Warisan Kain Tenun - Perjalanan Indah Seni Rajut di Indonesia
Cerita Legenda
Dalam cerita legenda yang sangat populer yaitu Sangkuriang, diceritakan tokoh wanita yaitu Dayang Sumbi yang aktifitas kesehariannya adalah menenun. Hal ini menggambarkan bahwa menenun adalah salah satu kegiatan rutin yang dilakukan oleh wanita untuk menghabiskan waktunya pada waktu itu.
Selain benda-benda prasejarah, prasasti dan relief, keberadaan kain tenun juga dapat ditemui pada arca-arca peninggalan kerajaan Sriwijaya yang terdapat di Kompleks Percandian Tanah Abang, Kabupaten Muara Enin, Sumatera Selatan. Arca-arca peninggalan kerajaan Sriwijaya ini diselimuti oleh kain-kain yang dirangkai dari berbagai jenis benang termasuk benang emas. Kain ini adalah cikal bakal kain songket yang menjadi legenda kain tenun di Indonesia.
Aarca – arca dengan pakaian bermotif songket juga ditemukan di situs kompleks percandian Bumiayu, Kabupaten Pali, Sumatera Selatam. Pada arca yang ditemukan, ada tiga arca yang digambarkan mengenakan kain tenun tradisional yang kemungkinan merupakan songket.
Kain tenun memang merupakan salah satu kebudayaan Indonesia yang wajib untuk kita lestarikan, karena didalamnya terdapat banyak sekali filosofi yang menggambarkan keanekaragaman suku dan budaya di Indonesia.
Kerajinan kain tenun memang tidak begitu diminati oleh kaum muda. Sekarang di ini jika kita lihat didaerah-daerah penghasil tenun, kita lebih banyak menemukan penenun yang berusia lanjut dibandingkan dengan kaum muda. Hal ini tentu saja menimbulkan kekhawatiran akan hilangnya sejarah dan ilmu menenun.
Ada banyak cara yang dapat kita lakukan untuk mengenalkan tenun terutama pada generasi muda. Salah satu nya adalah dengan meningkatkan pengetahuan dan kepedulian akan kain tradisional terutama kain tenun.
Sekarang ini banyak diadakan berbagai pameran yang berkaitan dengan kain tenun dan kegiatan menenun dengan tujuan untuk mengenalkan tenun kepada generasi muda.
Sejarah dan perkembangan kerajinan tenun di Indonesia
diskominfo.kaltimprov.go.id Kain Tenun Ulap Doyo dari Kalimantan Timur
KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR Kain Tenun bermotif Songke menjadi daya tarik menggaet wisatawan Nusa tara dan mancanegara untuk belajar menenun, identitas, nilai, makna dibalik motif-motif, Senin, (15/8/2022). (KOMPAS.com/MARKUS MAKUR)
| Jenis kain tenun | Asal daerah |
| Kain tenun Sambas | Kalimantan Barat |
| Kain tenun Donggala | Sulawesi Tengah |
| Kain tenun Gringsing | Bali |
| Kain Hinggi | Nusa Tenggara Timur |
| Kain tenun Toraja | Sulawesi Selatan |
| Kain tenun songket Sukarara | Nusa Tenggara Barat |
| Kain songket Palembang | Sumatera Selatan |
| Kain tapis | Lampung |
| Kain tenun Ulos | Sumatera Utara |
| Kain songket Minangkabau | Sumatera Barat |
| Kain tenun Troso Jepara | Jawa Tengah |
| Kain tentun Doyo | Kalimantan Timur |
Suka baca tulisan-tulisan seperti ini? Bantu kami meningkatkan kualitas dengan mengisi survei Manfaat Kolom Skola
Sejarah Perkembangan Kain Tenun Ikat Tradisional Indonesia Sebagai Warisan Budaya Nasional
Perkembangan Tenun – Apakah Anda tahu jika kain tenun sudah ada di Indonesia sejak zaman Prasejarah? Ya. Manusia mulai mengenal kain bersamaan dengan munculnya peradaban. Menurut para ahli sejarah, Indonesia sudah mengenal cara membuat pakaian sejak zaman Neolitikum.
Hal ini dibuktikan dengan banyaknya benda-benda peninggalan prasejarah yang tersebar diseluruh wilayah Indonesia.
