Keindahan dan Keterampilan - Mengungkap Kain Tenun Khas Lombok dalam Dunia Kerajinan dan DIY
Filosofi Pembuatan Kain Tenun Lombok, Syarat Perempuan Sasak Boleh Menikah
Para perempuan Suku Sasak belajar membuat kain tenun Lombok sejak remaja. Keahlian ini kemudian dijadikan syarat agar mereka bisa menikah.
Menilik kain tradisional asli Indonesia, ada banyak sekali ragamnya, Bunda. Sebut saja ulos, songket, tenun, hingga batik. Hampir setiap wilayah di Indonesia menghasilkan kain khas tradisional di mana proses pembuatan dan fungsinya berkaitan erat dengan adat istiadat yang berlaku di wilayah tersebut. Seperti halnya kain tenun Lombok yang wajib bisa dibuat perempuan Suku Sasak sebagai syarat untuk bisa menikah.
Penasaran seperti apa penjelasannya? Yuk, simak di sini!
7. Motif Krodat
Pada motif ini memiliki warna merah hati sebagai warna dasarnya yang melambangkan keberanian. Sedangkan untuk menghiasi warna merah hati tersebut terdapat garis yang memiliki warna kuning yang menyimbolkan ketentraman dalam berkeluarga. Pada bagian garis memiliki 4 setiap garis, garis tersebut terbagi pada horizontal dan vertikal yang setiap garisnya sebanyak 4-4 garis yang menyimbolkan 4 Nabi yang terpilih sebagai Nabi Ulil Azmi yaitu: Nabi Musa, Nabi Isa, Nabi Ibrahim dan yang terakhir Nabi Muhammad SAW. Sedangkan 4 garis lagi menyimbolkan 4 nama kitab yang wajib diketahui yaitu: Kitab Taurat, Kitab Zabur, Kitab Injil, dan Al-Qur’an. Pada warna putih yang terletak bagian bawah kain menyimbolkan kesucian hati, agar kita tidak merasa sombong terhadap sesama manusia supaya selalu mengingat Tuhan (Allah SWT). Kain ini biasa dipergunakan pada saat adat upacara pernikahan sorongserah ajikrame sebagai ajen-ajen.
Refrensi : Skripsi Mardiyanti (2016) yang berjudul Kain Tenun Tradisional Dusun Sade, Rembitan, Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, Universitas Negri Yogyakarta.
7 Jenis Motif Kain Tenun Khas Desa Sade, Lombok Tengah dan Makna Motifnya
Desa Sade, Lombok Tengah, NTB merupakan salah satu desa wisata yang masih mewarsi kebudayaan Sasak sejak zaman Kerajaan Penjanggik di Praya Kabupaten Lombok Tengah. Salah satu warisan turun temurun masyarakat desa sade adalah kegiatan Nyesek atau menenun. Kegiatan menenun atau nyesek menjadi keterampilan wajib bagi perempuan Desa Sade. Zaman dahulu, perempuan Suku Sasak belum boleh menikah jika belum bisa menenun karena menenun merupakan indikator kedewasaan perempuan Suku Sasak.
Dari zaman dahulu sampai saat ini pewarna yang digunakan untuk mewarnai kain tenun khas Desa Sade adalah berbahan dasar alami yang diambil dari sekitar tempat tinggal. Sumber bahan pewarna mereka yaitu dari tumbuhan berupa daun, buah, akar, maupun kulit pohon. Pewarna alam yang pertama diketahui oleh masyarakat Desa Sade untuk mewarnai kain tenun mereka adalah daun Nila (Taum) yang terdapat disekitaran sawah. Daun Nila menghasilkan warna hitam. Kemudian seiring dengan berjalannya waktu masyarakat Desa Sade mencari bahan alami yang lainnya yang dapat memperoleh warna yang berbeda agar mereka dapat membuat kain tenun dengan warna-warna yang sesuai keinginan namun tetap berbahan dasar dari alam diantaranya warna kuning yang dihasilkan dari kunyit, warna merah yang berasal dari tumbuhan Mengkudu, warna hijau berasal dari daun Kecipir, dan warna merah muda berasal dari serabut kelapa. Sampai saat ini Desa Sade masih mempertahankan kealamian tenunan mereka dengan berbagai warna.
Pada dasarnya motif kain tenun yang ada di Desa Sade memiliki motif garis yang memiliki arti kehidupan yang pada saat memulai rumah tangga bisa diluruskan segala urusan tanpa adanya gangguan dan seperti halnya dengan garis yang lurus. Garis lurus dimaknai dalam kehidupan mereka ialah ketika dalam berkehidupan yang tetap abadi dan makmur, segala urusan yang dikerjakan akan mulus dan lancar seperti garis yang lurus. Motif Kain Tenun khas Desa Sade diantaranya adalah: Selolot, Tapok Kemalo, Batang Empat, Ragi Genap, Kembang Komak, dan Kain Bereng (Hitam).
3. Motif Batang Empat
Kain Tenun motif Empat memiliki motif garis berwarna hijau tua dan berwarna dasar hitam, Kain Tenun Batang Empat juga memiliki motif garis berwarna kuning dan berwarna dasar hitam.
Kain dengan motif batang empat biasa digunakan dalam kegiatan adat seperti dalam pelaksanaan ajen-ajen, digunakan sebagai bebengkung (sabuk) pada saat Nyongkolan dan Nyelabar yaitu mendatangi keluarga sang perempuan pada prosesi pernikahan adat Suku Sasak. Lombok.
Warna kuning melambangkan kesejukan untuk setiap orang yang meninggal. Sedangkan warna hitam melambangkan manusia yang terbuat dari tanah dan akan kembali kepada asal mula penciptaan manusia yaitu tanah. Adapun pemahaman dari berbagai informan bahwa motif batang empat ini memiliki makna menjaga persatuan antar suku (sesama manusia) karana asal mula dikatakan Batang Empet itu Batang artinya penjaga sedangkan Empet itu artinya menutup. Jadi kalau digabungkan memiliki makna manusia yang ingin selalu aman dan tentram haruslah menjaga persatuan antar sesama.
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa pada motif Batang Empat ini merupakan kain yang pada awalnya digunakan untuk menutupi mayat. Dikarenakan kain yang diperkirakan memiliki kesejukan sehingga jenazah tersebut mendapatkan kesejukan dari kain tersebut. Akan tetapi dengan perkembangan zaman warga setempat lebih dominan menggunakannya pada saat upacara adat yang digunakan untuk para laki-laki sebagai bebengkung atau sebagai ikat pinggang pada saat upacara adat.
Tags: tenun lombok