Seni Tenun Ikat Ina Sabu - Keindahan dan Keterampilan dalam Kerajinan Tangan
DISKUSI
Ulos Bolean Na.
Ulos Bolean Na Margatip merupakan ulos (kain wastra) yang digunakan pada saat acara berduka akan kematian atau musibah yang melanda. Ulos ini digunak.
Sangsang Horbo
Dalam pesta Batak, sangsang merupakan salah satu makanan yang biasa dihidangkan untuk para tamu, dan biasanya menggunakan daging babi. Namun ketika T.
Indahan Songko
Pada saat Tim Ekspedisi Batakologi menghadiri Acara Festival Wisata Edukasi Leluhur Batak di Samosir, terdapat salah satu hidangan yang disajikan pad.
Ihan Batak Nani.
Naniura adalah makanan khas Batak yang bahan utamanya adalah ikan. Keunikan dari naniura adalah daging ikan yang tidak dimasak menggunakan panas, tet.
Pasahat Ulian
Pasahat Ulian merupakan salah satu dari beberapa rangkaian acara yang diselenggarakan oleh Festival Wisata Edukasi Leluhur Batak, dimana acara ini be.

Tenun ikat ina sabu
Pulau Sabu dan Pulau Raijua
Motif Tenun Sabu Raijua
Tanggal 29 Sep 2014 oleh hokky saavedra.
Desain motif tenun dari Pulau Sabu dan Pulau Raijua di Nusa Tenggara Timur biasa digunakan dalam ritual Uba Fara Uba Dara (kembali kepada Pencipta), yaitu ritual doa penyerahan diri sebelum kematian. Dalam ritual ini kematian dilihat sebagai penghormatan dan bukan semata-mata sebagai duka. Kain tenun memiliki keterkaitan erat dengan kosmologi masyarakat Sabu Raijua, yakni kepercayaan "Jingi Tiu" (pelayan makhluk gaib).

Makna di Balik Motif
Perempuan Sawu terbagi atas dua klan matrilineal (hubi) besar. Ceritanya bermula dari lomba menenun moyang orang Sawu, yaitu dua saudari sekandung, Muji Babo (kakak) dan Lou Babo (adik). Waktunya tak pasti. Sekira 40 generasi lampau. Yang jelas, lomba itu berujung pertengkaran. Masing-masing mempertahankan keunggulan motif utamanya. Motif utama (hebe) Muji Babo berciri persegi, geometris, tiga buah belah ketupat (wokelaku), dan berwarna lebih terang. Lou Babo punya motif utama lebih rumit. Berupa garis-garis bergelombang (ei ledo) dengan warna lebih gelap. Kemudian dua saudari itu berketurunan. Keturunan Muji Babo membentuk klan Bunga Palem Besar (hubi ae). Dari garis Lou Babo muncul klan Bunga Palem Kecil (hubi iki). Dua klan itu terpecah lagi menjadi beberapa benih (wini), sekira 20 generasi lampau. Yang berasal dari hubi ae antara lain wini D’ila Robo, Ga Lena, Pi’i, Mako, Migi, dan Raja. Sementara dalam hubi iki ada wini Jawu, Wara Tada, dan Pu Tenga. Semua wini itu terbagi lagi atas sub-sub wini. Ragam hias semua wini hampir serupa, terbagi atas beberapa bagian seperti medi ae (baris hitam lebar), ehu (pusat motif), juli ngiu (motif kecil), raja (tenun lungsi tambahan), beka (sambungan tengah), henga (jarak kosong pada akhir baris ikat), dan wurumada (ujung atas dan bawah). Tapi motif utamanya bisa berbeda antara satu wini dengan lainnya. Bahkan antar sesama wini. Tergantung cerita moyang mereka.
Motif wini Ga Lena, misalnya, berasal dari pengalaman D’illa Tededari Mesara dan D’illa Nawadari Dimu. Mereka hidup pada masa pendudukan Portugis abad ke-16. Mereka mengunjungi Solor (Flores Timur) untuk membantu raja setempat. Dinilai berjasa, mereka beroleh keranjang pusaka yang berukir ornamen lokal. Mereka merekacipta ornamen itu dalam tenun saat kembali ke Sawu. Sebutan ornamen itu kobe morena.

