... Kain Tenun Khas Lombok: Panduan Lengkap dan Ide DIY

Keindahan dan Keterampilan - Mengungkap Kain Tenun Khas Lombok dalam Dunia Kerajinan dan DIY

Desa tenun Suku Sasak

Terdapat dua desa penghasil tenun terbaik di Pulau Lombok, yakni Desa Sukarara dan Desa Sade. Kedua desa tersebut juga menjadi pusat budaya asli sasak. Sehingga para wisatawan yang mengunjungi Lombok bisa belajar dan mengetahui adat-istiadat Suku Sasak di sana. Di kedua desa ini para wisatawan bisa mengetahui cara pembuatan kain tenun tradisional suku sasak, juga bisa mencoba langsung terlibat dalam pembbuatannya.

Demikian ulasan terkait dengan kain tenun khas yang berasal dari Lombok, yakni kain tenun sasak. Menarik bukan? Kain tenun ini biasa dijadikan oleh-oleh khas yang selalu diburu oleh para wisatawan. Informasi lainnya tentang oleh-oleh khas Lombok bisa Anda baca lebih lanjut di sini. Di Lombok, selain bisa belajar budaya sasak, Anda bisa melihat sendiri proses pembuatan kain tenun sasak dari dekat dengan mengunjungi Desa Sukarara dan Desa Sade. Disamping itu, Anda juga bisa langsung terlibat dalam pembuatan kain tersebut.

Motif Kain Tenun Lombok Simbol Budaya dan Kreativitas Unik

Tenunan ini dibuat dengan menggunakan tenun tradisional yang dikenal dengan sebutan “songket”. Kain tenun khas Lombok memiliki corak yang khas dan motif yang indah, mencerminkan keindahan alam dan kehidupan sehari-hari masyarakat Lombok. Proses pembuatannya melibatkan tenaga terampil perajin lokal yang menghasilkan kain tenun berkualitas tinggi.

Keunikan Motif Kain Tenun Lombok

Motif kain tenun Lombok sangat beragam dan unik. Salah satu motif yang terkenal adalah “ikat pahikung”, yang menggambarkan kehidupan sehari-hari masyarakat Lombok seperti pertanian, perikanan, dan kehidupan di desa. Motif ini memberikan sentuhan budaya lokal yang kuat pada kain tenun Lombok. Selain itu, terdapat juga motif-motif geometris yang rumit dan cantik, serta motif flora dan fauna yang menghiasi kain tenun Lombok. Setiap motif menceritakan cerita dan nilai-nilai budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Kain tenun Lombok juga memiliki keunikan dalam penggunaan warna. Warna-warna yang digunakan dalam kain tenun Lombok umumnya berasal dari pewarna alami yang dihasilkan dari tanaman lokal seperti daun indigo, kulit kayu, dan akar pohon. Pewarna alami ini memberikan nuansa alami dan keaslian pada kain tenun Lombok, serta menjaga keberlanjutan lingkungan.

Kain tenun Lombok tidak hanya memiliki nilai estetika yang tinggi, tetapi juga nilai historis dan sosial yang penting bagi masyarakat Lombok. Tenunan ini merupakan simbol identitas budaya dan kebanggaan lokal. Selain itu, industri kain tenun Lombok juga memberikan penghidupan bagi banyak perajin lokal dan mendukung perekonomian lokal.

3. Motif Batang Empat

Kain Tenun motif Empat memiliki motif garis berwarna hijau tua dan berwarna dasar hitam, Kain Tenun Batang Empat juga memiliki motif garis berwarna kuning dan berwarna dasar hitam.

Kain dengan motif batang empat biasa digunakan dalam kegiatan adat seperti dalam pelaksanaan ajen-ajen, digunakan sebagai bebengkung (sabuk) pada saat Nyongkolan dan Nyelabar yaitu mendatangi keluarga sang perempuan pada prosesi pernikahan adat Suku Sasak. Lombok.

