal dari Bahan Mentah
“Di sini malah yang belum ada perajinnya. Nah, ini makanya kita bergerak untuk ayo kita di sini juga bisa bikin jadi daerah perajin. Angan-angan nantinya ingin jadi sentra kerajinan, itu kita mulai dan kita terus berproses dan berprogress,” ucap Firman.
Merek Bengok Craft bermakna sederhana, namun erat dengan ciri khas produk yang mereka jual. Firman menuturkan, bengok merupakan penyebutan nama lokal enceng gondok di daerah mereka.
“Sedangkan craft itu nama global. Kita sedari awal pengin bawa produk lokal ini ke ranah global,” tambahnya.
Ketika menjual eceng gondok basah ke para penjemur, biasanya bahan mentah itu terjual Rp500,00 per kilo.
“Dijemur selama 2-3 minggu sampai kering itu dijual per kilonya Rp5000,00. Apabila satu kilo ini dibikin kerajinan, itu bisa menghasilkan berkali-kali lipat,” jelas Firman.
Misalnya, perajin membuat topi, topi membutuhkan eceng gondok sekitar satu kilogram. “Jadi, ada peningkatan harga di situ. Bahkan 10 kali lipat lebih dengan kita berkreasi,” ucap Firman.
Firman menuturkan, bengok merupakan penyebutan nama lokal enceng gondok di Desa Kesongo, Jawa Tengah. Foto: Bengok Craft.
Ancaman atau Peluang Eceng gondok
Seorang warga menjemur batang tanaman eceng gondok (eichhornia crassipes) yang dikumpulkan dari Danau Rawa Pening, Jawa Tengah. Foto: Aji Styawan/Antara Foto
Isu penyebaran tanaman invasif, khususnya eceng gondok, menjadi perdebatan hangat di kalangan para pakar lingkungan. Tanaman air ini, meskipun dianggap sebagai hama oleh sebagian pihak, ternyata memiliki potensi yang belum sepenuhnya dimanfaatkan dalam konteks keberlanjutan lingkungan.
Eceng gondok, yang tumbuh subur di perairan tawar tropis, seringkali dianggap sebagai ancaman bagi ekosistem asli karena kemampuannya menutupi permukaan air, menghambat pertumbuhan tanaman air lainnya, serta mempengaruhi kualitas air. Namun, di sisi lain, tanaman ini menawarkan serangkaian peluang yang dapat dimanfaatkan untuk keberlanjutan lingkungan.
Organisasi lingkungan terkemuka, GreenEarth, mencatat bahwa eceng gondok bisa digunakan sebagai bahan baku bioetanol, pakan ternak, kompos, hingga produk kerajinan tangan. Dengan memanfaatkan eceng gondok sebagai sumber daya, bukan hanya mencegah penyebarannya tetapi juga memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Pengalaman dari negara-negara tetangga, seperti Filipina dan Thailand, menunjukkan bahwa dengan dukungan pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat, eceng gondok dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai ekonomi. Misalnya, di Filipina, eceng gondok diolah menjadi tas dan aksesori yang diekspor ke berbagai negara.
Sebagai langkah awal, pemerintah bisa berkolaborasi dengan perguruan tinggi dan peneliti untuk melakukan riset mendalam mengenai potensi dan dampak ekonomi dari pemanfaatan eceng gondok. Selanjutnya, kebijakan yang mendukung industri berbasis eceng gondok perlu disusun agar peluang ini bisa dimaksimalkan.
Tantangan terbesar dalam mengembangkan industri berbasis eceng gondok adalah bagaimana mengubah paradigma masyarakat yang selama ini melihat tanaman ini hanya sebagai hama. Edukasi publik, melalui kampanye dan pelatihan, dapat menjadi solusi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan potensi besar yang dimiliki oleh eceng gondok.
