... Mengetahui Lebih Lanjut Tentang Tenun Ikat Ina Sabu: Panduan Langkah-demi-Langkah

Seni Tenun Ikat Ina Sabu - Keindahan dan Keterampilan dalam Kerajinan Tangan

Aksesoris khas berbentuk tiga tiang

Suku Sabu adalah salah satu suku yang menetap di Nusa Tenggara Timur. Lebih tepatnya, suku ini tinggal di Pulai Rai Hawu atau sering juga disebut dengan Pulau Sabu. Pulau Sabu ini sendiri sudah masuk dalam wilayah Kabupaten Kupang. Sehingga bisa dikatakan bahwa suku ini adalah salah satu suku yang memang sudah ada sejak lama di pulau ini.

Tidak hanya bahan kain tenun yang digunakan, namun ciri khas lainnya dari baju adat Suku Sabu di NTT ini adalah terletak pada aksesorisnya. Penggunaan aksesoris ini akan menambah lengkap penampilan pakaian adat NTT yang akan dikenakan. Beberapa jenis aksesoris yang digunakan antara lain seperti mahkota tiga tiang.

Mahkota ini akan dibuat dengan bahan emas yang mambuat kain adat sabu NTT ini tampak elegan. Selain itu, akan ada juga kalung multisalak, sabuk berkantong, perhiasan leher atau yang sering juga disebut dengan habas dan kemudian ada juga sepasang gelang emas. Selain itu, ciri khas baju adat ini juga terletak pada selendang yang disampirkan di bahu.

BacaJuga

Ketika pindah ke Kota Kupang pada 1998, Ina Koro mulai menyambung hidup dengan menjual tenunannya ke toko-toko di kota karang ini. Tenun ikat yang halus dengan motif bervariatif dibandrol dengan harga Rp 600 ribu per lembar kain sarung. Tenun ikat buatan tangan Ina Koro disukai para pembeli karena halus dengan motif bervariasi.

Kain tenun dengan motif dari Timor, Flores, Sumba, Sabu, Rote, hingga motif etnis Helong, yang sudah jarang ditemui itu, dia kerjakan semua. Hingga pada 2019, Ina Koro masuk ke Dekranasda NTT sebagai pemasok tetap kain tenun hingga kini.

“Karena kata bunda Julie (Julie Sutrisno Laiskodat, Ketua Dekranasda NTT-Red), tenunan saya ini rapi, padat, jadi mereka suka. Kan kalau tidak rapat, motifnya bengkok, tidak jelas.” kata Ina Koro pada Sabtu, 7 Mei 2022 .

Ina Koro bercerita tentang hidupnya sambil menggulung benang atau disebut lolo. Sang suami ikut membantunya menggulung benang.

Hasil tenunan yang berkualitas inilah yang membuat Ina Koro menjadi satu-satunya penenun di kawasan tempat tinggalnya yang masih bekerja sama dengan Dekranasda NTT.

“Di sini ini kampung tenun. Jadi semua di sini kerjanya tenun. Awalnya kami sekitar ada lima orang yang dipanggil Dekra, tapi hanya saya saja yang masih tetap jual di Dekra” jelas perempuan berlesung pipi ini.

Hal tersebut membuat jumlah pesanan Ina Koro melonjak. Durasi kerja pun harus ditambah serta kreativitas dan multitasking perlu diterapkan dalam dirinya guna menjaga kepercayaan pelanggan. Menenun dua selendang sekaligus, serta mengolaborasi motif dari dua daerah yang berbeda ke dalam satu kain sarung atau selendang menjadi hal yang dilakukan Ina Koro untuk tetap mempertahankan kualitas dan kuantitas tenunannya.

DISKUSI

Ulos Bolean Na.

Ulos Bolean Na Margatip merupakan ulos (kain wastra) yang digunakan pada saat acara berduka akan kematian atau musibah yang melanda. Ulos ini digunak.

Sangsang Horbo

Dalam pesta Batak, sangsang merupakan salah satu makanan yang biasa dihidangkan untuk para tamu, dan biasanya menggunakan daging babi. Namun ketika T.

Indahan Songko

Pada saat Tim Ekspedisi Batakologi menghadiri Acara Festival Wisata Edukasi Leluhur Batak di Samosir, terdapat salah satu hidangan yang disajikan pad.

Ihan Batak Nani.

Naniura adalah makanan khas Batak yang bahan utamanya adalah ikan. Keunikan dari naniura adalah daging ikan yang tidak dimasak menggunakan panas, tet.

Pasahat Ulian

Pasahat Ulian merupakan salah satu dari beberapa rangkaian acara yang diselenggarakan oleh Festival Wisata Edukasi Leluhur Batak, dimana acara ini be.

