... Motif Tenun Sabu Raijua: Panduan Lengkap & Inspirasi DIY

Keindahan Motif Tenun Sabu Raijua - Karya Seni Rajutan dan Kerajinan DIY

Selimut putih: hi’i wopudi

Hi’i wopudi atau selimut putih adalah tenunan persegi panjang dengan rumbai pada kedua ujungnya yang dipakai oleh laki-laki Sabu pada berbagai upacara. Pemakaian selimut ini berbeda di berbagai daerah di Sabu dan pendapat orang mengenai hal ini juga berbeda. Warna putih biasanya dihubungkan dengan waktu damai. Foto dari bangsawan dan penguasa Sabu yang diambil pada zaman kolonial Belanda berulang kali memperlihatkan laki-laki Sabu berbusana kain putih dan bukan tenunan ikat dari kelompoknya. Sejalan dengan pikiran yang sama, perlu dicatat bahwa seorang pengantin pria juga bisa memakai sehelai selimut putih. Atau kain pertama seorang laki-laki yang sudah menikah juga bisa berwarna putih. Selimut pertama yang ditenun oleh seorang istri biasanya berwarna putih. Ada kebiasaan di Sabu, laki-laki memakai selimut putih bila memanjat pohon lontar untuk menapis airnya, atau yang disebut orang lokal ‘mengiris tuak’.

Di abad ke 16 ketika bangsa Portugis tiba di daerah Seba, ada sebuah legenda penting mengenai sehelai selimut putih. Bola Rohi, kakak laki-laki Kore Rohi menanyakan kepada adiknya busana apa yang harus dipakai untuk menyambut orang Portugis. Kore Rohi mengusulkan untuk memakai selimut hi’i wopudi, yang langsung dituruti oleh Bola Rohi. Sudah banyak orang yang datang ke pantai untuk menyambut orang Portugis dan tanaman rumput di kiri dan kanan jalan sudah dikotori oleh ludah sirih orang-orang yang melewati jalan tersebut. Ketika Bola Rohi menyelusuri jalan yang sama dan tiba di pantai, selimutnya yang putih sudah kotor dengan ludah berwarna merah, sehingga orang Portugis tidak mengenalnya sebagai penguasa, dan menyapa adiknya yang memakai selimut berwarna indigo gelap. Kore Rohi kemudian menjadi raja pertama di Seba semasa pendudukan orang Portugis.

Motif tenun sabu raijua

Pulau Sabu dan Pulau Raijua

Motif Tenun Sabu Raijua

Tanggal 29 Sep 2014 oleh hokky saavedra.

Desain motif tenun dari Pulau Sabu dan Pulau Raijua di Nusa Tenggara Timur biasa digunakan dalam ritual Uba Fara Uba Dara (kembali kepada Pencipta), yaitu ritual doa penyerahan diri sebelum kematian. Dalam ritual ini kematian dilihat sebagai penghormatan dan bukan semata-mata sebagai duka. Kain tenun memiliki keterkaitan erat dengan kosmologi masyarakat Sabu Raijua, yakni kepercayaan "Jingi Tiu" (pelayan makhluk gaib).

Rumbai selimut

Dahulu, sebelum orang dapat memakai hi’i worapi, benang lungsi yang berwarna putih dan kuning harus dipotong terlebih dahulu, sebelum memelintir ujung-ujung lungsi untuk membentuk rumbai. Sekarang hal ini sudah tidak perlu lagi. Untuk para bangsawan atau seorang pemimpin kepercayaan tradisional, semua ujung lungsi dipelintir menjadi rumbai.

Komposisi dan motif selimut laki-laki atau hi’i memiliki ciri-ciri khas. Pembagian utama masyarakat menjadi dua kelompok nampak di dalam tenunan yang menjadi indikasi utama untuk mengidentifikasikan hi’i orang Sabu. Motif utama yang menunjuk pada kelompok garis ibu, detil-detil kecil seperti jumlah baris motif titik dan ukuran maupun nuansa warnanya semuanya memberikan indikasi daerah asal selimut tersebut dan juga daerah asal geografis seorang pria Sabu.

