... Motif Tenun Sabu Raijua: Panduan Lengkap & Inspirasi DIY

Keindahan Motif Tenun Sabu Raijua - Karya Seni Rajutan dan Kerajinan DIY

Motif tenun sabu raijua

Baju Adat Sabu Raijua

Tanggal 14 Aug 2020 oleh hallowulandari .

Pakaian adat ini menggunakan motif bunga ros yang melambangkan kesucian hati. Pakaian adat ini dipakai semua kalangan mulai dari rakyat kecil sampai bangsawan yang ada di Sabu Raijua. Dibuat dengan menggunakan tenun khas Sabu yakni Ei atau sarung Higi atau selimut dan Naleda atau selendang tenun yang dibuat dengan menggunakan benang.

Hi’i womèdi (‘hitam’)

Hi’i yang paling tradisional dengan motif wohèpi hanya memakai dua warna dalam baris-barisnya yang bermotif ikat, yaitu warna indigo-biru dan (atau) putih, sehingga juga disebut hi’i womèdi atau selimut ‘hitam’ (Gbr. 2 & 3). Warna indigo bervariasi dari biru muda hingga biru tua atau hampir hitam, tergantung dari daerah asal si penenun. Seorang penenun dapat menyatakan daerah asal sehelai kain dari jenis warna indigo-biru yang tampak. Motif-motif diperoleh melalui proses ikat tunggal. Pada setiap sisi kain terdapat dua kelompok titik-titik kecil berwarna hitam dan putih yang dinamakan kelutu mèdi dikombinasikan dengan garis-garis tenunan sederhana membentuk sebuah dini, sedangkan dua dini yang membatasi sebuah baris yang terdiri dari sebuah motif utama membentuk wurumada atau ‘mata halus’ kain tersebut. Dini memiliki dua warna: indigo-biru dan putih atau merah dengan indigo-biru. Selimut dari daerah Seba, biasanya memiliki tiga atau enam baris kelutu. Mesara memiliki empat atau delapan baris, dan dari Liae dan Dimu memiliki lima, enam atau bahkan tujuh baris kelutu. Ban hitam sepanjang wurumada disebut mèdi ae yang lebih besar dari roa di Seba, Liae dan Dimu, tetapi ukurannya hampir sama dengan mèdi ae pada selimut di Mesara. Melalui detil-detil ini dapat diketahui daerah asal sehelai hi’i. Ada sejumlah hi’i yang mengkombinasikan warna merah, putih dan indigo pada dini, dan juga dapat memiliki garis-garis merah di motif utama. Walaupun demikian, selimut jenis ini termasuk jenis hi’i wo mèdi juga, karena baris-baris motif yang diikat hanya berwarna indigo-biru dan putih.

Gbr. 4. Hi’i worapi, motif kekama hab'a dan boda, Mesara

Selimut laki-laki Sabu

Busana laki-laki Sabu adalah (atau pernah berupa) kain persegi panjang dan berumbai yang dipakai mengelilingi pinggul disebut hi’i (atau hig’i, hij’i) dalam bahasa Sabu, atau ‘selimut’ dalam bahasa Indonesia. Dewasa ini hanya para pengikut kepercayaan kuno Jingi tiu yang memakai hi’i buatan lokal pada waktu upacara-upacara ritual (Gbr. 1) dan kadang-kadang dalam kehidupan sehari-hari. Dewasa ini mayoritas laki-laki Sabu lebih suka memakai sarung Jawa dari bahan katun yang dingin, sarung Bugis, atau celana panjang. Identitas etnis satu-satunya adalah sehelai tenunan yang mengelilingi leher pria Sabu. Dalam hal berbusana para perempuan Sabu jauh lebih konservatif dari kaum pria, karena banyak perempuan dalam kehidupan sehari-hari di desa-desa masih mengenakan sarung buatan sendiri. Busana tradisional laki-laki yang dipakai pada waktu upacara terdiri dari sepasang kain tenun ikat. Tenun pertama dipakai di pinggul, tenunan kedua dipakai sebagai selendang di leher yang juga menutupi bahu (Gbr. 1). Di masa yang lalu kedua kain tenun memiliki ukuran dan nama yang serupa. Juga polanya sama karena benang yang dipergunakan untuk membuat sepasang kain diikat dan dicelup pada waktu yang sama. Dewasa ini sudah tidak demikian halnya, busana tradisional bisa memakai pola dan ukuran kain yang berbeda.

Di pulau-pulau lain di Nusa Tenggara Timur, motif pada kain ikat laki-laki menghubungkan si pemakai dengan suku tertentu, seperti halnya di pulau Sumba. Di pulau Sabu, komposisi dan pola tenunan mengidentifikasikan si pemakai dengan kelompok Bunga Palem Besar atau dengan kelompok Bunga Palem Kecil (hubi ae dan hubi iki). Identifikasi sosial mengikuti garis ibu ini sudah sangat kuno dan sudah ada sebelum kedatangan orang Portugis (abad ke 16) dan dikenal jauh sebelum suku (clan laki-laki) (udu) terbentuk. Secara tradisi, perempuan hanya menenun pola kelompok ibunya sendiri. Seorang isteri hanya menenun selimut bagi suaminya, kalau suaminya keturunan nenek moyang yang sama (yaitu berasal dari hubi atau wini yang sama). Bila garis keturunan mereka berbeda, maka selimut laki-laki harus ditenun oleh ibunya, kakak perempuannya atau anak dari kakak perempuan.

DISKUSI

Ulos Bolean Na.

Ulos Bolean Na Margatip merupakan ulos (kain wastra) yang digunakan pada saat acara berduka akan kematian atau musibah yang melanda. Ulos ini digunak.

Sangsang Horbo

Dalam pesta Batak, sangsang merupakan salah satu makanan yang biasa dihidangkan untuk para tamu, dan biasanya menggunakan daging babi. Namun ketika T.

Indahan Songko

Pada saat Tim Ekspedisi Batakologi menghadiri Acara Festival Wisata Edukasi Leluhur Batak di Samosir, terdapat salah satu hidangan yang disajikan pad.

Ihan Batak Nani.

Naniura adalah makanan khas Batak yang bahan utamanya adalah ikan. Keunikan dari naniura adalah daging ikan yang tidak dimasak menggunakan panas, tet.

Pasahat Ulian

Pasahat Ulian merupakan salah satu dari beberapa rangkaian acara yang diselenggarakan oleh Festival Wisata Edukasi Leluhur Batak, dimana acara ini be.


Tags: tenun motif

`Lihat Lagi
@ 2024 - Tenun Indonesia