Keindahan dan Makna Motif Tenun Siak dalam Seni Menjahit dan Kerajinan Sendiri
Jatuh cinta kepada wastra Indonesia
Dian Oerip mengenakan wastra | Foto: Jogja Tribun
Keindahannya membuat banyak hati dari berbagai bangsa di dunia jatuh cinta, bahkan mengoleksinya. Tak heran jika keberadaannya sering menjadi sorotan media dan kajian para cendekia dari berbagai bidang keilmuan.
Dian melestarikan Wastra Indonesia lewat bisnis sebagai bentuk kecintaannya terhadap kain-kain tradisional yang ditemuinya. Hal serupa juga dapat kita lakukan, mulai dari hal kecil seperti memakai wastra dalam keseharian, berwisata wastra ke lokasi-lokasi penenun di daerah, mengunggah proses kreatif dan motif kain wastra di media sosial dan sebagainya.
Dengan memahami proses dan filosofi dibalik motif kain tradisional, kita dapat merasakan pengalaman jatuh cinta saat mengenakan kain-kain adat nusantara. Hal ini tentunya penting untuk menjaga dan melestarikan kekayaan kain tradisional dan wastra nusantara.*
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News
Bukan sekadar helai kain
Seorang pengrajin sedang membuat wastra | Foto: Lensa Indonesia
Pada umumnya, beberapa tahapan yang harus dilewati pada proses pembuatan ini antara lain, persiapan benang, pameningu (mengatur lungsin), pababatungu (tenun awal), hikungu (songket), dan menenun.
Selain dari proses, pemaknaan terhadap kain tradisional juga dapat dicari dari sejarah dan motifnya. Ditilik dari sejarahnya, kain tradisional memiliki beragam makna dan fungsi. Di antaranya ada yang dipakai sebagai busana upacara adat, mahar perkawinan, hingga penunjuk status sosial.
Hampir setiap etnis di Indonesia memiliki sejarah dan tradisi yang berbeda-beda tentang wastranya. Masing-masing mempunyai akar sejarah dan tradisi yang kuat, misalnya pada masyarakat Bali Aga di Tenganan, Bali.
Mereka percaya jika tenun Gringsing khas Bali punya khasiat untuk menyembuhkan. Ada pula di Sumatra Selatan, benang emas yang digunakan pada songket merupakan simbol kejayaan Kerajaan Sriwijaya pada masa itu.
Bahkan, dalam adat masyarakat Maumere Timur, Nusa Tenggara Timur, terdapat wastra tua yang dibuat selama 4 tahun dengan panjang 9,75 meter dan lebar 1 meter, yakni Kain Dugo Raga yang digunakan sebagai penutup jenazah keturunan raja yang bisa awet hingga 120 hari. Jadi, tidak heran kalau wastra seringkali dianggap sebagai benda keramat di berbagai daerah.
Frieze Pattern on Siak Weaving Motifs and Their Implementation in Mathematics Learning
Mefa Indriati, Turmudi Turmudi, Jarnawi Afgani DahlanSari
Teks Lengkap:
Referensi
Akkapurlaura. A. (2015) Pengembangan Motif Rantai, Tampuk Manggis, Pucuk Rebung, Siku Awan, dan Lebah Bergayut pada kain Songket Melayu Riau. Seminar Nasional Cendekiawan. Universitas Trisakti. Jakarta. https://doi.org/10.25105/semnas.v0i0.121
Andriani, L, & Muchyidin, A. (2020). Frieze Group Pattern on Buyung Kuningan Dance Movement. Journal of Mathematics Education and Science (JES-MAT), 6(2), 81-100. https://doi.org/10.25134/jes-mat.v6i2.2997
Astriandini, M.G., & Kristanto, Y.D. (2021). Kajian Etnomatematika Pola Batik Keraton Surakarta Melalui Analisis Simetri. Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika, 10(1), 13-24. DOI: https://doi.org/10.31980/mosharafa.v10i1.831
Barton, W. (1996). Ethnomathematics: Exploring Cultural Diversity in Mathematics. New Zealand University of Auckland.
Bunari., Fikri,A., Pernantah, P.S, & Fiqri,Y.A. (2021). Perkembangan Pembuatan Tenun Melayu Siak: Suatu Tinjauan Historis. Diakronika 21(1). 1-10. https://doi.org/10.24036/diakronika/vol21-iss1/170.
Effendy,T. (2013). Lambang dan Falsafah dalam Seni Bina Melayu. Pekanbaru: Yayasan Tennas Effendy.
Fajriyah, E. (2018). Peran Etnomatematika Terkait Konsep Matematika dalam Mendukung Literasi. PRISMA, Prosiding Seminar Nasional Matematika, 1(1), 114-119.
Cooper, C.D.H. (2013). Techniques of Algebra. Australia: Macquarie University.
Gallian, & Joseph, A. (2010). Contemporary Abstract Algebra. USA: Sevent Edition, Brooks/Cole Cengage Learning, Belmont, CA 94002-3098
Gual, Y.A. (2021). Pergeseran Penggunaan Tenun Ikat pada Masyarakat Desa Tanah Putih. Jurnal Ilmu Komunikasi, 2(1), 85–110.
Guslinda, & Kurniawan, O. (2016). Perubahan Bentuk, Fungsi dan Makna Tenun Songket Siak pada Masyarakat Melayu Riau. Jurnal Primary Program Studi PGSD Universitas Riau, 5(1), 2303-1514. http://dx.doi.org/10.33578/jpfkip.v5i1.3676
Mefa Indriati
Universitas Pendidikan Indonesia
Indonesia
Departemen Pendidikan Matematika, FPMIPA, Universitas Pendidikan Indonesia
Turmudi Turmudi
Universitas Pendidikan Indonesia
Indonesia
Departemen Pendidikan Matematika, FPMIPA, Universitas Pendidikan Indonesia
Jarnawi Afgani Dahlan
Universitas Pendidikan Indonesia
Indonesia
Departemen Pendidikan Matematika, FPMIPA, Universitas Pendidikan Indonesia
- FOCUS AND SCOPE
- EDITORIAL TEAM
- REVIEWER
- PEER REVIEW PROCESS
- PUBLICATION ETHICS
- AUTHOR GUIDELINES
- ONLINE SUBMISSION
- COPYRIGHT NOTICE
- THE AUTHOR LETTER OF STATEMENT
- JOURNAL HISTORY
- AUTHOR FEES
- PLAGIARISM
- PERMISSIONS COPYRIGHT
- OPEN ACCES POLICY
Tags: tenun motif