18. Ranjang Tempat Tidur
Jika memiliki interior rumah yang dilengkapi kolam renang, cobalah memilih pembatas tempat ganti pakaian yang terbuat dari eceng gondok. Dengan menggunakan pembatas seperti ini, nuansa sekitar kolam renang akan terlihat alami. Apalagi jika dilengkapi dengan tanaman hijau dan bebatuan di sekitar tanaman, pasti akan semakin cantik.
Pembatas seperti ini juga bisa digunakan untuk sekat tempat ibadah. Agar ibadah di dalam rumah lebih khusyuk dan tertutup bisa menambahkan pembatas ini di dekat tempat ibadah. Selain itu, warna nya yang netral pasti tidak akan mengganggu tampilan interior rumah.
Habitat Eceng Gondok
Eceng gondok biasa tumbuh di kolam dangkal, rawa, lahan basah, aliran air yang lambat, danau, penampungan air dan sungai yang arus airnya relatif tenang. Tumbuhan air ini dapat berkembangbiak dengan sangat cepat sehingga sering dianggap sebagai gulma yang bisa merusak tatanan lingkungan perairan.
Eceng gondok adalah tumbuhan yang sangat kuat dan mampu beradaptasi di hampir semua lingkungan. Tumbuhan ini mampu beradaptasi dengan perubahan kondisi air yang ekstrem. Mulai dari ketinggian air, kecepatan arus air, jumlah nutrisi di air, pH dan temperatur. Bahkan enceng gondok juga dapat bertahan dari berbagai jenis racun serta zat kimia berbahaya yang terkandung dalam air (pencemaran air).
Seperti yang dijelaskan sebelumnya, pertumbuhan eceng gondok sangatlah cepat. Menurut penelitian FAO, hal ini terjadi karena habitatnya yang berada di lingkungan berair. Biasanya air mengandung nutrien yang tinggi, seperti nitrogen, fosfat dan potasium.
Meskipun begitu, bukan berarti enceng gondok tidak memiliki kelemahan. Ada beberapa faktor yang dapat menghambat pertumbuhan eceng gondok. Contohnya seperti kandungan garam di dalam air yang akanmenghambat pertumbuhan enceng gondok.
Kondisi tersebut terjadi di perairan di pantai Afrika Barat. Di sana eceng gondok akan bertambah pesat selama musim hujan. Namun memasuki musim kemarau, enceng gondok akan berkurang secara drastis ketika kandungan garam atau salinitas air meningkat.
Harapan Menjadi Sentra Kerajinan Eceng Gondok
Firman berharap, jika semakin banyak warga yang mengolah kerajinan enceng gondok, desa mereka akan menjadi sentra kerajinan enceng gondok. Dia percaya, keunikan ini bisa menarik wisatawan. Selain menambahkan pemasukan untuk warga, mereka juga menularkan ilmu bagi orang-orang yang datang ke desa mereka.
Di samping menambah nilai bengok, usaha upcycle lewat bengok craft juga mengusung zero waste. Firman mengatakan, mereka sebisa mungkin meminimalisir sampah.
“Jadi sisa kerajinan, apabila kita bikin sandal atau bikin tas, kita bisa olah kembali menjadi sesuatu produk yang baru,” timpalnya.
Bengok Craft mendistribusikan kreasi eceng gondok melalui media sosial. Mereka menjangkau kota-kota yang memang menaruh apresiasi tinggi terhadap kreasi-kreasi upcycle lewat daring seperti Instagram dan Website. Menurut Firman, jika hanya memasarkan di area lokal saja, usahanya kurang bisa berkembang.
“Kita mencoba untuk menjangkau pasaran di kota-kota besar, yaitu di daerah Bali – Jakarta. Memang kita bukan seperti pabrikan atau yang produksi massal. Kita tetep kreasi terbatas. Kita perbanyak inovasi dengan kreasi-kreasi yang baru,” ucapnya.
Saat ini, macam-macam produk olahan eceng gondok yang mereka jual adalah dekorasi ruangan (tempat menyimpan barang), tas, sendal, phone case, dan mangkuk.
Penulis: Agnes Marpaung.
Tags: kerajinan dari yang tangan adalah gondok eceng