Seni Tenun Kepala - Kecantikan dalam Karya Tangan Ikat
Penemuan benda-benda prasejarah
Pada beberapa situs yang terdapat di Gilimanuk, Sumba Timur, Yogyakarta dan beberapa daerah lainnya di Indonesia ditemukan beberapa benda-benda prasejarah yang berkaitan dengan kain tenun berupa cap tenunan, alat untuk memintal / menenun, kain tenun dan bahan-bahan tenun yang terbuat dari kapas. Benda-benda ini diduga berusia lebih dari 3.000 tahun.
Selain itu di ditemukan pula alat pemukul kulit kayu dari batu yang digunakan oleh manusia purba untuk membuat kain dan juga pecahan tembikar yang didalamnya terdapat hiasan yang terbuat dari kain tenun kasar. Koleksi benda prasejarah ini masih dapat disaksikan di Museum Pusat Jakarta.
Penemuan benda-benda prasejarah ini menunjukkan cikal bakal kain tenun di Indonesia, terlihat bahwa pada masa itu kain tenun ditenun dengan menggunakan teknik yang sangat sederhana.
1. Pakaian Adat suku Rote
Suku Rote di Nusa Tenggara Timur mendiami Pulau dengan nama yang sama dengan nama sukunya yaitu Pulau Rote. Pakaian yang mereka kenakan merupakan hasil tenunan sendiri yang menggunakan bahan serat gewang. Mereka juga menggunakan pewarna alami untuk bahan kain tenunnya.
Para pria di suku Rote biasanya mengenakan pakain kemeja putih yang dipadukan dengan sarung tenun sebatas betis. Lalu menggunakan selempang dari kain tenun dan hafa berupa kain tenun yang dililit di pinggang. Tak lupa akesoris berupa topi ti’ilangga, habas berupa kalung, dan juga golok.
Sedangkan para kaum wanita mengenakan kain tenun yang dipakai seperti kemben dan bagian bawah menggunakan tenun ikat. Pada bahu kiri dilempangkan kain tenun, lalu pendi berupa ikat pinggang terbuat dari perak atau emas. Lalu hiasan kepala bulak moti atau bulan baru dan habas berupa kalung.
Cerita Legenda
Dalam cerita legenda yang sangat populer yaitu Sangkuriang, diceritakan tokoh wanita yaitu Dayang Sumbi yang aktifitas kesehariannya adalah menenun. Hal ini menggambarkan bahwa menenun adalah salah satu kegiatan rutin yang dilakukan oleh wanita untuk menghabiskan waktunya pada waktu itu.
Selain benda-benda prasejarah, prasasti dan relief, keberadaan kain tenun juga dapat ditemui pada arca-arca peninggalan kerajaan Sriwijaya yang terdapat di Kompleks Percandian Tanah Abang, Kabupaten Muara Enin, Sumatera Selatan. Arca-arca peninggalan kerajaan Sriwijaya ini diselimuti oleh kain-kain yang dirangkai dari berbagai jenis benang termasuk benang emas. Kain ini adalah cikal bakal kain songket yang menjadi legenda kain tenun di Indonesia.
Aarca – arca dengan pakaian bermotif songket juga ditemukan di situs kompleks percandian Bumiayu, Kabupaten Pali, Sumatera Selatam. Pada arca yang ditemukan, ada tiga arca yang digambarkan mengenakan kain tenun tradisional yang kemungkinan merupakan songket.
Kain tenun memang merupakan salah satu kebudayaan Indonesia yang wajib untuk kita lestarikan, karena didalamnya terdapat banyak sekali filosofi yang menggambarkan keanekaragaman suku dan budaya di Indonesia.
Kerajinan kain tenun memang tidak begitu diminati oleh kaum muda. Sekarang di ini jika kita lihat didaerah-daerah penghasil tenun, kita lebih banyak menemukan penenun yang berusia lanjut dibandingkan dengan kaum muda. Hal ini tentu saja menimbulkan kekhawatiran akan hilangnya sejarah dan ilmu menenun.