Warna kuning melambangkan kesejukan untuk setiap orang yang meninggal. Sedangkan warna hitam melambangkan manusia yang terbuat dari tanah dan akan kembali kepada asal mula penciptaan manusia yaitu tanah. Adapun pemahaman dari berbagai informan bahwa motif batang empat ini memiliki makna menjaga persatuan antar suku (sesama manusia) karana asal mula dikatakan Batang Empet itu Batang artinya penjaga sedangkan Empet itu artinya menutup. Jadi kalau digabungkan memiliki makna manusia yang ingin selalu aman dan tentram haruslah menjaga persatuan antar sesama.

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa pada motif Batang Empat ini merupakan kain yang pada awalnya digunakan untuk menutupi mayat. Dikarenakan kain yang diperkirakan memiliki kesejukan sehingga jenazah tersebut mendapatkan kesejukan dari kain tersebut. Akan tetapi dengan perkembangan zaman warga setempat lebih dominan menggunakannya pada saat upacara adat yang digunakan untuk para laki-laki sebagai bebengkung atau sebagai ikat pinggang pada saat upacara adat.

1. Motif Wayang

Motif wayang merupakan salah satu motif yang sudah ada sejak masa pemerintahan raja Panji Sukarara dan Dinde Terong Kuning. Motif ini terdiri dari dua bentuk manusia yang digambarkan berbentuk wayang dan diantaranya terdapat sebuah objek yang menyerupai payung. Motif wayang ini menyerupai bentuk pasangan dengan sebuah payung dalam acara nyongkolan.

Selain itu, terdapat beberapa objek geometris sebagai penghias yang mengelilingi motif utama diantaranya bentuk segitiga yang digabungkan hingga menyerupai seperti bentuk bunga. Bunga tersebut ialah bunga tanjung. Di bagian bawah kain songket juga ditambahkan dengan gabungan beberapa motif geometris yang berfungsi sebagai pembatas bagian tepi bawah kain. Pembatas kain tersebut menggunakan jenis pola pinggiran dimana motif diletakkan pada pinggir kain secara berhungan.

Warna dasar yang digunakan adalah warna gelap seperti warna merah marun. Warna motif menggunakan warna yang kontras seperti warna putih, biru muda, atau warna kuning cerah. Motif wayang termasuk ke dalam motif dekoratif dimana objek utama pada motif wayang meniru bentuk manusia yang kemudian digayakan menjadi bentuk wayang. Pola yang digunakan adalah pola tebar dimana motif diletakkan pada jarak yang teratur. Jenis motif ini juga hanya menutupi sebagian dari kain dasar. Prinsip pembuatan pola menggunakan prinsip pengulangan dan selang – seling berlawanan.

Makna simbolik yang terkandung dalam kain ini ialah manusia tidak dapat hidup sendiri, harus saling terbuka dan menghormati satu sama lain. Ajaran tersebut sangat dipengaruhi oleh Islam. Seperti halnya dalam kisah pewayangan masyarakat suku Sasak yang menceritakan tentang kisah seorang raja bijaksana yang hidup berdampingan dengan rakyatnya. Tokoh Jayangrana merupakan seorang raja Mesir yang memeluk agama Islam. Dia adalah raja yang sangat bijaksana dan terbuka. Dia selalu menghormati orang lain sehingga rakyat sangat segan kepadanya.

4. Motif Ragi Genep

Kain Ragi Genep ini memiliki warna garis putih dan berwarna dasar merah marun. Arti dari Ragi Genep yaitu: Ragi artinya Bumbu sedangkan Genep artinya Lengkap. Dari segi pewarnaan yang digunakan yaitu lengkap maka dari itu kain ini dikatakan Ragi Genep. Motif kain ragi genep melambangkan kelengkapan jiwa spiritual

Motif ini biasanya digunakan untuk menambah aksesoris perempuan Sasak yang sebagai penambahan pada pakaian lambung untuk putri, lambung yaitu pakaian adat Suku Sasak berwarna hitam sedangkan warna yang digunakan pada kain tenun ini yaitu menggunakan semua warna. Selain itu kain ini juga digunakan oleh kebanyakan para pemuda atau orang-orang yang mau menikah dan dibuat dari warna kulit kayu lake.


Tags: tenun lombok

`Lihat Lagi
@ 2024 - Tenun Indonesia