Keindahan dan Makna Motif Tenun Siak dalam Seni Menjahit dan Kerajinan Sendiri
Mengandung Nilai-Nilai Luhur
Masyarakat Riau percaya terdapat nilai-nilai luhur yang terkandung di dalam motif tenun Siak ini. Nilai tersebut mengacu pada sifat-sifat dari setiap benda atau mahluk yang dijadikan corak di kain tenun Siak tersebut.
Dari nilai-nilai setiap sifat tadi, dipadukan dengan nilai-nilai kepercayaan dan budaya tempatan, kemudian dikaitkan dengan nilai luhur agama Islam.
Contoh dari nilai-nilai luhur di kain tenun Siak ini yaitu nilai-nilai ketakwaan yang tertuang pada motif bintang-bintang. Lalu nilai kerukunan tertuang pada motif Balam Dua Setengget, Akar berpilin dan Kembang Setaman.
Kemudian, nilai kasih sayang tertuju pada motif seluruh corak bunga-bungaan atau flora seperti Bunga Kundur, Bunga Melati, Kembang Setaman, dan lain sebagainya.
Terakhir, nilai kesuburan yang menggambarkan corak Kaluk Paku dan juga Awan Larat.
Corak dari Alam
Tenun Siak diadaptasi atau bersumber dari alam, seperti flora, fauna, dan juga benda-benda angkasa. Corak itulah yang menjadi pola utama, lalu dibuat dalam bentuk-bentuk tertentu.
Misalnya, Bunga Kundur, Bunga Hutan, maupun dalam bentuk yang sudah diabstrakkan atau diubah sehingga tak lagi berbentuk wujud aslinya.
Bentuk-bentuk yang sudah diabstrakkan tersebut, contohnya seperti Itik Pulang Petang, Semut Beriring, dan Lebah Bergantung.
Dari keseluruhan corak yang ada, lazimnya masyarakat Riau cenderung menggunakan corak flora atau tumbuhan. Hal ini dikarenakan corak tersebut biasa digunakan oleh orang Melayu yang mayoritas beragama Islam.
Selain itu, penggunaan corak flora ini menghindari dari maksud yang terkait dengan hal-hal yang berbau "berhala".
- Mengenal Dongkrek, Kesenian Tradisional dari Madiun yang Hampir Punah
- Mengenal Tari Tanduak, Tarian Tradisional Warisan Kerajaan Jambu Lipo di Sumatra Barat
- Tradisi Nirok Nanggok, Cara Masyarakat Belitung Mencari Ikan di Sungai Ketika Musim Kemarau Tiba
- Tinggal Dekat dengan Perbatasan Malaysia, Begini Kehidupan Masyarakat Suku Dayak Iban
- Kejagung Buka Suara soal Peluang Panggil Sandra Dewi di Kasus Korupsi Harvey Moeis
- VIDEO: Timnas U 23 Kalahkan Korsel, STY Ternyata Jadi Ancaman Besar & Dianggap Punya Mata-Mata?
Mengenal motif wastra dan maknanya
Untuk lebih mengenal berbagai wastra nusantara, berikut disajikan beberapa gambar motif beserta filosofinya.
1. Songket Palembang (Sumatra Selatan)
Motif songket palembang | Foto: Songket Palembang
Songket asli Palembang dibuat dengan metode mengaitkan dan mengambil sejumput kain tenun, kemudian menyelipkan benang berlapis emas atau benang sutera. Hal ini terkait dengan sejarah kejayaan kerajaan Sriwijaya. Saat itu, masyarakat membuat kain songket yang asli dengan benang emas murni empat belas karat.
Ketika dasar kain suteranya lapuk karna usia. Benang emas ini akan ditarik dan ditenun kembali pada sutera yang baru. Dengan kualitas tersebut, tenun songket asli terkenal dengan sebutan songket jantung atau songket cabutan, karena terbuat dari benang emas cap jantung atau cabutan dari benang emas lama.
Jenis songket Palembang juga dibedakan dari segi desain, Songket Lepus adalah songket dengan desain benang emas penuh, sedang Songket Tawur adalah songket dengan desain emas tersebar.
Motifnya pun mengandung makna yang berbeda-beda. Misalnya motif bunga seperti mawar yang mempunyai arti sebagai penawar malapetaka, motif melati melambangkan kesucian dan sopan santun, dan bunga tanjung berarti keramah-tamahan sebagai nyonya rumah sebagai lambang ucapan selamat datang.
Proses pembuatannya terbilang cukup rumit, para pengrajin bisa menghabiskan berbulan-bulan untuk membuat satu kain songket. Tak heran jika nilai jualnya cukup tinggi.
