... Mengungkap Makna Motif Tenun Rote dalam Karya Jarum dan DIY

Makna dan Keindahan Motif Tenun Rote dalam Seni Sulam dan Kerajinan DIY

Senin, 14 Mei 2012

about tenun ikat pulau rote

Tenun ikat adalah seni membuat kain dengan cara menenun benang dan pembuatan motifnya dengan cara diikat. Pekerjaan menenun di Pulau Rote dan Ndao sudah ada dari dahulu kala, sebelum zaman kemerdekaan. Menurut penuturan orang-orang tua, pekerjaan menenun ini diajarkan oleh penjajah Belanda hanya untuk wanita-wanita bangsawan / keluarga raja.

Pulau Rote dibagi menjadi 19 wilayah kerajaan (Nusak), dan hanya 19 keluarga raja (Manek) ini saja yang dapat menenun. Kerajaan dan Rajanya ditetapkan oleh Belanda, dan di antara setiap kerajaan dipasang tiang tapal batas (Ai Sele). Kerajaan-kerajaan dan Marga Rajanya yaitu:

Proses pembuatan kain selimut ini sangat lama, membutuhkan waktu hingga 1 tahun untuk menghasilkan 1 lembar kain. Kain tenun dari benang kapas tersebut digunakan untuk upacara adat dan sebagai upeti, sedangkan pakaian sehari-hari menggunakan kaloro, atau tidak berpakaian.

Motif tenun ikat yang ada di Rote terbagi menjadi 2 aliran utama yaitu Rote bagian barat (henak anan = anak pandan / hendak) dan Rote bagian timur (lamak nen = anak belalang). Rote barat meliputi Nusak Ba`a hingga Lelenuk, sedangkan Rote Timur meliputi Nusak Landu hingga Renggo. Motif Rote Timur terinspirasi dari makanan belalang berupa daun-daun halus (ngganggu dok = daun kangkung), pada umumnya motif-motifnya berbentuk jalinan daun-daun kecil (bertalian).

Contoh motif dari Rote Timur : daun-daun kecil yang bertalian

Motif Kain Tenun dari Bima, NTB

Motif dan ragam hias yang dimiliki Bima tidak terlalu beragam, mengingat simbol dan gambar yang dijadikan motif tenun, berpedoman pada nilai dan norma adat yang Islami. Kita tahu, Kerajaan Dompu (Bima), merupakan kerajaan islam tersohor di bagian timur Nusantara, sehingga para penenun tidak boleh atau dilarang untuk memilih gambar manusia dan hewan sebagai motif pada tenunannya.

Umumnya, ragam hias kain tenun Bima memakai motif bunga atau geometris (jajaran genjang dan segitiga). Setiap unsur warna yang disematkan dalam sehelai kain tenun Bima, memiliki makna atau simbol tertentu. Seperti misalnya, warna biru simbol kedamaian dan keteguhan hati. Warna kuning bermakna kejayaan dan kebesaran. Warna hijau melambangkan kesuburan dan kemakmuran, dst.

Motif Bunga Samobo

Motif Nggusu Tolu atau Pado Tolu

Akhirnya, genap sudah saya sajikan 14 motif kain tenun dari Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur yang tersebar di beberapa tempat.

Semoga, suatu saat nanti para penenun di seluruh Indonesia difasilitasi pemerintah dan dunia perbankan agar mampu menjadi pelaku-pelaku industri dan perajin kecil-menengah, sehingga mereka mampu menghidupi keluarganya dari profesi mulia ini.

Bagaimanapun, kain tenun, sebagaimana kain batik, juga merupakan salah satu kekuatan devisa bangsa serta sumber daya potensial untuk dikembangkan ke mancanegara sebagai sebuah identitas bangsa akan kekayaan budaya yang dimiliki Indonesia.

***
Artikel ini pertama kali diterbitkan pada tanggal 14 Februari 2015 dalam rangka #PostingBareng bersama teman-teman dari komunitas Travel Blogger Indonesia.
Melalui artikel ini, saya ingin menunjukkan kasih sayang kepada mereka, para perempuan-perempuan penenun luar biasa yang dengan cara luar biasa pula mengabadikan setiap motif-motif kain tenun yang sudah pernah mereka buat.
Namun, tak seluruh wilayah nusantara, karena kebetulan saya baru sempat mampir ke Lombok (NTB), Bima (NTB), Sumba (NTT), dan Flores (NTT) saja, dan itu pun masih belum semua. Semoga saja ada waktu, dan sponsorship kesempatan agar saya bisa melanjutkan perjalanan menyusuri daerah-daerah penghasil tenun di seluruh Indonesia.


Tags: tenun motif

`Lihat Lagi
@ 2024 - Tenun Indonesia