... Motif Tenun Sabu Raijua: Panduan Lengkap & Inspirasi DIY

Keindahan Motif Tenun Sabu Raijua - Karya Seni Rajutan dan Kerajinan DIY

Topograpy Sawu

Kepulauan Sawu yang masuk dalam The Lesser Sunda Islands “kepulauan sunda kecil” Nusantara dan salah satu Wisata Indonesia Timur terbaik. Memiliki topografy bukit berkapur dengan daratan-nya sebagian besar tertutup oleh padang rumput serta tumbuh pohon palm. Luas area pulau sawu 379.9 km2, panjang garis pantai kurang lebih 1.026 km.

Kordinat terletak persisi 10.5629°S 121.7889°E dan DMS 10° 33′ 46.44″ S , 121° 47′ 20.04″ E

Dataran tinggi 366 meter dari permukaan laut dengan kemiringan tanah hingga 45 derajat terdapat pada Kelabba Maja yang digadang sebagai grand canyon nya nusa tenggara timur. Saat terbaik untuk berkunjung adalah pada bulan Maret sampai November karena period tersebut cuaca cerah dan kering (Angin panas dari Australia).

Jika musim angin barat angin bertiup kencang dari Australia dan akan membuat ombak laut tinggi. Hal ini dapat mengganggu aktivitas nelayan dan penyeberangan kapal baik dari waingapu maupun dari kupang.

Sejarah

Menurut banyak cerita versi rakyat setempat khususnya syair-syair kuno dalam bahasa Sabu suku Mone Ama yang paham betul akan sejarah pulau sabu. Dapat diperoleh informasi sejarah bahwa nenek moyang orang sabu berasal dari tanah India yang mereka sebut Hura bahasa rakyat setempat (Orang asli sabu tidak dapat melafalkan kata Surat dan Gujarat, lidah mereka lebih nyaman menyebutnya Hura).

Ekspansi Raja Chandragupta

Sekitar abad ke-3 hingga abad ke-4 ada arus eksodus perpindahan penduduk yang cukup besar dari India Selatan, ke kepualauan Nusantara. Akibat dari peperangan panjang Raja Chandragupta II dari India Utara tahun 375-413 dengan ambisi ekspansi menaklukkan kerajaan-kerajaan kecil seluruh daratan India termasuk kerajaan Gujarat di India Selatan.

Penduduk pertama

Menurut sejarawan sebelumnya kepulauan Nusantara ini dihuni oleh bangsa Austronesia sekitar 2000 SM. Kemudian datanglah ras Mongolia ke Nusantara sekitar 500 SM yang melakukan perjalanan melalui Thailand lalu Malaysia dan menyebar di tanah Jawa.

FITUR

Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritual.

Hukum Adat Suku.

Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dala.

Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pend.

Ukiran Gorga Si.

Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai.

  • IACITentangBeritaAgendaJurnal RSS Feed RSS Feed Diskusi
  • PROTEKSIKlaimNCHSLNaskah Akademik
  • PARTISIPASIEtiketGratifikasi
  • PRANALASejuta Data BudayaKreditFAQVirtual Tour

Hi’i womèdi (‘hitam’)

Hi’i yang paling tradisional dengan motif wohèpi hanya memakai dua warna dalam baris-barisnya yang bermotif ikat, yaitu warna indigo-biru dan (atau) putih, sehingga juga disebut hi’i womèdi atau selimut ‘hitam’ (Gbr. 2 & 3). Warna indigo bervariasi dari biru muda hingga biru tua atau hampir hitam, tergantung dari daerah asal si penenun. Seorang penenun dapat menyatakan daerah asal sehelai kain dari jenis warna indigo-biru yang tampak. Motif-motif diperoleh melalui proses ikat tunggal. Pada setiap sisi kain terdapat dua kelompok titik-titik kecil berwarna hitam dan putih yang dinamakan kelutu mèdi dikombinasikan dengan garis-garis tenunan sederhana membentuk sebuah dini, sedangkan dua dini yang membatasi sebuah baris yang terdiri dari sebuah motif utama membentuk wurumada atau ‘mata halus’ kain tersebut. Dini memiliki dua warna: indigo-biru dan putih atau merah dengan indigo-biru. Selimut dari daerah Seba, biasanya memiliki tiga atau enam baris kelutu. Mesara memiliki empat atau delapan baris, dan dari Liae dan Dimu memiliki lima, enam atau bahkan tujuh baris kelutu. Ban hitam sepanjang wurumada disebut mèdi ae yang lebih besar dari roa di Seba, Liae dan Dimu, tetapi ukurannya hampir sama dengan mèdi ae pada selimut di Mesara. Melalui detil-detil ini dapat diketahui daerah asal sehelai hi’i. Ada sejumlah hi’i yang mengkombinasikan warna merah, putih dan indigo pada dini, dan juga dapat memiliki garis-garis merah di motif utama. Walaupun demikian, selimut jenis ini termasuk jenis hi’i wo mèdi juga, karena baris-baris motif yang diikat hanya berwarna indigo-biru dan putih.

Gbr. 4. Hi’i worapi, motif kekama hab'a dan boda, Mesara

Aksesoris khas berbentuk tiga tiang

Suku Sabu adalah salah satu suku yang menetap di Nusa Tenggara Timur. Lebih tepatnya, suku ini tinggal di Pulai Rai Hawu atau sering juga disebut dengan Pulau Sabu. Pulau Sabu ini sendiri sudah masuk dalam wilayah Kabupaten Kupang. Sehingga bisa dikatakan bahwa suku ini adalah salah satu suku yang memang sudah ada sejak lama di pulau ini.

Tidak hanya bahan kain tenun yang digunakan, namun ciri khas lainnya dari baju adat Suku Sabu di NTT ini adalah terletak pada aksesorisnya. Penggunaan aksesoris ini akan menambah lengkap penampilan pakaian adat NTT yang akan dikenakan. Beberapa jenis aksesoris yang digunakan antara lain seperti mahkota tiga tiang.

Mahkota ini akan dibuat dengan bahan emas yang mambuat kain adat sabu NTT ini tampak elegan. Selain itu, akan ada juga kalung multisalak, sabuk berkantong, perhiasan leher atau yang sering juga disebut dengan habas dan kemudian ada juga sepasang gelang emas. Selain itu, ciri khas baju adat ini juga terletak pada selendang yang disampirkan di bahu.


Tags: tenun motif

`Lihat Lagi
@ 2024 - Tenun Indonesia