Sejarah dalam Pakaian Adat Sawu

Genevieve begitu terpikat pada pakaian mereka. Orang Sawu berpakaian tenun ikat dengan beragam ornamen. Dan tiap kelompok penduduk memiliki motif masing-masing. Terdorong minat dan rasa ingin tahu, Genevieve mengumpulkan informasi tentang tenun ikat orang Sawu. Dia tinggal bersama orang Sawu, mempelajari sejarah, budaya, dan bahasa mereka. "Tantangan paling besar adalah orang Sawu lebih lekat dengan tradisi lisan ketimbang tulisan. Dan lagi-lagi catatan tentang mereka masih sedikit," kata Genevieve. Tapi dia tak mau menyerah. Ketekunan Genevieve selama delapan tahun berbuah tesis antropologi berjudul "Ikat Weavings and The Social Organisation on the Island of Savu, Eastern Indonesia", di Universitas Heidelberg, Jerman, pada 1998. Melalui tesisnya, Genevieve berkesimpulan, "Kain tenun ikat dan motifnya mengungkapkan pesan yang bisa dibaca sebagai sebuah teks." Sebab orang Sawu tak memukimkan ingatannya di lembaran kertas, melainkan di dalam kain.

"Orang Sawu percaya motif itu yang paling tua dan bertahan hingga sekarang," tulis Wanda Warming dan Michael Gaworski dalam The World of Indonesian Textiles. Penduduk lokal punya cara untuk mencipta motif pada kain jauh sebelum orang Eropa mengenal teknik ini. Mereka mengikat benang (tali wangngu) pada alat tenun (langa tali). Orang Eropa menyebutnya teknik ikat. "…diperkenalkan di Eropa oleh Prof. A.R. Hein pada 1880," tulis Suwati Kartiwa dalam Tenun Ikat. Sedangkan warna diperoleh dengan mencelup benang (pallo wangngu) pada periuk tanah liat (arru pallo). Tak semua penduduk bisa mengerjakan dua teknik itu secara sempurna. Perlu tempaan khusus dan waktu lama. Tugas itu jatuh ke perempuan. Maka perempuan Sawu belajar menenun sejak kecil. Hampir semua tenun ikat Sawu berasal dari perempuan dan bercerita tentang hidup mereka.

Makna di Balik Motif

Perempuan Sawu terbagi atas dua klan matrilineal (hubi) besar. Ceritanya bermula dari lomba menenun moyang orang Sawu, yaitu dua saudari sekandung, Muji Babo (kakak) dan Lou Babo (adik). Waktunya tak pasti. Sekira 40 generasi lampau. Yang jelas, lomba itu berujung pertengkaran. Masing-masing mempertahankan keunggulan motif utamanya. Motif utama (hebe) Muji Babo berciri persegi, geometris, tiga buah belah ketupat (wokelaku), dan berwarna lebih terang. Lou Babo punya motif utama lebih rumit. Berupa garis-garis bergelombang (ei ledo) dengan warna lebih gelap. Kemudian dua saudari itu berketurunan. Keturunan Muji Babo membentuk klan Bunga Palem Besar (hubi ae). Dari garis Lou Babo muncul klan Bunga Palem Kecil (hubi iki). Dua klan itu terpecah lagi menjadi beberapa benih (wini), sekira 20 generasi lampau. Yang berasal dari hubi ae antara lain wini D’ila Robo, Ga Lena, Pi’i, Mako, Migi, dan Raja. Sementara dalam hubi iki ada wini Jawu, Wara Tada, dan Pu Tenga. Semua wini itu terbagi lagi atas sub-sub wini. Ragam hias semua wini hampir serupa, terbagi atas beberapa bagian seperti medi ae (baris hitam lebar), ehu (pusat motif), juli ngiu (motif kecil), raja (tenun lungsi tambahan), beka (sambungan tengah), henga (jarak kosong pada akhir baris ikat), dan wurumada (ujung atas dan bawah). Tapi motif utamanya bisa berbeda antara satu wini dengan lainnya. Bahkan antar sesama wini. Tergantung cerita moyang mereka.

Motif wini Ga Lena, misalnya, berasal dari pengalaman D’illa Tededari Mesara dan D’illa Nawadari Dimu. Mereka hidup pada masa pendudukan Portugis abad ke-16. Mereka mengunjungi Solor (Flores Timur) untuk membantu raja setempat. Dinilai berjasa, mereka beroleh keranjang pusaka yang berukir ornamen lokal. Mereka merekacipta ornamen itu dalam tenun saat kembali ke Sawu. Sebutan ornamen itu kobe morena.


Tags: tenun ikat

`Lihat Lagi
@ 2024 - Tenun Indonesia