2. Tenun Siak (Riau)
Motif Tenun Siak | Foto: Agenda Indonesia
Fungsi Kain Tenun Siak
- Nilai Sakral
Kain tenun siak merupakan kain yang sakral bagi masyarakat riau. Seseorang yang menggunakan kain tenun siak ini akan merasakan bahwa dirinya memiliki wibawa yang berbeda. Kain tenun siak ini merupakan perwujudan dari keyakinan agama bagi masyarakat siak. Ada banyak sekali acara ritual keagamaan yang dilaksanakan oleh masyarakat siak misalnya temu adat, upacara perkawinan dan pengobatan sultan. - Nilai Pemahaman terhadap Alam
Motif dari kain tenun siak banyak terinspirasi dari flora, fauna serta kondisi alam. Ini artinya memadukan keindahan alam dengan filosofi alam sekitar dan banyak nilai nilai pelajaran yang terkandung di dalam motif kain tenun siak. - Nilai Pengabdian
Pada mulanya pembuatan kain tenun siak digunakan sebagai pengabdian kepada kerajaan. Sehingga pembuatan dari kain tenun siak haruslah berhati hati untuk menghasilkan suatu kain tenun siak dengan kualitas yang bagus. - Nilai Kreativitas
Dalam membuat kain tenun siak ini dibutuhkan kreativitas yang tinggi untuk menghasilkan kain tenun siak yang cantik dan bagus. Oleh karena itu kain tenun siak menjadi kreativitas tanpa batas bagi masyarakat siak. - Nilai Ekonomis
Kain tenun siak memiliki harga jual yang tinggi. Hal ini dilihat dari cara pembuatan dari kain ini tidak mudah dan juga membutuhkan waktu yang lumayan. Masyarakat siak bisa memperoleh penghasilan dengan menjadi pengrajin kain tenun siak ini.
- Kain Tenun Siak Motif FloraKain tenun siak dengan motif flora ini biasanya terinspirasi dari beberapa tumbuhan seperti manggis, bunga teratai, bunga hutan, kaluk paku, bunga tanjung, pucuk dara, bunga kenangan dan masih banyak lagi beberapa motif tumbuhan lainnya.
- Kain Tenun Siak Motif Fauna
Kain tenun siak dengan moti fauna ini terinspirasi dari beberapa hewan seperti naga, keluang, ikan, ulat, balam dua, itik dan lainnya. - Kain Tenun Siak Motif Alam
Kain tenun siak dengan motif alam ini terinspirasi dari keindahan alam misalnya pelangi, awan, bintang, bulan sabit dan lainnya.
Frieze Pattern on Siak Weaving Motifs and Their Implementation in Mathematics Learning
Mefa Indriati, Turmudi Turmudi, Jarnawi Afgani DahlanSari
Teks Lengkap:
Referensi
Akkapurlaura. A. (2015) Pengembangan Motif Rantai, Tampuk Manggis, Pucuk Rebung, Siku Awan, dan Lebah Bergayut pada kain Songket Melayu Riau. Seminar Nasional Cendekiawan. Universitas Trisakti. Jakarta. https://doi.org/10.25105/semnas.v0i0.121
Andriani, L, & Muchyidin, A. (2020). Frieze Group Pattern on Buyung Kuningan Dance Movement. Journal of Mathematics Education and Science (JES-MAT), 6(2), 81-100. https://doi.org/10.25134/jes-mat.v6i2.2997
Astriandini, M.G., & Kristanto, Y.D. (2021). Kajian Etnomatematika Pola Batik Keraton Surakarta Melalui Analisis Simetri. Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika, 10(1), 13-24. DOI: https://doi.org/10.31980/mosharafa.v10i1.831
Barton, W. (1996). Ethnomathematics: Exploring Cultural Diversity in Mathematics. New Zealand University of Auckland.
Bunari., Fikri,A., Pernantah, P.S, & Fiqri,Y.A. (2021). Perkembangan Pembuatan Tenun Melayu Siak: Suatu Tinjauan Historis. Diakronika 21(1). 1-10. https://doi.org/10.24036/diakronika/vol21-iss1/170.
Effendy,T. (2013). Lambang dan Falsafah dalam Seni Bina Melayu. Pekanbaru: Yayasan Tennas Effendy.
Fajriyah, E. (2018). Peran Etnomatematika Terkait Konsep Matematika dalam Mendukung Literasi. PRISMA, Prosiding Seminar Nasional Matematika, 1(1), 114-119.
Cooper, C.D.H. (2013). Techniques of Algebra. Australia: Macquarie University.
Gallian, & Joseph, A. (2010). Contemporary Abstract Algebra. USA: Sevent Edition, Brooks/Cole Cengage Learning, Belmont, CA 94002-3098
Gual, Y.A. (2021). Pergeseran Penggunaan Tenun Ikat pada Masyarakat Desa Tanah Putih. Jurnal Ilmu Komunikasi, 2(1), 85–110.
Guslinda, & Kurniawan, O. (2016). Perubahan Bentuk, Fungsi dan Makna Tenun Songket Siak pada Masyarakat Melayu Riau. Jurnal Primary Program Studi PGSD Universitas Riau, 5(1), 2303-1514. http://dx.doi.org/10.33578/jpfkip.v5i1.3676
Tags: tenun motif