"Keindahan Motif Kain Tenun Toraja - Mempersembahkan Warisan Budaya yang Tak Tergantikan"
Mengulas Sejarah Kain Tenun Toraja
Awal mulanya, sejarah kain tenun Toraja memang sulit diketahui. Tidak ada bukti-bukti pendukung yang mampu menjelaskan tentang perkembangannya hingga sekarang. Seperti proses tenunnya, alat yang digunakan, serta metode pewarnaan maupun pembuatan coraknya di zaman dahulu.
Tenun Toraja sendiri dulunya terbuat dari serat kayu. Seiring dengan berjalannya waktu, material yang digunakan beralih ke serat nanas. Konon, hasil kainnya banyak dimanfaatkan untuk membungkus mayat. Mengingat sifat kainnya yang memiliki daya serap cukup baik.
Masyarakat belum mengganti keseluruhan bahan baku kain kain tenun. Melainkan memadukan bahan terdahulu yakni serat nanas dengan campuran kapas. Sehingga hasil kainnya pun lebih halus dan nyaman untuk mereka kenakan. Dalam ulasan sejarah kain tenun Toraja, masyarakat zaman dahulu begitu menghargai karya ini.
Bahkan tenun yang dihasilkan juga menjadi lambang status sosial, serta ukuran kemakmuran bagi para pemiliknya. Sehingga dahulu kala, hanya kalangan bangsawan yang bisa memakai kain tenun Toraja. Penggunaannya pun terbatas untuk acara-acara tertentu, seperti pernikahan, upacara adat kerajaan dan Rambu Solo’.
Sejarah dan perkembangan kerajinan tenun di Indonesia
diskominfo.kaltimprov.go.id Kain Tenun Ulap Doyo dari Kalimantan Timur
KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR Kain Tenun bermotif Songke menjadi daya tarik menggaet wisatawan Nusa tara dan mancanegara untuk belajar menenun, identitas, nilai, makna dibalik motif-motif, Senin, (15/8/2022). (KOMPAS.com/MARKUS MAKUR)
| Jenis kain tenun | Asal daerah |
| Kain tenun Sambas | Kalimantan Barat |
| Kain tenun Donggala | Sulawesi Tengah |
| Kain tenun Gringsing | Bali |
| Kain Hinggi | Nusa Tenggara Timur |
| Kain tenun Toraja | Sulawesi Selatan |
| Kain tenun songket Sukarara | Nusa Tenggara Barat |
| Kain songket Palembang | Sumatera Selatan |
| Kain tapis | Lampung |
| Kain tenun Ulos | Sumatera Utara |
| Kain songket Minangkabau | Sumatera Barat |
| Kain tenun Troso Jepara | Jawa Tengah |
| Kain tentun Doyo | Kalimantan Timur |
Suka baca tulisan-tulisan seperti ini? Bantu kami meningkatkan kualitas dengan mengisi survei Manfaat Kolom Skola
Ciri Khas Tenun Gringsing
Sebagai catatan, menurut para ahli kain dan tekstil dunia, Kain tenun Gringsing termasuk kain tenun yang langka. Hanya ada 3 tempat di dunia ini yang mengusai teknik menenun Gringsing, yaitu India, jepang, dan Tenganan (Indonesia).
Seorang pakar kain bernama Urs Ramseyer (1984) yang menulis buku berjudul Clothing, Ritual and Society in Tenganan Pegeringsingan Bali, menduga bahwa masyarakat Tenganan adalah merupakan imigran dari India kuno karena juga penganut Dewa Indra.
Para imigran tersebut kemungkinan membawa teknik dobel ikat melalui pelayaran dari Orrisa atau Andhra Pradesh, kemudian mengembangkannya secara independen di Tenganan. Adapun kemungkinan lainnya adalah, para imigran tersebut menguraikan kutipan-kutipan dari beberapa jenis tenun patola untuk dikembangkan di Nusantara.
Kain Tenun Gringsing adalah satu-satunya kain tenun tradisional Indonesia yang dibuat menggunakan teknik teknik dobel ikat. Proses pembuatannya memerlukan waktu 2-5 tahun, bahkan ada yang 10 th. Umumnya, masyarakat Tenganan memiliki kain gringsing berusia ratusan tahun yang digunakan dalam upacara khusus.
Kata Gringsing berasal dari kata ‘gring’ yang artinya ‘sakit’ dan ‘sing’ yang artinya ‘tidak’. Sehingga bila keduanya digabungkan artinya menjadi ‘tidak sakit’. Oleh karena itu Kain tenun Gringsing diyakini mempunyai kekuatan mistis sebagai penolak bala.
Sebagai catatan, di Bali, berbagai upacara seperti upacara potong gigi, pernikahan, dan upacara keagamaan lainnya dilakukan dengan bersandar pada kekuatan Kain Tenun Gringsing ini.
Tags: tenun motif toraja