... 10 Motif Tenun Siak Terinspirasi untuk Proyek Kerajinan DIY Anda

Keindahan dan Makna Motif Tenun Siak dalam Seni Menjahit dan Kerajinan Sendiri

Bukan sekadar helai kain

Seorang pengrajin sedang membuat wastra | Foto: Lensa Indonesia

Pada umumnya, beberapa tahapan yang harus dilewati pada proses pembuatan ini antara lain, persiapan benang, pameningu (mengatur lungsin), pababatungu (tenun awal), hikungu (songket), dan menenun.

Selain dari proses, pemaknaan terhadap kain tradisional juga dapat dicari dari sejarah dan motifnya. Ditilik dari sejarahnya, kain tradisional memiliki beragam makna dan fungsi. Di antaranya ada yang dipakai sebagai busana upacara adat, mahar perkawinan, hingga penunjuk status sosial.

Hampir setiap etnis di Indonesia memiliki sejarah dan tradisi yang berbeda-beda tentang wastranya. Masing-masing mempunyai akar sejarah dan tradisi yang kuat, misalnya pada masyarakat Bali Aga di Tenganan, Bali.

Mereka percaya jika tenun Gringsing khas Bali punya khasiat untuk menyembuhkan. Ada pula di Sumatra Selatan, benang emas yang digunakan pada songket merupakan simbol kejayaan Kerajaan Sriwijaya pada masa itu.

Bahkan, dalam adat masyarakat Maumere Timur, Nusa Tenggara Timur, terdapat wastra tua yang dibuat selama 4 tahun dengan panjang 9,75 meter dan lebar 1 meter, yakni Kain Dugo Raga yang digunakan sebagai penutup jenazah keturunan raja yang bisa awet hingga 120 hari. Jadi, tidak heran kalau wastra seringkali dianggap sebagai benda keramat di berbagai daerah.

Mengenal motif wastra dan maknanya

Untuk lebih mengenal berbagai wastra nusantara, berikut disajikan beberapa gambar motif beserta filosofinya.

1. Songket Palembang (Sumatra Selatan)

Motif songket palembang | Foto: Songket Palembang

Songket asli Palembang dibuat dengan metode mengaitkan dan mengambil sejumput kain tenun, kemudian menyelipkan benang berlapis emas atau benang sutera. Hal ini terkait dengan sejarah kejayaan kerajaan Sriwijaya. Saat itu, masyarakat membuat kain songket yang asli dengan benang emas murni empat belas karat.

Ketika dasar kain suteranya lapuk karna usia. Benang emas ini akan ditarik dan ditenun kembali pada sutera yang baru. Dengan kualitas tersebut, tenun songket asli terkenal dengan sebutan songket jantung atau songket cabutan, karena terbuat dari benang emas cap jantung atau cabutan dari benang emas lama.

Jenis songket Palembang juga dibedakan dari segi desain, Songket Lepus adalah songket dengan desain benang emas penuh, sedang Songket Tawur adalah songket dengan desain emas tersebar.

Motifnya pun mengandung makna yang berbeda-beda. Misalnya motif bunga seperti mawar yang mempunyai arti sebagai penawar malapetaka, motif melati melambangkan kesucian dan sopan santun, dan bunga tanjung berarti keramah-tamahan sebagai nyonya rumah sebagai lambang ucapan selamat datang.

Proses pembuatannya terbilang cukup rumit, para pengrajin bisa menghabiskan berbulan-bulan untuk membuat satu kain songket. Tak heran jika nilai jualnya cukup tinggi.

2. Tenun Siak (Riau)

Motif Tenun Siak | Foto: Agenda Indonesia

Mefa Indriati
Universitas Pendidikan Indonesia
Indonesia

Departemen Pendidikan Matematika, FPMIPA, Universitas Pendidikan Indonesia

Turmudi Turmudi
Universitas Pendidikan Indonesia
Indonesia

Departemen Pendidikan Matematika, FPMIPA, Universitas Pendidikan Indonesia

Jarnawi Afgani Dahlan
Universitas Pendidikan Indonesia
Indonesia

Departemen Pendidikan Matematika, FPMIPA, Universitas Pendidikan Indonesia

  • FOCUS AND SCOPE
  • EDITORIAL TEAM
  • REVIEWER
  • PEER REVIEW PROCESS
  • PUBLICATION ETHICS
  • AUTHOR GUIDELINES
  • ONLINE SUBMISSION
  • COPYRIGHT NOTICE
  • THE AUTHOR LETTER OF STATEMENT
  • JOURNAL HISTORY
  • AUTHOR FEES
  • PLAGIARISM
  • PERMISSIONS COPYRIGHT
  • OPEN ACCES POLICY

Sejarah Kain Tenun Siak

Tenun siak pada awalnya diperkenalkan oleh seorang pengrajin bernama Wan Siti binti Wan Karim, yang didatangkan Kerajaan Terengganu, Malaysia pada masa kerajaan Siak. Pengrajin tersebut merupakan seorang ahli yang terampil dalam bidang menenun dan ia mengajarkan bagaimana cara bertenun di area kerajaan.

Awalnya tenun yang diajarkan adalah tenun tumpu dan kemudian berganti menggunakan alat yang disebut “kik” sehingga menghasilkan kain tenun siak. Kain tenun siak ini pada mulanya dibuat diperuntukkan hanya untuk kalangan bangsawan saja.

Namun, seiring dengan perkembangan jaman yang sudah maju kain tenun siak ini bisa digunakan oleh masyarakat Riau maupun luar Riau. Menurut masyarakat Riau, seseorang yang menggunakan kain ini simbol dari kebesaran dan kebanggan.

Sedangkan bagi para pembuat kain tenun siak ini dianggap sebagai pengabdian kepada kerajaan. Kik merupakan alat tenun yang sederhana terbuat dari bahan kayu dengan ukuran sekiar 1 x 2 meter.

Sesuai dengan alat tenunnya, maka lebar dari kain yang dihasilkan juga tidak lebar. Apabila ingin digunakan sebagai kain sarung harus disambung terlebih dahulu, karena tidak cukup jika hanya menggunakan satu kain saja,

Di dalam menenun pastinya dibutuhkan benang, jaman dahulu menggunakan benang sutera. Namun pada saat ini benang sutera sulit untuk didapatkan dan penenun menggunakan benang katun.

Jaman dahulu, para pengrajin harus memahami makna dan falsafah yang terkandung di dalam setiap motif dari kain tenun siak. Menurut orang tua melayu Riau, makna dan falsafah tersebut selain dapat meningkatkan minat orang orang untuk menggunakan motif tersebut, juga dapat digunakan untuk menyebarkan nilai nilai ajaran agama.


Tags: tenun motif

`Lihat Lagi
@ 2024 - Tenun Indonesia