BacaJuga
Ketika pindah ke Kota Kupang pada 1998, Ina Koro mulai menyambung hidup dengan menjual tenunannya ke toko-toko di kota karang ini. Tenun ikat yang halus dengan motif bervariatif dibandrol dengan harga Rp 600 ribu per lembar kain sarung. Tenun ikat buatan tangan Ina Koro disukai para pembeli karena halus dengan motif bervariasi.
Kain tenun dengan motif dari Timor, Flores, Sumba, Sabu, Rote, hingga motif etnis Helong, yang sudah jarang ditemui itu, dia kerjakan semua. Hingga pada 2019, Ina Koro masuk ke Dekranasda NTT sebagai pemasok tetap kain tenun hingga kini.
“Karena kata bunda Julie (Julie Sutrisno Laiskodat, Ketua Dekranasda NTT-Red), tenunan saya ini rapi, padat, jadi mereka suka. Kan kalau tidak rapat, motifnya bengkok, tidak jelas.” kata Ina Koro pada Sabtu, 7 Mei 2022 .
Ina Koro bercerita tentang hidupnya sambil menggulung benang atau disebut lolo. Sang suami ikut membantunya menggulung benang.
Hasil tenunan yang berkualitas inilah yang membuat Ina Koro menjadi satu-satunya penenun di kawasan tempat tinggalnya yang masih bekerja sama dengan Dekranasda NTT.
“Di sini ini kampung tenun. Jadi semua di sini kerjanya tenun. Awalnya kami sekitar ada lima orang yang dipanggil Dekra, tapi hanya saya saja yang masih tetap jual di Dekra” jelas perempuan berlesung pipi ini.
Hal tersebut membuat jumlah pesanan Ina Koro melonjak. Durasi kerja pun harus ditambah serta kreativitas dan multitasking perlu diterapkan dalam dirinya guna menjaga kepercayaan pelanggan. Menenun dua selendang sekaligus, serta mengolaborasi motif dari dua daerah yang berbeda ke dalam satu kain sarung atau selendang menjadi hal yang dilakukan Ina Koro untuk tetap mempertahankan kualitas dan kuantitas tenunannya.

Pengaruh Luar
Semua orang Sawu menganut kepercayaan asli, jingi tiu. Setidaknya sampai 1860-an, saat Misi Kristen masuk secara besar-besaran. Sawu mulai terbuka. "Apabila hingga pertengahan pertama dari abad ke-19, Sawu relatif terisolir, maka sepanjang dekade 1860-an secara beruntun Sawu mengalami kontak yang makin intensif dengan dunia luar," tulis Nico L. Kana. Pengaruhnya terasa di tenun ikat. Antara lain muncul teknik ikat tiga warna dalam satu lajur ikat. "Tren baru dalam hal teknik ini memiliki tampilan menarik yang mungkin dikaitkan dengan kombinasi dari dua faktor: munculnya kelas penguasa baru dan konversi ke agama Kristen," tulis Genevieve dalam katalog Pameran Tekstil Sawu. Daud D. Tallo dalam "Pergeseran Kebudayaan Orang Sawu Pada Fungsi Kain Tenun Ikatnya di Desa Limaggu–Kupang NTT", tesis untuk Universitas Indonesia, memandangnya sebagai hasil difusi kebudayaan. Difusi itu berimbas pada motif tenun ikat Sawu.
"Motif-motif ini muncul belakangan yakni pada zaman Belanda misalnya motif pohon yang diambil adalah bunga, daun atau sulur-sulur daun, hewan seperti singa, burung, kupu-kupu, dan sebagainya," tulis Daud. Perempuan Sawu beroleh motif itu dari buku, tirai, atau sarung bantal Eropa.
Orang Sawu menggunakan tenun ikat bermotif tak asli untuk hidup keseharian. Tanpa perlu memandang asal-usul hubi dan wini-nya. Saat upacara ritus hidup seperti kelahiran, pernikahan, dan kematian, mereka wajib menggunakan tenun ikat bermotif khas hubi dan wini-nya. Mereka beroleh tenun ikat itu dari orang tua mereka secara turun-temurun. Tradisi itu masih terjaga dengan sejumlah perubahan pada sisi teknis, tetapi bukan pada maknanya. "Demi masa depan yang lebih baik," kata Eu Dane O (48 tahun), perempuan penenun dari wini Ga Lega kepada Historia.id. Tapi dia khawatir juga kalau anak-anak Sawu lupa pada genealoginya. Mereka memang sudah bisa menulis dan membaca, tapi masih sulit mengenali motif masing-masing hubi dan wini. Apalagi perempuan muda penenun kian langka di Sawu. "Waktu mereka habis bersekolah. Pulang langsung mengerjakan tugas," lanjut Eu Dane O. Kini bisnis pariwisata memikat banyak orang di Sawu. Wisatawan tertarik dengan keindahan tenun ikat Sawu. Bahkan ada yang ingin membeli tenun ikat bermotif hubi dan wini warisan keluarga. Tawaran uangnya sering menggiurkan. Sebagian orang Sawu gamang juga. Sementara para calon pembeli tak mengerti makna historis kain Sawu. "Ada asumsi bahwa masyarakat yang tidak menulis adalah masyarakat yang tak punya sejarah. Tapi di Sawu tekstil adalah sejarah," kata Genevieve. Jual beli tenun ikat warisan keluarga berarti mengancam sejarah orang Sawu. Dengan memakai pakaian adat Sawu, Presiden Jokowi secara tidak langsung mengingatkan orang tentang ancaman terhadap makna pakaian Sawu.

Tags: tenun ikat