Memang pada awalnya kain terbuat dari bahan-bahan yang masih sangat sederhana seperti serat dedaunan, kulit kayu dan binatang, hingga berbagai akar tumbuhan. Tak hanya bahan, proses dan teknik yang digunakan pun sangatlah sederhana.
Untuk membuat benang, kulit atau serat kayu direndam terlebih dahulu dengan air. Tujuan perendaman adalah agar kulit kayu menjadi lunak sehingga lebih mudah untuk di proses. Kemudian kulit kayu yang sudah lunak tadi, dipukul-pukul dengan batu atau alat pemukul lain sampai menyerupai kain.
Karena kain yang dihasilkan tidak mempunyai daya tahan yang cukup lama, akhirnya timbulah pemikiran manusia untuk menganyam akar-akar pohon dan kulit kayu menjadi benang. Ini merupakan cikal bakal kain tenun sekarang ini.
Fakta Sejarah Tenun Indonesia
Mengenal Kain Tenun Indonesia
Negara-negara yang banyak memberi pengaruh pada tenunan Indonesia seperti India, Persia, Cina, Eropa, Vietnam, Myanmar, dan Thailand.
Pada prasasti Karang Tengah tahun 847 terdapat tulisan “putih hlai 1 (satu) kalambi”artinya adalah kian putih satu helai dan baju. Pada prasasti Baru tahun 1034 M disebut kata “Pawdikan”artinya pembatik atau penenun.
Pada prasasti Cane tahun 1021 M dan prasasti dari Singosari tahun 929 M terdapat istilah “Makapas”atau“Madagang Kapas”.
Dalam sebuah cerita rakyat Sang Kuriang, disebutkan bahwa seorang tokoh penting yaitu Dayang Sumbi yang pekerjaannya sehari-hari adalah menenun.
Dan petunjuk satu lagi yang memperkuat soal menenun di Indonesia adalah terdapat relief “wanita sedang menenun” di pahatan umpak batu pada abad 14 di daerah Trowulan (Museum Trowulan. Jawa Timur)
Teknik Menenun
Setiap daerah memiliki teknik menenun yang berbeda, hal inilah yang menyebabkan Indonesia mempunyai banyak ragam akan kain tenun. Teknik yang digunakan dalam menenun mempengaruhi kain tenun yang berbeda.
Beikut merupakan teknik menenun yang digunakan di Indonesia.
Teknik Tenun Polos/Sederhana
Teknik tenun polos atau sederhana dikenal dengan sebutan palin weave. Teknik ini adalah teknik tenun paling sederhana dan mudah diantara yang lain. Proses yang dilakukan adalah dengan menyilangkan sebuah benang lungsi atau lusi dan pakan naik turun secara bergantian.
Kain tenun dengan teknik polos atau sederhana mempunyai ciri-ciri:
- Mempunyai rapot paling kecil diantara semua jenis kain tenun
- Proses pengerjaan benang paling sederhana yaitu konsep 1 benang naik dan 1 benang turun.
- Pengulangan benang kearah horizontal (lebar kain) diulangi 2 kali sesudah 2 helai pakan, sedangkan pengulangan ke arah vertikal (panjang kain) diulangi sesudah 2 helai lungsi.
- Jumlah silangan yang terdapat pada teknik tenun polos paling banyak jika dibandingkan dengan teknik lainnya.
- Teknik tenun polos menghasilkan kain tenun yang paling kuat diantara teknik lainnya, karena letak benang yang lebih kokok dan tidak mudah berubah tempat.
- Tenun polos lebih populer karena tenun polos dapat dikombinasikan dengan teknik tenun lainnya.
- Range tenun polos lebih lebar jika dibandingkan dengan teknik lainnya
- Teknik tenun polos bisa diaplikasikan pada kain yang jarang dan tipis.
- Gun yang digunakan pada teknik polos minimal menggunakan 2 gun.
- Benang pakan yang digunakan pada teknik tenun polos biasanya lebih kasar dari pada benang lungsi atau lusi.
Teknik Tenun Kepar
Proses pada teknik tenun kepar adalah dengan menyilangkan benang pakan dibawah benang lungsi, dengan mempertemukan antara kedua benang berjalan miring pada tenunannya. Saat teknik tenun kepar digunakan dalam alat tenun bukan mesin (ATBM) maka gunakan ATBM yang mempunyai 3 gun atau kamran. Teknik ini mempunyai prinsip penyilangan benang pakan dibawah benang lungsi secara silih berganti.
Tags: tenun indonesia