... Mengetahui Lebih Lanjut Tentang Tenun Ikat Ina Sabu: Panduan Langkah-demi-Langkah

Seni Tenun Ikat Ina Sabu - Keindahan dan Keterampilan dalam Kerajinan Tangan

Tenun ikat ina sabu

Pulau Sabu dan Pulau Raijua

Motif Tenun Sabu Raijua

Tanggal 29 Sep 2014 oleh hokky saavedra.

Desain motif tenun dari Pulau Sabu dan Pulau Raijua di Nusa Tenggara Timur biasa digunakan dalam ritual Uba Fara Uba Dara (kembali kepada Pencipta), yaitu ritual doa penyerahan diri sebelum kematian. Dalam ritual ini kematian dilihat sebagai penghormatan dan bukan semata-mata sebagai duka. Kain tenun memiliki keterkaitan erat dengan kosmologi masyarakat Sabu Raijua, yakni kepercayaan "Jingi Tiu" (pelayan makhluk gaib).

Cara Membuat Kain Tenun Nusa Tenggara Timur

Proses pembuatan kain tenun pada tiap daerah di Indonesia tentu aja berbeda ya Sobat Indahnesia! Terkhusus pada pembuatan kain tenun khas Nusa Tenggara Timur sendiri, dibagi menjadi 3 cara.

  1. Tenun Ikat atau yang biasa disebut Tenun Futus biasanya melalui proses pengikatan benang-benang untuk membentuk sebuah pola atau motif sepanjang kain.
  2. Tenun Buna, merupakan teknik mewarnai benang yang akan digunakan dalam proses menenun untuk menciptakan pola saat nanti kain tenun sudah rampung dibuat.
  3. Lalu yang ketiga ada Tenun Lotis atau Sotis, dimana cara pembuatannya mirip dengan Buna, yakni merendam benang terlebih dahulu, namun dipadukan dengan proses menyulam.

Umumnya, di NTT sendiri para penenun memadukan cara membuat kain tenun dengan menyulam sejumlah motif secara bersamaan. Sehingga hasil akhir dari kain tenunnya sendiri terlihat seperti 3 dimensi.

Lebih detailnya, untuk pembuatan kain tenun dimulai dengan proses pemintalan kapas untuk diproses menjadi benang, lalu diikat.

Nah, funfact-nya, Nusa Tenggara Timur juga termasuk provinsi dengan penghasil kapas terbesar di Indonesia lho Sobat Indahnesia! Pantas saja mereka lebih memilih melalui proses pembuatan benang dari kapas terlebih dulu ketimbang menggunakan benang siap pakai.

Untuk pewarna sendiri, para penenun di NTT masih menggunakan bahan-bahan tradisional, seperti warna dari akar-akar pepohonan.

Aksesoris khas berbentuk tiga tiang

Suku Sabu adalah salah satu suku yang menetap di Nusa Tenggara Timur. Lebih tepatnya, suku ini tinggal di Pulai Rai Hawu atau sering juga disebut dengan Pulau Sabu. Pulau Sabu ini sendiri sudah masuk dalam wilayah Kabupaten Kupang. Sehingga bisa dikatakan bahwa suku ini adalah salah satu suku yang memang sudah ada sejak lama di pulau ini.

Tidak hanya bahan kain tenun yang digunakan, namun ciri khas lainnya dari baju adat Suku Sabu di NTT ini adalah terletak pada aksesorisnya. Penggunaan aksesoris ini akan menambah lengkap penampilan pakaian adat NTT yang akan dikenakan. Beberapa jenis aksesoris yang digunakan antara lain seperti mahkota tiga tiang.

Mahkota ini akan dibuat dengan bahan emas yang mambuat kain adat sabu NTT ini tampak elegan. Selain itu, akan ada juga kalung multisalak, sabuk berkantong, perhiasan leher atau yang sering juga disebut dengan habas dan kemudian ada juga sepasang gelang emas. Selain itu, ciri khas baju adat ini juga terletak pada selendang yang disampirkan di bahu.