Ada banyak cara yang dapat kita lakukan untuk mengenalkan tenun terutama pada generasi muda. Salah satu nya adalah dengan meningkatkan pengetahuan dan kepedulian akan kain tradisional terutama kain tenun.
Sekarang ini banyak diadakan berbagai pameran yang berkaitan dengan kain tenun dan kegiatan menenun dengan tujuan untuk mengenalkan tenun kepada generasi muda.
Pakaian Daerah Suku Dawan
Kental akan budaya yang diwariskan secara turun temurun, Suku Dawan mempunyai pakaian daerah atau pakaian adat yang masih sering digunakan hingga saat ini. Busana yang dimiliki oleh suku yang menempati Pulau Timor tersebut disebut baju amarasi. Berbeda dari busana daerah lainnya, baju amarasi mempunyai aksesoris yang cukup banyak ketika digunakan.
Untuk kaum pria berupa selimut dari tenun ikat, baju bodo, ikat kepala dengan tambahan hiasan tiara, kalung habas berbandung gong, serta gelang timor dan mutik salak. Sementara untuk para wanita menggunakan kain berbentuk sarung tenun, ditambahkan selendang penutup dada, hiasan kepala berbentuk tusuk konde dengan koin, gelang kepala ular, dan sisir emas.
Lebih Dekat dengan Tenun Ikat Amarasi
Nama pakaian daerah NTT, amarasi, sering dipakai sebagai salah satu belis atau mas kawin dalam upacara perkawinan. Bukan hanya itu saja, namun masyarakat juga memakainya sebagai pakaian sehari hari sampai kain penutup jenazah. Sebab kain tenun tersebut dapat menjadi pemberi identitas status sosial dari pemakainya.
Sehingga bagi masyarakat Suku Dawan, tenun ikat amarasi bukan hanya sebagai kebutuhan ekonomi, melainkan pula sosial dan budaya. Umumnya, tenun ikat ini masih menggunakan pewarnaan alami dari bahan bahan alam. Adapun salah satu bahan pewarna alami yang sering digunakan adalah daun kacang arbila, yang menghasilkan warna hijau.
Pewarnaan alami seperti itu mampu bertahan dalam jangka waktu yang cukup lama, bahkan melebihi tenun ikat yang menggunakan pewarnaan sintetik. Untuk ragam hiasnya, tenun ikat amarasi memiliki tampilan yang dipengaruhi oleh kebudayaan masyarakat. Motif tenun tersebut bukan hanya sebatas kreasi seni, tapi juga mengandung sebuah arti serta cerita tersendiri.
Sejarah Perkembangan Kain Tenun Ikat Tradisional Indonesia Sebagai Warisan Budaya Nasional
Perkembangan Tenun – Apakah Anda tahu jika kain tenun sudah ada di Indonesia sejak zaman Prasejarah? Ya. Manusia mulai mengenal kain bersamaan dengan munculnya peradaban. Menurut para ahli sejarah, Indonesia sudah mengenal cara membuat pakaian sejak zaman Neolitikum.
Hal ini dibuktikan dengan banyaknya benda-benda peninggalan prasejarah yang tersebar diseluruh wilayah Indonesia.
Memang pada awalnya kain terbuat dari bahan-bahan yang masih sangat sederhana seperti serat dedaunan, kulit kayu dan binatang, hingga berbagai akar tumbuhan. Tak hanya bahan, proses dan teknik yang digunakan pun sangatlah sederhana.
Untuk membuat benang, kulit atau serat kayu direndam terlebih dahulu dengan air. Tujuan perendaman adalah agar kulit kayu menjadi lunak sehingga lebih mudah untuk di proses. Kemudian kulit kayu yang sudah lunak tadi, dipukul-pukul dengan batu atau alat pemukul lain sampai menyerupai kain.
Karena kain yang dihasilkan tidak mempunyai daya tahan yang cukup lama, akhirnya timbulah pemikiran manusia untuk menganyam akar-akar pohon dan kulit kayu menjadi benang. Ini merupakan cikal bakal kain tenun sekarang ini.
Fakta Sejarah Tenun Indonesia
Tags: tenun ikat