Gebr. 9. Motifs boda dan d’ula

Surga Tersembunyi Pulau Sawu

Tapi sebelum kamu ke sana, sebaiknya kamu tahu lebih dulu mengetahui bahwa pulau sawu yang kaya akan beragam aneka hayati laut masuk dalam kawasan perairan yang ditetapkan sebagai Taman Nasional Perairan melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor: Kep.05 Tahun 2014.

Lanjut mengenai berbagai tempat wisata bagus di pulau ini. Berikut adalah pembahasannya.

1. Pantai Napae

Tempat wisata pertama yang ada di Pulau Sawu dan wajib untuk kamu coba datangi adalah Pantai Napae. Pantai ini mempunyai keindahan alam yang paling indah di daerah Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur. Pantai ini terletak tidak jauh dari Pelabuhan Laut Seba. Jika kamu ke sini, kamu akan disuguhi keindahan pantai dengan hamparan pasir putih yang membentang luas dan air laut yang masih jernih yang berwarna hijau tosca.

2. Kampung Adat Namata

Bali memang mempunyai cukup banyak desa adat yang sudah menjadi destinasi tujuan wisata, namun Pulau Sawu juga tidak mau kalah dengan mempunyai Kampung Adat Namata. Kampung wisata ini berada di wilayah Desa Raloro, Pulau Sabu, NTT, yang tidak terlalu jauh dari Kota Seba.

Jika kamu berkunjung ke kampung ini, kamu harus mengenakan baju adat setempat yang mirip kemben. Tidak hanya itu, di sini juga terdapat bebatuan megalitik yang punya nama dan fungsinya sendiri-sendiri.

Lalu di balik pepohonannya, kamu akan melihat beberapa rumah adat yang beratap rumbia dengan bentuk kerucut yang besar dan rumbianya menutup hingga ke bawah hampir menyentuh tanah atau dengan bentuk memanjang yang rumbianya hampir menutup semua bagian rumah.

3. Pantai Seba

Bagi kamu pecinta pesona matahari terbenam, kamu bisa datang ke pantai ini jika berlibur ke Pulau Sawu. Pantai ini menyuguhkan pemandangan pasir putih yang membentang luas dan juga air laut jernih dengan kondisi yang tenang.

4. Gua Lie Mabala

Tempat wisata lain yang bisa kamu kunjungi saat travelling ke Pulau Sawu adalah Gua Lie Mabala. Letak dari Gua ini adalah di Desa Eimau Kecamatan Sabu Tengah Kabupaten Sabu Raijua, NTT. Untuk ke sini kamu hanya perlu untuk berkendara sekitar 20 – 30 menit dari ibukota Sabu Raijua, Kota Seba. Saat sampai di lokasi, kamu harus berjalan kaku sekitar 10 menit di jalur yang sudah ada.

Aksesoris khas berbentuk tiga tiang

Suku Sabu adalah salah satu suku yang menetap di Nusa Tenggara Timur. Lebih tepatnya, suku ini tinggal di Pulai Rai Hawu atau sering juga disebut dengan Pulau Sabu. Pulau Sabu ini sendiri sudah masuk dalam wilayah Kabupaten Kupang. Sehingga bisa dikatakan bahwa suku ini adalah salah satu suku yang memang sudah ada sejak lama di pulau ini.

Tidak hanya bahan kain tenun yang digunakan, namun ciri khas lainnya dari baju adat Suku Sabu di NTT ini adalah terletak pada aksesorisnya. Penggunaan aksesoris ini akan menambah lengkap penampilan pakaian adat NTT yang akan dikenakan. Beberapa jenis aksesoris yang digunakan antara lain seperti mahkota tiga tiang.

Mahkota ini akan dibuat dengan bahan emas yang mambuat kain adat sabu NTT ini tampak elegan. Selain itu, akan ada juga kalung multisalak, sabuk berkantong, perhiasan leher atau yang sering juga disebut dengan habas dan kemudian ada juga sepasang gelang emas. Selain itu, ciri khas baju adat ini juga terletak pada selendang yang disampirkan di bahu.


Tags: tenun motif

`Lihat Lagi
@ 2024 - Tenun Indonesia