Pengaruh Luar

Semua orang Sawu menganut kepercayaan asli, jingi tiu. Setidaknya sampai 1860-an, saat Misi Kristen masuk secara besar-besaran. Sawu mulai terbuka. "Apabila hingga pertengahan pertama dari abad ke-19, Sawu relatif terisolir, maka sepanjang dekade 1860-an secara beruntun Sawu mengalami kontak yang makin intensif dengan dunia luar," tulis Nico L. Kana. Pengaruhnya terasa di tenun ikat. Antara lain muncul teknik ikat tiga warna dalam satu lajur ikat. "Tren baru dalam hal teknik ini memiliki tampilan menarik yang mungkin dikaitkan dengan kombinasi dari dua faktor: munculnya kelas penguasa baru dan konversi ke agama Kristen," tulis Genevieve dalam katalog Pameran Tekstil Sawu. Daud D. Tallo dalam "Pergeseran Kebudayaan Orang Sawu Pada Fungsi Kain Tenun Ikatnya di Desa Limaggu–Kupang NTT", tesis untuk Universitas Indonesia, memandangnya sebagai hasil difusi kebudayaan. Difusi itu berimbas pada motif tenun ikat Sawu.

"Motif-motif ini muncul belakangan yakni pada zaman Belanda misalnya motif pohon yang diambil adalah bunga, daun atau sulur-sulur daun, hewan seperti singa, burung, kupu-kupu, dan sebagainya," tulis Daud. Perempuan Sawu beroleh motif itu dari buku, tirai, atau sarung bantal Eropa.

Orang Sawu menggunakan tenun ikat bermotif tak asli untuk hidup keseharian. Tanpa perlu memandang asal-usul hubi dan wini-nya. Saat upacara ritus hidup seperti kelahiran, pernikahan, dan kematian, mereka wajib menggunakan tenun ikat bermotif khas hubi dan wini-nya. Mereka beroleh tenun ikat itu dari orang tua mereka secara turun-temurun. Tradisi itu masih terjaga dengan sejumlah perubahan pada sisi teknis, tetapi bukan pada maknanya. "Demi masa depan yang lebih baik," kata Eu Dane O (48 tahun), perempuan penenun dari wini Ga Lega kepada Historia.id. Tapi dia khawatir juga kalau anak-anak Sawu lupa pada genealoginya. Mereka memang sudah bisa menulis dan membaca, tapi masih sulit mengenali motif masing-masing hubi dan wini. Apalagi perempuan muda penenun kian langka di Sawu. "Waktu mereka habis bersekolah. Pulang langsung mengerjakan tugas," lanjut Eu Dane O. Kini bisnis pariwisata memikat banyak orang di Sawu. Wisatawan tertarik dengan keindahan tenun ikat Sawu. Bahkan ada yang ingin membeli tenun ikat bermotif hubi dan wini warisan keluarga. Tawaran uangnya sering menggiurkan. Sebagian orang Sawu gamang juga. Sementara para calon pembeli tak mengerti makna historis kain Sawu. "Ada asumsi bahwa masyarakat yang tidak menulis adalah masyarakat yang tak punya sejarah. Tapi di Sawu tekstil adalah sejarah," kata Genevieve. Jual beli tenun ikat warisan keluarga berarti mengancam sejarah orang Sawu. Dengan memakai pakaian adat Sawu, Presiden Jokowi secara tidak langsung mengingatkan orang tentang ancaman terhadap makna pakaian Sawu.

Tenun ikat ina sabu

Mengenal Kain Tenun NTT, Dari Proses Pembuatan Sampai Jenisnya! – Kamu udah sering bolak-balik liburan ke Nusa Tenggara Timur, tapi belum pernah bawa oleh-oleh kain tenun khasnya? Atau mungkin belum familiar nih?!

Kain tradisional khas Indonesia yang dibuat dengan cara ditenun atau biasa kita sebut sebagai Kain Tenun sebenarnya hampir dimiliki oleh sebagian besar daerah di Indonesia. Tentu dengan ciri khasnya masing-masing.

Gak terkecuali dengan Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kain tenun di NTT ini diberdayakan dan dikembangkan hampir oleh setiap suku yang ada di sana, lho!

Oleh karena itu, kalau kamu main ke provinsi di Timur Indonesia ini, kamu pasti akan menemukan banyak kain tenun dengan berbagai jenisnya.

Di NTT, kain tenun dikenal sebagai salah satu harta kekayaan keluarga yang bernilai tinggi lho Sobat Indahnesia! Semakin sulit pembuatan dari kain tenun itu sendiri, maka semakin mahal pula harganya.

Jangan kaget yaa saat kamu menemukan kain tenun NTT dengan harga yang cukup fantastis!

Tingginya harga kain tenun NTT, menjadikan kain ini masih tetap punya nilai jual bahkan jika kain itu berstatus “bekas pakai”. Keren ya guys, sudah seperti brand-brand kelas internasional!


Tags: tenun ikat

`Lihat Lagi
@ 2024 - Tenun Indonesia